
Happy Reading..
Hari ini Hyuna dan Dimas sudah diijinkan pulang oleh Dokter yang menangani ke duanya. Karena kondisi mereka yang sudah membaik. Hyuna tidak langsung pulang ke rumahnya karena ingin menjemput putra tunggalnya yang dititipkan oleh Ibu mertuanya di Villa milik Mama Elisabeth.
Hyuna sangat bersyukur karena masih ada Mama Elisabeth yang bisa dia harapkan untuk menjaga putranya itu. ibu Anna memutuskan untuk membawa cucunya ke sana karena hanya tempat itu yang cocok dan keamanannya terjamin dibandingkan dengan tempat lainnya.
Hyuna dan ibu Anna berbincang-bincang terlebih dahulu dengan Mama Elisabeth sebelum pulang ke rumahnya. Perbincangan mereka terhenti dengan kedatangan Pak Hendry.
Kepulangan Pak Hendry membawa berita yang sangat mereka tunggu dan nantikan. Terutama untuk Hyuna. Pak Hendry kemudian menyodorkan sebuah berkas yang berisi tentang keterangan hasil DNA yang diam-diam pak Hendry dengan Istrinya lakukan.
Dan tes tersebut sangat membuat Ibu Anna dan Hyuna terharu bahkan tidak percaya dengan tulisan yang ada di atas kertas tersebut yang menyatakan kalau Rian adalah Alan putranya yang dianggap sudah meninggal dunia dalam kecelakaan maut itu.
"Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan dari hasil tes tersebut dan Saya mohon jangan berikan saya harapan kosong" ucap Ibu Anna yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Apa yang ada di dalam berkas ini adalah benar adanya dan tidak kekeliruan atau pun kesalahan dan jika kamu tidak percaya silahkan melakukan tes lagi" ucap pak Hendry.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah, Engkau telah menjawab doaku selama ini" tutur Ibu Anna yang semakin mengeraskan suara tangisannya.
"Alhamdulillah Makasih banyak ya Allah dan makasih banyak Paman, Paman sudah membantu menjawab keraguan Hyuna selama ini" ucap Hyuna yang air matanya sudah membasahi pipinya.
"Saya sedari awal bertemu dengan Rian sudah ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatiku, tapi Aku terus membuang perasaan itu dan menganggap itu hanya kebetulan dan perasaan rindu saja, tapi semakin aku berusaha untuk membuang prasangka itu pasti semakin datang menghampiri relung hati ini" jelas Mama Elisabeth.
"Mungkin itu perasaan rasa sayang kita yang tulus dan besar yang kita miliki untuk Alan sehingga kita mendapatkan feeling kalau Rian adalah Alan putraku" tutur Ibu Anna.
"Kalau gitu kenapa dengan wajah Alan dan kenapa Alan merahasiakan semua kebenaran itu di depan kita semua?" ucap Heran Hyuna.
"Iya betul yang kamu katakan Hyuna, tapi kok bisa jazad Orang lain berada di dalam mobil Alan jadi apa yang terjadi waktu itu dengan Alan?" tanya Mama Elisabeth lagi.
Kebingungan sekarang sedang melanda mereka dan belum ada yang bisa memecahkan misteri dibalik kecelakaan Alan.
"Mungkin misteri ini akan terjawab jika Rian sudah sadar dari komanya dan semoga saja Rian tidak amnesia akibat dari kecelakaan itu, kalau dia hilang ingatan pasti kita akan menemui jalan buntu dan semakin sulit untuk mengetahui rahasia besar ini" timpal Hyuna.
__ADS_1
"Aku sudah berusaha untuk mengetahui rahasia besar ini tapi sampai sekarang mereka tidak meninggalkan tanda-tanda apa pun. Karena jika ada anak buahnya yang berhasil kita tangkap pasti akan berakhir dengan kematian mengenaskan kepada mereka" terang Pak Hendry.
Mereka terdiam beberapa saat dan berperang dengan pemikirannya masing-masing. Bahkan hingga Hyuna pamit dari hadapan mereka, mereka masih belum bisa memecahkan masalah mereka dengan tepat.
"Mi tolong jaga Arjuna, Saya ingin ke Rumah Sakit untuk menjaga Rian, Saya tidak ingin Rian sendiri terus tanpa seseorang yang menjaganya" ucap Hyuna.
"Kamu harus hati-hati dan jangan bawa Arjuna bersama kamu, masalahnya ini rumah sakit yang rentang untuk anak-anak yang masih kecil seperti Arjuna" ucap Ibu Anna.
"Iya Hyuna tidak ada niat untuk membawa Arjuna bersamaku Mami, keadaan belum aman, Hyuna juga takut jika tiba-tiba mereka datang dan merebut Rian" ucap Hyuna yang wajahnya semakin bersinar setelah mengetahui kalau suaminya masih hidup.
"Kamu harus ekstra hati-hati dan jika ada sesuatu yang kamu anggap mencurigakan hubungi kami segera" ucap Mama Elisabeth.
"Anak buahku akan selalu menjaga dan mengikuti kamu dari jauh dan mereka akan berpakaian biasa saja agar tidak ada yang curiga dengan apa yang kita lakukan" ucap Pak Hendry.
"Makasih banyak Paman, Hyuna pamit dulu dan Saya titip Arjuna" ucap Hyuna.
Hyuna tidak membawa anaknya karena kondisi yang tidak kondusif dan bisa membahayakan kondisi putranya itu.
"Assalamu alaikum" ucap Hyuna lalu berjalan ke arah luar dan kembali masuk ke dalam mobil Alphardnya bersama dua orang yang duduk di kursi depan mobilnya dan ada dua mobil pengawal bayangan yang selalu standby setiap waktu jika Hyuna mengalami masalah.
"Maaf Non, kita akan kita akan ke mana?" tanya Supir pribadinya.
"Kita ke Rumah Sakit DA dulu" ucap Hyuna sambil memainkan gawainya.
"Siap Nona muda" Jawab Supirnya.
Mobil Alphard keluaran terbaru tahun ini sudah melesat menuju Rumah Sakit. Hyuna berharap kondisi suaminya membaik dan bisa segera sadar dari komanya. Sudah 4 hari Alan atau Rian belum sadar setelah menjalani dua kali Operasi dan hampir saja nyawanya melayang karena tidak adanya stok darah di Bank darah rumah sakit DA.
Langkah kaki Hyuna yang cukup lebar membuatnya tidak butuh waktu lama untuk segera sampai ke depan ruangan perawatan Alan.
Hyuna memutar kenop pintu tersebut dengan hati yang berdebar-debar saking bahagianya hingga Hyuna bergetar saat memutar handel pintu tersebut.
__ADS_1
Hyuna berjalan ke dalam kamar tersebut dengan hati yang tidak menentu. Air mata Hyuna sudah membanjiri wajahnya saat melihat Rian yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Makasih banyak Mas kamu sudah menolongku dari tabrakan maut itu, seandainya kamu tidak ada mungkin Aku sudah tidak bernyawa lagi dan Maafkan Hyuna yang lambat mengetahui Kalau kamu Mas Alan".
Hyuna sesekali menghapus jejak air matanya. Hyuna memegang ke dua tangannya Alan dan tidak hentinya menghujani ciuman di atas punggung tangan suaminya.
"Ya Allah sadarkan lah segera suamiku dan semoga Kak Arya dan kak Aditya bisa segera tahu apa motif dari penyerangan terhadap kami dan segera menangkap penjahatnya Amin ya rabbal alamin".
Karena kelelahan dan sudah terlalu lama Hyuna menangis tanpa dua sadari akhirnya tertidur pulas di samping ranjang suaminya.
"*Bagaimana dengan kemajuan dari Rian apa dia sudah sadar?".
"Maafkan Kami nona, kami belum mendapatkan informasi apa pun itu karena keamanan di sekitar ruangan tersebut sangat dijaga dengan ketat sehingga kami tidak menemukan celah sedikitpun untuk bisa lolos masuk ke dalam kamar itu".
"Bodoh, kalian semuanya tolol brengsek, kalian tidak becus hanya pekerjaan ringan seperti itu saja kalian tidak becus, apa sih guna kalian? haaaa".
"Maafkan kami Nona muda, kami akan bergerak lagi untuk mendapatkan informasi itu".
"Kalau kamu dapat kesempatan segera masuk dan bawa tubuh Rian segera ke sini bagaimana pun caranya dan ingat jika kalian tidak berhasil untuk melakukannya maka kalian yang akan menanggung akibatnya*".
Nona muda itu langsung menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam kamar pribadinya hingga tidak terbentuk lagi dan apa pun yang bisa dia raih pasti akan dia lempar ke segala arah.
"Jika kamu tidak bisa menjadi milikku maka sebaiknya kamu mati saja dan pasti aku akan lakukan apa pun itu yang penting kamu mampus bersama perempuan itu yang bersamamu".
Fania Ucapkan Terima Kasih Banyak Kepada semua Readers yang masih setia membaca novel recehku 😘.
Maaf jika ceritanya panjang, dan semoga tidak membuat kalian bosan ✌️.
Tetap Dukung Bertahan Dalam Penantian dengan cara Like setiap Babnya Rate Bintang 5 dan Favoritkan.
Mohon maaf jika selalu ada Kesalahan dalam penulisannya 🙏
__ADS_1
By Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Selasa 17 2022