Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sembuh


__ADS_3

"Kau sudah bangun, Jayaseta?" ujar Punyan dengan wajah ceria bagai kanak-kanak. Ia sesegera mungkin pergi ke bangunan dimana Jayaseta istirahat dan dirawat. Sesuai ramalannya, Jayaseta pastilah sudah sembuh dan siuman. Ia melihat Dara Cempaka yang mendapat gilirannya menjagai pendekar itu sudah keluar dari bangunan tersebut, maka sudah saatnya ia yang mendatangi Jayaseta.


"Bagaimana perasaanmu setelah sembuh dan lepas dari tenaga dalam asing, kutukan tombak pusaka itu?" tanya Punyan. Tubuhnya yang penuh dengan rajah itu tertimpa mentari pagi.


Jayaseta mendadak terhenyak. "Sembuh? Apa maksudmu, Punyan?"


"Benar, sembuh. Kau kemari untuk minta disembuhkan, bukan? Aku dan apai sudah berusaha sebaik mungkin dan Jubata, Yang Kuasa, mengijinkannya. Kini terbebaslah kau sudah dari penyakit yang selalu menghantuimu itu. Kini kau sudah bisa menggunakan segala kemampuan terbaikmu, termasuk tenaga dalammu itu tentunya, Jayaseta."


Jayaseta masih terbengong-bengong. Ia merasa masih berada di alam mimpi. Ia khawatir kesadarannya ini tiba-tiba hilang dan menjadi sesuatu yang tidak nyata belaka.


"Dara Cempaka terlihat begitu khawatir sehingga ia memaksa untuk ikut bergiliran menjagamu. Padahal, apai sudah mengatakan bahwa kau akan tersadar tak lama lagi. Ketika kau sudah bangun, maka itu berarti kau telah sembuh. Benar saja, kau sudah bangun, bukan? Mari, ikut aku keluar. Sepagi ini berlatih sedikit ilmu silat bakal menyenangkan," ujar Punyan begitu ceria sembari menaikkan kedua alisnya.


Mendengar nama Dara Cempaka disebut, Jayaseta merasakan kepedihan yang menusuk relung-relung jiwanya. Pagi-pagi tadi, gadis itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sialnya, Jayaseta juga merasakan lidahnya kelu dan darahnya membeku. Lebih baik melawan puluhan prajurit Daya pengayau  daripada harus memutuskan satu kata yang diucapkan kepada Dara Cempaka, terutama setelah kejadian khilaf semalam.


"Kau yakin aku benar-benar telah sembuh, Punyan?" tanya Jayaseta memandang ke arah Punyan yang berdiri menyilangkan kaki dan menempelkan punggungnya di dinding kayu.


Yang ditanyai mengangkat kedua bahunya, "Bila kau ingin mengetahui pastinya, mari ikut aku keluar."


Tanpa menunggu Jayaseta lagi, Punyan pergi keluar ruangan. Dari luar, ia memandang menantang ke arah Jayaseta kemudian melompat turun dari bangunan tinggi itu.


Jayaseta berdiri dan melihat keluar. Punyan sudah berada di bawah.


"Kemari, pendekar. Bukan pekerjaan yang sulit bagi jagoan mahsyur dan tersohor seperti dirimu," teriak Punyan dengan nakal layaknya anak laki-laki yang menantang teman bermainnya untuk melakukan hal yang ia lakukan.


Jayaseta melihat ke bawah dan menimbang tinggi bangunan dengan kolong itu, serta jaraknya ke tanah.


"Kau bisa menggunakan sedikit saja tenaga dalam untuk ilmu meringankan tubuh. Dengan begitu kau bisa tahu bahwa kau telah benar-benar sembuh. Atau ... Kau bisa menuruni tangga dari kayu pohon kelapa itu perlahan, karena barangkali seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Topeng Seribu, yang membawa kepala Sang Penyair Baka itu masih terlalu takut dan khawatir dengan keadaan tubuhnya," teriak Punyan dengan lebih keras. Ejekennya jelas disengaja untuk menantang Jayaseta.


Sialan! Pikir Jayaseta. Ia merasa tertantang harga dirinya, meski ia tahu Punyan cenderung bercanda. Tapi di sisi lain, anak kepala suku itu ada benarnya. Apa lagi yang ia takutkan?


Maka Jayaseta menarik nafas dan melompat. Ia menggunakan secuil saja tenaga dalamnya dalam gerakan ilmu meringankan tubuh.

__ADS_1


Tak Jayaseta sangka-sangka. Tubuhnya melayang turun bagai kapas. Kakinya menapak di tanah tanpa suara sama sekali.


Punyan bertepuk tangan dan terkekeh puas. Jayaseta sendiri merasakan sebuah dorongan tenaga yang besar di dalam tubuhnya setelah menggunakan tenaga dalam, menyebar ke seluruh bagian jasmaninya sampai ke otak dan jantung.


Ia merasa penuh dengan tenaga, terlahir kembali. Ia mengenali tubuhnya dengan begitu baik. Ada percikan-percikan tenaga yang meletup-letup di setiap sisi badannya.


Jayaseta memperhatikan sekelilingnya dan menemukan beberapa gelondong kayu yang masih utuh, belum dipecah untuk dijadikan kayu bakar.


Ia mendekat ke salah satu gelondongan itu, menutup mata, memusatkan kekuatan dan tenaga melalui lengannya, dan ...


DUAR!!!


PRAK!!


Gelondong kayu itu pecah menjadi bagian-bagian kecil terkena hantaman tinju Jayaseta.


Punyan tertawa keras melihat kejadian ini, sedangkan Jayaseta merasakan perasaan bahagia yang memenuhi seluruh rongga di dalam dadanya.


Kini yang ada di dalam pikirannya adalah rasa bebas, berkuasa dan kuat yang luar biasa.


Punyan mengambil sebatang tombak yang tersandar di kayu-kayu tiang penyangga bangunan dan melemparkannya kepada Jayaseta yang menangkapnya dengan mantap.


Jayaseta kemudian memutar-mutarkan tombak itu, menguji setiap gerakan dan jurus-jurusnya. Tubuhnya bergerak begitu gesit, kecepatan dan tenaganya jauh di atas rata-rata.


Karena merasakan kebebasan luar biasa ini Jayaseta makin mempercepat dan menguatkan setiap gerakan dan jurus-jurus serangannya. Ia bahkan tak ragu menambahkan sedikit tenaga dalam yang dipusatkan di lengan yang menggenggam tombak dan tungkai kakinya untuk melompat-lompat.


Beberapa pemuda dan prajurit Daya tiba-tiba sudah berkumpul di sekitar Jayaseta, menonton pemandangan hebat ini. Walau kebanyakan wajah mereka seperti tak menggambarkan perasaan, jelas sekali bahwa mereka mengakui kehebatan gerakan sang pendekar serta menjadi sangat kagum.


Jayaseta kini tersesat dalam keadaan barunya ini. Tak pernah selama hidup ia merasa tak terkalahkan seperti saat ini. Ia merasa dapat menundukkan apa dan siapapun!


Jauh di belakang para pemuda, prajurit dan sekarang bertambah dengan anak-anak bahkan perempuan yang mengelilingi Jayaseta, Dara Cempaka ikut memperhatikannya.

__ADS_1


Air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia segera menghapusnya, tak paham air mata apa itu gerangan. Tak dipungkirinya ia bahagia melihat sang abang terkasihnya telah berhasil pulih dari sakit yang diderita dan bahaya yang selalu membayanginya.


Ia juga menangis khawatir akan apa yang akan terjadi di depannya kelak. Apakah benar Jayaseta kemudian akan bersamanya? Apakah ini bukan mimpi? Ia bahkan belum pernah memikirkan apapun yang berhubungan dengan membangun bahtera rumah tangga, keluarga. Namun kini, pilihan itu sudah ada di depan mata dan tak mungkin ditolak.


Ia takut membayangkan kebahagiaannya bersama Jayaseta. Ia tak berani mencita-citakannya karena khawatir akan terluka, walau ia tak tahu mengapa ia bisa berpikir seperti itu. Namun sungguh, apa yang terjadi semalam benar ia rela, benar ia suka, benar ia rasa.


Dara Cempaka berbalik, pandangannya beradu dengan Temenggung Beruang yang entah kapan sudah ada di dekatnya. Ia tak terkejut karena secara ajaib tatapan mata sang kepala suku begitu teduh dan tak mengancam. Pandangan seorang kakek. Ah, ia menjadi ingat sang Datuk tersayang, bagaimana kabarnya saat ini? Apakah karena Temenggung Beruang dan Datuk Mas Kuning memiliki hubungan yang baik di masa lalu membuat keduanya seakan saling terwakilkan?


Dara Cempaka tersenyum menyapa dan menundukkan kepalanya, begitu juga sang kepala suku yang membalas ramah dengan menundukkan kepala lebih dalam.


Dara Cempaka meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang luar biasa rumit.


***


Katilapan membungkus tubuhnya dengan kain jarit, menutupi sebagian besar rajah yang ada di tubuhnya. Namun, tidak sedikit orang yang masih salah paham menandainya sebagai orang Daya.


Sedangkan Narendra sibuk mencari-cari tempat untuk mereka berehat sejenak setelah berminggu-minggu di atas lautan. Betapapun rindunya mereka dengan lautan, rasa-rasanya kehidupan mereka sekarang sudah terpatri di daratan.


Maka sesampainya mereka di pelabuhan Sukadana, Narendra ingin sekali makan makanan darat.


"Sebaiknya kita mencari orang-orang Jawa yang ada di tempat ini, Katilapan. Seperti yang kita dengar sebelumnya sewaktu masih di Semarang, orang-orang Jawa dengar-dengar mendapatkan pekerjaan dan perkumpulan yang erat di sini. Harusnya tidak terlalu sulit mencari mereka," ujar Narendra.


Benar saja, selang tak berapa lama, lamat-lamat keduanya mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa Jawa atau Melayu dengan logat Jawa yang kental. Katilapan menunjuk ke arah sebuah bangunan, yang sepertinya kedai makan, yang cukup ramai oleh pembeli.


"Sudah pasri kita bisa mulai pencarian ini dari sana," ujar Katilapan.


Narendra menggaruk-garuk dagunya, "Tak perlu tergesa, Katilapan. Kita sudah sama-sama sepakat untuk membiarkan jalan nasib menunjukkan arahnya secara alami. Kita akan makan, minum dan rehat di sana. Bila ternyata kita menemukan berita dan cerita tentang Jayaseta atau apapun yang berhubungan dengannya, anggap saja nasib membawa kita ke jalannya dengan cepat," ujar Narendra.


Ombak pelabuhan begitu tenang pagi ini. Angin membelai pepohonan kelapa dengan santai. Raja Nio juga terbawa suasana duduk bersantai di kedai makan yang penuh dengan orang-orang Jawa yang bekerja di sekitar pelabuhan Sukadana ini, dari kuli bangunan, kuli panggul, pedagang, nelayan sampai petani dari pedalaman. Luka di perutnya belum bisa dikatakan sembuh, namun sudah tidak begitu bermasalah bagi pergerakannya.


Tanpa sengaja pandangan Raja Nio tertuju pada dua orang yang baru datang ke kedai tersebut. Mulanya ia tak begitu suka memperhatikan dan ikut campur urusan orang lain, sampai samar-samar ia mendengar kata 'Jayaseta' diucapkan beberapa kali dari kedua mulut orang yang baru datang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2