Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Antang Menukik


__ADS_3

Lobang-lobang di Do sanaman mantikei sang prajurit ditutupi kuningan, sehingga warna bilah yang gelap berlawanaan dengan warna kuningan yang keemasan tersebut. Terutama bila dibandingkan dengan Do yang Jayaseta rebut tadi, bilah Do yang Jayaseta genggam mengkilat, serupa dengan beragam senjata tajam berbahan besi lainnya, layaknya golok misalnya.



Si prajurit pengayau yang tersisa satu-satunya ini sebenarnya memiliki kemampuan silat dan seni perang dua tingkat di atas kawan-kawannya. Kerugiannya ketika melawan Jayaseta malah terletak pada kedua rekannya yang ketika menyerang bersamaan, membuat ia ikut menjadi kesulitan dalam pergerakan dan pengamalan jurus yang terbatas.


Sekarang ia sudah menyaksikan kecepatan dan kecerdasan Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu yang tersohor itu. Kata-kata Karsa benar-benar mengenainya.


Setelah kedua kawannya tiada dalam penugasan ini, ia akan menjadi leluasa dalam menggunakan segala kemampuannya untuk bertukar ilmu kanuragan, saling menyerang sepenuh hati, saling berusaha untuk membunuh.


Sang pengayau memandang tajam ke arah Jayaseta. Pergelangan tangannya memutar pelan dan memainkan Do sanaman mantikei nya. Ia berjalan mendekat ke arah Jayaseta pelan sembari berjinjit, pinggul dimainkan untuk memutar atau menggeserkan tubuhnya. Gerakannya mempersiapkan serangan serupa dengan seekor burung yang hendak mematuk korbannya.



Jayaseta ikut memainkan Do yang ia genggam. Sudah tidak ada kata mundur. Ia ingat Karsa sepertinya memang senang sekali dengan permainan kekuasaan seperti ini.


Sewaktu di jung yang dinakhodai Tuan Nio, Karsa membiarkan para bajak laut pendekar Bugis-Mangkasara yang memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan juga ilmu kebal untuk melawannya dahulu. Ia menginginkan semacam anak buah untuk menjajal keahlian Jayaseta. Dalam hal ini, ia sadar bahwa Jayaseta pasti menang, dan jelas ia mengorbankan orang-orang itu. Baru setelahnya, ia akan maju dan menikmati perkelahian tersebut.


Sama dengan ketiga pengayau ini. Sudah dua tumbang, dan Karsa bernafsu melihat pertarungan terakhir.


Jayaseta tak peduli dengan permainan Karsa. Darah luka rajahan Datuk Mas Kuning masih meneteskan darah yang sudah merata di bagian depan tubuhnya karena tercampur dengan air rawa, cipratan lumpur dan keringat.


Jayaseta akan memastikan siapapun yang mengancam nyawa dirinya serta orang-orang penting dan berharga di sekitarnya akan mendapatkan akibatnya.


Sekali lagi, ia berusaha untuk tidak menjadi jumawa dan sombong dengan beranggapan bahwa ia adalah seorang pendekar yang berhak menghukum orang-orang jahat. Ia hanya melaksanakan garis hidupnya, bertindak sesuai dengan falsafah hidup kependekaran suci. Ia yang bernama lain Nio Kongsing adalah putra Nio Hongko, salah satu dari dua ratus pasukan Cina muslim dibawah kepemimpinan Endrasena, yang tewas bertarung di peperangan dalam mempertahankan pemikiran dan jalan hidup mereka, yang mereka anggap sebagai kebenaran.


Maka, Jayaseta juga harus hidup dan mati dalam jalan itu pula, kebenaran dan ksatria.


***


Bagai seorang Samurai, sang pengayau dengan Do sanaman mantikei ini tidak mau boros serangan. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik Jayaseta.


Cara bertarung para prajurit Daya yang baru kali ini dihadapi Jayaseta, adalah selalu tegas. Setiap serang memang dimaksudkan untuk membunuh, terutama memotong kepala. Itu dianggap sebuah serangan penghabisan yang meyakinkan bahwa musuh pasti tewas.


Oleh sebab itu, setiap tebasan hampir selalu diarahkan lurus mendatar dan panjang.


Tapi, tentu Jayaseta tidak bisa terjebak dengan pemikiran seperti itu. Setiap lawan, seperti apapun kemampuan dan jurus-jurus mereka, tidak pernah dapat disepelekan dan dianggap sama.


Benar saja, sang pengayau menendangkan kakinya, menyipratkan air dan lumpur ke arah Jayaseta. Ini merupakan gerakan tiruan dari hal yang dilakukan Jayaseta sebelumnya.

__ADS_1


Jayaseta mengangkat Do nya dan bergeser menghindar dari cipratan tersebut karena merupakan gerakan kepekaannya yang terjadi begitu saja.


Sang pengayau melesat membabatkan Do nya, namun bukan mendatar memotong ke arah leher, sebaliknya serangannya menukik dari atas kemudian berbelok mendatar, tetap ke arah leher.


Jayaseta menghindar dari bacokan dari arah atas kepalanya, namun ketika serangan berubah ke lehernya, ia terpaksa menahan dengan Do nya.


TRANG!


Kembali percikan api terlihat. Jayaseta mundur ke belakang. Do nya tergores, rompal.


Dua bentuk serangan dalam satu sabetan!


Sang pengayau mendesis. "Kalau kau mau tahu, pendekar. Jurus ini bernama Antang Menukik!"


Antang adalah burung elang dalam bahasa Biaju. Binatang ini dianggap sebagai binatang suci nan sakti, selain memang seekor elang sangat cepat dalam menyerang mangsanya.


Seperti yang sudah Jayaseta perkirakan, hampir setiap serangan Do selalu diarahkan untuk membunuh, membabat putus kepala musuh. Tapi ia sama sekali tak menduga, dengan Do yang pendek, membuat seorang Daya dapat melakukan serangan secepat dan seberbahaya itu.


Belum lagi ternyata Do sanaman mantikei tersebut memiliki mutu yang luar biasa. Do yang Jayaseta pakai saja sampai rompel. Ditambah dengan kekuatan serangan si pengguna.


Sang pengayau kembali ke kuda-kuda semula.


Do nya menebas lurus, kemudian membelok tegak lurus ke arah leher.


Jayaseta menangkis kembali dengan Do nya.


TRANG!


Satu serangan lagi dilancarkan. Kali ini sang pengayau kembali melompat namun Do nya ditusukkan ke bawah, bagai paruh antang yang sedang menukik. Jayaseta berguling ke samping, namun sekali lagi, Do sang lawan berubah arah, menyabet kembali ke leher Jayaseta.


TING!


Do Jayaseta patah di bagian ujungnya. Ada luka tipis sepanjang jari kelingking di lehernya. Tak bisa dibayangkan bila Jayaseta tak sempat menangkis serangan tersebut.


Karsa tertawa keras.


Dara Cempaka terlihat cemas.


Sang pengayau makin memanas.

__ADS_1


Ia tak mau membiarkan buruannya lepas begitu saja. Dengan penuh nafsu, sang Daya yang tubuhnya berbalut rajah itu menghambur ke arah Jayaseta, kembali melompat.


Sang pengayau tiba-tiba jatuh ke tanah. Tangan kanannya terluka parah, mengalirkan darah kental.


Jayaseta melemparkan Do nya yang kutung di bagian ujungnya ketika sang pengayau meloncat menyerang.


Sang pengayau terkejut karena serangan ini. Namun dengan kepekaan kependekarannya, ia masih sempat membatalkan serangan dan menghindar di udara. Akibatnya, lengan kanannya menjadi korban tergores Do yang terlempar tersebut.


Do yang Jayaseta lempar memotong pohon dengan batang kurus dan menancap di pohon lainnya di belakang sang pengayau.


Hal lain yang membuat prajurit Daya itu kaget sekaligus kesal adalah bahwa Jayaseta meniru langkahnya. Ialah yang sebelumnya melemparkan Do sanaman mantikeinya ke arah Jayaseta sewaktu pengejaran tadi. Jayaseta sendiri mampu menghindar serangannya dengan baik. Sedangkan sekarang, ia sendiri terluka oleh Do rompel.


Si prajurit memindahkan Do nya ke tangan kiri dan menimbang-nimbang senjata itu. "Baik, tangan kanan atau kiri tak jadi masalah. Masalahnya, kau kehilangan senjatamu. Dalam keadaan seperti ini, aku tak membawa pulang kepala orang yang kubunuh tanpa senjata," ujar sang pengayau dalam bahasa Melayu berlogat khas.


Jayaseta merasa benar bahwa sang pengayau menikmati ini. Hanya saja, sepanjang sejarah pertempuran dan perihal bunuh-membunuh, Jayaseta memiliki pola pandang sendiri. Ia tak mau dipermainkan dalam kepuasan musuh.


Maka dari itu, Jayaseta langsung menyerang sang pengayau yang baru saja selesai berbicara. Ia bahkan belum sempat mengangkat Do nya ketika dadanya terkena tendangan Jayaseta.


Ia terdorong ke belakang. Punggungnya menubruk pohon. Jayaseta melesat menyasar kepalanya. Sang pengayau menghindar. Jari-jari Jayaseta yang membentuk cakar meremas dan meremukkan kulit kayu di belakang kepala sang prajurit.


Satu tinju Jayaseta diberikan lagi ke kepala musuh. Sang pengayau menangkis dengan tangan kanannya yang terluka.


Darah menyiprat dari luka tersebut, dibarengi bunyi berderak patah. Sang pengayau berteriak kesakitan ketika tahu bahwa tulang tangan kanannya patah akibat tinju Jayaseta yang seberat palu baja itu.


Dengan amarah dan rasa sakit, sang prajurit Daya mengayunkan Do nya dengan tangan kiri, lurus mendatar ke arah leher Jayaseta.


Do sang pengayau mengambang dua jengkal di depan leher Jayaseta. Tangannya terkunci oleh cindai yang digunakan Jayaseta sebagai penutup mulut, pengganti topeng. Entah kapan Jayaseta melepaskannya.


Sang pengayau sekarang dapat melihat wajah dingin Jayaseta dari dekat. Dari situlah ia merasa bahwa nyawanya sudah siap meninggalkan raganya.


Jayaseta memutar kuncian lengan dan melilitkannya si leher sang pengayau.


Sekali tarik, Do sanaman mantikei menggorok leher sang empunya.


Si prajurit Daya jatuh terjerembab ke tanah rawa berair. Wajahnya seluruhnya terbenam di lumpur. Tubuhnya sudah tanpa nyawa, sedangkan darah kentalnya yang mengalir keluar dari leher dan lengan sama sekali tak terlihat, tercampur dengan air dan lumpur.


Jayaseta berdiri menggenggam Do sanaman mantikei di tangan kanan dan cindai yang dihiasi darah di tangan kiri.


Ia hendak berbalik ketika Karsa sudah melayang di udara dengan pedang terangkat siap memapras Jayaseta.

__ADS_1


__ADS_2