Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tawur


__ADS_3

Tawur besar akhirnya pecah sudah. Teriakan perang yang dibumbui kental dengan amarah, benci, nafsu membunuh serta gairah kekuasaan terdengar bersahut-sahutan.


Berbeda dengan perang di lapangan atau dataran terbuka, pertempuran di dalam kampung berbenteng ini dilakukan dengan cara menyebar. Beberapa kelompok memang langsung berhadap-hadapan, namun kebanyakan lainnya berlari ke sudut-sudut kampung. Mereka memanfaatkan apa saja untuk mengecoh lawan, mempersukar pergerakan lawan atau bertahan dan menjebak musuh agar dapat mengalahkannya.


Mereka berlarian di atas rumah betang atau rumah panjang yang berbentuk panggung, tinggi di atas tanah. Lawan akan saling menyerang dari atas dan bawah rumah, menombak, melembing atau melemparkan dohong mereka karena memang itulah tujuan rumah panjang yang berpanggung, menjadi bagian dari pertahanan dari serangan musuh.


Mereka juga bersembunyi balik pepohonan, kandang babi dan ayam kemudian menyergap musuh. Tak jarang pula para pejuang saling tipu dan saling daya, mengeroyok, menjebak dengan menjerat lawan dengan tali atau menjatuhkan benda berat dan tajam dari atas bangunan rumah panjang.


Darah mulai menghiasi tanah dan papan lantai bangunan. Benar-benar tiada ampun dan belas kasihan. Ketika musuh tersudut, tombak akan menembusi tubuhnya, atau mencacahi badannya. Kepala sebagai hadiah pencapaian kemenangan, sementara ini dibiarkan, selama musuh bisa dibunuh dahulu. Ini dikarenakan pertarungan yang sangat ketat sehingga ketika seorang pejuang berhasil membunuh lawan, ia sendiri sudah harus mempertahankan diri dari serangan musuh atau kembali cepat-cepat mencari musuh lain untuk dihabisi.


Pepohonan yang masih muda tumbang terpapras do atau patah terkena beban tubuh yang terlempar. Babi dan ayam kadang menjadi korban p*eluru, jarum sumpit dan anak panah yang menyasar. Akibatnya, darah binatang ternak ini bercampur dengan cipratan darah manusia.


Teriakan terus menggema di angkasa. Teriakan semangat dan amarah serta teriakan kesakitan di ambang kematian dan ketakutan berpadu. Begitu juga kepulan asap bertambah dengan api yang kembali menyala membakar ladang dan bangunan-bangunan lain. Ini dilakukan musuh untuk memecah perhatian prajurit di dalam benteng ini, serta melemahkan semangat mereka karena mengingat rumah dan tempat tinggal mereka diusak-asik musuh hingga berantakan.


Tapi, sepak terjang Jayaseta dan Punyan ternyata tidak bisa ditanggapi dengan remeh. Jayaseta berkelit bagai bajing, meloncat-loncat bagai kijang dan menyerang bagai seekor ikan hiu di lautan atau macan di daratan. Tembakan be*dil, panah dan sumpit dapat dihindari dengan mulus. Setiap prajurit yang menyerang dapat dihindari dengan berputar dan mengehentakkan tubuhnya menubruk perisai.


Kalau sudah begini musuh yang menyerang akan terlempar mundur ke belakang, bergulingan. Beberapa memutuskan undur diri, beberapa sial karena harus tewas terpaparas mandau atau terkena tendangan dan tinju bertenaga dalam di leher, kepala atau dada mereka.


Punyan lain lagi, kekebalannya membuat lawan seakan membiarkan sosok itu berjalan lurus langsung menuju ke hadapan Panglima Asuam. Punyan menangkis tebasan do dengan lengannya, membiarkan tombak menusuk-nusuk tubuhnya. Ia kemudian akan membabat musuh sekuat tenaga, memutuskan jari-jari mereka, atau mencacah lengan sehingga musuh akan jatuh ke tanah kesakitan. Maka Punyan akan dengan gampang menyelesaikan pekerjaannya menghabisi nyawa lawan.


Pe*luru jelas dapat menyulitkan dan menjadi ancaman bagi Punyan melihat sang apai tertembus pe*luru dari bahan yang sama dengan pe*luru yang mereka gunakan sekarang. Hanya saja, kekebalan Punyan tak membuat dia lambat dan dungu. Punyan juga mampu berkelit, mengeser tubuhnya menjadi di samping atau belakang musuh dan menggunakan tubuh-tubuh mereka sebagai tameng. Sebagai akibatnya, para penembak yang berjumlah tujuh orang Jawa itu berpikir-pikir untuk menghabiskan p*elor mereka demi menembaki sasaran yang bergerak lincah tersebut.


***


Karsa merasakan tulang-tulangnya kembali utuh. Kulit keriputnya menjadi kembali setebal batu dan jantungnya memacu bergairah.


Ia mendekat ke arah seorang prajurit Daya Kudangan bawahan Pendekar Harimau Muda Kudangan dan mengambil sebilah naibor yang ia pegang. Sang prajurit hendak menentang dan menengkar tindakan pemaksaan Karsa, namun Karsa menyepak sang prajurit di dadanya. "Diam kau, bang*sat!"


Sang prajurit terlempar ke belakang dan jatuh terduduk. Ia kemudian memukul tanah dengan kesal. Rasa sakit di dadanya tak seberapa dengan rasa sebalnya. Namun ia bangun dan mencari senjata lain untuk pertahanan dirinya ketimbang menantang si mayat yang kembali hidup itu.


Karsa melakukan ini demi melihat Jayaseta menderu bagai angin puyuh ke arahnya. Serangan prajurit gabungan Biaju tak bisa menahannya. Sedangkan di lapisan paling belakang ada tambahan pasukan Kudangan, para budak, penembak dan pendekar-pendekar Jawa serta beberapa pemanah dan penyumpit Biaju.


Namun, berdiri tak jauh di samping Panglima Asuam, Karsa enggan menunggu lama. Ia berniat menyongsong serangan Jayaseta. Kali ini Pendekar Topeng Seribu itu harus paham bahwa ia berhadapan dengan seorang dewa, mahluk dengan derajat yang jauh lebih tinggi, tak kenal kematian dan akan selalu kembali sampai kapanpun untuk melenyapkan nyawa mereka yang menghadang jalannya.


Karsa melompat tinggi menerjang Jayaseta.


Naibor rampasan Karsa siap membelah kepala Jayaseta menjadi dua bagian.


TRANG!


Mandau menangkis terjangan senjata naibor tersebut.

__ADS_1


TRANG!


TRANG!!


Karsa melanjutkan dengan dua kali sabetan ke dada dan leher Jayaseta. Jayaseta sendiri memutuskan untuk membenturkan saja mandaunya dengan naibor lawan.


Dalam tiga kali benturan, jelas terlihat naibor Karsa rompal di tiga bagian mata pedangnya. Ia tak acuh. Karsa melompat lagi dan menitikberatkan tenaga dalamnya pada tebasan lurus ke bawah ini.


TRANG!!!


Jayaseta kembali mengangkat mandaunya tegak lurus di atas kepalanya. Api memercik dari kedua bilah senjata tajam yang saling berbenturan tersebut.


Bilah naibor kalah mutu jauh dibanding mandau pusaka yang dipegang Jayaseta. Walau telah dialiri tenaga dalam, bilah naibor melengkung bengkok. Sialnya, bilah naibor yang tertahan mandau itu ketika melengkung sempat melukai lengan kanan Jayaseta.


"Bang*sat kau, Jayaseta!" sumpah Karsa. Ia membuang naibor nya yang bengkok, sedangkan Jayaseta memutar-mutarkan mandau sembari merasakan luka berdarah di lengannya.


"Kali ini, kau tak akan selamat. Sudah berapa kali aku mati, tapi tak pernah aku sekesal ini kembali ke dunia. Kau kupastikan yang akan ke neraka. Kau ...."


Kalimat Karsa terpotong. Jayaseta menghajar dadanya dengan sebuah tendangan keras. Karsa tersentak mundur ke belakang dan jatuh bergulingan.


Karsa berdiri, Jayaseta melayang di atas kepalanya dan membabat keningnya dengan mandau.


TAK!!


Kepalanya tak terluka, namun ia tetap merasakan sakitnya serangan itu.


"Kurang ajar! Bede*bah! Bang..."


Jayaseta kembali memotong kata-kata makian Karsa. Ia meluncur maju memapras dada, menendangnya serta membacok kepala Karsa.


Karsa mengangkat kedua tangannya, namun deru serangan Jayaseta tak tertahankan.


PAK!!


TAK!!


TAK!!!


PRAK!!!


Beragam hujanan serangan membuat Karsa bagai kayu yang terapung di tengah sungai, timbul tenggelam dan doyong kesana kemari.

__ADS_1


Mandau Jayaseta akhirnyapun rompal di beberapa bagian.


Jayaseta memusatkan tenaga dalam dan mengeluarkannya cepat dalam bentuk serangan. Gaya bertarung Yulgok sang pendekar dari Joseon entah bagaimana masuk merasuk juga ke dalam Jurus Tanpa Jurusnya. Jayaseta memutar tubuhnya, namun bukan kesamping, melainkan dari bawah ke atas, menghajar rahang Karsa keras.


PRAK!!


Tubuh Karsa tersentak dan terangkat ke atas. Ia terlempar ke belakang dan jatuh berdebum ke tanah.


Kulit wajahnya tak tergores dari luar, namun tulang dagunya retak dan menyobek daging dan kulitnya dari dalam.


Karsa merasakan sakit yang menyengat dari dagu yang dikirimkan syaraf ke otaknya.


Ia berdarah.


"Banggkhsssttt!!!" Karsa kembali menyumpah serapah, namun kata yang keluar dari mulutnya tak berwujud. Kerusakan di rahangnya lah yang membuatnya demikian.


"Cukup bicaramu, Karsa. Jangan pikir aku gentar denganmu. Malah akulah yang berterimakasih kepadamu karena mencoba kembali hidup dan menjadi saksi kemampuan silatku!" ujar Jayaseta di balik topengnya. Kata-kata tantangan semacam ini adalah bagian dari kebanggaan Jayaseta sendiri, sekaligus cara membuat musuh semakin kesal, sehingga kelak kekalahan lawan benar-benar paripurna dan sempurna.


Karsa memegang dagunya tak percaya. Jayaseta yang ia hadapi berubah menjadi mahluk yang menyeramkan. Ia cepat, gesit, kuat dan tambah sakti.


Karsa paham, melihat kemampuan Jayaseta kali ini, dalam sekali gebrakan, maka kepalanya akan kembali putus. Dan setelah itu, tubuh dan kepalanya pasti dibakar agar ia tak kembali hidup.


Baru kali ini sepanjang hayatnya, Karsa merasa takut.


Ia memegang lehernya, mencoba melindungi bagian tubuhnya itu dari serangan Jayasera berikutnya.


Benar saja, Jayaseta melesat bagai anak panah menyerang leher Karsa.


BUG!


Karsa melonjak. Ia terkejut sampai-sampai jatuh terduduk. Jantungnya mencelos. Ia memegang lehernya dan bagian itu masih utuh.


Jayaseta terdorong mundur ke belakang.


Sosok tak dikenal muncul seketika dan menendang ke dada Jayaseta. Tendangan itu tak melukai sang pendekar, namun cukup untuk membuat Karsa tak jadi kehilangan nyawanya untuk kesekian kalinya.


Jayaseta berdiri, memutarkan mandaunya dan melihat sosok di depannya yang berdiri menggenggam sepasang keris tanpa luk di kedua tangannya.


Ia mengenakan busana bergaya laki-laki berupa celana pangsi hitam serta baju lengan panjang kelabu yang dikancingkan menyilang rapat sampai leher menutupi sepasang payu*dara mungilnya. Kepalanya dibalut iket yang sepertinya kebesaran baginya.


Tubuh kecil namun liat itu mungkin bisa sedikit menipu orang lain, namun kulitnya yang gelap namun halus serta wajah cantik nan kejamnya tak bisa membuat Jayaseta pangling. Perempuan yang menyamar menjadi laki-laki itu adalah Pratiwi.

__ADS_1


Pratiwi memandang ke belakang, ke arah Karsa yang masih terduduk. "Kau masih hidup, kakek?" ujarnya pendek.


Karsa berdiri, tersenyum kemudian terkekeh bahagia.


__ADS_2