
Ireng dengan ujung matanya memerhatikan jayaseta yang kembali menggunakan tenaga dalam murninya untuk memberikan sokongan dan bantuan kepada Dara Cempaka. Meski bisa dikatakan akhir-akhir ini keadaan tubuh sang istri masih bisa dkatakan membaik dan tidak menunjukkan gejala apapun, tetap saja dengan memberikan tenaga dalamnya, tubuh Dara Cempaka akan terus terjaga.
Dara Cempaka duduk dalam diam membelakangi Jayaseta. Perempuan Melayu yang ayu itu menutup sepasang matanya, sedangkan Jayaseta menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Dara Cempaka. Tenaga hangat dan sejuk sekaligus, mengalir perlahan ke dalam tubuh Dara Cempaka, membuatnya merasa tenang.
Sang istri pendekar itu kini sudah semakin dewasa. Ia sudah dapat mengatur segala jenis pemikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya di dalam perjalanan mereka yang begitu menantang tersebut. Ia tidak lagi merasa menjadi beban suami dan sahabat-sahabatnya. Meski kejadian demi kejadian yang pelik selalu menghinggapi perjalanan ini. Ia sudah sadar dan paham, menjadi pendekar dan menjadi istri seorang pendekar adalah hal yang memang perlu ia hadapi. Ia tidak akan hanya sekadar berjalan seperti seorang yang sakit belaka, tetapi juga harus sama kuatnya dengan setiap anggota di dalam kelompok ini.
Jayaseta sendiri sama sekali tidak takut bahwa ia tidak bisa mencapai tujuan mereka, yaitu menyembuhkan Dara Cempaka. Ia adalah seorang pendekar sakti mandraguna, siapapun dan apapun yang menantang jalannya akan ia libas. Ia sudah percaya diri dengan kemampuannya itu, sekaigus sudah merasa bahwa Dara Cempaka adalah tanggung jawabnya. Keinginannya hanya sederhana, membutuhkan bantuan. Namun, bila di dalam perjalanan ia terus diusik, ia tidak akan memberikan ampunan bagi siapapun mereka.
Ireng menghela nafas pendek. Ia masih tidak percaya dengan segala tindakan yang dilakukan oleh Siam. Namun, kehidupan memang seperti itu. Pengabdiannya kepada Jayaseta bukan sekadar pencapaian, melainkan salah satu dari tujuan hidupnya. Ia merasa bermakna karena mengabdi kepada orang yang memberikan makna di dunia ini. Mungkin begitu pula dengan Siam. Maka, di satu sisi ia sangat kecewa dengan orang yang sudah menjadi saudaranya itu, tetapi di sisi lain ia bisa memahaminya. Hanya saja, jalan mereka memang sungguh berbeda.
Narendra masih mengunyah makanan yang tadi mereka beli di salah satu pasar di perjalanan, sedangkan Katilapan mempersiapkan diri untuk berjaga-jaga, meski ia juga ikutan mendayung perahu bersama Ireng.
“Nama Jayaseta sudah terlalu terkenal. Bahkan aku sama sekali tidak menyangka bahwa dunia persilatan di manca negara juga mengenalnya,” ujar Katilapan.
__ADS_1
Narendra membuang bungkus makanan dari daun ke sungai, kemudian mencuci tangannya. “Aku malah tidak terlalu heran, Katilapan. Nama besar seperti itu sulit untuk disembunyikan, walau, yah, Jayaseta mengenakan topeng untuk menyembunyikan jati dirinya. Yang membuat aku heran dan geram adalah kelompok-kelompok aneh yang memiliki rencana-rencana gila untuk menguasai dunia, atau melakukan banyak tindakan demi kepentingan-kepentingan mereka yang aneh dan sama gilanya. Kerajaan demi kerajaan sibuk berperang dan mencari kuasa. Begitu pula tuan tanah, bahkan pejabat-pejabat negara seperti adipati, juga tidak bosan-bosannya untuk mendulang pencapaian atas kekuasaan. Mengapa sulit sekali puas bagi diri mereka?” Ujar Narendra sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya.
Ia kemudian meraih dayung dan ikut membantu dayungan perahu mereka tersebut.
“Sudah makannya, Narendra? Sekarang giliranku kalaiu bagitu,” ujar Katilapan. Ia meletakkan dayung, kemudian mengambil satu bungkus makanan. Ia sempat menawarkan kepada Ireng yang langsung ditolak.
Di depan sana, Tiga Dewa Iai sudah sungguh menghabisi para pengepungnya. Ini jelas membuat sepasang pemimpin mereka, Sokhem dan Sovanara rugi besar. Selain itu, yang membuat kelak sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian dari Khmer tersebut kesal adalah bahwa mereka tidak berhasil menemukan ketiga pendekat Jepun tersebut. Harusnya bila ketiganya sudah paham siapa yang sedang memburu mereka untuk membunuh, ketiganya bisa saja menghadapi Sokhem dan Sovanara sekalian.
Konoshi Hidetada, Arima Oda dan Paulo Omura memang kemudian memutuskan untuk meninggalkan medan pertempuran setelah sebelumnya bermandi darah. Dengan cepat dan gesit serta keputusan yang cerdas, mereka menghindar tanpa diketahui Sokhem dan Sovanara. Mereka sengaja menipu pasangan pendekar itu. Bukannya tak mampu membunuh Sokhem dan Sovanara, tetapi meninggalkan keduanya adalah sebuah tindakan yang jenaka sekaligus mengesalkan.
Di tepi sungai, mereka membersihkan diri dengan cepat dari darah yang menghiasai tubuh dan wajah mereka, kemudian melompat ke perahu. Mereka sadar bahwa menhabiskan waktu untuk melawan kelompok Sokhem dan Sovanara hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Pencapaian mereka adalah untuk membunuh Jayaseta, bukannya sibuk menyelesaikan permasalahan kelompok dan pribadi.
Mereka pun harus mencegat Jayaseta dan rombongannya sebelum mereka sampai di Ayutthaya. Bila si pendekar mahsyur dengan julukan Pendekar Topeng Seribu itu bisa sampai di Ayutthaya, maka akan lebih runyam permasalahannya. Rombongan mereka tersebut termasuk orang-orang yang paling dicari, terutama oleh kelompok Dunia Baru
__ADS_1
Di tempat yang sama, Sokhem dan Sovanara merutuk kesal sejadi-jadinya, terutama sang perempuan. Ia memiliki perbendaharaan kata kasar dan makian yang luar biasa kaya. Ia meludah ke tanah, ke tempat mayat-mayat anak buahnya berserakan begitu saja.
Sokhem mengencangkan ikat kepala, atau krama-nya itu. Kepalanya berdenyut karena kesal. Sisa pasukan pendekar di belakang keduanya terbelalak. Nampaknya mereka dipaksa sadar siapa yang akan mereka hadapi. Jelas bahwa kedua tuan mereka ini juga merupakan pendekar-pendekar pilih tanding. Keduanya adalah bagian dari sembilan pendekar Dunia Baru yang menjadi ujung tombak gerakan besar lintas bangsa tersebut.
Namun, Tiga Dewa Iai juga adalah bagian dari kesembilan pendekar itu. Maka, sudah pasti perlawanan besar akan terjadi. Selain kehormatan bila mampu menggores kulit mereka saja, apalagi sampai mengalahkan dan membunuh ketiganya, melawan Tiga Dewa Iai hampir sama kemungkinannya dengan bunuh diri.
Namun, semua sudah kepalang basah. Sisa pasukan ini akan terus melanjutkan pekerjaan mereka untuk mengejar Tiga Dewa Iai yang sudah menghabisi rekan-rekan mereka.
Sokhem melihat jelas, walau di kejauhan, bahwa perahu sudah didayung oleh ketiga pendekat Jepun itu.
“Bedebah! Mereka menghindari kita!” ujar Sokhem.
“Mereka menginginkan Jayaseta untuk diri mereka sendiri. Mari kita susul mereka. Bila kita bertemu dengan rombongan Jayaseta di tengah jalan, maka takdir sudah berjalan di jalannya. Sebaliknya, bila kita pun lebih dahulu berurusan dengan tiga Jepun keparat itu, jalan hidup tetap harus dilaksanakan!” balas Sovanara.
__ADS_1
Adegan kejar-kejaran di atas sungai itupun tak dapat dihindari. Tujuan awal mereka untuk saling membunuh dan mendapatkan kesempatan utama untuk membunuh Jayaseta sepertinya adalah keputusan bodoh yang terlalu mementingkan kepentingan sendiri. Bukannya bekerja sama, kedua kelompok tersebut malah sibuk menghancurkan diri sendiri. Itu karena mereka sama sekali tidak paham siapa dan bagaimana Jayaseta itu.