Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 263. Hasil Tes DNA Alan


__ADS_3

Happy Reading..


Di dalam sebuah kafe yang ada di Rumah Sakit DA milik Arya, Delia Paramitha Wirawan dan suaminya Arya Wiguna Albert Kim Said sedang berbincang-bincang. Mereka membahas masalah kemelut yang mereka hadapi belakangan ini. Mereka saling bertny-tanya tentang apa motif orang tersebut melakukan semua itu dan siapa orangnya.


Mereka duduk di kursi yang paling pojok yang mudah mereka lihat situasi kafe jika ada yang menguping mencuri dengar pembicaraan mereka. Arya pun merasa ada seseorang yang sedang menguntit mereka.


"Mungkin itu anak buahnya Papa Hendry".


"Apa sebaiknya kita telpon Aditya saja Kak, agar dia ke Indonesia dan meminta bantuan kepadanya?, karena menurut Delia hanya Aditya jalan terakhir yang bisa kita andalkan untuk memecahkan teka-teki ini dan Delia yakin Aditya bisa lakukan semua itu" terang Delia sambil menikmati chese cake kesukaannya.


Arya hanya mengaduk minumannya tanpa ada niat untuk menyentuh kopi tersebut. Arya memikirkan kemungkinan besar yang bisa terjadi jika tidak segera diselesaikan masalah mereka.


Arya pun memikirkan solusi yang ditawarkan oleh Delia istrinya yang menurutnya itu jalan terbaik sekaligus menjadi pilihan terakhirnya. Arya mulai mempertimbangkan masukan Delia dan menyetujuinya.


Arya terus mengaduk kopi yang ada di dalam cangkir tersebut hingga sudah dingin dan asap yang awalnya menggepul di atas kopi tersebut perlahan hilang.


"Jalan terbaik untuk memecahkan teka-teki ini adalah menelpon Aditya untuk segera ke Indonesia, tapi terakhir Aku dengar katanya Aditya berada di Dubai yang sedang membantu Arman untuk mencari keberadaan adik iparnya" tutur Arya.


"Coba saja dulu Kak, kita tidak akan tahu hasilnya tanpa mencobanya, Jangan terlalu cepat ambil kesimpulan" ucap Delia yang masih menikmati kuenya.


"Kakak akui tidak ada jalan lain lagi, Semoga Aditya siap membantu kita" ucap Arya.


"Amin ya rabbal alamin" jawab Singkat Delia.


Arya sudah memutuskan untuk menghubungi Aditya, hpnya berdering pertanda ada telpon yang masuk. Arya segera mengangkat telponnya tanpa memeriksa terlebih dahulu sang penelepon tersebut. Tapi telpon tersebut membuat Arya menyunggingkan senyumannya.


Delia yang melihat reaksi suaminya yang mimik wajahnya langsung berubah dari yang kebingungan dan murung sekarang langsung bersinar dan bersemangat.


"Assalamu alaikum Aditya" ucap Arya setelah mengetahui jika yang menelponnya adalah orang yang sedari tadi menjadi perbincangan hangat dengan istrinya.


"Waalaikum salam Arya, tolong suruh anak buahmu untuk jemput aku di Bandara kebetulan saya baru sampai dari Dubai" terang Aditya.


"Aku yang akan langsung menjemput kamu, tunggu aku sekitar 15 menit dari sekarang" ucap arya sambil melirik arlojinya yang terpasang sangat cocok dan pas di pergelangan tangannya.


"Oke" ucap singkat Aditya.


Sambungan telpon pun terputus, Arya langsung pamit kepada istrinya dan tidak lupa menghabiskan minumannya yang sudah dingin sedari tadi. Hanya dalam sekali tegukan minuman kopi itu sudah tandas di dalam cangkir yang barusan Arya letakkan di atas meja.

__ADS_1


"Sayang, Kakak pamit dulu, Katanya Aditya ada di Bandara minta dijemput" jelas Arya.


"Alhamdulillah kalau gitu Kak, berarti permasalahan yang kita hadapi segera teratasi dengan baik dan segera mendapatkan Solusinya" ucap Delia yang ikut bahagia mendengar kabar tersebut.


"Iya Alhamdulillah, Kakak berharap Aditya memberikan solusi yang tepat untuk semua ini dan segera mengetahui siapa pelakunya dan apa alasannya sehingga Dia sampai hati melakukan hal ini" Jawab Arya.


Arya menyempatkan dirinya untuk mencium puncak kepala Delia sebelum meninggalkan Kafe tersebut.


"Kakak pamit dulu, Assalamu alaikum" ucap Arya sambil berlalu dari hadapan Delia yang masih setia duduk dihadapan piring kue yang ketiga yang berhasil dia habiskan.


"Hati-hati Kak, Delia berharap Kakak pulang membawa kabar yang baik" tutur Delia.


"Amin" ucap Singkat Arya.


Dalam perjalanan menuju Bandara, Arya teringat tentang kejadian terakhir sebelum Dimas terkena tendangan di dadanya dan sebelum pingsan, Arya melihat Dimas memegang hpnya dan bersamaan dengan hpnya yang ikut bunyi tanda ada pesan yang masuk.


Tapi waktu itu dalam keadaan genting dan tidak mungkin untuk bermain hp disaat sedang menghadapi Danu cahyono bersama komplotannya.


Arya pun membuka hpnya dan geleng-geleng kepala saat melihat banyaknya pesan chat yang masuk ke dalam hpnya yang beberapa hari ini, Arya tidak punya kesempatan untuk membuka aplikasi chat dihpnya. Dan yang membuat dua tercengang adalah pesan Chat dari Dimas. Untung saja jalan sedang macet dikarenakan lampu merah dan membuat Arya bebas bermain hp.


"Kalau gitu Alan berada di mana sekarang, dan kenapa bisa terjadi yang kami kuburkan waktu itu bukanlah Alan melainkan orang lain, terus Alan masih hidup atau sudah mati?".


Arya terus memikirkan kemungkinan besar yang bisa terjadi yang membuat dirinya mendapatkan Omelan dari pengendara mobil lainnya yang berada di belakangnya. Karena lampu hijau sudah menyala.


Arya hanya tersenyum menanggapi omelan dan suara klakson mobil yang cukup memekakkan telinga dari pengendara mobil yang ada di sekitar lampu merah. Arya kembali melajukan mobilnya ke arah bandara.


Arya sangat bersyukur setidaknya mengetahui kalau adik sepupunya Alan masih hidup walaupun keberadaannya tak ditemukan dan diketahui. setidaknya ada secercah harapan yang mereka dapatkan.


"Alhamdulillah Alan masih hidup, mkasih banyak ya Allah".


Kedatangan Aditya sangat disambut baik oleh Arya. Arya pun langsung memeluk tubuh sahabat baiknya sekaligus orang yang selalu membantunya selama ini jika mangalami kesulitan.


"Assalamualaikum, gimana kabarnya brotha?" tanya Arya sambil memeluk tubuh Aditya.


Aditya pun membalas pelukan sahabatnya rasa keluarga itu. Selama ini mereka selalu saling mengisi kekurangan masing-masing dan saling membantu jika salah satu dari mereka ada yang mengalami masalah yang sulit untuk mereka selesaikan dan pecahkan sendiri.


"Waalaikum salam, Alhamdulillah baik bro" ucap Singkat Aditya.

__ADS_1


"Aku ingin meminta bantuan sama kamu dan ada banyak yang ingin aku ceritakan sama kamu, tapi kita bicara di atas mobilku saja, karena sedari tadi ada beberapa orang yang mengikutiku sejak mobilku meninggalkan parkiran Rumah sakit.


"Ok kalau itu menurut kamu yang terbaik kita segera ke mobil kamu dan untuk mengelabui mereka serahkan kepadaku" ucap Aditya yang juga melihat beberapa orang tersebut yang pura-pura duduk dan membaca koran. Mereka ketahuan karena tidak mungkin ada seseorang yang baca koran dengan cara terbalik.


Arya dan Aditya tersenyum melihat kejadian itu.


"Jadi Apa yang ingin kamu bicarakan?". tanya Aditya setelah berhasil memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Kami melakukan tes DNA terhadap jenazah Alan dan kami pun menggali kuburannya secara diam-diam tanpa ada keluarga yang lain tahu terutama maminya Alan pun tidak tahu, saya terpaksa melakukan hal itu karena permintaan dari Hyuna sendiri dan saya tidak ingin melihat Hyuna yang bersedih sehingga kami melakukan penyelidikan tersebut" ucap Arya.


"Jadi hasilnya apa?" tanya Aditya yang sudah fokus ke Laptopnya yang sudah dia pangku.


"Hasilnya itu bukan jenazah Alan tapi milik orang lain yang kami juga tidak ketahui tapi awalnya kami tidak semudah itu untuk memecahkan misterinya, karena kami dihalangi oleh beberapa orang yang tidak kami tahu siapa mereka dan berhasil membuat Dimas melakukan operasi ringan dibagian dadanya dan kami akui mereka terbilang cukup kuat bahkan saya pun sempat di mendapatkan perawatan medis karena bertarung sengit mengahadapi anak buahnya" jelas Arya.


"Dan apa lagi yang terjadi" tanya Aditya yang sudah sibuk mengutak-atik laptopnya.


"tapi saya heran siapa bos mereka hingga sekarang belum saya ketahui dan motif mereka melakukan hal ini" ucap Arya yang heran plus bingung dengan semuanya itu.


Arya fokus menyetir mobilnya sambil menjelaskan semuanya kepada Aditya


Aditya sudah berhasil mengetahui hasil tes DNA terhadap jazad Alan. Dan segera memeriksa cctv dari awal kejadian itu dan Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi dari orang yang dihadapi oleh Arya. Anak buahnya sudah mengetahui jika Aditya berusaha untuk menyusup ke dalam sistem keamanan mereka.


"Musuh yang kamu hadapi sekarang bukanlah lawan yang mudah dan menurut saya lumayan kuat juga, tapi kamu sabar saja, Saya pasti bisa mengetahui informasi itu". ucap Aditya yang wajahnya sudah nampak serius tidak seperti awal buka Laptopnya.


...---------To Be Continued-------...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap BDP 🙏 dan FANIA hanya bisa membalas kebaikan kalian hanya dengan ucapan saja ✌️🥰.


*Tetap Dukung Bertahan Dalam Penantian 🙏 Dengan Cara LIKE, RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN, Dan jika punya Poin atau Koin lebih bisa Kirim GIFT untuk BDP 🙏🙏✌️.


Dan untuk Reader yang sering komentar Julid MAAFkan FANIA yang tidak bisa buat Novel sesuai keinginan Kakak dan kalau ikut alur sesuai yang Kakak inginkan pasti akan membuat ide yang sudah ada akan hilang dan ujungnya Alurnya akan berbeda ✌️.


Makasih Banyak..


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Minggu, 15 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2