Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 348. Berhasil Lolos


__ADS_3

Happy Reading..


"Ya maafkanlah hambaMu ini yang banyak dosa dan tolonglah aku agar penderitaan ini segera berakhir."


Suara tangisannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Roy bahkan Roy sudah melupakan keberadaannya di dalam kamar itu.


Roy dengan tidak berperasaan menyiksa dan menyakiti jiwa dan raganya Listie. Roy dengan Wanita binal itu tidak memiliki rasa malu lagi. Mereka bersetubuh hingga berulang kali di hadapan Listie yang sudah muak melihat tingkah bejak mereka.


"Kenapa mereka meski melakukannya begitu lama, apa mereka sama sekali tidak capek dan lelah sudah hampir tiga jam bergumul."


Listie sudah tidak tahan dan ingin memuntahkan cairan yang sudah hampir dia muntahkan. Doanya terkabul karena Roy segera mencabut miliknya di atas tubuh seksi dan polos wanita bukimnya.


Roy kembali berjalan ke arah Listi yang berbaring. Roy meraih botol air mineral kemasan yang terletak di atas meja nakas. Roy kemudian membuka tutup botolnya lalu menumpahkan segala isinya tepat di atas wajahnya.


"Aaaaahhhhh," Listi terkejut sehingga berteriak kencang.


Dia baru terlelap beberapa menit, tiba-tiba harus terbangun dari tidurnya. Dengan kondisi tubuh yang kesakitan dan basah. Listie segera bangun lalu menatap tajam ke arah di mana Roy berada.


"Hahahaha, aku sangat bahagia melihat wajah tidak berdayamu ini Listie," ujarnya lalu kembali menarik rambutnya dengan kuat.


Listi sudah tidak ingin mengeluh dan mengeluarkan suara apa pun. Dia mencoba sekuat tenaga untuk menahan sakitnya perlakuan dari Roy suaminya.


"Jangan sekali-kali lagi punya pikiran atau niat untuk kabur dari sini, jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk membunuh dan melenyapkan semua keluargamu."


Dia mendorong tubuh Listi hingga tersungkur ke atas lantai. Tulangnya remuk redam akibat dari sakitnya di atas tubuhnya. Tapi, matanya tak sedikit pun menyiratkan kesedihan lagi atas apa yang dia terima. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahannya.


Buuuuukkkkkkkkk!!!


Roy bersama perempuan itu meninggalkan Listi tanpa menoleh sedikit pun lagi. Mereka menutup pintu dengan sekuat tenaga. Hingga dinding seakan-akan sudah ingin roboh saking kuatnya pintu itu tertutup. Suaranya cukup menggema dan memekakkan telinga.


Listie segera mengesot hingga ke atas ranjangnya. Dia mencari obat yang sering dia konsumsi untuk meredakan rasa sakitnya setelah dipukuli oleh Roy.


Dia berjalan ke arah pintu untuk segera menutup pintu kamarnya dengan rapat dan menguncinya.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi dari sini jika tidak nyawaku bisa melayang juga lama-lama kalau gini terus."


Dia berjalan ke arah lemari tempat alat rekaman video yang dia simpan. Lalu mengambil laptopnya yang berada di dalam lemari.


"Aaauuhhhh sakit," saat tanpa sengaja tangannya yang terantuk di pinggir lemari.


Tangannya yang sudah memar bengkak dan membiru bekas injakan dari kaki Roy. Listie segera mengcopy paste hasil rekaman video itu. Dan segera mengirim ke HPnya Zidane. Hal itu dilakukan agar dia tidak kehilangan barang bukti.


Lukanya membuatnya tidak menghalanginya untuk segera melancarkan rencananya.


"Malam ini jadwalnya untuk memberikan persembahan untuk pesugihannya, berarti ada kesempatan untuk pergi dari sini."


Dia segera menelpon nomor hp art yang membantunya selama ini.


"Ingat taburkan obat itu ke dalam makanan mereka dan tidak apa-apa, jika Kamu masukin dosis yang banyak dan satu hal lagi Kamu harus pura-pura ikut buang air besar," terangnya.


"Siap Nona dan setelah aman Nona segera kabur dari sini, dan jangan pernah pikirkan masalah yang ada di sini," balasnya.


"Makasih banyak Mbak" air matanya menetes membasahi wajahnya.


"Kalau gitu udah dulu nanti mereka segera menyadari ada keanehan di sini."


Listi segera mengakhiri panggilan telponnya. Dia bahagia karena banyaknya orang-orang jahat yang mengelilinginya ternyata masih ada seorang yang baik dan bersedia menolongnya untuk segera bebas dari penjara itu.


Listie berjalan ke arah kamar pribadinya Roy dengan cara berjalan mengendap-endap dengan sangat pelan dan lambat. Hingga semut yang diinjaknya pun tidak bakalan mati.


Listie celingak celinguk memperhatikan ke sekelilingnya. Dia bisa bernafas lega, karena ada pembantu yang dia hubungi sebelumnya dan ikhlas membantunya.


Lalu masuk ke dalam kamarnya Roy. Dia segera mencari berkas yang dia butuhkan hingga ke dua matanya berbinar-binar bahagia. Berkas yang dia cari sudah berada di dalam tangannya.


"Syukur alhamdulillah sudah saya dapatkan,aku harus segera pergi."


Langkah kakinya sedikit terseok-seok karena kesakitan serta tangannya yang bagian kiri agak sulit dia gerakan, tapi tidak menghalanginya untuk segera meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Listie berjalan ke arah kamar pribadinya Roy dengan cara berjalan mengendap-endap dengan sangat pelan dan lambat. Hingga semut yang diinjaknya pun tidak bakalan mati.


Listie celingak celinguk memperhatikan ke sekelilingnya. Dia bisa bernafas lega, karena ada pembantu yang dia hubungi sebelumnya dan ikhlas membantunya.


Dia sedikit mempercepat langkahnya setelah semakin dekat dengan kamarnya. Perih dan nyeri yang dirasakannya dia berusaha untuk menahannya. Sakit dan nyeri itu pasti tapi, demi kebebasannya dia berusaha untuk melawannya.


Listie meraih tas ranselnya lalu memasukkan ke dalam tas berkasnya serta beberapa uang kas serta beberapa barang-barang penting untuk dia pakai nantinya. Satu pun dia tidak membawa pakaiannya.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Dia membuka jendela kamarnya dan menuruni tangga yang sudah tersedia sedari tadi. Tangannya kepeleset saat ingin memegang undakan tangga ke dua setelah dia sudah menuruni anak tangga.


Malam itu cukup sepi, sehingga memudahkannya untuk pergi dari sana. Listie berjalan ke arah jalan poros dengan tudung di kepalanya. Dia melakukan hal tersebut agar tidak mudah dikenali oleh siapa pun.


"Zi angkat dong telponnya, Tante mohon datanglah ke sini," ucapnya yang masih berusaha menelpon Zidane.


Dia melihat ada cahaya lampu sorot dari sebuah mobil. Senyumannya mengembang setelah melihat dengan jelas, kalau mobil itu adalah sejenis Taxi angkutan umum.


Dia segera maju dan menghentikan laju mobil itu. Dan supir taxi itu mengehentikan laju mobilnya.


"Pak kita ke jalan A yah," ucapnya yang sudah duduk di kursi penumpang.


Dia tidak menyadari, jika sambungan teleponnya sudah tersambung dengan nomor Zidane. Sehingga Zi segera bangkit dari tidurnya dan mengambil pakaiannya serta kunci mobilnya.


Setelah melihat rekaman yang dikirim oleh Listie, dia perlihatkan kepada kantor polisi dan membuat laporan penganiayaan dan tidak kekerasan dalam rumah tangga KDRT. Lalu mendatangi ustadz yang dia kenal. Dia ingin bertanya tentang gugatan perceraian apa dibolehkan seorang istri menggugat suaminya jika dalam konteks dalam hal seperti ini.


Zidane segera mengemudikan mobilnya ke jalan yang akan didatangi oleh Listie. Dia senyam senyum sendiri saat dia tahu akan bertemu dengan Tante cantik yang sudah mengusik ketenangan hatinya.


Dia melihat Listie yang berdiri di ujung Taman. Lalu mematikan mesin mobilnya. Dia tanpa segan dan aba-aba langsung memeluk tubuhnya Listie dari belakang. Dia tidak berontak sama sekali karena dia mengenal wangi parfumnya. Malahan hanya terdiam saja Sambil meresapi rasa yang ada di antara mereka.


Makasih banyak untuk semua Readers.


********To Be Continue********

__ADS_1


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Rabu, 06 Juli 2022


__ADS_2