Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BBA. 217. Kecewa


__ADS_3

Happy Reading..


Villa yang yang sangat mewah dan sudah direnovasi dari berbagai sudut sejak bertahun-tahun lamanya masih saja berdiri kokoh sudah dihiasi dengan dekorasi pernikahan yang sederhana tapi tidak menghilangkan kesan mewah.


Hanya Arya Delia, Dessy Dimas yang hadir di tempat acara tersebut sedangkan anggota keluarga lainnya tidak ada yang datang, sedangkan Emilia dan Eliana tidak hadir karena tidak menginginkan mamanya menikah karena menurut mereka Ayahnya baru berapa bulan meninggal. Mereka datang sebenarnya tidak diundang khusus oleh Mama Elisabeth atau pun Pak Richard tetapi dengan sukarela mendatangi Villa tersebut karena ingin memberikan doa dan ucapan kepada ke dua calon pengantin.


Mama Elisabeth tidak ingin memanggil mereka untuk menghadiri acara pentingnya karena awal dirinya meminta restu kepada anak-anaknya sudah tidak ada yang memberikan lampu hijau terhadap rencananya itu bahkan ke Dua putrinya menentang dengan keras keputusannya.


Flashback on


"Mama apa sudah memikirkan matang-matang keputusan Mama ini, jangan-jangan Mama bersedia untuk menikahi Pria itu karena adanya tekanan dari pihak luar" ucap Elliana yang tidak menyangka jika Mamanya akan menikah lagi dengan wajah yang heran sekaligus tidak percaya.


"Mama dan tega mengkhianati kasih sayang dari Ayah, Mama baru setengah tahun Ayah meninggal tapi Mama sudah ingin menikah lagi, Kalau mama ingin menikah lagi apa susahnya untuk menunggu beberapa tahun dulu, di mana perasaan Mama dengan semudah itu mama ingin menikah lagi dengan mantan suami mama??." tanya Emiliana yang sudah sangat marah dengan kilatan ke dua matanya yang memancarkan kemarahan dan berapi-api.


Sedangkan yang lainnya tidak ingin memperkeruh suasana bahkan mereka menganggap kalau Mama Elisabeth menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin beliau utarakan dihadapan mereka.


"Maaf bukannya Saya menyetujui keinginan Mama dan juga tidak menolak keinginan tersebut tapi apa kalian tidak pernah memikirkan kebahagiaan Mama, Mama punya hak untuk menentukan hidupnya kita sebagai anak hanya bisa memberikan dukungan moril tanpa harus menekan dan membuat Mama Elisabeth bersedih, Delia yakin mama pasti sudah memikirkan keputusannya dengan baik" ucap Delia yang tidak ingin menambah beban kepada Mertuanya.


Delia tahu pasti ada yang disembunyikan oleh Mama Elisabeth cuma Delia tidak tahu apa itu. Tapi Delia tidak ingin mengeluarkan pemikirannya kepada saudara iparnya dan suaminya sekalipun. Delia memegang tangan Mama mertuanya seakan-akan memberikan kekuatan dan dukungan moril.


"Suatu saat mereka pasti akan mengerti dan Jangan dimasukkan dihati perkataan mereka Ma, Aku selalu mendukung pilihan dan keputusan Mama" ucap Arya yang memeluk mamanya dari samping.


Emilia dan Elliana meninggalkan rumah besar Wiguna Albert Kim Said dan mereka memutuskan untuk pulang ke Inggris dan Amerika. Emilia segera mengemas barang-barangnya begitu pun dengan Elliana.


Dan pagi ini mereka akan berangkat ke negara masing-masing. Suami mereka tidak ada yang mau pulang, tapi karena mereka juga tidak mungkin memilih untuk hadir di acara Mertuanya.


Flashback off


Pak penghulu dan pegawai KUA pun sudah hadir. Pak Hendry tidak ingin menunda waktu terlalu lama.


"Bagaimana pak penghulu apa pernikahannya sekarang bisa dilaksanakan??." tanya pak Hendry.


"Kalau ke dua mempelai sudah ada dan semua saksi pun sudah hadir di tempat maka sebaiknya ijab kabul kita mulai saja agar waktu baik tidak terlewat" ucap oak penghulu lalu memandang ke seluruh ruangan untuk memastikan saksi pihak dari kedua mempelai telah hadir.


Tidak lama kemudian, terdengar kata Sah dari semua orang yang ada. Pak Hendry sangat bahagia dan bersyukur karena akhirnya dirinya kembali bisa bersatu dengan mantan istrinya. Semua yang hadir turut mendo'akan ke dua pasangan pengantin baru tersebut.


"Selamat yah Ma, semoga keluarga Mama selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu diberkati" ucap Delia yang memeluk ibu mertuanya.


"Makasih banyak nak kamu sudah bersedia untuk datang" ucap Mama Elisabeth yang memeluk tubuh Delia menantunya.


"Aunty harus sabar menghadapi mereka, Dessy yakin suatu saat mereka akan menerima keputusan dan pernikahan Aunty" ucap Dessy yang merasa kasihan kepada Mama Elisabeth.


Menurutnya itu semua hak seorang perempuan jika ada yang melamarnya dan menerimanya yang penting dalam keadaan yang tidak terikat dengan pernikahan dengan siapa pun.

__ADS_1


"Iya Tante, Rina yakin mereka akan bisa merestui hubungan Tante dan jangan terlalu dipikirkan kata-kata Emilia dan Elliana" ucap Rina sebelum meninggalkan Villa itu.


Delia mengelus punggung Mama Elisabeth agar Mama Elizabeth tidak memikirkan tentang ke dua anak perempuannya tidak datang.


Setelah acara selesai, Mereka meninggalkan Villa milik Pak Hendry dan kembali ke rumah masing-masing. Mama Elisabeth masuk ke dalam kamarnya bersama pak Hendry. Mama Elisabeth membuka percakapan diantara mereka.


"Apa jaminannya jika kamu sudah tidak akan menganggu anak-anak dan cucuku dan keluarga besar ku??." tanya Mama Elisabeth saat sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Apa kamu tidak yakin dengan semua perkataan dan janjiku padamu??. apa kamu pikir aku bermain dan bercanda saja?." tanya Pak Hendry yang berlutut di hadapan Mama Elisabeth sambil memegang ke dua tangan Mama Elisabeth.


"Aku takut jika kamu mengingkari semua janji Mas" ucap Mama Elisabeth yang mulai takut dan khawatir jika dirinya tertipu.


"Elisabeth aku ingin berubah dan aku sudah berjanji aku ingin Mengisi kebaikan di sisa hidupku bersamamu maka aku mohon jika suatu saat nanti kau keliru dan salah jalan maka tegurlah aku Elizabeth, Aku ingin mengubur dalam-dalam semua kenangan dan kejahatan Aku yang telah aku lakukan" ucap Pak Hendry.


Mama Elisabeth masih ragu dengan semua perkataan Hendry karena dirinya masih mengingat peristiwa silam jika Hendry marah maka dia akan menggauli mama Elisabeth dengan menyiksa Mama Elisabeth bahkan memukuli tubuh Elisabeth setelah dirinya mengenal pelakor itu.


"Aku akan buktikan kepada kamu bahwa aku sudah berubah walaupun nyawaku yang menjadi taruhannya" timpal Oak Hendry lagi.


Pak Hendry ingin mendekatkan wajahnya ke wajah Mama Elisabeth tapi langsung dicegah.


"Maaf aku lagi puasa" ucap mama Elisabeth yang mencegah Oak Hendry suaminya untuk meminta haknya di Siang Bolong.


"Maaf aku lupa" ucap Pak Hendry yang tertawa kecewa dan lupa kalau Mama Elisabeth perempuan yang taat beribadah dalam keadaan apa pun.


Sedangkan Arman meninggalkan Villa milik ayah angkatnya dan ke Bar untuk menghabiskan waktunya dengan menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol dengan berbagai merek. Arman sudah tidak sanggup berdiri lagi dan langsung terjatuh ke lantai.


Seorang cewek yang bekerja sebagai Cleaning servis di Bar itu segera membantu Arman. Cewek itu pun memanggil salah seorang rekan kerjanya agar membantunya.


"Ada Apa Karina?." tanya Alwi rekan kerjanya Karina.


"Tolong bantu aku membawa tuan ini ke dalam kamar hotel agar tuan ini bisa beristirahat, kasihan melihat tuan yang terjatuh ke lantai tadi" Jawab Karina Dwi Oktaviani.


Mereka membawa Arman ke dalam kamar khusus untuk Tamu yang sudah tidak bisa pulang karena kesadaran mereka sudah hilang.


"Makasih banyak Alwi" ucap Karina.


Karina membuka ke dua sepatu Arman lalu mengganti semua pakaian yang dipakai Arman.


"Pakaian tuan sudah sangat kotor penuh dengan noda Muntahannya, kasihan kalau tidak diganti, tapi aku ambil pakaian dari mana mau beli aku tidak punya uang, aku pinjam tapi pakaiannya siapa" tanya Karina pada dirinya sendiri.


Karina melepas seluruh pakaiannya Arman kecuali yang terdalam dan menyelimuti seluruh tubuh Arman.


"Ya Allah ini orang siang-siang bolong begini mabuk apa dia gak puasa yah?." tanya Karina pada dirinya sendiri dan tersenyum karena sudah terlalu cerewet.

__ADS_1


Karina ingin memasukkan pakaian Arman ke dalam kantong kresek tapi tiba-tiba dompet dari dalam celana Arman terjatuh ke lantai. Karina yang kepo langsung mengambil dompet tersebut dan memeriksanya karena Karina ingin menelpon sahabat atau pun keluarga dari Arman. Tapi Karina dibuat terkejut dengan isi dompet itu yang fantastis. Mulai dari jejeran ATM debit hingga kartu kredit dan sejumlah uang.


"Aku ambil saja uangnya beberapa lembar baru aku belikan pakaian yang ada di pasar ujung jalan sana yah?." ucap Karina.


"Tapi itu kan sama saja mencuri jangan sampai Dia menganggap aku ini ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan lagi" monolog Karina lagi.


Karena sudah lama berperang dengan pikirannya sendiri, Karina pun akhirnya memutuskan untuk mencuci saja pakaiannya Arman dan menunggu sampai pakaian itu kering barulah Karina mengantarkan lagi kembali kepada yang punya Pakaian.


Arman tertidur hingga tengah malam, dan Pakaian yang dia pakai pun sudah berada di atas Meja Nakas ranjangnya dan sudah rapi bahkan wanginya mengalahkan parfum laundry.


Arman terbangun dalam keadaan yang bingung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Arman memperhatikan seisi Ruangan kamar tersebut tapi tetap tidak mengenali dirinya berada di mana.


"Sakit" keluhnya sambil memegang kepalanya.


Arman lalu mencari dompet dan hpnya. Arman pun memeriksa keadaan dompetnya dan ternyata masih utuh lalu menelpon nomor hp asistennya untuk segera datang ke kamar tersebut.


Sayangnya nomor hp yang dihubungi tidak aktif sedangkan nomor lainnya tidak ada yang mengangkat telponnya Arman. Perutnya Arman tiba-tiba berbunyi tanda dirinya ingin makan. Arman segera berjalan ke arah dalam kamar mandi dan segera kembali memakai pakaiannya.


"Seingatku terakhir aku sedang minum hingga baku tidak menyadari jika aku terjatuh ke lantai lalu aku lupa apa Lagi yang terjadi, aku harus bertanya kepada seseorang yang berada di sekitar lokasi tempat ini." ucap Arman.


Arman berjalan ke arah luar dan mencari Orang yang bisa dia tempati untuk bertanya. Untung saja ada OB yang kebetulan lewat di depan kamarnya.


"Pak bisa minta tolong" teriak Arman kepada Alwi yang kebetulan lewat di depannya.


"Maaf ada yang bisa saya Bantu tuan?." tanya Alwi.


"Maaf kalau boleh tanya Saya bisa Sampai di sini, kalau boleh tahu siapa yang antar saya soalnya seingat saya tadi tidak sadarkan diri di dalam bar?.' tanya Arman kepada Alwi.


"Maaf Tuan teman rekan kerja saya yang membawa tuan ke kamar ini karena kasihan melihat tuan yang sudah pingsan dan seluruh pakaian tuan sudah terkena noda muntahan Tuan" Jawab Alwi.


"Boleh saya bertemu dengannya?." tanya Arman.


"Maaf Karina sudah balik tadi jam 8 malam pak karena sudah pergantian sip" ucap Alwi.


"Makasih banyak kalau begitu" ucap Arman yang kemudian mengambil beberapa lembar uang kertas merah dan memberikan beberapa uang tersebut untuk Alwi dalam jumlah yang banyak.


Arman memutuskan untuk menginap di Hotel tersebut dan berniat ingin bertemu dengan perempuan yang sudah menolong ya.


To Be Continued..


Makasih banyak atas dukungannya 🙏


Jangan Lupa untuk tetap mendukung BDP Dengan Cara LIKE RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN.

__ADS_1


Makassar, 11 April 2022


__ADS_2