Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 235. Buka Bersama


__ADS_3

Happy Reading..


Setelah beberapa hari, Mama Elisabeth meninggalkan kediaman keluarga besar Wiguna Albert Kim Said dan telah memutuskan untuk menetap di Villa milik suami ke duanya. Hari ini Mama Elisabeth kembali menginjakkan kakinya kembali ke rumah utama. Air mata Mama Elisabeth tak terbendung lagi, Mama Elisabeth kembali mengingat masa lalunya bersama dengan ke tiga anaknya dan bersama suaminya pak Wiguna.


Tangis mama Elisabeth langsung tak terbendung lagi. Mama Elisabeth melihat setiap sudut rumahnya dan setiap kali itu juga dirinya terbayang dengan kebersamaannya dengan semua anak-anaknya dan cucunya. Andai Mama Elisabeth bisa memutar balik waktu mungkin Mama Elisabeth akan mengatur semuanya Sesuai dengan kehendaknya tapi itu tidak mungkin terjadi dan sangat mustahil.


Mama Elisabeth masuk ke dalam rumahnya dengan perlahan seakan-akan dirinya menyelami semua jejak kenangan dirinya bersama keluarganya yang terdahulu. Mama Elisabeth tidak mungkin bisa untuk melupakan kenyataan bahwa dirinya pernah menjadi nyonya besar di kediaman Utama bahkan sampai detik ini dirinya masih berstatus Nyonya besar walaupun dirinya sudah menikah dengan mantan suaminya.


Mama Elisabeth berjalan perlahan ke Ruang utama rumahnya dan berdiri mematung menatap lukisan wajah dari suaminya Oak Wiguna. Air mata Mama Elisabeth kembali menetes dari ujung matanya.


"Ayah aku sangat merindukanmu, Ayah bagaimana kabarmu selama Mama tidak ada di sini?" ucap Mama Elisabeth dihadapan lukisan suaminya.


Rasa rindu kembali menggerogoti tubuhnya dan karena alasan ini lah sehingga Mama Elisabeth memutuskan untuk pulang ke rumah utama setelah hampir dua bulan kira-kira satu bulan lebih hidup di Villa milik suami ke duanya.


Semuanya kenangan indah itu berputar dikepala mama Elisabeth bagaikan rekaman kaset yang terekam dengan jelas dan sangat detail. Mama Elisabeth pun beralih ke lukisan ke dua putrinya yang membuat air matanya tidak terbendung lagi. Mama Elisabeth semakin terisak jika mengingat kembali penolakan ke dua putrinya untuk bersatu dengan suami pertamanya. Mereka tidak setuju karena bagi mereka semua masalah yang terjadi selama ini di dalam keluarga besar dikarenakan gara-gara Pak Hendry dan Arman.


Mama Elisabeth melangkahkan kakinya ke atas tangga tapi langkahnya terhenti ketika Baby Zi langsung berlari dan memanggilnya.


"Grandma" teriak Zidane anak ketiga Arya dan Delia.


Mama Elisabeth pun kembali menuruni undakan tangga dan berjalan ke arah cucu kesayangannya. Mama Elisabeth langsung menggendong tubuh Zidane yang semakin besar saja. Sekarang Zidane sudah berumur hampir 4 tahun. Zidane adalah anak ke tiga dari Arya Wiguna Albert Kim Said dan Delia Paramitha Wirawan Kim Said.


"Nenek kangen banget sama Zi" ucap Mama Elisabeth yang sudah menggendong cucunya.


"Zidane juga kangen sama Nenek, gimana kabarnya grmadma apa baik-baik saja?" tanya Zidane.


"Alhamdulillah Nenek baik-baik saja, kalau Zi gimana kabarnya Apa Zi, hari ini puasa?" tanya lagi Mama Elisabeth yang membawa tubuh cucunya untuk duduk di kursi ruang tengah rumahnya.


"Alhamdulillah Zi juga baik dan sehat, Si juga puasa Grandma nanti habis shalat zhuhur Di baru buka puasa" jawab polos Zi.


"Nenek bahagia dengarnya sayang, Mama dan Ayah Zi di mana mereka ikut sama Zi atau Zi hanya sendiri di rumah utama?" tanya Mama Elisabeth yang memandang seluruh penjuru Rumahannya tapi tidak menemukan sosok putra ke duanya.


"Ayah sama Mama ada di kantornya Zi di sini hanya ditemani sama Mbak baby sitter nya Si grandma" jelas Zi.


Raut wajah Mama Elisabeth kembali murung. Padahal dirinya sangat ingin bertemu dengan anak dan menantunya.


"Kalau gitu temani Nenek hari ini Nenek mau jalan-jalan keliling rumah" ucap Mama Elisabeth yang memegang tangan imut cucunya.


"Nenek balik ke Villanya kapan?" tanya polos Zidane yang sudah bergandengan tangan dengan neneknya.


"Insya Allah Nenek akan nginap di sini semalam nanti besok pagi baru Nenek balik lagi ke vila" jawab Mama Elisabeth.


"Ohh gitu yah Nek" ucap Zidane.


Hingga sore hari mereka menghabiskan waktunya bersama, Mama Elisabeth sekarang menidurkan baby Zi dengan membacakan sebuah dongeng, Baby setiap kali mau tidur pasti dibacakan terlebih dahulu oleh Delia, Ayahnya ataupun Baby sitternya sendiri. Mama Elisabeth membacakan dongeng tentang Aladdin hingga mata Zi perlahan terpejam dan sudah mendengkur halus.


"Tingkahmu saat tidur sangat mirip dengan ayahmu, dia tidak akan bisa tidur jika tidak ada yang membacakan buku cerita anak kepadanya".


Mama Elisabeth menyelimuti tubuh cucunya dan mengecilkan suhu Pendingin ruangannya. Lalu berjalan ke arah luar untuk menuju dapur Karena jam dinding sudah menunjukkan Pukul setengah lima sore atau jam 16:38.


"Selamat datang kembali Nyonya besar" ucap serentak semua pelayan yang baru menyadari kedatangan Mama Elisabeth.


"Maafkan kami nyonya besar yang tidak tahu kalau Nyonya datang ke rumah" ucap kepala koki rumahnya yang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kok, santai saja lagian aku juga yang salah tidak mengabari kalian terlebih dahulu sebelum ke Sini" ucap Mama Elisabeth yang senang karena kepulangannya kali ini disambut hangat dan baik oleh semua orang yang bekerja di kediaman Utama.


"Apa yang Nyonya butuhkan sehingga datang ke dapur?, kalau ada yang nyonya butuhkan tinggal memerintah kepada kami Nyonya" tanya kepala koki tersebut.


"Kamu seperti lupa saja kebiasaanku yang setiap hari masak makanan khusus untuk anak-anak dan suamiku" ucap Mama Elisabeth sambil memasangkan apron ke tubuhnya.


"Ijinkan kami membantu Nyonya" Ucay kembali kepala koki tersebut.


"Makasih banyak, silahkan kalau kalian ingin membantuku" ucap Mama Elisabeth.


"Nyonya mau masak apa biarkan saya Siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu" ucap kepala koki yang menawarkan bantuan.


"Hari ini Saya ingin masak capcay kuah, Ikan bakar, dan siapkan juga tahu, tempe, ayam segar sama buah-buahan segar juga karena saya ingin buat es buah campur untuk berbuka" perintah Mama Elisabeth yang sudah mulai meracik bumbu halus.


Suasana dapur di kediaman Utama hari ini cukup ramai karena kedatangan Nyonya besar sang pemilik Rumah. Mereka masak sambil kadang tertawa bersama. Hal yang dulu sering terjadi sekarang terulang kembali. Hingga masakan mereka pun sudah selesai dan siap dihidangkan di atas meja makan. Hari ini mama Elisabeth memasak makanan yang cukup banyak dan semuanya masakan tersebut adalah menunya makanan Nusantara.


Mulai dari Ayam masak taliwang, Sate Madura, ikan masak woku, Sup konro dan kawan-kawannya sudah tersaji dengan begitu rapi dan cantik di atas Meja makan yang pajang.


"Andai saja putra putriku berada di Sini pasti hati ini akan sangat bahagia".


Pintu rumah tersebut yang menjulang tinggi dan bercat cokelat susu terbuka dengan lebar dan masuklah rombongan Arya Wiguna, Delia, Dessy dan Dimas, Rina dan Emre, Hyuna dengan Baby Arjuna serta Aditya dan Helena pun hadir di tengah-tengah rombongan tersebut dan jangan lupa dengan anak mereka.


Mama Elisabeth terharu dengan kedatangan mereka semua yang tidak ada kabar apa pun dari mereka jika akan datang berbuka bersama.


Delia langsung memeluk tubuh mertuanya,


"Gimana kabarnya Ma, Sehat saja kan?" tanya Delia.


"Delia bahagia mendengarnya, dan Delia berharap dan berdoa agar Mama selalu bahagia dan sehat selalu" ucap tulus Delia sambil mengusap air matanya.


Arya tanpa ba-bi-bu juga langsung memeluk tubuh mamanya yang sudah hampir dua bulan tidak dia peluk lagi seperti biasa. Arya sangat mengerti jika Mamanya tidak seperti dulu lagi yang selalu hadir disaat dirinya membutuhkan pelukan Mamanya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka hanya air mata yang mewakili perasaan rindu dan sayang yang mereka rasakan. Semua yang ada di sana turut larut dalam keadaan. Mereka terisak dalam tangisnya. Setiap anggota keluarga memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Walaupun sedari kecil kita hidup bersama tetapi seiring berjalannya waktu mereka akan menemukan pasangan hidup baru mereka untuk memulai bahtera hidup yang baru.


"Mama sangat bahagia karena kalian bisa hadir dan menemani Mama untuk berbuka bersama, Mama berharap kalian baik-baik saja" ucap Mama Elisabeth yang masih terharu dengan kedatangan anggota keluarganya.


Walaupun ada kesedihan yang dirasakan oleh beliau karena ketidak hadiran ke dua putrinya tapi Mama Elisabeth menyembunyikan kegalauan dan kegundahan hatinya.


"Eliana, Emilia Mama sangat merindukan dirimu Nak, Apa kalian belum bisa menerima keputusan Mama? Mama melakukan semua ini demi kalian juga".


"Selamat yah Tante, Tante sudah menemukan ke dua anak Tante yang lama hilang" ucap Rina.


"Kok mereka gak di ajak gabung dengan Kita Tante?" tanya Dessy yang melihat kalau Arman dan Ratna Antika Monata tidak ikut bergabung dengan mereka.


"Sepertinya mereka sibuk dan Tante juga tidak bisa memaksakan kehendak Tante untuk ikut dengan kita walau pun Tante menginginkan kehadiran mereka, agar kalian saking kenal dan melupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi diantara kalian, Tante sangat berharap akan hal itu kepada kalian dan Tante memohon bukalah hati kalian untuk saling memaafkan dan menerima segala sesuatu yang ada" ucap Mama Elisabeth.


"Jika kami tidak bisa berdamai dengan masa lalu mungkin kami tidak akan hadir di sini bersama Mama, kami tidak ingin membuat Mama bersedih lagian hidup terus berjalan alangkah bodohnya kita sebagai manusia jika harus hidup dalam dendam yang tidak berujung" ucap Arya yang semakin bijak dalam berfikir.


"Alhamdulillah Makasih Banyak Nak, Mama sangat bahagia mendengarnya" ucap Mama Elisabeth.


Suara bedug masjid pun berbunyi dan tidak lama kemudian suara adzan dari toa mesjid pun berbunyi tandanya sudah masuk waktu berbuka puasa.


"Assalamu alaikum" ucap lantang seseorang yang mengucapkan salam.


Pandangan mereka teralihkan oleh suara bariton seseorang yang berjalan dari arah pintu. Mama Elisabeth tersenyum ke arah mereka yang baru saja datang. Arman dan Ratna hadir di tengah-tengah mereka walau pun mereka sedikit malu dan menundukkan kepalanya karena merasa tidak pantas berada di antara mereka mengingat kisah kelam pernah tertoreh diantara mereka selama ini. Firman dan Karina pun hadir mendampingi mereka sebagai calon pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ayo sini Nak, gabung dengan adik kalian" ucap Mama Elisabeth yang memanggil ke dua anak kembarnya.


Arman tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh adiknya yaitu Arya dan meminta atas kesalahan besar yang pernah dia lakukan dulu bahkan Arman sekarang bersimpuh dan berlutut dihadapan kaki adiknya, Ratna pun ikut mengikuti apa yang dilakukan oleh a


kakak kembarnya juga.


"Maafkan Saya yang sudah banyak salah dan gara-gara saya..." ucapan Arman terpotong karena Arya langsung mencegahnya dan membantu Arman berdiri.


"Jangan seperti ini, kalau Kakak seperti ini, itu sama saja saya tidak menghormati dan menyayangi Kakak, Setiap Manusia punya kesalahan dan Saya dan yang lainnya sudah memaafkan kesalahan Kakak dan tidak sepantasnya kakak bersujud di kakiku, bersujud lah kepada Allah SWT Kak untuk memohon maaf kepadanya dan Arya hanya bisa bilang Welcome di keluarga besar Wiguna Albert Kim Said" ucap Arya yang memeluk tubuh kakaknya.


Walaupun Ayah mereka berbeda tapi mereka tetap saudara sampai kapan pun. Karena mereka terlahir dari rahim ibunya yang sama. Mama Elisabeth sangat bahagia karena Anak-anaknya sudah bisa berdamai dan berbaikan layaknya keluarga lainnya yang ada di luar sana.


"Kalau begitu kita mulai berbuka saja, soalnya perutku sudah lapar" ucap polos Hyuna yang seperti biasa jika sudah dihadapkan pada makanan yang lezat.


Semua tersenyum bahagia dan langsung menikmati makanan mereka.


"Oy Delia kenalkan ini Karina calon kakak iparmu" ucap Mama Elisabeth yang memperkenalkan Karina kepada yang lainnya.


"Cantik Ma, cocok dengan kak Arman" ucap Dessy yang ikut berucap.


"Iya betul katamu Dessy, calon ipar kita cantik yah dan semoga Kalian cepat menikah" ucap Delia.


"Mama ingin menyampaikan kepada kalian dan Mama mohon maaf jika Mama mengundang dan tidak langsung datang ke rumah kalian satu persatu, Insya Allah hari Jum'at nanti mereka akan melangsungkan akad nikahnya" ucap Mama Elisabeth.


"Alhamdulillah kalau begitu, lebih cepat lebih baik loh Tante" ucap Rina.


"Bukan hanya Arman yang mau menikah tapi Ratna dan Firman juga akan melangsungkan pernikahan mereka dan sesuai rencana Mama mereka akan menikah di hari yang sama" ucap Mama Elisabeth.


"Berarti akan ada dua pasangan yang akan menikah dan menikmati indahnya malam pertama" ucap Hyuna.


"Saya harap kalian semua hadir di acara bahagia kami" ucap Ratna yang masih sering menundukkan kepalanya.


"Insya Allah kami akan datang ke acara Kakak tapi kami itu rombongan besar gak apa-apa kan?" ucap Desyy.


"Kalian datang saja mau se RT se kampung pun silahkan datang" ucap Arman yang tersenyum menanggapi candaan dari Dessy.


Mereka berbincang-bincang hingga larut malam. Mereka menginap di rumah Utama dan besok paginya baru lah mereka kembali ke rumah masing-masing. Kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya jumlah materi dan harta kekayaan yang dimiliki tapi sejauh mana kamu mampu membuat senyuman tulus terbit dari wajah Orang yang kamu sayangi.


Senangnya mereka bisa berkumpul bersama walaupun masih minus Emilia dan Eliana beserta Suami dan anak-anak mereka.


...--------To Be Continued--------...


Maaf jika banyak Typonya 🙏.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏


Jangan Lupa untuk tetap mendukung BDP Dengan Cara LIKE RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN.


Makasih banyak 🥰✌️.


by fania mikaila azzahrah


Makassar, 24 April 2022

__ADS_1


__ADS_2