
Adrian melajukan mobilnya ke arah Hotel tempat pelaksanaan acara ulang tahun Perusahaan Global Utama TBK. Adrian memakai setelan jas yang baru Saja Adrian Ambil dari Butik Andreas.
Adrian sangat Puas dengan hasil jahitan dan buatan Butik Andreas. Sebelum Memasuki area parkiran khusus Mobil, Handphone Adrian berdering. Adrian segera mengangkat telponnya.
"Halo, ada apa Nic??" tanya Adrian sambil memarkirkan mobilnya.
"Saya sudah dapat alamat Cewek yang telah menolong Bos waktu Bos kecelakaan" ucap Nicolas.
"Terus?"
Adrian mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Nicolas. Karena Adrian tidak ingin sampai salah alamat atau pun salah orang.
"Makasih Nic! gaji kamu aku naikkan bulan ini" ucap Adrian sambil tersenyum bahagia karena Akhirnya Dia bisa menemukan Malaikat penolongnya.
"Makasih bos" ucap Nic dari seberang telpon.
Sambungan telpon pun terputus. Adrian melangkahkan kakinya ke dalam Hotel tersebut. Adrian kembali menjadi pusat perhatian dari seluruh Tamu undangan yang sudah memadati ballroom hotel.
Seperti biasa Adrian akan mengeluarkan aura seseorang yang tidak mudah untuk diraih.
Semua Mata tertuju kepada Adrian, tidak Hanya kaum muda yang memperhatikan kedatangan Adrian tapi ibu-ibu Sosialita pun terpesona dengan penampilan dan ketampanan Adrian. Adrian seakan-akan menjadi Idola di Pesta malam itu.
Ke Esokan Harinya, Adrian Martadinata bangun dari tidurnya dan tak lupa melaksanakan kewajibannya yaitu sholat subuh terlebih dahulu. Kemudian Adrian menyempatkan dirinya untuk berolahraga.
Pagi ini Adrian sudah memantapkan dirinya untuk mendatangi Rumah Cewek yang menolongnya Tempo hari. Adrian membeli banyak makanan dan Kue. Adrian tidak ingin ke rumah sang penolongnya dengan tangan hampa.
Adrian sangat antusias untuk mendatangi Rumah Malaikat penolongnya, Seakan-akan Orang yang akan Dia Temui itu adalah orang yang sudah bertahun-tahun Dia tidak jumpai.
Senyum Manis tak pernah pudar di wajah Tampan Adrian. Semenjak Dia meninggalkan apartemennya menuju Rumah Cewek itu yang ada di Pinggiran kota new York.
Perjalanan yang ditempuh oleh Adrian cukuplah Jauh, tapi karena dalam suasana hati yang Bahagia perjalanan yang seharusnya melelahkan dan membosankan menjadi Kebahagiaan untuk Adrian.
Rumah yang akan didatangi oleh Adrian ternyata terletak tidak jauh dari pantai. Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan Adrian. Daun kelapa melambai-lambai menyambut kedatangan Adrian.
Adrian kembali memeriksa handphonenya untuk mengecek ulang alamat yang dikirim oleh Nicolas ke Handphonenya.
Tidak butuh lama, Rumah yang dicari oleh Adrian sudah Dia Temukan. Bahkan Adrian sudah berdiri di depan pintu Rumah yang bercat putih gading. Rumah yang tampak sederhana tapi tetap memperlihatkan bahwa pemilik rumah ini adalah Orang yang Dari kaum Jetset.
Adrian masih ragu untuk mengetok pintu rumah itu. Bahkan Adrian entah kenapa ada ketakutan dan keraguan yang muncul tiba-tiba dari dalam dirinya.
Adrian memutar badannya untuk kembali ke dalam mobilnya. Tapi tiba-tiba pintu yang menjulang tinggi itu perlahan-lahan terbuka.
__ADS_1
Adrian kaget bahkan shock melihat Siapa sosok orang yang telah membuka pintu itu. Bahkan Adrian mematung dan tidak tahu berbuat apa-apa Ketika melihat Wajah dari pemilik Rumah itu.
Sang pemilik rumah pun kaget dengan kedatangan Pria yang selama ini Dia Hindari bahkan Pria yang Dia coba untuk hapus dari ingatan dan hatinya.
Emilia Langsung menutup kembali pintu rumahnya. Dan menutup semua Gorden jendela rumahnya. Agar Adrian tidak melihat ke Dalam Rumahnya.
"Emilia tolong buka pintunya" ucap Adrian sambil mengetuk pintu Rumah Emilia.
Emilia tidak bergeming bahkan sudah menutupi ke Dua telinganya.
"Emil apa kamu tidak merindukan Kakak, Sebenci itu kah kamu kepadaku??" ucap Adrian sambil tetap dan terus mengetuk pintu Rumah Emilia.
"Emilia ijinkan aku masuk, Aku mohon Emil" ucap Adrian sambil meneteskan air matanya yang sedari tadi berusaha Dia tahan.
Ada banyak muncul perTanyaan dari benak Adrian. Karena tujuan Adrian ke rumah itu adalah untuk menemui Cewek yang telah menolongnya. Tapi entah Kenapa Orang yang Dia sayangi dan Dia Rindukan lah yang Muncul di Depan Pintu bercak putih gading itu.
"Kakak akui Kalau Kakak bersalah Emil, Karena Kakak tidak memperjuangkan hubungan kita, Aku akui aku terlalu Takut Emil dengan Ancaman Ayah" ucap Adrian sambil menangis tersedu-sedu. Adrian Sudah terduduk di lantai teras Rumah Emilia.
Jam di Handphone Adrian sudah menunjukkan pukul 12 siang, Tapi sang pemilik rumah masih enggan untuk membuka pintu Rumahnya.
Emilia Masuk ke dalam kamarnya dan menangis tersedu-sedu. Emilia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bahkan Emilia berulang kali mencubit lengannya untuk memastikan bahwa Dia tidak sedang bermimpi.
"Ya Allah hari ini yang sudah Lama aku takutkan dan hindari, Kenapa Meski Dia hadir" ucap Emilia yang tangisannya semakin menjadi.
Waktu terus berlalu Hingga Matahari sudah turun ke peraduannya dan akan dapat gantikan oleh Sang Dewi Malam, Tapi tidak ada yang berani untuk bangkit dari tempat mereka. Adrian masih terduduk dan terdiam di Depan Pintu, Sedangkan Emilia masih asyik dengan pikirannya sendiri.
Tak berselang lama, Masuklah sebuah Mobil sedan Hitam. Mobil itu berhenti di depan Rumah Emilia.
Tapi hal itu tidak mengusik Ketenangan Adrian yang masih betah duduk di lantai. Penumpang dari mobil itu turun dan perlahan berjalan ke arah pintu.
Mereka terkejut melihat ada Pria yang terduduk di lantai yang menampilkan wajah dan rupa yang sudah seperti orang gila.
Tiba-tiba ada anak kecil yang berlari mendekati Adrian.
"Uncle Adrian" ucap bocah perempuan itu yang tidak lain adalah Michelle putri dari Astrid.
Astrid kaget melihat keberadaan Adrian di rumah Emilia
"Apa mereka sudah bertemu??" Monolog Astrid.
"Uncle Adrian kok bisa ada di Sini, Uncle baik-baik saja kan?" tanya Michelle Kepada Adrian.
__ADS_1
Papi Michelle memandang istrinya yang ingin bertanya tentang apa yang dilihatnya saat ini. Papi Michelle heran dengan Tingkah anaknya yang mengenali Laki-laki yang seperti orang gila itu.
"Pi, Dia temannya Michelle Yang Tempo hari Michelle ceritakan kepada Papi dan Mami" ucap Astrid kepada Suaminya Brian Regan.
Sedangkan Andreas heran melihat siapa laki-laki yang terduduk di lantai rumahnya. Andreas ingin bertanya kepada Aunty Astrid tapi Dia tahan. Andreas ingin mengetahui hal itu langsung dari mulut mamanya.
"Uncle ayo bangun, Michelle bantuin yah Uncle" ucap Michelle sambil berusaha untuk membantu Adrian berdiri.
Adrian Hanya menganggukkan kepalanya dan langsung bangkit dari duduknya.
"Maafkan Saya yang sudah menganggu ketenangan pemilik rumah ini" ucap Adrian sambil merapikan dan membersihkan pakaiannya.
"Tidak apa-apa Pak" ucap Astrid.
Adrian akhirnya menyerah dan pamit untuk pulang.
"seKali lagi saya minta maaf atas ketidak nyamanan kalian" ucap Adrian.
"Uncle Adrian sudah mau pulang??" Tanya Michelle sambil memegang tangan Adrian untuk menahan kepergian Adrian.
"Uncle pulang dulu Yah, insya Allah kalau ada waktu Uncle akan menemui Princess" ucap Adrian sambil mengelus kepala Michelle.
Kejadian ini tak lupuk dari penglihatan Emilia dari kaca jendela kamarnya. Andreas merasakan cemburu dengan perlakuan Adrian Kepada Michelle disaat Adrian menggendong Michelle dan mencium pipi Michelle.
Adrian Akhirnya kali ini mengalah dan pulang ke Apartemennya. Tapi Adrian berjanji akan datang lagi dan mencari tahu apa hubungannya Emilia dengan Orang yang sudah menolongnya.
TBC..
Alhamdulillah Fania bisa update 1 bab sambil antri di Loket.
Moga Readers suka dengan bab ini 🤲🙏.
FANIA Ucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers yang sudah memberikan Giftnya ataupun dukungannya dalam bentuk lain.🙏🙏🌹.
Dukungan kalian adalah penyemangat Fania untuk Update lagi.
MAKASIH BANYAK..
By..
Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, 3 Februari 2022