Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 215. Keputusan Mama Elisabeth


__ADS_3

Happy Reading..


Kenyataan yang baru saja terungkap dan didengar oleh Mama Elisabeth membuat dirinya hancur dan sekaligus kecewa. Setelah menikah selama 3 tahun baru kah dirinya dikaruniai seorang bayi kembar di usianya yang baru 20 tahun waktu itu dan setelah 35 tahun penantian dan pencariannya terhadap buah hatinya itu, ternyata fakta baru yang sangat mengejutkan dan sulit untuk diterima oleh akal dan pikiran Mama Elisabeth adalah putri pertamanya harus meninggal di tangan selingkuhan mantan suaminya dan anak ke duanya yang laki-laki harus hilang entah kemana hanya tanda lahir dua buah di punggungnya dan pakaian bayinya berwarna biru tua dengan motif winnie the Pooh yang dipakainya yang menjadi tanda kalau itu anak mereka yang menghilang.


Tapi untuk menemukan keberadaannya sangat sulit dan mustahil karena kejadian itu dari 35 tahun yang lalu. Mama Elisabeth tidak ingin mempercayai hal tersebut tapi itu lah kenyataan yang harus dia terima bahwa Putri pertamanya sudah meninggal dan putra ke duanya pun ikut menghilang. Hanya tanda lahir yang ada di punggungnya yang memudahkan untuk mencari dan mengetahuinya tapi apa mungkin mereka akan memeriksa semua orang yang mereka jumpai dan bertanya atau pun memeriksa hak tersebut dan itu tidak mungkin. Masyarakat pribumi bukan hanya 1k orang tapi banyak.


"Aku minta maaf Elisabeth, karena aku yang terlalu mempercayai perempuan lucknut itu sehingga aku terperdaya oleh tipu muslihatnya yang hanya menginginkan hartaku saja" ucap sesal pak Hendry.


"Semuanya sudah terlambat. e yeeak


"Aku mohon kembalilah padaku Elizabeth, baru kita bersama mencari putra kita itu" pinta pak Hendry.


"Maaf aku tidak bisa, dan tolong urungkan niat kamu itu karena aku tidak mungkin kembali lagi bersama denganmu" ucap Mama Elisabeth.


Mama Elisabeth kemudian berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar dan setelah mengatakan hal itu.


"Jika kamu tidak ingin kembali bersamaku lagi maka jangan salahkan Saya jika satu persatu anak dan cucu-cucumu yang jadi korban dari penolakanmu" teriak pak Hendry yang sudah tidak punya cara lain lagi untuk membujuk dan merayu agar Mama Elisabeth kembali lagi ke pelukannya.


Mama Elisabeth terdiam dan langsung teringat wajah bahagia anak dan cucunya. Mama Elisabeth tidak ingin lagi melihat kesedihan dan keputusasaan dari anak-anaknya. Tapi untuk kembali hidup bersama dengan Hendry juga bukan jalan yang baik karena Mama Elisabeth tidak ingin kembali mengulang sejarah masa kelam bersamanya dulu. Melangkah maju ada anak dan cucunya yang jadi taruhannya sedangkan mundur ketakutan akan bayang-bayang perbuatan Pak Hendry terhadapnya menghantuinya. Maju kena mundur kena seperti judul filmnya Warkop DKI saja.


Mama Elisabeth dalam kebimbangan dan bingung yang sedang melandanya. Hidup Mama Elisabeth seperti pepatah yang mengatakan hidup segan mati pun enggan. Tapi Mama Elisabeth tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya karena keegoisannya.


"Apa kamu lupa dengan banyaknya masalah yang kalian hadapi, apa kamu tidak menyadari kalau yang melakukan semua itu adalah Saya tapi jika kamu tidak kembali dan menikah denganku lagi maka cucu-cucumu yang ada di Amerika yang pertama Sekali akan menjadi korban ku dari keegoisan dan keras kepala kamu" ucap oak Hendry lagi.


Mama Elisabeth masih berdiri diposisinya semula dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin tega mengorbankan mereka aku tidak sanggup kehilangan mereka dan kalau aku menikah dengannya aku pasti tidak akan bertemu dengan keluargaku yang lain" Monolog Mama Elisabeth.


"Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil kesimpulan dan jika kamu bersedia menikah denganku maka aku akan datang ke rumah kamu untuk melamar kamu dihadapan keluarga besar suamimu" pak Hendry kembali berucap.


"Baiklah tapi tolong beri lah aku waktu untuk berfikir dan jangan sentuh keluargaku sedikit pun lagi jika kamu atau pun semua maka buahmu berani menyentuh kulit mereka atau pun pekerjaan mereka maka seumur hidup pun aku tidak akan Sudi bahkan aku akan mati di depan matamu" ancam Mama Elisabeth saat dirinya sebelum melangkah pergi dari Villa tersebut.


Pak Hendry pun menyetujui permintaan dan persyaratan dari Mama Elisabeth wanita pujaan hatinya.


"Malik" teriak oak Hendry kepada anak Buah kepercayaannya yang selama ini dia percaya dan tidak pernah membuat pak Hendry kecewa.


"Iya Bos" ucapnya ketika sudah berdiri dan menunndukkan kepalanya di hadapan pak Hendry.

__ADS_1


"Awasi gerak gerik Elishabet dan jangan biarkan ada yang mengganggu seluruh anggota keluarga Wiguna Jika hal itu terjadi nyawamu dan keluargamu menjadi taruhannya dan Kamu Romy tolong persiapkan lamaran beserta seserahan pernikahan Saya nanti jangan ada yang kurang atau pun salah ok" titah pak Hendri kepada kaki tangannya.


"Siap bos" jawab ke duanya.


Mama Elisabeth tidak tahu harus berbuat apa dan dilema harus mengambil keputusan apa. Mama Elizabeth tidak mungkin menumbalkan anak-anak dan cucunya hanya dirinya yang tidak ingin menikah dengan Hendry ke dua kalinya tapi juga tidak ingin hidup sengsara seperti dulu lagi.


Sedangkan rasa lelah dan capek yang dirasakan oleh Arya dan yang lainnya terbayar sudah dengan kebahagiaan yang terpancar dari rona wajah masyarakat yang mendapat bantuan dari mereka. Mereka bersyukur karena acara yang mereka lakukan berjalan mulus dan tanpa hambatan.


Mama Elisabeth shalat isya sendiri dalam kamarnya dan sejak pulang dari Villa milik Pak Hendry dirinya berdiam diri dan menutup dan mengunci rapat kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah, aku tidak tahu harus melangkah ke mana dan tolong berikan aku jalan keluar yang terbaik dari kemelut hatiku ini" ucap Mama Elisabeth dalam doanya.


Beberapa hari kemudian, Mama Elisabeth pun memberikan kabar kepada Pak Hendry agar segera datang ke rumah utama untuk melamarnya. Mama Elisabeth sudah memutuskan untuk memilih menerima lamaran dari Pak Hendry walau pun usia mereka sudah tidak muda lagi yaitu 55 tahun Tetapi demi kebahagiaan anggota keluarganya Mama Elisabeth rela melakukan apa pun, cukup ke dua anaknya terdahulu yang tidak bisa dia lindungi dan sayangi.


Rombongan keluarga dan anak buahnya pak Hendry sudah datang dan memenuhi rumah Utama, mereka membawa berbagai macam seserahan dan membuat seluruh anaknya heran dan tidak mengerti dengan maksud kedatangan Orang-orang tersebut yang baru pertama kali ini mereka jumpai. Pak Hendri bahkan memanggil pak ustadz dan ibu-ibu pengajian untuk mengantarnya datang melamar Mama Elisabeth. Yang tentunya mereka mendapatkan amplop yang isinya Funtastis.


"Assalamu Alaikum" ucap pak ustadz Yusuf yang mulai membuka percakapan mereka karena sudah hampir setengah jam mereka duduk dan tidak ada yang berusaha untuk membuka percakapan diantara mereka.


"Waalaikum salam" ucap salam Mereka yang ada di dalam sana.


Arya, Adrian dan Mark saling berpandangan tidak mengerti dengan keadaan tersebut. Begitupun dengan para istri mereka.


"Maafkan Saya selaku anak tertua di keluarga ini pun tidak mampu memberikan Jawaban dari permintaan bapak Hendry karena semua ini adalah sepenuhnya hak dari Mama kami" ucap Adrian.


Pak Hendri tanpa sengaja saling bertatapan dengan Adrian yang membuat Pak Hendry kembali teringat dengan wajahnya dengan masa muda dulu hingga gestur tubuh Adrian mirip dengannya.


"Tatapan mata itu sepertinya aku pernah lihat tapi di mana??." monolog pak Hendry.


"betul sekali apa yang dikatakan oleh Kakak saya dan semua kami serahkan keputusan ini ditangan mama kami jika Mama Elisabeth Setuju atau menolak pinangan Anda oak Hendry maka kami mohon maaf yang sebesar-besarnya Karena kami tidak ingin mencampuri keputusan dari Mama kami" ucap Mark.


"Dan mengenai lamaran bapak saya rasa kalian sudah tidak muda lagi untuk membina hubungan rumah tangga dan apa Anda sudah mengenal Ibunda kami sebelumnya atau bagaimana tapi kami tetap tidak bisa menolak perkataan dari Mama jika beliau sudah memutuskan sesuatu" ucap Arya yang masih bingung.


"Baiklah Saya akan memberitahukan sesuatu kepada kalian dan mungkin Mama kalian belum bercerita apa pun tentang saya, Saya adalah mantan suami pertama dari Mama kalian dan niat saya baik untuk kesehatan kembali menyambung tali silaturahmi diantara kami yang sempat terputus dengan jalan menikahi kembali Mama kalian" tutur pak Hendry.


Semua anggota keluarga Wiguna satu pun dari mereka tidak ada yang tahu karena selama ini pak Wiguna sekalipun tidak pernah menceritakan tentang masa lalu istrinya kepada siapa pun itu bahkan pak Wiguna menutupi jati diri dari istrinya. Dan pak Wiguna pun juga meminta kepada keluarga besar Mama Elisabeth yang ada di luar negeri untuk tidak membuka masa lalu mama Elisabeth karena hanya mereka yang tahu sedangkan yang ada di Indonesia satu pun tidak ada yang mengetahui kejadian itu.


"Dan kami memiliki dua orang anak dari hasil pernikahan kami tapi kami kurang beruntung karena putri pertama kami meninggal sedangkan putra ke dua kami hilang dan tidak tahu keberadaannya sampai detik ini juga" ucap pak Hendri lagi.

__ADS_1


Semua mata tak percaya dengan kejujuran dari mulut pak Hendry membuat mereka menatap ke arah mamanya.


"Maafkan Mama yang tidak pernah membuka masa lalu Mama di depan kalian hal itu Mama lakukan atas dasar Permintaan dan permohonan dari Ayah kalian yang melarang Mama untuk membuka masa Lalu Mama bahkan dari keluarga Ayah kalian tidak ada yang tahu tentang status Mama sebelum mama menikah dengan Ayah kalian" ucap Mama Elisabeth.


"Jadi bagaimana dengan lamaran kami apa kah diterima atau tidak?." tanya apk Ustad Mansyur.


"Mama bagaimana dengan pinangan pak Hendry apa kah Mama setuju dengan lamarannya atau tidak" Ucap Adrian yang berbicara Lantang dan tegas.


"Iya Mama bersedia menerima lamaran dari bapak Hendry" jawab Mama Elisabeth.


Mama Elisabeth dengan tarikan nafas langsung


menganggukkan kepalanya.


"Karena ibu Elizabeth menerima lamaran ini jadi bagaimana dengan waktu pelaksanaannya?. tanya pak Ustadz Yusuf lagi.


"Saya ingin acaranya sederhana saja dan cukup keluarga inti yang hadir mengingat umur kami yang sudah tidak muda lagi dan kalau bisa dua hari dari sekarang acaranya tapi jangan di rumah ini kalau bisa cari lah tempat yang baik saja" pinta Mama Elisabeth.


"Bagaimana dengan pak Hendry apa Setuju dengan persyaratan dari ibu Elizabeth?." tanya pak Yusuf.


"Saya setuju" ucap pak Hendry dengan binar bahagia di wajahnya yang langsung terpancar setelah mendengar langsung mama Elisabeth setuju menikah dengannya.


"Alhamdulillah kalau begitu karena ke duanya sudah sepakat untuk melaksanakan pernikahan ini di hari Jumat yah kami akan kembali untuk menikahkan kalian" ucap pak ustad Yusuf.


Setelah mereka sepakat mereka pun pulang. Hati pak Hendry bahagia sekali walaupun mereka tidak muda lagi dan hal ini lah sudah lama dia impikan dan inginkan yang membuatnya gelap mata untuk membalas dendam kepada Wiguna Albert Kim Said dan keturunannya.


"Ya Allah Semoga dengan pernikahan kami ini tidak akan ada lagi korban dari keegoisan dan dendam dari hati seseorang dan Maafkan Mama tidak bisa mengutarakan hal ini kepada kalian" ucap Mama Elisabeth dalam hatinya.


To be Continued..


Met menjalankan ibadah puasa untuk yang menjalankannya ✌️.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap BDP "Bertahan Dalam Penantian" dalam bentuk apapun 🙏


Maaf jika ada typo yang kalian temui ✌️🙏


by fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 10 April 2022


__ADS_2