Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 242. Mudik


__ADS_3

Happy Reading..


Mama Elisabeth menapaki undakan tangga satu persatu dan berharap akan ada keajaiban yang terjadi di hari nan Fitri ini. Mama Elisabeth sangat berharap agar ke dua putrinya dan cucu menantunya juga hadir bersamanya melaksanakan shalat idul Fitri berjamaah.


Langkah kakinya terhenti disaat melihat seseorang yang akhir-akhir ini dia rindukan. Mama Elisabeth langsung tersenyum bahagia dan menangis terharu melihat anak, menantu dan cucunya hadir di Villa miliknya. Tangis haru dirasakan oleh Mama Elisabeth.


Cucu-cucunya langsung berhamburan memeluk tubuh Neneknya. Mereka sangat bahagia karena setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan Nenek mereka.


Andreas dan adiknya awalnya berdebat dengan ke-dua orang tuanya karena awalnya Emilia bersikukuh tidak ingin datang, sedangkan Adrian dan ke dua anaknya Ingin memberikan kejutan kepada Nenek mereka di hari raya idul Fitri.


"Emilia gimana pun beliau adalah Mama kandung kamu, Kamu tidak boleh egois dan ijinkan Mama Elisabeth bahagia dengan pilihannya sendiri dan yakinlah Mama Elisabeth bahagia dengan pilihannya, andai saja beliau tidak bahagia kita berhak untuk mengarahkan dan mendoakan yang terbaik untuk kebaikan mereka" ucap Adrian panjang lebar.


"Mommy Kiranaa kangen sama grandma Mommy" rengek Kirana di kaki Emilia sambil menangis tersedu-sedu.


"Mommy please, apa Mommy gak kasihan sama dede Kirana yang ingin bertemu dengan grandma?" ucap Andreas yang langsung menggendong adeknya.


Adrian menatap iba kearah anak-anaknya. Adrian tidak berhasil membuat pikiran Emilia berubah padahal setiap hari Adrian menasehati dan membujuk Istrinya untuk berdamai dengan keluarga barunya, lagian hubungan darah dicuci dengan air selautan pun tidak akan pernah berubah dan tidak ada namanya mantan Ibu dan anak. Tapi yah kembali lagi dengan karakter Emilia yang keras kepala jika sudah mengambil keputusan untuk kehidupannya dan pantang untuk merubah prinsipnya itu.


Perdebatan mereka cukup alot, Adrian juga untuk kali ini tidak mau mengalah dengan sikap keras kepala dari istrinya itu, dan sudah mengambil keputusan bahwa dia akan kembali ke tanah air tercinta untuk mudik dan melaksanakan idul Fitri di Tanah Air beta.


"Kamu ikut atau tidak, Aku dan anak-anak tetap akan balik ke Indonesia" ucap Adrian yang memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam kopernya.


Emilia hanya menatap gamang ke arah suaminya yang sedang sibuk membereskan barang bawaannya. Adrian pun sudah tidak perduli dengan istrinya yang masih saja tidak bergerak dari posisinya yang masih duduk di ujung ranjang king size-nya.


"Daddy sudah siap?" Tanya Kirana yang sudah menggandeng tas ranselnya di punggungnya.


"Tentu Daddy sudah siap otw Indonesia, Kalau Kakak Andreas gimana Sayang, kok belum kelihatan?" tanya Adrian yang tidak melihat putra pertamanya.


"Kakak masih sibuk menpacking barang bawaannya" jawab Kirana.


Andreas ingin tinggal di Indonesia sedikit lama dari orang tuanya karena kebetulan masih liburan panjang di Sekolahnya.


"Kalau gitu kamu sana bantuin kakak agar segera selesai mengemas barang-barangnya, kita sudah hampir berangkat nih sayang" ucap Adrian sambil melihat ke arah jam yang ada di tangannya.


"Siap Daddy" ucap Kirana lalu membuka pintu kamar ke dua orang tuanya.

__ADS_1


"Saya tidak akan mengulangi perkataanku dan terserah kamu mau pergi atau tidak itu hak kamu" ucap Adrian yang sudah menyerah untuk membujuk Istrinya.


Tidak berselang lama, Andreas dan Kirana sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, dan bersiap berangkat.


"Daddy sudah siap?" tanya Andreas tanpa melirik sedikit pun ke arah Mommynya.


"Let's go boy" ucap Adrian.


Mereka pun berjalan ke arah mobil dan sudah memasang sabuk pengaman ke masing-masing tubuh mereka. Adrian pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Baru beberapa meter dari pagar rumahnya, Emilia berteriak kencang agar Adrian menghentikan laju mobilnya. Untung saja Adrian sengaja tidak mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hanya berjalan sangat pelan sehingga suara teriakan dari Emilia masih terdengar dengan jelas dari dalam mobilnya.


"Daddy, Mommy mengejar mobil kita" ucap Kirana yang ikut berteriak kencang ke arah Daddy-nya setelah melihat Emilia berlari mengejar mobilnya.


Adrian langsung menghentikan laju mobilnya dan langsung ngerem mendadak. Decitan suara mobil dari ban mobilnya cukup nyaring dan mengganggu gendang telinga. Emilia terus berlari ke arah mobil Andrian yang sudah berhenti. Adrian tersenyum penuh arti melihat keadaan istrinya yang ngos-ngosan mengejar mobilnya. Emilia pun berjalan ke arah pintu bagian supir yang di duduki oleh Adrian lalu mengetuk jendela mobilnya.


"Sayang bukain dong pintunya" ucap Emilia yang memohon kepada Adrian agar segera membuka pintu mobilnya.


Adrian hanya menurunkan kaca jendela mobilnya tanpa berniat untuk membuka pintu mobilnya dikarenakan Andrian ingin mengetahui maksud dari kedatangan Emilia terlebih dahulu.


"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Adrian.


"Aku apa, katakan sejujurnya, dan jangan terlalu lama, pesawat kami akan berangkat" ucap Adrian yang sebenarnya ingin menertawai sikap istrinya sendiri tapi berpura-pura marah.


Emilia sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata tersebut padahal sangat mudah jika Dia tidak sedang marah.


"Aku ikut bersama kalian pulang ke Indonesia" ucap Emilia.


"Hore Mommy juga ikut ke bersama kami pulang ke rumahnya Grandma" ucap Kirana yang bahagia karena ternyata Mommynya ikut bersamanya.


"Kenapa sih Mommy mau capek-capek lari seperti itu, padahal gak perlu Mommy lakuin itu hanya tinggal bilang ikut, tapi kok dibuat repot saja" ucap Andreas yang bingung melihat sikap ke dua orang tuanya yang menurutnya melebihi kelakuan anak kecil saja.


"Ayok cepat sebelum kita memesan ulang tiket pesawat" ucap Adrian yang tersenyum kearah Emilia lalu membuka lebar pintu mobilnya.


Mereka bahagia karena akhirnya Mama mereka ikut bersama mereka pulang ke Tanah air tercinta. Adrian tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Emilia dan bersyukur karena Emilia sudah bisa diajak ikut pulang.


Sedangkan di London Inggris tepatnya di sebuah rumah yang cukup besar, mewah dengan ciri khas rumah orang Eropa moderen. Mark terbangun dari tidurnya, karena dibuat kaget oleh teriakan dari istrinya Eliana. Mark langsung menyalakan lampu ruangan kamarnya yang lebih terang dari lampu tidur.

__ADS_1


"Ada apa Sayang, apa yang terjadi pada Kamu?" tanya Mark yang sangat khawatir melihat kondisi dari Eliana yang sudah bermandikan keringat dan nafasnya memburu seperti orang yang habis berlari dengan jarak yang cukup jauh.


Eliana tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, tapi hanya memeluk tubuh Mark dan langsung menangis tersedu di dalam pelukan Mark suaminya.


"Tenanglah sayang, katakan sama Saya apa yang terjadi pada Kamu?" tanya Mark yang masih bingung dengan apa yang telah menimpa istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya sehingga tiba-tiba terjaga dari tidurnya.


"Sayang Aku takut, huhuuuhuhu" ucap Elliana yang langsung menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mark.


"Tenanglah dan minum air putih ini dulu dan tenangkan pikiran kamu sebelum berbicara" ucap Mark yang sudah khawatir melihat kondisi istrinya.


"Mas Aku takut jika terjadi sesuatu kepada Mommy" ucap Elliana yang mengkhawatirkan keadaan Mama Elisabeth.


"Emangnya apa yang kamu lihat di dalam mimpi kamu dan jangan sekali-kali berfikiran negatif" tutur Mark yang masih memeluk tubuh istrinya.


"Sayang Aku sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Mama Elisabeth dan Aku tidak berada di sisinya" ucap Eliana disela isakan tangisnya.


"Huss jangan ngomong gitu, tidak baik jika kita berfikiran negatif dan doakan saja agar Mama Elisabeth dalam keadaan baik-baik saja" ucap Mark yang berusaha menenangkan istrinya yang sudah dilanda kecemasan yang sangat besar.


"Sayang, besok kita kembali ke Indonesia yah, Saya ingin bertemu dengan Mama Elisabeth" ucap Eliana yang sudah meminum air putih yang baru saja disodorkan oleh Mark ke dalam genggamannya.


"Baik, besok siang kita akan pulang ke rumah dan Saya mohon kepada kami untuk membuang jauh rasa jengkel, marah Atas pernikahan Mama Elisabeth, Saya berharap kamu bisa merestui hubungan pernikahan mereka dan mendoakannya yang terbaik untuk keduanya" jelas Mark yang sangat bahagia karena Istrinya akhirnya mengalah dan ingin balik mudik ke Negara asal mereka yaitu Indonesia tercinta.


Keesokan harinya, Eliana, Mark, Keyna dan Raditya sudah bersiap berangkat dan sudah duduk manis di dalam kursi pesawat yang akan mengantar mereka hingga ke Indonesia. Membutuhkan waktu yang cukup lama agar pesawat yang ditumpangi oleh mereka sampai dengan selamat di Bandara Sultan Hasanuddin Kota M.


"Akhirnya setelah melewati waktu bulan suci Ramadhan di luar negeri, akhirnya Saya dan keluarga masih bisa menghirup udara segar di Kota kelahiranku" ucap Mark.


"Iya Sayang, Alhamdulillah kita sudah sampai dengan selamat" timpal Eliana.


Mereka pun berangkat ke rumah utama keluarga Wiguna Albert Kim Said, tetapi sampai di sana tidak satu pun dari keluarga mereka yang hadir, hanya beberapa Maid dan ART yang tidak pulang kampung yang masih tinggal di sana. Mereka pun mengemudikan mobilnya ke arah Villa mewah milik pak Hendry bersama Mama Elisabeth.


...--------To Be Continued--------...


Fania ucapkan minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk semua Readers setianya BDP✌️🙏


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏.

__ADS_1


Tetap Dukung BDP dengan Cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏


__ADS_2