
Happy Reading..
Setelah menghabiskan makanannya, Emre mulai membuka percakapan diantara mereka. Emre memutuskan untuk berkata jujur kepada Rina tentang siapa sosok pria yang telah merenggut mahkotanya.
"Rina, sebenarnya pria yang ada di malam itu adalah sa....." ucap Emre yang terpotong gara-gara handphone Rina berdering.
"Maaf yah Kak, Aku angkat telpon dulu" ucap Rina meminta ijin kepada Emre.
"Silahkan" jawab Emre.
"Assalamu alaikum Ibu, ada apa ibu???" Tanya Rina kepada ibunya lewat telepon.
"Nak, kamu di mana??" Tanya ibunya.
"Aku masih di Restoran bersama kak Emre, Ada apa yah ibu, apa ibu baik-baik saja??" Tanya Rina yang mulai cemas Setelah mendengar ibunya yang berbicara sambil terisak.
"Ibu baik-baik saja kok Nak, Tapi bapak kamu tadi tiba-tiba pingsan Rina" ucap ibunya Rina dan semakin terisak.
"Maksudnya ibu gimana? tolong jelaskan dengan baik, coba ibu tenang dulu." ucap Rina.
"Tadi sepeninggal kamu pergi dari rumah bersama Nak Emre, mamanya Rangga datang nak dan Dia memaki-maki dan menghina kamu di depan keluarga dan orang banyak bahkan dia berteriak kencang seakan-akan Dia sengaja ingin menghancurkan nama baikmu Nak" Ucap ibunya panjang lebar.
"Astaugfirullah ya Allah, Aku tidak menyangka tante Anna akan bertindak seperti itu, padahal selama ini Dia baik sama Rina" ucap Rina.
"Segera ke rumah sakit Nak, jangan lupa ajak Emre soalnya bapak ingin bertemu dengan Emre" ucap ibunya Rina.
"Tapi gimana sekarang keadaannya Bapak, apa Bapak baik-baik saja?." Tanya Rina.
"Keadaan Bapak sekarang sangat mengkhawatirkan Rina, bapak belum sadarkan diri" ucap ibunya Rina yang semakin menangis.
"Tunggu ibu, Rina akan segera ke Rumah Sakit, Tapi ibu minta tolong sama Suster yang jaga untuk share alamat Rumah Sakit ke nomor handphone Rina yah Bu." ucap Rina.
Rina segera mematikan telponnya dan segera menghubungi nomor handphone ke dua sahabatnya yaitu Delia dan Dessy.
"Ada apa Sayang??." Tanya Emre.
Rina kaget dengan panggilan sayang yang diucapkan oleh Emre untuk dirinya. Rina sebenarnya suka dan bahagia dengan panggilan itu, tetapi Dia tidak ingin terlalu geer dan besar kepala. Karena setahu Rina Emre ingin menikahinya karena Emre hanya kasihan kepada nasibnya saja yang hamil tanpa Suami.
Rina segera menghilangkan rasa yang timbul dari dalam dirinya dan segera mengambil tasnya untuk segera berjalan ke arah Parkiran. Emre Bahagia Setelah melihat respon dari Rina sewaktu dirinya memanggil Rina dengan panggilan sayang.
Beberapa saat kemudian, Emre dan Rina sudah sampai di Rumah Sakit Islamiah Center. Rina berjalan terburu-buru ke dalam Rumah Sakit dan tidak memperhatikan kondisi lantai yang licin.
Rina Akhirnya terpeleset dan hampir terjungkal ke arah belakang andai saja Emre tidak cepat tanggap untuk segera menolong Rina. Emre segera memegang pinggang Rina agar tidak terjatuh dan bisa berakibat fatal. Emre langsung membantu Rina untuk berdiri tegak.
"Rina, kamu harus hati-hati kalau berjalan, ingat ada calon bayi kita di dalam sini." ucap Emre sambil menyentuh perut Rina.
Rina lagi-lagi dibuat klepek-klepek dengan sikap dan perlakuan Emre kepadanya. Rina masih tidak percaya dengan perlakuan Emre dan membuat jantung Rina berdetak kencang disaat Wajah Emre semakin dekat dari wajahnya.
__ADS_1
"Ya Allah Apa Aku tidak boleh mencintainya, apa aku tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang dari pria lain??" ucap bathin Rina.
Emre tak bosan memandang wajah calon istrinya. Emre tidak ingin melepaskan pegangannya di pinggang Rina.
"Kenapa Dia rela dan ikhlas menikahiku padahal jelas-jelas Dia bukan Ayah dari bayi yang aku kandung" ucap Rina yang hanya bisa tertahan di bibirnya.
"Semakin aku dekat dengannya jantung ini semakin berdetak kencang pula, Aku takut jika Rina mengetahui kalau sebenarnya Aku lah yang menghancurkan masa depan dan menjadi penghancur pernikahannya" ucap Emre dalam hatinya.
Mereka saling berpandangan dan masing-masing menyelami makna yang tersirat dari raut wajah dan Mata mereka. Mereka berpandangan satu sama lain dalam keadaan yang saling berpelukan. Andai saja Dessy dan Delia tidak datang Mungkin mereka masih menikmati suasana yang tercipta diantara mereka.
"Heeemmm" Arya berdehem untuk mencairkan suasana.
Delia dan Dessy hanya tertawa melihat reaksi dari Runa dan Emre. Wajah mereka memerah seperti Buah Apel masak untuk menahan malu.
"Rin, gimana keadaannya Paman??." tanya Delia.
"Aaaaku belum tahu Del, kami juga baru sampai soalnya" jawab Rina yang malu-malu.
"Kok kamu gagap sih Rina, Kami gak lakuin apa-apa loh sama kamu atau pun marah" ucap Dessy sambil tersenyum melihat reaksi dari ke duanya.
"Sudah, Ayo segera masuk" ucap Delia yang sudah berjalan bersama Arya meninggalkan Mereka yang masih berdiri di tempatnya.
Mereka berjalan menuju ruang ICU tempat perawatan bapaknya Rina. Sesampainya di sana Rina langsung histeris melihat kondisi Ayahnya.
"Bibi, yang sabar yah Bu" ucap Delia sambil memeluk tubuh ibunya Rina.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Paman, setahu Dessy paman kan gak punya riwayat jantung sebelumnya??." tanya Dessy yang heran.
Tetapi ternyata Rina sendiri yang langsung mulai memeluk tubuhnya. Emre tersenyum penuh arti.
"Tadi Bapak baik-baik saja sewaktu keluarga besar dari kampung datang ke rumah, Kami sangat bahagia menyambut kedatangan mereka, tapi tiba-tiba Ibu Anna datang dan berteriak di depan Rumah dan memaki-maki Rina bahkan ibu Anna sudah menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Rina kepada keluarga besar kami padahal mereka satu pun tidak ada yang tahu" ucap Ibunya Rina.
Arya,Delia dan Dessy dibuat marah oleh kelakuan Dari Ibunya Rangga. Delia segera menatap Ke Arah suaminya. Untuk meminta melaksanakan rencana Mereka selama ini.
Arya pun mengerti dengan tatapan Delia dan segera menelpon ke asisten pribadinya untuk segera datang ke Rumah Sakit.
"Assalamu alaikum, Tolong segera datang ke Rumah Sakit islamiah sekarang juga" ucap Arya yang tidak ingin dibantah.
"Waalaikum salam, baik Bos" ucap Dimas.
"Sepertinya sudah waktunya Rangga dan Rindu mendapatkan pelajaran yang berharga yang tidak akan mereka lupakan" ucap Arya.
Mereka duduk di luar ruangan ICU sambil menunggu Bapaknya Rina sadar. Rina ditemani oleh Emre, Arya berdua dengan Delia sedangkan Dessy Hanya sendiri.
Dessy merasakan cemburu dengan perlakuan pasangan masing-masing dari ke dua sahabatnya. Hal itu membuat Dessy jadi tidak bersemangat dan sedih. Dessy merindukan kehadiran sosok Suaminya yang dulu sangat perhatian dan penyayang sekarang semuanya tidak lagi sama semenjak Putera tunggal mereka meninggal dunia.
Langkah kaki dari Dimas membuat Dessy tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Dimas langsung tersenyum ke arah Dessy. Dessy tanpa sengaja membalas senyuman Dimas yang begitu manis dengan lesung pipinya.
"Gimana dengan yang Aku perintahkan, apa sudah beres??" ucap Arya.
"Sudah sesuai dengan yang bos perintahkan" jawab Dimas.
"Rangga tunggu Saja, dan nikmati malam terakhir kamu bisa tersenyum" ucap Arya yang tersenyum penuh kelicikan.
Dimas ingin duduk sambil menunggu Bapaknya Rina tetapi Dia tidak tahu harus duduk di kursi mana karena yang kosong sisa kursi yang ada di dekat Dessy. Dimas tidak ingin terlalu dekat dengan Dessy karena Dimas sudah mengetahui status Rina bahkan sudah mengetahui dengan jelas gimana hubungan Dessy dengan suaminya.
Dessy langsung bergeser sedikit dari posisi duduknya semula agar Dimas bisa duduk. Dessy kasihan melihat Dimas yang sudah berdiri hampir satu jam. Dimas pun duduk di samping Dessy dan tidak ada yang saling bertegur sapa.
Delia,Rina sudah tertidur pulas di pundak pasangan mereka masing-masing sedangkan Dessy mencoba untuk menahan kantuknya karena tidak tahu harus bersandar di mana, Akhirnya Dessy mulai memejamkan matanya dan bersandar di dinding. Setelah beberapa saat, Dessy Sudah tertidur pulas, Dimas pun berinisiatif untuk memindahkan Kepala Dessy kepundak nya.
Ke Esokan Harinya, Bapaknya Rina sudah sadar dari komanya. Tetapi kondisinya semakin parah saja.
Semua orang terbangun dari tidurnya, dan mereka berlari ke dalam kamar perawatan bapaknya Rina. Arya sebenarnya ingin menyewa kamar yang ada di Rumah sakit itu untuk tempat istirahat mereka tetapi Delia menolaknya dan baginya tidur di kursi lebih terkesan romantis.
Rina dan ibunya tidak henti-hentinya menangisi keadaan Bapaknya Rina.
"Rina" ucap Bapaknya yang tidak jelas.
"Bapak istirahat saja dan jangan banyak bicara" ucap Rina.
"Nak Emre mana Nak??" Tanya Bapaknya Rina.
"Aku di sini Pak" ucap Emre.
"Nak waktu Bapak tidak lama lagi, bapak mohon dengan sangat untuk menikahi Rina hari ini juga" ucap bapak Rina.
Rina dan Emre saking berpandangan satu sama lain.
TBC..
Dimas sabar dan berjuanglah untuk mendapat perhatian dari Dessy. Gak dapat gadisnya tunggu jandanya Saja Dimas 🤭🤭✌️✌️.
Rina dan Emre masih sama-sama menyelami perasaan mereka yah Readers 😂😅.
Arya dan Delia apa sih Rencana kalian???,🤔🤔
Ibu Anna sungguh kamu tega.. terlalu 🤧🤧
Yang penasaran dengan kelanjutan kisah mereka tunggu terus Saja Setiap Episodenya 🙏🙏.
Untuk beberapa part ke depannya FANIA gak mau fokus ke satu kisah saja Fania akan selipkan dikit-dikit kisah salah satu tokohnya.
Dan Di BDP TIDAK ADA KATA PELAKOR Tetapi Konflik yang terjadi adalah Murni cobaan Dari Keluarga dari para Tokohnya.
__ADS_1
Ceritanya aku buat kayak Makan Gado-gado dan Nasi Campur yang rasanya nikmat banget.. Betul betul...✌️🙏.
Makasih banyak 🥰🥰