
Sosok bertubuh pendek kecil itu menyeruak dari balik pepohonan sepelemparan jauhnya dari bangunan keprajuritan pasukan Siam terletak. Ia sama sekali tak mengendap-endap, padahal busananya serba hitam dan ia mengenakan topeng pula, yang menunjukkan bahwa ia tak ingin dikenal dan apapun yang akan ia lakukan haruslah sebuah hal yang rahasia.
Kenyataan bahwa malam ini termasuk malam yang terang, dengan awan tersibak sinar bulan yang beberapa hari lagi purnama, tidak menggetarkannya. Topeng iblis Khon yang ia kenakan menyeringai seram, sama seperti wajah di balik topeng itu.
Dewa Lima Langkah yang menggunakan nama Pendekar Topeng Seribu dalam sepak terjangnya itu tak menunggu lama untuk mendapatkan kesempatannya langsung menyambangi salah pusat keprajuritan Siam yang menjaga perbatasan Ayutthaya dan Kesultanan Melayu Kedah, yaitu kesatrian di bawah kepemimpinan punggawa Kittisak.
Ia berjalan dengan begitu percaya diri, bahkan tak terlihat ia membawa sebuah senjata apapun, bahkan sebilah belati pun tidak.
Bangunan kayu di depannya berdiri kokoh dengan lampu minyak kelapa dan obor yang menerangi.
__ADS_1
"Kalau boleh jujur, tidak sedikit bangunan-bangunan orang Siam yang sepertinya merupakan gabungan gaya Melayu dan Jawa," mendadak pikirnya asal. Ia terkekeh. Padahal, ia tak terlalu peduli dengan hal remeh nan sepele semacam itu. Meski ia pun tahu bahwa tidak hanya bangunan, namun juga budaya, bahasa, bahkan gaya silat di seluruh Nusantara dan negeri-negeri manca negara yang berada di sekitarnya memang saling mempengaruhi selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Belasan orang gabungan pendekar dan prajurit Melayu Kedah menununduk-nunduk di balik pepohonan dengan pakaian serba gelap dan dilengkapi persenjataan seperti tombak dan pedang. Mereka dilarang membawa senapan demi mengurangi kecurigaan atau paling tidak tuduhan pihak Siam bahwa para prajurit Kedah ikut terlibat dalam penyerangan ini.
Sialnya, pendekar paruh baya yang jemawa itu sesumbar sepanjang hari bahwa ia bisa bekerja sendirian. Ia akan mengalahkan semua satuan pasukan di bangunan keprajuritan Siam itu seorang diri. Ini tentu saja membuat kesal para pendekar yang merasa harusnya orang satu ini mengikuti rencana yang sudah disiapkan oleh pihak Melayu Kedah.
Sekarang, dengan merasa bodoh dan konyol, para pendekar dan prajurit Kedah terpaksa berdiam diri memperhatikan peniru Pendekar Topeng Seribu itu berjalan pongah ke arah bangunan Kesatrian. Mau tidak mau, mereka harus menunggu apa yang bakal terjadi. Toh, hitung-hitung, kalau si tua itu mampus dikeroyok para prajurit Siam di kandang mereka sendiri, mereka tak perlu repot-repot keluar dan menunjukkan siapa mereka. Biarkan orang-orang Siam itu menuduh sekaligus menebak-nebak siapa di belakang kejadian tersebut, dan yang jelas, bukan orang-orang Melayu Kedah.
Dewa Langkah Tiga berdiri beberapa tombak di depan gapura pelataran kesatrian pasukan Siam. Empat orang penjaga bersenjatakan tombak, pedang dan dua pucuk senapan melihat kehadiran sosok tak dikenal itu dari kejauhan. Cahaya bulan yang belum sempurna menyinari sosok tubuh kecilnya. Ketika sejenak kemudian mereka akhirnya dapat melihat wajah sang sosok yang ditutupi topeng kayu iblis Khon tersebut, naluri mereka terpercik, bagai kawanan kijang yang melihat seekor harimau.
__ADS_1
"Siapa kau! Diam disitu, bangsat!" teriak salah satu prajurit Siam yang mendapatkan giliran bertugas jaga tersebut dalam bahasa Siam. Ia segera mengangkat senapannya. Begitu juga satu penjaga yang memegang senapan. Dua lagi sudah mempersiapkan tombak dan perisai mereka.
"Aku tak tahu kau ngomong apa, bodoh," ujar Dewa Langkah Tiga perlahan kepada dirinya sendiri.
Dengan sekali hentak, tubuh kecilnya meluncur cepat bagai pel*uru, hampir tak terlihat. Senapan kedua penjaga terlalu lambat untuk gerakan gesit bagau kilat sang sosok tak dikenal itu.
Dewa Langkah Tiga membenamkan tinju jurus pertamanya ke tulang rusuk pemegang senapan satu, mematahkan beberapa sehingga jari-jarinya tak sempat menekan pelatuk. Tubuh itu ambruk tanpa suara.
Dalam sekali gerak pula, Dewa Langkah Tiga menambahkan sedikit tenaga di tinju jurus kedua, menghancurkan ulu hati pemegang senapan dua, melemparkan musuh tiga langkah ke belakang sampai tesentak ke belakang dan jatuh terjengkang mati.
__ADS_1
Jurus langkah ketiga diselesaikan dengan empat gerakan. Punggung kepalan menghajar rahang, dilanjutkan tinju lurus memecahkan tenggorokan lawan ketiga. Prajurit penjaga Siam keempat tak menduga bahwa tempurung lututnya harus retak dihajar sepakan pendek namun luar biasa keras dari sosok tersebut. Belum sempat ia mengendalikan diri dari rasa sakit yang menyergap tubuhnya, lutut musuh sudah menghujam dagunya dan mengirimkan tubuhnya mumbul ke belakang dan jatuh berdemum ke bumi tak sadarkan diri. Ia beruntung masih bisa hidup, sedangkan sisa rekannya tewas atau paling bagus sedang sekarat.