
Happy Reading..
Sudah dua Minggu Mama Elisabeth menjadi penghuni baru Villa megah dan mewah milik Hendry dan Sebenarnya Mama Elisabeth yang pemilik asli dari Villa itu semasa dirinya menjadi istrinya dulu.
Kehadiran Mama Elisabeth di Villa itu disambut hangat oleh semua Maid,art, pelayan, pengawal serta jajaran Security sangat bahagia dengan kehadiran mama Elisabeth di villa itu, karena sejak kedatangan Mama Elisabeth pak Hendry sudah sedikit berubah sifat dan karakternya dan mereka sudah bebas untuk melaksanakan shalat dan ibadah puasa yang dulunya mereka akan dimarahi jika beribadah disaat mereka bekerja. Dan mereka sangat berharap agar Mama Elisabeth bisa merubah karakter Tuan muda Arman yang selama ini sudah semakin hancur dan tidak terkendali.
Hari itu, Karina sedang bekerja saking seriusnya, Karina sampai-sampai tidak menyadari jika ada seorang pria yang setengah mabuk mendekatinya dan ingin mencolek pinggangnya. Tapi sebelum tangannya menyentuh pinggang Karina orang itu sudah terbanting ke arah belakang dan mengenai ember yang berisi air bekas pel lantai.
"Aaahh apa itu???" tanya Karina yang kaget setengah mati.
Karina terkejut dengan situasi tersebut yang sebelumnya tidak ada suara apa pun dan dia hanya sendiri di tempat itu, tiba-tiba ada suara benda jatuh yang menimbulkan suara gaduh. Karina melongok tak percaya dengan apa yang dia lihat. Arman sudah memukul membabi buta Orang yang sudah terkapar di bawahnya. Arman sama sekali tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk melawan.
"Sekali lagi kamu menyentuhnya maka aku akan menghabisi kamu" ancam Arman setelah berhenti memukul Pria yang ingin kurang ajar kepada Karina.
"Sudah pak, sudah kasihan sudah hancur mukanya jangan ditambah lagi" cegah Karina yang langsung memeluk tubuh Arman yang ingin menendang bagian perut pria tersebut.
Arman lansung berhenti untuk memukul pria tersebut. Karina meminta tolong kepada pihak keamanan Bar untuk mengamankan Pria yang berniat ingin melecehkannya. Karina meminta ijin untuk pulang lebih awal karena kondisi Arman yang tidak baik. Karina pun mengantar Arman pulang ke Villa milik keluarganya berbekal dari alamat yang ada di dalam KTPnya.
Arman sempat terkena pukulan pas diwajahnya dan kondisi Arman yang Juga dalam keadaan mabuk pun akhirnya tumbang juga mau tidak mau Karina memutuskan untuk mengantar Arman pulang. Karina menyetir mobil Arman dengan sangat pelan dan hati-hati karena Karina tidak terlalu lincah dalam mengemudikan mobil, Karina takut jika membuat mobil Arman yang mahal tergores sedikit pun. Karina takut jika dituntut untuk ganti rugi dan memperbaiki mobilnya Arman yang pastinya biaya ganti rugi dan perbaikannya bukan uang yang sedikit jumlahnya.
Hujan pun turun semakin lebatnya, Karina tetap melajukan mobilnya Arman hingga perlahan tapi pasti sampai di garasi villa megah milik orang tua Arman. Karina segera meminta tolong kepada Security untuk membantu Arman ke dalam rumah untungnya Security yang berjaga saat itu ada dua orang, Sehingga memudahkan untuk memindahkan Arman ke dalam kamarnya. Tubuh Arman yang sempat kehujanan tadi sudah menggigil kedinginan dan tubuhnya sudah demam.
"Pak Karina minta tolong Yah diantar Pak Arman sampai ke dalam kamarnya dan ini kunci sama dompet tuan Arman yang sempat tadi jatuh, karena sudah larut malam Saya permisi pamit pulang dan maaf tidak sempat mengantar Tuan Arman ke dalam kamarnya" pamit Karina kemudian.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Muda Mbak?". tanya pak Joko.
"Tuan muda Arman terlibat perkelahian dengan seseorang dan wajahnya pak Arman sempat terkena pukulan dari pria itu, tapi mungkin karena pengaruh pakaiannya yang basah sehingga tubuh pak Arman demam dan menggigil kedinginan" Jawab Karina lagi.
"Makasih banyak Mbak sudah menolong Tuan muda" ucap Pak Joko salah satu Security yang membantu Karina.
"Sama-sama Pak, Assalamu alaikum" ucap Karina sebelum meninggalkan Villa itu.
Karina memesan ojek online kemudian pulang ke rumahnya. Karina heran dengan Arman setiap kali mereka ketemu hanya jarang sekali Arman dalam keadaan tidak mabuk. Tubuh Karina basah kuyup karena hujan belum reda saat dirinya pulang.
Apa yang terjadi sebenarnya dengan tuan Arman yah, sepertinya dirinya punya masalah yang membuatnya tertekan dan melarikan diri dengan cara mabuk-mabukan.
Sedangkan di dalam Villa, Mama Elisabeth yang melihat Arman dibawah oleh Security segera berlari untuk membantu Security itu.
"Apa yang terjadi dengan Arman?." tanya Mama Elisabeth.
__ADS_1
"Tuan muda diantar pulang oleh seseorang cewek dalam keadaan yang sudah seperti ini" tutur Pak Joko.
"Antar cepat tuan muda ke dalam kamarnya Jangan sampai Sakitnya bertambah parah" perintah Mama Elisabeth.
Tubuh Arman dibaringkan di atas ranjangnya dan Mama Elisabeth membuka seluruh pakaiannya Arman yang basah Minggu lalu waktu Arman mabuk bukan mama Elisabeth yang menggantikan pakaiannya tapi Security karena Mama Elisabeth tidak ingin Arman marah jika mengetahui bahwa dirinya yang mengganti pakaiannya tersebut.
Mama Elisabeth dengan perlahan mengganti satu persatu pakaian yang membalut tubuh Arman, Mama Elisabeth kembali teringat dengan putranya yang menghilang saat dirinya mengganti pakaian babynya.
Mungkin putraku seumuran dengan Arman andai saja dia masih hidup tapi mama berharap kamu masih hidup Nak.
Dengan penuh hati-hati, Mama Elisabeth melepaskan pakaian Arman tapi disaat Mama Elisabeth kesusahan untuk membersihkan tubuh Arman dari sisa air hujan, Mama Elisabeth kesusahan untuk mengjangkau punggung Arman jadi terpaksa harus memiringkan sedikit tubuhnya Arman. Dan disaat Mama Elisabeth menggosok punggung Arman Mama Elisabeth dibuat terkejut dengan tanda lahir yang ada di punggung Arman. Mama Elisabeth memeriksa dengan seksama tanda lahir tersebut.
Mama Elisabeth meneteskan air matanya, dan mama Elisabeth tidak ragu lagi dengan tanda lahir yang ada di ada di punggung Arman.
"Ternyata kamu putra Mama Nak, Daniel putra Mama, Mama sangat merindukanmu" ucap Mama Elisabeth yang air matanya sudah membanjiri wajahnya.
Mama Elisabeth buru-buru memakaikan pakaian ke tubuh Arman. Karena ingin segera bertemu dengan suaminya Pak Hendri. Mama Elisabeth pun menutup pintu kamarnya Arman dan berlari Kecil menuruni undakan tangga dan berlari ke arah ruangan kerja suaminya. Saking bahagia dan penasarannya Mama Elisabeth tidak mengetuk pintu ruangan tersebut. Nafas Mama Elisabeth memburu dan ngos-ngosan. Hak ini membuat Pak Hendry terkejut dan heran dengan apa yang terjadi dengan Istrinya. Pak Hendri pun berdiri lalu berjalan ke arah istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan Mama Elisabeth.
"Apa yang terjadi denganmu??" tanya pak Hendri yang masih memeluk istrinya.
"Arman Mas, Arman.." ucap Mama Elisabeth.
Pak Hendri lalu melepaskan pelukannya lalu memegang dua lengan istrinya kemudian menatap ke dalam ke dua mata Istrinya. Mama Elisabeth semakin menangis tersedu-sedu. Pak Hendry jadi kebingungan tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi.
"Arman hanya demam mas dan aku sudah membantunya mengobati demamnya" jawab Mama Elisabeth.
"Ayok kita duduk dulu, tenangkan diri kamu" ucap pak Hendri lalu membawa mama Elisabeth untuk duduk di kursi. Pak Hendri pun memegang tangan Mama Elisabeth agar berbicara yang jelas dan tidak membuat khawatir. Setelah tangisnya reda Mama Elisabeth pun mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
"Tolong jelaskan kepadaku di Panti asuhan mana Mas bertemu dengan Arman dan tolong jangan ada yang ditutupi apa pun itu." tanya Mama Elisabeth dengan wajah yang serius.
Sebelum menjawab Pak Hendry berfikir sejenak dan tidak mengerti kenapa tiba-tiba Istrinya bertanya seperti itu.
"Ada apa dengan Arman kenapa kamu ingin mengetahuinya?." tanya balik pak Hendri.
Mama Elisabeth kembali menangis tersedu-sedu.
"Arman Mas, Arman adalah putra kita Daniel yang menghilang" ucap Mama Elisabeth.
Pak Hendri terkejut dengan perkataan dari istrinya dan menganggap hal itu tidak mungkin.
__ADS_1
"Apa maksudnya dari perkataan mu Elizabeth tolong jangan bercanda dan tidak mungkin Arman adalah putra kita Daniel yang menghilang??." tanya Pak Hendri yang tidak percaya dengan perkataan Istrinya.
"Hati dan perasaan seorang Ibu tidak mungkin salah Mas, dan aku melihat ada dua buah tanda lahir di punggungnya Arman Mas dan tidak mungkin ada beberapa orang yang sama dengan tanda lahir itu dan sewaktu Bayi Aku memasangkan gelang sepasang ke tangan kecil mereka" ucap Mama Elisabeth yang menirukan saat dirinya memasangkan gelang tersebut ke tangan mungil anak kembarnya Daniel dan Daniela.
"Kalau dugaanmu benar adanya pasti ada unsur kesengajaan di sini, karena yang membawa Arman ke rumah ini adalah mantan istriku dan setiap kali aku ingin mendatangi langsung panti asuhan Luna selalu menolak untuk membawa aku ke panti asuhan tersebut dengan berbagai alasan" ucap Pak Hendri.
"Mas bagaimana kalau kita tes DNA saja untuk memastikan kalau Arman akan kita atau bukan kalau sudah keluar hasilnya kita baru mencari Luna untuk meminta penjelasan padanya dan jangan sampai Daniela juga masih hidup Mas? tapi aku berharap Daniela masih hidup Mas" ucap Mama Elisabeth panjang lebar.
"Tunggu aku akan menelpon dokter pribadi kita Dokter Rusman untuk bertanya tentang prosedur untuk Tes DNAnya" ucap oak Hendri yang langsung menelpon Dokter Rusman.
Setelah beberapa saat, Mereka memutuskan untuk berjalan ke arah kamar Arman dan mengambil beberapa lembar rambut dan sedikit tetesan darah milik Arman.
"Kita sudah dapat, Aku akan segera ke rumah sakit dan Aku mohon jaga Arman dengan baik" Mohon Pak Hendri.
"Baik Mas, dan tanpa Mas suruh aku akan merawat dan menjaga Arman walaupun Arman nantinya ketahuan bukan putra kita" ucap Mama Elisabeth yang sedikit lesu jika hasilnya nanti mengatakan Arman bukan anaknya.
Pak Hendri bergegas ke rumah sakit untuk mengetes Rambut dan sedikit darah milik Arman.
"Ya Allah kenapa hati ini menyatakan kalau Arman adalah putraku yang hilang, kalau Arman adalah putraku tolong dekatkan dia denganku dan bukalah pintu hatinya untuk berubah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi" harapan Mama Elisabeth.
Mama Elisabeth mencari barang-barang peninggalan Arman sewaktu masih bayi di dalam lemarinya tapi tidak menemukan sedikitpun. Mama Elisabeth teringat dengan kepala pelayan di rumahnya yaitu Pak Ade. Mama Elisabeth berjalan ke arah dapur untuk bertemu pak Ade.
"Maaf nyonya mencari siapa?." tanya Pak Ade.
"Saya ingin berbicara dengan bapak, apa bapak ada waktu?." tanya Mama Elisabeth.
"Boleh" ucap singkat Pak Ade.
Mama Elisabeth dan Pak Ade berjalan ke arah ruangan tengah dan di sanalah mereka berbincang-bincang tentang masa kecil Arman.
To Be Continued..
...****************...
Makasih Banyak FANIA Ucapkan Kepada Readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca ataupun Like Novel Recehnya Fania Bertahan Dalam Penantian.
Makasih banyak.
Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, 13 April 2022