
Enam orang gerombolan Jarum Bumi Neraka yang bertopeng merah terus berlari sampai melewati kawasan pepohonan. Mereka kini telah sampai pada sebuah sebuah daerah berumput dan ilalang tinggi.
Langit membulat cembung tanpa bulan, namun gemintang bertebaran berpendar kelap-kelip seperti bara terkena angin.
Mereka menghentikan langkah mereka sejenak karena berpikir bahwa para pengawal Almira sudah tak mungkin mengejar mereka lagi. Si tua pasti sudah menghabisi mereka.
Mereka paham bahwa gerakan rahasia ini pada dasarnya dinakhodai oleh Kompeni Walanda. Segala gerakan mereka hanyalah demi kepentingan pihak Walanda. Maka tak heran mereka juga mencoba mengais-ngais keuntungan sendiri.
Lajur dan urutan kepemimpinan bisa sangat beragam. Mereka bisa saja dipimpin oleh lebih dari satu perintah. Mereka juga bisa berpendapat atau mencoba menawar beberapa perintah tertentu.
Ini dikarenakan susunan kepemimpinan dan kepentingan kelompok yang cukup rumit.
Misalnya saja, sebagai anggota Jarum Bumi Neraka, mereka berada di bawah bekas prajurit Mataram yang membelot. Sudah barang tentu mereka juga berada di bawah perintah Pratiwi, putri Sarti yang merupakan salah satu anggota dari Lima Iblis Pencium Darah yang sama-sama bekerja untuk Walanda.
Berhubung si kakek Kembar Sang Penyair Baka memiliki hubungan kekerabatan dengan baik Sarti maupun Pratiwi, jelas mereka juga harus paling tindak menerima perintah dari kakek-kakek sakti tersebut.
Tapi kepentingan mereka masing-masing tidak jarang bertentangan dan berbenturan. Agar sama-sama tetap menikmati uang, kekuasaan atau kepentingan apapun itu, mereka harus tetap sama-sama tahu dan penuh pertimbangan.
Jadi ketika mereka gagal membunuh Almira, istri Jayaseta, salah satu musuh besar Kompeni Walanda di Betawi, mereka harus segera pergi. Tak mungkin membiarkan diri mati konyol melawan para pengawal yang jumlahnya tiga kali lipat. Biarlah sang kakek yang mencoba melunasi tujuan ini. Bila berhasil mereka tetap diuntungkan. Toh, kakek itu sendiri yang memutuskan untuk melawan mereka semua.
Keenam orang itu saling berpandangan, mereka seakan melihat wajah masing-masing, karena semua mengenakan topeng yang sama.
Satu orang melepas topeng buta merahnya, merasa jengah dan pengap karena harus memakainya. Angin dingin malam di atas lapangan berumput ini menyapu wajahnya.
SLEP!
Sebuah senjata tajam berjenis belati menancap tepat di dahinya. Butuh waktu beberapa saat sampai ia jatuh mati dan kelima rekannya sadar dengan apa yang terjadi.
Ada orang yang melemparkan belati yang rupa-rupanya adalah sebilah wedhung itu.
"Ba*ngsat! Siapa yang berani membokong kami? Keluar kau. Hadapi kami dengan jantan!" teriak salah satu anggota bertopeng lainnya.
Sisa anggota lain tentu langsung bersiap-siap. Mereka mengeluarkan paku-paku rahasia dan menyelipkannya di sela-sela buku jari mereka sembari melihat sekeliling dengan awas.
Tujuan dan tugas mereka sebagai pembunuh rahasia membuat mereka tak repot membawa senjata tajam lain selain paku-paku tersebut. Tugas mereka hanyalah membunuh dan menghilang, maka akan terasa repot bila harus membawa senjata yang susah untuk dibawa lari atau melenting.
__ADS_1
Namun, mana mereka menyangka bahwa mereka akan gagal dan masih harus berhadapan muka langsung dengan lawan yang masih belum terlihat pula.
Sebagai jawaban tantangan salah satu anggota bertopeng itu terdengarlah sibakan rerumputan dan ilalang tinggi. Seseorang muncul disana.
Malam gelap namun tak terlaku pekat menunjukkan sosok laki-laki dengan celana pangsi, kain yang melingkari pinggangnya dan baju tanpa lengan dan tanpa kancing. Ia menggenggam dua bilah belati berjenis wedhung.
"Lucu sekali. Kelompok pengecut yang hanya bisa membokong korban mereka kemudian melarikan diri ternyata dapat merasa kebingungan dengan serangan rahasia orang lain," ujar sosok yang kini hanya berjarak beberapa langkah saja di depan para anggota Jarum Bumi Neraka tersebut.
"Baj*ingan tengik! Berani mencari mati berhadapan dengan kelompok kami, hah?! Apa kau salah satu pengawal Almira yang berhasil menyusul kami? Kau beruntung bisa mati di tangan kami, bukannya di tua Penyair Baka itu. Baiklah, akan kami yakinkan untuk mengirimmu langsung ke akhirat!" ujar anggota bertopeng lain.
Kata-katanya yang panjang tersebut terbukti tak bermakna sama sekali. Karena sang sosok menjawabnya dengan mendadak menyerbu dengan kedua wedhung nya, membabat leher, menusuk dada dan membenamkan kedua ujung tajam wedhung itu ke perut musuh. Ketika ia mencabut kedua belatinya, sang korban sudah mati terlebih dahulu.
Sontak keterkejutan para anggota pelempar paku ini dilepaskan dalam bentuk serangan. Sisa kelompok ini yang berjumlah empat orang saja melemparkan paku-paku mereka ke arah sang sosok.
Suara desiran angin akibat paku-paku yang beterbangan terdengar jelas di malam yang senyap ini.
Sosok tak dikenal itu menggerakkan kedua wedhung nya memotongi serangan paku. Ia juga berjumpalitan dengan begitu lincahnya.
Sampai saat ini, serangan awal paku-paku itu gagal. Tak ada satu paku pun yang menggores tubuhnya apalagi mendarat di sasaran.
Sang sosok berguling di balik ilalang, mencabut wedhung yang tertancap di kening korban pertamanya dan melompat maju menyelesaikan pekerjaannya, membabat dua serangan menyilang ke tubuh orang yang terkena wedhung di bahunya tadi.
Tiga orang tewas sudah.
Menggenggam dua wedhung dengan kedua tangannya, sosok ini sudah benar-benar memperhitungkan kelebihan dan kekurangannya dalam mengatasi sisa tiga orang lawan yang kesemuanya mengandalkan jarak. Senjata lempar mereka tak bisa digunakan dengan baik melawan musuh yang bergadap-hadapan. Tapi ia tidak bisa selalu dapat mendekat. Ini bisa menjadi kerugian yang besar.
Ia melemparkan wedhungnya ke musuh yang terdekat sebelum orang itu sendiri melemparkan paku-pakunya.
SLEP!
Wedhung kembali membacok kepala musuh dan menancap di sana. Tubuh itu ambruk tak bernyawa lagi tanpa suara sama sekali.
Wedhung kedua juga dilemparkan sembari berlari ke arah musuh lainnya.
Senjata itu menancap di dada musuh. Teriakan menggema, namun pekerjaannya belum selesai karena sasaran belum tewas.
__ADS_1
Ia kemudian berguling-guling ke depan, mendekat, diantara paku-paku yang beterbangan di atas kepalanya dari serangan satu orang yang masih belum terluka sama sekali.
Setelah berhasil menghindar, sosok tersebut mencabut wedhung yang menancap di kepala mayat musuhnya dan menerjang ke arah satu musuh yang terluka di dadanya.
Empat paku menancap di punggung rekan anggota Jarum Bumi Neraka karena sosok tersebut menggunakannya sebagai tameng manusia. Bahkan sebelum ia mencabut wedhung kedua yang tertancap di dada, orang itu sudah mati oleh paku-paku beracun di punggungnya yang dilemparkan oleh rekannya.
Dua wedhung kembali tergenggam.
Satu ia lemparkan.
CRAS!
Memapras putus tiga jari musuh yang sedang akan melemparkan paku nya kembali.
Dengan serangan ini tak ada lagi halangan sang sosok untuk meluncur memotong jarak.
Ia membenamkan wedhung ke perut, menyobeknya kemudian dengan satu gerakan terakhir, melesakkan wedhung itu ke dalam otak sang musuh melalui matanya.
Selesai sudah. Semua musuh tewas tak tersisa.
Sosok itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia berjalan pelan memunguti semua wedhungnya, menghapus sisa darah yang menempel dengan meleletkannya di kain pakaian mayat-mayat tersebut.
Dua wedhung ia masukkan ke sarungnya di kiri dan kanan pinggang sedangkan satunya ia selipkan di belakang.
Sosok ini sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah Sasangka, satu-satunya anggota pendekar tiga pasang belati yang masih hidup. Sisanya, Kesuma dan Mahendra telah tewas di tangan Pratiwi.
Sasangka menggunakan ketiga wedhung mendiang kawan-kawannya dan mengamalkan jurus-jurus tiga belati tersebut.
Sewaktu mereka masih bersama, menghadapi lawan-lawan ini bukan perkara sulit. Serangan ketiganya berlapis dan memotong jarak. Namun sendirian, sudah pasti diperlukan sebuah cara untuk mengakalinya.
Nampaknya ia sudah berhasil.
Tak lama terdengar suara gemerisik. Ilalang tersibak oleh langkah cepat dua orang yang datang tiba-tiba.
Dua orang tersebut adalah Katilapan dan Narendra.
__ADS_1
Keduanya terlihat lega dan puas karena melihat bahwa Sasangka berhasil menyelesaikan pekerjaannya.