
Happy Reading..
Kegaduhan terjadi di dalam rumah milik Adiguna yang ada di dalam kawasan perumahan khusus karyawan Perusahaan Sinopec Group.
Rumah itu khusus diberikan oleh Arya dan pak Wiguna untuk sebagai ucapan makasih atas dedikasi Pegawai yang sudah bekerja dan berprestasi untuk mengajukan Perusahaan.
Arya dan lainnya tidak menyangka jika Adiguna akan kabur dari tanggung jawabnya.
Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Adiguna. Karena kondisi jalan sore hari itu cukup ramai dan padat sehingga apa yang dilakukan oleh Arya mengalami hambatan dan rintangan.
"Sial, dia berhasil lolos," ucapnya sembari memukul berulang kali setir mobilnya.
"Emre hubungi cepat kapten Lionel untuk segera melakukan pengejaran terhadap Adiguna, Kamu Dimas segera kirimkan bukti kejahatannya melalui email perusahan saja," jelas Arya.
Emre dan Dimas segera menjalankan perintahnya Arya selaku CEO Perusahaan Sinopec Group.
Emre beberapa hari lalu baru kembali dari Turki. Sehingga dia bisa membantu Arya untuk menyelesaikan masalah yang menerjang intern Perusahaan.
Mobilnya terus melaju mengikuti arah laju mobilnya Adiguna. Tetapi karena, di depan tiba-tiba lampu merah sehingga mereka kehilangan jejak dari Adiguna.
"Kejahatan Adiguna tidak boleh dibiarkan begitu saja, dia sudah dengan jelas menghindar dan tidak ingin bertanggung jawab," ujar Dimas.
"Kalau seperti ini kita tidak boleh lembek dan bermain-main lagi, manusia lucknut seperti itu hanya bisa hidup di balik jeruji besi, kalau perlu mendekam selama-lamanya," timpal Emre.
Mereka tidak habis pikir, keluarga yang sudah mereka perlakuan dengan sangat baik, diberikan fasilitas yang bagus, serta kenyamanan yang tidak mungkin dia dapatkan di Perusahaan lain.
__ADS_1
"Apa kita tetap mengejarnya atau kembali ke rumah?" Tanya Dimas.
"Kita pulang saja dulu, dan beritahukan kepada Delia dan yang lainnya terutama kedua orang tuanya," jawabnya Arya yang masih setia memegang kemudi mobilnya.
"Jangan ditunda-tunda lagi Arya, Aku muak dengan kelakuan dari Adiguna yang sudah dikasih hati minta jantung," ujarnya dengan wajahnya yang memerah menahan amarahnya yang sudah berada di puncak ubun-ubunnya.
Dia menggertakkan giginya hingga berbunyi gemeretak satu sama lainnya. Dia ternyata selama ini memelihara musang berbulu domba. Hingga perlahan giginya semakin tajam yang akhirnya berhasil menggigit mereka perlahan-lahan.
Arya memarkirkan mobilnya dengan asal. Dia bahkan tidak mengambil kunci mobilnya. Amarahnya sudah meletup-letup hingga sapaan dari Security-nya dan beberapa asisten rumah tangganya tidak digubris sama sekali olehnya.
Biasanya Arya akan ramah dan siapa saja yang menyapanya pasti dijawabnya. Delia yang baru saja berjalan keluar dari arah dapur melihat suaminya yang tidak seperti biasanya.
"Apa yang terjadi dengan Mas Arya? Sepertinya ada sesuatu yang sangat fatal membuatnya begitu nampak sangat marah."
Delia segera mengikuti langkah suaminya hingga ke dalam kamarnya. Delia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Dia berharap agar suaminya bisa lebih tenang.
Arya memegang pergelangan tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. Istrinya selalu bisa membuatnya damai dan tenang. Masalah apa pun yang dihadapinya pasti akan selalu berakhir dengan kebaikan.
"Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya Mas," ucapnya.
"Kamu selalu tahu dengan yang aku rasakan, bahkan tanpa aku ngomong apa pun sama Kamu," Arya membalik badannya menghadap ke arah Delia.
Arya kembali membalas memeluk tubuhnya Delia dari depan. Karena dengan memeluk tubuh Delia, perasaan, hati dan pikirannya bisa tenang dan emosinya sedikit mereda.
"Alhamdulillah kalau Mas seperti itu, Delia sangat bahagia jika hanya pelukan seperti itu yang mampu menenangkan diri Mas, Delia janji akan selalu memeluk tubuh Mas Arya dan tak akan bosan," ujarnya dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
__ADS_1
Mereka awalnya hanya berpelukan hingga berakhir di atas ranjang king size-nya. Seperti biasa mereka sama-sama menjalankan ibadah dan kewajiban menuju pintu kenikmatan surga dunia yang dibawah naungan kata halal.
Pernikahan mereka sudah berjalan beberapa dekade waktu,tapi urusan ranjang tidak pernah luntur ataupun pudar.
Usia boleh tua tapi masalah kebutuhan biologis tidak boleh terlewatkan ataupun tak dipenuhi sesuai dengan kesempatan itu.
Arya membuat Delia berteriak kecil saking enaknya terbuai dalam buaian tangan nan kekar miliknya Arya.
Sentuhan demi sentuhan dilayangkan oleh Arya di atas tubuh seksi istrinya yang tidak dimakan usia. Arya selalu dibuat terkagum-kagum dengan keseksian bentuk tubuhnya Delia.
Sudah melahirkan tiga anak tapi bentuk tubuhnya masih molek, montok dan seksi. Bahkan Arya masih sering dibuat mabuk kepayang jika Delia beraksi di atas tubuhnya.
Hubungan yang tercipta atas dasar suka sama suka, dalam ikatan suci pernikahan pasti akan berakhir dengan kebahagiaan yang tidak terkira.
Emre dan Dimas yang melihat kelakuan Arya hanya geleng-geleng kepala. Jika Arya dalam mode marah siapa pun tidak akan ada yang berani menegur atau mengusik ketenangannya.
Mereka kembali ke rumah masing-masing. Kebetulan rumah mereka saling berdekatan dalam satu kompleks. Hal ini mereka lakukan bertujuan agar jika mereka saling membutuhkan bantuan tidak perlu butuh waktu lama.
Eliana pun baru-baru ini membeli satu unit rumah yang hanya berjarak lima rumah dari kediaman Arya Wiguna Albert Kim Said.
Kebersamaan, kekompakan dalam segala hal selalu berusaha mereka lakukan dan tanamkan agar rasa persaudaraan terus terpupuk dan terjalin di antara mereka hingga tujuh turunan.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian.
By Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Senin, 11 Juli 2022