
Ada sebuah perkampungan orang-orang Jepun di Ayyutthaya. Dalam bahasa Siam, kampung itu disebut sebagai Ban Yipun atau Muban Yipun. Sedangkan orang-orang Jepun sendiri menyebutnya dengan Ayutaya Nihonjin-machi. Kampung tersebut terletak sedikit saja diluar ibu kota kerajaan Ayutthaya yang telah dihuni sejak abad ke-14 Masehi. Kampung ini terletak di sisi timur sungai Chao Phraya, berhadapan dengan pemukiman orang-orang Pranggi di bagian barat, serta pemukiman warga Britania Raya dan Walanda.
Di perkampungan itu tinggal sekitar 1000 sampai 1500 orang Jepun, termasuk para budak dari beragam bangsa, termasuk orang-orang Tai atau Thai, suku asli Siam. Namun, menurut catatan Jepun, ada sampai 8000 orang yang tinggal di sana pada masa Kan’ei Jepun yang dimulai tahun 1624. Orang-orang Jepun yang tinggal di perkampungan ini terdiri atas para pembunuh bayaran dan ronin, para pedagang Jepun serta orang-orang Jepun penganut agama Nasrani yang lari dari Jepun.
Tiga orang pendekar Jepun, dua diantaranya adalah pembunuh bayaran dan satunya adalah bekas prajurit Jepun beragama Nasrani, sedang bercakap-cakap di sebuah kedai minuman keras. Dua orang pembunuh bayaran Jepun itu adalah segelintir saja dari 800 pembunuh bayaran di bawah kepemimpinan Yamada Nagasama yang termahsyur namanya dalam dunia ilmu kependekaran, persilatan dan pertempuran. Namun, sosok berpengaruh bagi orang-orang Jepun di Ayutthaya, dan menjabat sebagai gubernur wilayah Nakhon Si Thammarat ini telah wafat beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 1630 Masehi.
__ADS_1
Dua pembunuh bayaran itu masing-masing bernama Konoshi Hidetada dan Arima Oda. Dahulu, di bawah kepemimpinan Yamada Nagasama sekitar tahun 1620-an Masehi, keduanya yang masih berumur belasan tahun, telah terlibat perompakan dan penyerangan kapal-kapal Walanda yang hendak masuk dan berada di perairan sekitar Betawi. Pengalaman mereka atas pertarungan di lautan dan di daratan pun sebenarnya telah mumpuni.
Teman mereka yang satu lagi, Paulo Omura, adalah seorang Kirishitan, atau seorang Jepun beragama Nasrani. Ia adalah salah seorang korban pelarangan dan pembantaian Nasrani Jepun oleh pemerintahan Shogun Tokugawa dan dimulai pada tahun 1614 Masehi oleh shogun kedua, yaitu Hidetada. Mereka berhasil melarikan diri dari Jepun setelah kekalahan dalam perang pemberontakan kaum Nasrani Jepun di benteng Shimabara tahun 1637 sampai 1638 Masehi, setahun yang lalu.
Ketiganya kini saling berbincang dalam keheningan. Nampak sekali mereka tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh pihak lain. Bagaimanapun, sampai sekarang tidak ada seorangpun di Ban Yipun mengetahui bahwa ketiga warga mereka ini diam-diam dikenal sebagai tiga orang Pendekar Jepun bergelar Tiga Dewa Iai. Mereka adalah anggota dari sembilan pendekar Dunia Baru bersama dengan tujuh pendekar lain, yaitu Harimau Siam, Macanputih sang pendekar suku Osing dari wilayah kerajaan Blambangan, Gagak Barong sang pendekar cemeti dari suku Tengger serta dua pendekar sejoli Khmer. Kesembilan pendekar ini dipimpin oleh sang tua baya Dewa Langkah Tiga dari Kerinci.
__ADS_1
Paulo Omura, walau merupakan seorang Jepun yang berasal dari kelompok Nasrani atau Kakure Kirishitan, sebenarnya sama sekali bukan penganut agama itu yang taat. Kurang lebih setahun yang lalu, ia mengikuti perintah Amakusa Shiro, pemimpin pasukan para Samurai Nasrani yang masih berumur enam belas tahun, untuk mengadakan pemberontakan di Shimabara. Saat itu ia cenderung benci dengan dua tuan tanah Shimabara, yaitu Matsukura Katsuie dan wilayah Karatsu oleh Terasawa Katataka yang memberikan aturan pajak dan upeti yang berlebihan padahal daerah yang ia tempati dahulu sangat miskin.
Maka, pelariannya ke Siam ini bersama para Kirishitan sejatinya hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, jauh lebih baik. Ia ingin menjadi kaya raya dan terhormat. Dunia Baru memberikan kesempatan itu. Di Jepun, para perang besar Shimabara, ribuan orang dipancung dan mati di dalam pertempuaran karena penggunaan senjata dan pengerahan orang yang banyak serta besar. Di saat itu, orang-orang Kirishitan tidak memiliki rencana yang baik. Maka, kehancuran dan kekalahan jelas terjadi.
Namun, untuk masalah kemampuan dan kesaktian pribadi, Paulo Omura tidak dapat disangsikan lagi. Jurus-jurusnya sangat mengerikan, berisi kepedihan bertahun sekaligus memasukkan unsur-unsur penderitaan. Tak heran Paulo Omura menunjukkan wajah yang sangat dingin. Ia bergeming ketika mendengar kedua rekannya menceritakan secara menyeluruh tentang sepak terjang Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu. Ia ingin sekali menjajal kemampuan termahsyur pendekar dari tanah Jawa itu dan melawannya dengan jurus andalannya, yaitu Iai Jujika ni Tsuke Rareta, Jurus Pedang penyaliban.
__ADS_1
Tiga Dewa Iai ini telah paham bahwa Jayaseta pasti sekarang sudah dalam perjalanan menuju pusat kota Ayutthaya. Mereka tidak mau membiarkan kesempatan bertarung dengan sang tokoh direbut oleh anggota sembilan pendekar Dunia Baru lainnya.