Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 301. Yang Pertama


__ADS_3

Happy Reading..


Ruangan tamu yang terbilang megah dan besar itu dengan desain interior khas Eropa Timur dan dipadukan dengan khas Indonesia semakin menambah kecantikan dan keunikan ruangan itu sehingga membuat penghuni rumah megah itu betah berlama-lama duduk di dalam sana.


"Amanda sayang, kalau Alexander adalah Dosen Kamu di kampus itu malahan bagus, dan nantinya akan ada yang bisa jagain Kamu dong, walaupun kalian nantinya sudah menikah Kamu masih bisa lanjutkan kuliah Kamu loh," terang Mama Elisabeth.


Amanda berfikir jika dia menikah diusianya yang terbilang masih muda maka karir dan kuliahnya akan terganggu walaupun sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam dia menginginkan dan menyetujui bahkan sangat bahagia dengan Lamaran yang dilayangkan oleh Alexander untuk nya.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Nenek jangan menolak jika ada yang sudah serius dan mantap ingin mempersuntingmu kalo menurut kakak sih gitu," timpal Keyna.


"Dari pada cowok yang pengecut dan penakut untuk memperjuangkan cintanya dan tidak berani mengungkapkan perasaannya di hadapan orang lain, malahan berbuat bodoh dengan bermain serong hanya untuk menutupi perasaannya pada seseorang," jelas Andrias, lalu melirik ke arah Zack.


Sedangkan Zack hanya acuh tak acuh dengan perkataan dari Andreas dan sangat mengerti jika Pria yang dimaksudkan oleh Andreas adalah dirinya seorang. Andreas menatap jengah ke arah Zack. Sedangkan Zack malah menatap tajam ke arah Andreas.


"Aku sangat setuju dengan perkataan dari Andreas, Amanda mungkin banyak di luar sana pria yang menyukaimu tapi dari semuanya tentu ada yang serius ingin menikahimu dan untuk memilih dan mencari salah satu di dari mereka yang datang langsung ke hadapan kita untuk melamar mu itu mungkin akan sulit," ujar Raditya kakak sambung Amanda.


" Jadi bagaimana sayang, apa Kamu menerima lamaran dari Pak Alexander atau tidak? Nenek berharap Kamu menerima lamaran dari pak Alexander," tutur Neneknya sambil memegang kedua tangan cucunya itu.


Amanda melihat ke arah sepupunya satu persatu dan juga menatap Neneknya yang terakhir Amanda menatap kearah Alexander Agung dengan wajah yang berseri-seri kemerahan menahan malu.


Alexandre membalas tatapan yang penuh memuja dan berharap agar Amanda menerima lamarannya.


" Bismillahirrohmanirrohim."


Amanda pun menganggukkan kepalanya tanda dia setuju untuk menikah dengan Alexander Agung, seorang pria dewasa yang lahir dan dibesarkan di Panti Asuhan yang sukses dan berhasil berkat kegigihan dan ketekunannya dalam menjalani perkuliahannya.


Alexander sudah berjanji kepada Tuan Besar Wiguna Alber Kim Said yang tidak akan membuat kecewa orang-orang yang sudah menaruh kepercayaan besar kepadanya.


"Alhamdulillah makasih banyak," ucap Alexander dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


Mereka yang ada di dalam ruangan itu tersenyum penuh bahagia karena akhirnya Amanda menyetujui dan menerima lamaran dari Dosen mereka. Alexander kembali menatap kearah Nenek Elisabeth dan berkata, "Tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya Amanda Nenek, sebaiknya mungkin kita bertanya kepada mereka, apa mereka setuju untuk menerima lamaran ku atau tidak."

__ADS_1


"Kamu tenang saja nak kalau tentang kedua orang tuanya Amanda kamu tidak perlu merisaukannya ataupun berfikiran yang tidak-tidak, insya Allah mereka setuju dengan keputusan dan pilihan Amanda," ujar Nenek Elisabeth yang mengerti kegelisahan dan kegundangan yang terpancar dari raut wajahnya Alexander.


Agung pun mengeluarkan sebuah kotak buludru warna merah yang berisi sepasang cincin kawin. Agung tersenyum lalu menyerahkan kotak tersebut ke hadapan Nenek Elisabeth, Nenek Elisabeth menyambut baik pemberian dari Agung lalu membuka kotak itu yang berisi sepasang cincin.


"Amanda sini jarimu sayang, biarkan Agung menyematkan cincin tersebut sebagai tanda Kamu sudah menerima lamarannya," jelas Neneknya.


Amanda tanpa sungkan dan ragu langsung mengulurkan tangan kirinya ke depan Agung calon suaminya.


Agung mengambil satu cincin khusus untuk Amanda kemudian menyematkan cincin tersebut di jari manisnya Amanda begitu pun sebaliknya Agung tanpa ragu dengan semangat membara dan kebahagiaan yang meluap di dadanya meraih tangan Amanda lalu memasukkan perlahan cincin tersebut yang sangat pas dan cocok di jari manis Amanda.


Tidak seorang pun yang berada di dalam sana yang tidak ikut merasakan kebahagiaan melihat keduanya sudah resmi bertunangan dan akan segera menikah.


Mereka berbincang-bincang santai hingga larut malam. Zoya yang awalnya takut jika yang datang melamar adalah Elang walaupun Zoya tidak menampik jika Dia pun berharap jika Elang datang melamarnya sesuai dengan perkataannya tadi.


Ucapan selamat pun berdatangan serta berbagai doa dihaturkan oleh semua sepupu dari Amanda. Agung pun memutuskan satu bulan ke depan mereka akan menikah di Tanah Air Indonesia.


"Amanda tolong antar Pak Alexander ke depan kasihan kalau harus kesasar tidak tahu jalan pulang," titah Keyna yang tersenyum penuh arti ke arah Amanda.


Amanda tersenyum manis ke arah Kakak sepupunya itu.


"Mari Pak saya antar ke depan," ucap Amanda yang menundukkan kepalanya saking groginya.


"Makasih banyak," ucap singkat Alexander.


Mereka pun berjalan ke arah depan tepatnya di garasi rumahnya. Alexander tidak hentinya mencuri pandang ke arah Amanda di saat mereka berjalan beriringan. Amanda pun yang mengetahui jika ditatap seperti itu hanya bisa tersipu malu. Hingga mereka sudah berada di dalam garasi.


"Amanda Mas ingin meminta sesuatu Sama Kamu," tanya Agung.


"Bapak mau meminta sesuatu yang bagaimana? Amanda tidak mengerti dengan maksud dari bapak," jawabnya sambil memainkan jarinya Amanda dan kembali menundukkan kepalanya.


"Jangan panggil bapak terus, panggil aku Mas Agung mulai sekarang," tanpa aba-aba Agung mengangkat dagu Amanda agar pandangan mereka bertemu dan sejajar.

__ADS_1


Amanda tersipu malu-malu saat mata mereka saling bertemu dan saling menyalami ke dalam bola mata mereka seakan-akan mereka saling menyelami rasa yang ada di dalam lubuk hati mereka.


"Mas Agung," tutur lembut Amanda yang mendayu-dayu di telinga Agung.


"Ya mulai sekarang dan detik ini kalau tidak ada orang lain Kamu panggil Mas Agung, tapi jika Kita berada di lingkungan Kampus Kamu tinggal panggil aku Pak Alexander seperti yang biasa Kamu lakukan,"jelas Agung panjang lebar.


"Baik Mas Agung," jawab Amanda.


Agung refleks mendaratkan bibirnya di atas kening Amanda yang membuat ke duanya grogi dan debaran jantung mereka semakin memompa lebih cepat sehingga telinga mereka mampu terdengar saking kuatnya jantung mereka berdetak.


Dua insan yang sama-sama adalah pengalaman pertamanya dalam mengenal cinta membuat mereka saling bertatapan dan mematung. Agung pun kembali membisikkan sesuatu ke telinga Amanda.


"Jika kelas Kamu usai besok Kamu temani Mas ke rumah temannya Mas yah," suara lembut yang terlontar dari bibirnya membuat Amanda jantungnya kembali berdendang ria.


Amanda hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan pertama sekaligus menjadi kencan pertama mereka setelah resmi menjadi calon suami istri. Agung kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang.


"Assalamualaikum," ucap Agung sebelum mobilnya melaju meninggalkan Amanda yang terdiam mematung merenungi dan mengingat saat Agung mencium keningnya.


..........


Ada yang sudah ingin menikah diantara cucu Elizabeth kalau yang lain gimana yah???


Tidak terasa BDP sudah 300 Babnya. FANIA Sangat bahagia karena masih ada beberapa Readers sangat loyal dan setia mendukung Bertahan Dalam Penantian sejak awal kemunculan BDP hingga sekarang.


Tak terasa juga BDP akan masuk ke season end, Fania sedih juga saat akan menamatkan cerita BDP awal bulan depan.


Mau diapa yang namanya ada awal pasti akan ada akhir dan ujung dari kisah Arya Albert Kim Said bersama keluarga besarnya.


Jangan Lupa untuk selalu memberikan dukungannya kepada BDP dengan Cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏


...********To Be Continued********...

__ADS_1


__ADS_2