
Teriakan perintah bertaburan di atas lancaran yang dinakhodai orang Lan Xang ini. Meriam-meriam kecil serupa cetbang dan yang sedikit lebih besar langsung disiapkan. Begitu juga dengan beberapa pucuk senapan yang sudah dipegang oleh para awak kapal orang-orang negeri Kamboja tinggal ditembakkan saja.
"Perampok Đại Việt dan Champa! Puluhan perahu sudah menghadang di depan. Masih ada lagi dari balik pepohonan di sisi sungai!" teriak ketua prajurit petarung di atas kapal.
Para pedagang dan penumpang kapal yang tak bersenjata langsung masuk ke lambung kapal untuk perlindungan, sedangkan yang merasa mampu tetap di atas geladak siap bertempur. Mereka mencabut pedang dan belati.
Dayung kapal diperlambat. Bahkan para pendayung diperintahkan menarik masuk dayung-dayung mereka.
"Sial! Apa mau orang-orang Đại Việt itu di kapal ini? Mereka biasanya hanya berurusan dengan orang-orang Cina Han yang menjadi musuh sekaligus pengaruh terbesar mereka," seru seorang punggawa prajurit kapal dengan gusar. "Jumlahnya pun tidak main-main. Apa yang dimau mereka dari atas kapal ini? Aku yakin kita membawa barang yang berharga bagi mereka," lanjutnya.
"Jangan pikirkan itu! Pikirkan saja bagaimana bisa bertahan dari serangan mereka dan membunuh sebanyak mungkin orang Đại Việt," balas salah satu rekannya. Keduanya berbicara dalam bahasa Lan Xang.
__ADS_1
Sasangka yang mendengar percakapan ini tidak paham apa yang sedang dibahas. Namun dari nada suara dan gerak-gerik mereka, ia sudah menduga bahwa peperangan sudah akan terjadi dalam waktu dekat dan mungkin sekali keadaan ini begitu gawat bagi mereka karena menghadapi musuh yang juga kuat.
Sasangka meraba kantong bawaannya, menyiapkan kain sekadarnya yang berguna sebagai penutup mulut atau topeng dan tiga wedhungnya, kemudian berdiri serta meletakkan bumbung bambu arak di tepian kapal. Tak lama, di antara kesibukan dan kehebohan di atas geladak kapal itu, dengan cepat sang pendekar mengenakan penutup mulutnya dan langsung menyelip ke geladak bagian depan kapal.
Di sisi lain, Jaka Pasirluhur melihat para peniaga dan penumpang kapal yang mampu bertarung sudah bersiap dengan senjata mereka di buritan kapal, ia pun tak menunda lagi. Kudhi kembali keluar dari buntalan barang bawaannya. Tak lupa dengan cepat ia mengenakan topeng Penthul Tembemnya.
Kapal yang dinakhodai orang Lan Xan ini terus melaju di atas air sungai, melewati perahu-perahu para perompak Đại Việt yang telah siap dengan senjata-senjata mereka tetapi belum menyerang sama sekali.
"Mengapa tak ada tanda-tanda para perompak ini menyerang kapal lain sebelumnya, padahal jumlah mereka lebih daripada cukup untuk menyerang kapal mana saja dan menghancurkannya. Mereka juga tak terlihat kemungkinan menyerang kapal yang ditumpangi rombongan Jayaseta. Lalu mengapa kapal ini?" batin Sasangka.
Naluri kependekarannya tak salah sama sekali. Memang nyatanya kapal yang ia tumpangi adalah sasaran utama. Untuk memastikan ia tewas, Dewa Langkah Tiga bahkan meminta serangan ke kapal itu dilakukan dengan kekuatan berkali lipat.
__ADS_1
Para perompak nyatanya masih bersiap di atas perahu. Tombak-tombak sudah terpancang dengan mata bersinar terang memantulkan cahaya mentari. Kulit para perompak mengilap oleh keringat dan cipratan air sungai.
"Apalagi yang kalian tunggu?" seru Sasangka dalam hati. Kedua tangannya telah menggenggam tiga batang wedhung yang dua diantaranya menempel di bagian gagang.
Dalam kesiapan itu mendadak terdengar gema teriakan para perompak. Semangat peperangan telah dilepaskan ke udara.
Belasan perahu berada di depan, belasan lagi di samping dan belasan lagi di belakang. Puluhan lagi masih bersiap di tepian sungai.
Rupa-rupanya inilah rencana mereka, para perompak itu. Yaitu sebuah pengepungan, bukannya menyerang langsung dari depan.
Perahu-perahu itu dikayuh cepat mendekat ke arah kapal Lan Xang. Dua tiga tombak dilemparkan ke atas geladak. Jelas ini adalah sebuah tanda nyata bahwa peperangan telah dimulai.
__ADS_1
Teriakan perintah dari nakhoda Lan Xang diikuti dengan letusan meriam cetbang dari depan dan buritan kapal. Asap putih pekat membumbung ke angkasa disertai pecahan kayu perahu para perompak serta nyawa yang ikutan melayang.