Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sanaman Mantikei


__ADS_3

Bilah Do para prajurit pengayau suku Daya itu kembali diputar-putarkan. Gagangnya yang dibentuk menyerupai kepala burung dihiasi rambut manusia, korban pengayauan mereka. Ada juga beberapa lobang di bagian belakang bilah yang tebal dan tumpul, dengan kuningan, timah dan mungkin emas. Lobang-lobang ini adalah tanda jumlah korban yang berhasil mereka bunuh.


Banyak Do dibuat dengan bahan besi dan baja dari beragam tempat di pelosok negeri Tanjung Pura, juga kepulauan Karimata yang memang terkenal perdagangan besinya.


Namun, khusus Do, ada sebuah daerah di wilayah pulau Tanjung Pura bagian Tengah, di sebuah aliran sungai, yang kaya akan bahan baku senjata ini. Nama sungai itu adalah Mantikei. Sedangkan bahan yang dimaksud bukanlah bijih besi, namun bebatuan yang kaya akan unsur besi di dalamnya, dinamakan pula sebagai Sanaman Mantikei.



Bebatuan ini digali dari dasar sungai, kemudian dilebur untuk mendapatkan logamnya. Penempaan dilakukan pada batu ini yang unsur besi nya sangat lembut dan lentur ketika dibentuk, namun tajam dan kuat setelah jadi.


Tentu tidak semua Do atau senjata tajam suku Daya dibuat dengan menggunakan bahan yang hanya ada satu-satunya di daerah tersebut, namun salah satu dari ketiga prajurit ini memang memiliki Do sanaman mantikei.


***


Jayaseta memainkan kedua lengannya dalam bentuk bunga-bunga silat Melayu. Ini adalah sebuah tindakan Jayaseta diluar dari kebiasaannya. Cukup mengejutkan karena Jayaseta, yang terkenal dengan Jurus Tanpa Jurusnya, tanpa menggunakan jurus tertentu namun dalam setiap gerakannya terkandung beragam jurus yang diterapkan sesuai keperluan, kali ini memutuskan untuk menggunakan jurus yang jelas-jelas bagian dari silat Pattani sekaligus Malaka.


Kedua lengannya bermain-main bak seorang penari. Kesepuluh jarinya membuka dan menutup dengan lentik. Sedangkan kaki, pinggul dan dadanya bekerjasama membentuk putaran dan beragam gerakan lain.


Satu prajurit Daya memutuskan untuk menyerang. Ia memberikan satu sabetan panjang yang luar biasa cepat.


Jayaseta harus mengakui bahwa setiap serangan Do para prajurit ini dilakukan dengan begitu cepat dan terarah. Bacokannya selalu sungguh-sungguh dalam satu tarikan panjang.


Ia menyimpulkan bahwasanya silat Do gaya prajurit Daya ini bertujuan untuk melepaskan kepala dari badannya, atau membunuh musuh dalam satu tebasan. Makan kecepatan dan tenaga adalah kuncinya.


Jayaseta mundur dengan lincah. Tebasan itu hanya sejengkal jaraknya dari tubuhnya.


Sang prajurit Daya membetulkan kuda-kudanya dan menatap Jayaseta.


Benar apa yang sudah Jayaseta amati. Para prajurit ini memiliki gaya bertarung yang memiliki kesamaan dengan para Samurai Jepun.


Setiap tebasan sangat diperhitungkan, walau Do ini memiliki panjang yang lebih menyerupai golok dibanding Katana atau bahkan pedang biasa.


Golok dimainkan untuk membacok dan mengiris, sedangkan Do, walau juga sangat mampu untuk menusuk, ia digunakan lebih untuk membabat sampai putus.

__ADS_1


Jayaseta akhirnya memiliki keunggulan karena pemahaman akan jurus-jurus mereka ini, bukan hanya meniru. Maka ketika si prajurit yang sama menyerang untuk kedua kalinya. Jayaseta berkelit, berputar dengan gesit, namun sembari maju.


Dengan segala jurus Silat Gayong dan Silat Pattani, Jayaseta memberikan pukulan pada rahang musuh, membenamkan satu tendangan ke ulu hatinya, sebelum Do yang sudah terlanjur membabat panjang kembali lagi ke kuda-kuda awal serangan.


Sang prajurit terhuyung sembari menahan sakit di ulu hatinya.


Jayaseta maju dengan cepat, kakinya berkecipak di tanah berawa. Sang prajurit Daya sadar bahwa Jayaseta menyerang dan ia siap menyongsong. Sialnya, yang dihadapinya adalah seorang pendekar pilih tanding, sama sekali bukan lawan biasa. Jayaseta masuh terlalu cepat buatnya.


Jayaseta menepis lengan berajah penuh yang mengangkat Do, tepat di otot lemah di bagian lengan atasnya. Tentu serang semacam ini tak memerlukan tenaga dalam, tapi kecepatan, ketepatan, dan tenaga hasil latihan olah tubuh.


Do sang prajurit jatuh tertancap pada tanah yang digenangi air.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Jayaseta menghajar leher, dada, perut dengan tinju dari kedua tangannya. Serangan ini dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga dalam satu tarikan nafas ada belasan pukulan yang dilontarkan.


Sang prajurit ambruk. Jayaseta meloncat, menjejakkan kedua kakinya ke tubuh lawan. Tak tanggung-tanggung, tubuh musuh terbenam ke tanah.


Jayaseta bahkan masih sempat menginjak wajah lawan, meyakinkan prajurit tersebut tetap berada di sana dan tak bangkit-bangkit lagi.


Namun, begitu juga dengan kedua prajurit Daya yang lain. Tentu mereka tak mau Jayaseta sampai menggunakan kesempatan ini. Rekan mereka telah tumbang dalam beberapa kali gebrak, tanpa senjata. Itu saja sudah menunjukkan kehebatan pendekar di hadapan mereka ini.


Oleh sebab itu, sebagai hasilnya, sebelum Jayaseta sempat meraih Do milik rekan mereka, keduanya menyerang bersamaan.


Jayaseta sudah terlebih dahulu menduganya. Ia memutuskan menyambut serangan salah satu prajurit Daya yang tadi terkena tancapan konde emas Dara Cempaka di pahanya. Ini dikarenakan gerakan prajurit tersebut sedikit lebih lambat di banding satunya.


Prajurit Daya yang serangannya lebih dahulu sampai ke arah Jayaseta adalah prajurit yang menggunakan Do terbuat dari sanaman mantikei. Do nya berwarna gelap dengan beberapa buah lobang di bilahnya. Do tersebut sempat menggores kulit bahu Jayaseta, namun tak lebih dari sekadar sayatan sedalam goresan luka akibat ilalang.


Prajurit satunya dengan gerakan hanya sedikit lebih lambat ternyata tak sempat melepaskan serangan ke arah Jayaseta karena pahanya yang terluka oleh konde emas Dara Cempaka, dipukul oleh Jayaseta.


Ia memekik dan hilang keseimbangan. Jayaseta menyerang dengan lututnya, tepat di lambung musuh.


Dalam keadaan musuh yang lengah dan lemah tersebut, Jayaseta menggunakan kesempatan tersebut untuk mengunci lengan musuh yang menggenggam Do dan mengangkatnya untuk menampik serangan lanjutkan dari prajurit Daya dengan sanaman mantikei nya.


TRING!

__ADS_1


Percikan api menerangi kegelapan malam di balik pepohonan. Cahaya malam itu hanya dibantu sinar rembulan yang merambat masuk melalui sela-sela dedaunan serta sinar temaram jauh, berasal dari rumah Datuk Mas Kuning.


Do sanaman mantikei sang prajurit Daya tak mengenai Jayaseta karena Jayaseta menggunakan Do rekan satunya untuk menangkis dengan cara mengunci lengannya.


Hanya saja, karena kuatnya serangan dan mutu Do sanaman mantikei ini, babatannya tetap menembus benteng pertahanan dan melukai bahu rekannya sendiri.


Teriakan kesakitan menggema.


Jayaseta masih memegang lengan yang menggenggam Do itu. Secepat kilat ia memuntir lengan itu kembali dan menggorok leher lawan.


Satu pengayau lagi tumbang.


Jayaseta berdiri dengan Do di tangan, melihat lawan yang membelalak marah.


Karsa tergelak bahkan terbahak-bahak. Sang pengayau yang tersisa mendesis tanpa memandang ke arahnya, "Bang*sat kau Karsa. Dua orang temanku tewas dan kau menganggap ini lelucon!"


"Ha ha ha ... Ini bukan lelucon teman, ini adalah kenyataan yang harus kau dan warga kampungmu ketahui, tantangan macam apa yang benar-benar sedang kalian hadapi," ujar Karsa sembari menahan tawanya.


Jayaseta sama sekali tak paham makna percakapan mereka. Namun sementara ini ia sama sekali tak peduli. Ia sedang menjaga nyawanya sendiri, serta orang lain yang ada bersamanya, Dara Cempaka. Gadis itu bagaimanapun adalah tanggung jawabnya sekarang.


"Kalau bukan karena tugasku mengikuti maumu, kau yang akan kubunuh sekarang, Karsa," ujar sang pengayau dengan Do sanaman mantikei kepada Karsa.


Yang diajar berbicara kembali tertawa, "Aku tahu, aku tahu ... Tapi lihatlah sekarang, kau juga bernafsu menghabisi pendekar itu bukan? Kau ingin mengayau kepalanya untuk dibawa pulang ke kampung, bukan? Ha ha ha ..."


Sang prajurit diam-diam tersenyum. Entah ada apa sebenarnya diantara Karsa dan orang-orang Daya ini. Kesepakatan untuk kepentingan macam apa yang terjadi di antara mereka.


Lalu, apa yang membuat Jayaseta terlibat di dalamnya?


Jayaseta memutarkan Do dengan memainkan pergelangan tangannya.


Sang suku Daya pengayau yang menggenggam Do sanaman mantikei tersenyum semakin lebar. Ia melihat sang pendekar sedang mengambil intisari jurus-jurus pengayau miliknya dengan meleburkan dengan jurus-jurus yang tak ia kenal.


Pendekar ini sudah menewaskan kedua rekannya dalam beberapa kali gebrak. Benar kata Karsa, ini benar-benar sesuatu yang perlu ia ketahui dan kenyataan yang harus ia hadapi.

__ADS_1


__ADS_2