Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 224. Perasaan Rindu


__ADS_3

Happy Reading..


Balas dendam tak akan pernah menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya akan memperpanjang masalah karena semua yang balas dendam hanya akan mendapatkan kepuasan sesaat


"Pembalasan adalah monster nafsu makan, haus darah selamanya dan tidak akan kenyang".


Karena itu lah Mama Elisabeth tidak ingin dendam dengan apa yang dilakukan dulu oleh putra pertamanya dengan suaminya. Mama Elisabeth sangat tahu siapa sosok yang menyebabkan kematian Oma Estella dan yang menembak Suaminya serta yang melukai cucu kesayangannya adalah Pak Wiguna Albert Kim Said yaitu Putranya Arman Maulana Yusuf dan Hendry Yusuf.


Mama Elisabeth berdo'a dan berharap agar Pak Hendry dan Arman bertaubat dan menyesali perbuatannya dengan cara berubah jadi lebih baik jangan mengulangi kesalahan itu lagi dan berusaha jadi manusia yang bermanfaat untuk orang.


"Manusia yang terbaik adalah manusia yang berguna dan bermanfaat untuk orang lain" .


Setelah mengetahui kalau Arman adalah putranya dari bukti barang peninggalan Arman sewaktu-waktu masih bayi. Mama Elisabeth telah berjanji untuk membantu Arman agar dirinya lelas berubah dan meninggalkan semua perbuatannya yang tidak baik itu.


...----------------...


Di Kamar yang bernuansa serba putih itu, seseorang masih terbaring lemah di atas Bangkar rumah sakit hingga menjelang pagi. Sedangkan Karina yang menunggu dan menjaga Arman dalam keadaan terlelap juga dengan sarung yang masih setia di dalam tubuhnya. Pakaian yang dipakainya yang semula basah perlahan-lahan sudah kering. Matahari sudah berada di ufuk timur dan siap menyinari dan memanaskan seluruh isi bumi.


Arman dan Karina masih belum juga bangun, saat Mama Elisabeth dan pak Hendry sudah berada di dalam ruangan perawatan Arman.


"Mas ternyata putra kita masih hidup, ternyata dia di dekat kita, tapi kenapa kita tidak mengetahui hal tersebut" ucap Mama Elisabeth yang memegang ke dua tangan putranya.


"Aku pun sama terkejutnya dengan dirimu, karena sejak dulu Linda selalu mengatakan kepadaku kalau Arman adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, bahkan Linda sering kali melukai, membentak bahkan pernah memukul Arman hingga Arman masuk rumah sakit gara-gara Linda dan selingkuhannya." tutur pak Hendry.


Mama Elisabeth menutupi mulutnya dengan ke dua jari tangannya yang sangat terkejut mendengar perkataan dari pak Hendry.


"Apa Linda sengaja menyembunyikan Arman dari kamu mas agar dia bebas melampiaskan amarahnya dan menanamkan doktrin yang tidak baik sehingga Arman seperti sekarang ini yang selalu hidup dalam dendam" ucap Mama Elisabeth.


Pak Hendry pun teringat kejadian yang membuat Ke dua anak kembarnya dan dinyatakan yang pertama hilang tanpa jejaknya dan yang ke dua putrinya dinyatakan meninggal dunia tapi ada keganjalan yang terjadi saat pemakaman jazad bayi dua bulan itu. Linda tidak mengijinkan Pak Hendry untuk melihat terakhir kalinya putrinya dengan berbagai alasan.


Pak Hendry kembali teringat beberapa tahun yang lalu.


Waktu itu Saya sedang berangkat ke luar kota dan menitipkan anak-anak kita pada Linda, dan hanya sehari keberangkatangku ke luar kota dan dikabarkan kalau ke dua anak kita menghilang dan putri kita sudah meninggal. Waktu saya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga saya tidak pernah memikirkan kejadian tersebut dengan baik.


Satu Minggu kemudian dengan alasan kalau Linda Sangat sedih atas kehilangan dan kematian putri kita dia membawa sepasang anak bayi dan kami merawatnya hingga berumur 10 tahun.

__ADS_1


Di usia Arman yang sepuluh tahun, Aku mengetahui perbuatan tidak manusiawi Linda yang setiap hari menyiksa Arman jika Saya ke luar daerah ataupun keluar negri. Hingga suatu hari Linda kedapatan selingkuh dibelakangku dan Arman yang menjadi saksi tersebut harus disiksa dan dipukuli oleh mereka hingga masuk rumah sakit.


Dan mulai saat itu, Arman seakan-akan selalu mudah marah dan emosi walau pun hanya masalah sepele saja dan selalu ada di dalam pikirannya ada lah balas dendam kepada siapa pun yang menghalangi jalannya dan jika dia menginginkan sesuatu dan tidak dipenuhi maka dia akan marah bahkan mengamuk.


Saya sangat menyesali keputusanku yang menikahi Linda dan berselingkuh dari kamu. Hasutan demi hasutan yang aku dengar dari mulut Linda yang mengatakan kamu itu jelek dan selingkuh dengan pria lain dan dengan segala cara Linda menggodaku sehingga aku tertipu dan terperdaya dengan kebohongannya.


"Ya Allah aku tidak menyangka putraku menderita seperti itu, bahkan nyawanya menjadi taruhan dari kejahatan perempuan itu"


"Maafkan aku ini semua kesalahanku, aku sangat menyesal telah membuat kamu terluka dan mengusir kamu dari rumah dan dari hidupku" ucap pak Hendry yang meneteskan air mata penyesalannya.


"Sudahlah mas semuanya sudah terjadi dan tidak perlu menyesali semua yang telah terjadi dan sekarang jalan yang terbaik adalah melupakan masa lalu kelam, berdamai lah dengan masa lalu dan buanglah jauh-jauh pikiran untuk selalu balas dendam, karena tidak ada gunanya selalu balas dendam" ucap Mama Elisabeth yang masih menangis tersedu-sedu.


Mama Elisabeth masih duduk di samping bangkar Arman yang sejak dipindahkan mama Elisabeth sudah berada di sana hingga sekarang pukul 8 pagi tapi Karina belum juga bangun dan sekarang sudah dipindahkan ke kursi panjang sedangkan Arman masih tidak sadarkan diri setelah dioperasi.


"Arman jangan lari nak, ayok mendekatlah ke sini Nak, ini mama sayang" ucap seorang perempuan yang berpakaian putih yang sedang berdiri di bawah pohon.


Sedangkan Arman yang berdiri di tengah taman rumput ilalang seorang diri yang bingung harus melangkah ke arah mana. Dan perempuan tadi masih setia mengulurkan tangannya dan menunggu kedatangan Arman. Arman perlahan-lahan berbalik arah dan terus berjalan ke arah lain. Tapi perempuan itu terus memanggil Arman agar berbalik dan berhenti untuk berjalan.


"Arman sayang ini mama sayang, Mama sangat merindukanmu apa kamu tidak ingin bertemu dengan mama Nak" teriak perempuan itu yang mengaku adalah mamanya.


"Mama..." teriak Arman dengan nafas yang kembali memburu, nafasnya ngos-ngosan dan sedikit susah untuk bernafas normal.


Mama Elisabeth yang mendengar teriakannya Arman dan merasakan ranjang Arman yang bergoyang membuatnya terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit mengistirahatkan tubuhnya.


Kondisi Arman yang berbalut kain perban di kepalanya sedangkan kakinya yang digips membuat pergerakannya menjadi terbatas. Arman selalu menatap wajah mama Elisabeth selama dia tersadar dari komanya beberapa jam. Arman membandingkan wajah perempuan yang menolongnya di dalam mimpinya itu mirip dengan Mama Elisabeth.


Arman tanpa sadar meneteskan air matanya, Arman sangat sedih dan tidak tahu tiba-tiba perasaan rindu, sedih dan takut kehilangan bercampur jadi satu. Arman tanpa sadar langsung memegang tangan Mama Elisabeth. Sedangkan Mama Elisabeth yang menyadari hal tersebut langsung membalas pegangan tangan Arman.


"Apa yang kamu rasakan nak, apa Kamu ingin minum?." tanya Mama Elisabeth yang tidak ingin memberitahukan kepada Arman kalau dia adalah ibu kandungnya. Mama Elisabeth ingin biarlah Arman sendiri yang menyadarinya dan mengakui Mama Elisabeth sebagai mamanya karena dengan kondisi mental Arman yang tidak stabil kadang normal kadang penyakitnya kambuh sehingga Mama Elisabeth memutuskan untuk bersabar menghadapi sikap Arman dan menutupi kebenaran itu untuk sementara waktu.


"Apa Kamu ingin minum Nak?." tanya Mama Elisabeth yang mengulang pertanyannya karena Arman hanya terdiam dan menatapnya terus.


Arman pun menganggukkan kepalanya. Mama Elisabeth segera mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas tersebut dan memasukkan sedotan Air kedalamnya karena Arman belum bisa bangun atau duduk dari posisinya yang sekarang.


"Ini minumlah perlahan-lahan dan pelan saja" ucap Mama Elisabeth sambil menyodorkan gelas tersebut ke arah Arman dan sedikit menaikkan posisi ranjang untuk memudahkan Arman minum.

__ADS_1


Arman hanya diam dan terus menatap wajah Mama Elisabeth hingga Karina terbangun dari tidurnya dan terjatuh ke Lantai yang membuat perhatian ke duanya teralihkan oleh suara benda yang jatuh dan cukup besar. Mama Elisabeth langsung berjalan ke arah Karina dan membantunya untuk berdiri.


"Kamu tidak apa-apa Nak?." tanya mama Elisabeth yang membantu Karina berdiri.


"Tidak apa-apa kok Bu, makasih tidak usah repot-repot kau bisa berdiri sendiri" tolak Karina secara halus karena merasa tidak enak hati dibantu oleh Mama Elisabeth.


"Tapi kamu baik-baik saja kan atau ada yang sakit??." tanya Mama Elisabeth lagi.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Bu" ucap Karina yang tersenyum malu-malu karena ketahuan jatuh dari kursi saat tertidur.


"Kamu masuklah ke kamar mandi dan ganti pakaian kamu, gak baik loh memakai baju yang basah terus-terusan, kamu bisa kena penyakit kulit" ucap Mama Elisabeth lalu menyodorkan paper bag yang berisi pakaian dan perlengkapan mandi.


"Makasih banyak Bu" ucap Karina lalu ngacir ke dalam kamar mandi karena sangat malu ditatap terus oleh Arman.


"Kasihan dia sedari semalam dia memakai pakaian yang basah dan katanya dia yang membonceng kamu ke rumah sakit memakai motor tetangganya padahal hujan semalam sangat deras" ucap Mama Elisabeth yang bangga dengan sikap cewek yang rela berkorban untuk Arman.


Arman hanya diam membisu dan tidak ingin berkomentar, tapi dalam hatinya sangat berterima kasih karena telah ditolong oleh Karina lagi untuk kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, Pintu Kamar mandi terbuka dan keluarlah Karina dengan pakaian yang baru dan nampak sangat cocok ditubuh tingginya. Karina berjalan malu-malu dan ini yang pertama kali dalam hidupnya memakai pakaian yang bagus dan mahal.


Pandangan Arman tertuju pada Karina penampilan Karina yang membuatnya pangling dan tanpa sengaja bergumam.


"Sangat cantik" gumam Arman yang masih bisa didengar baik dan jelas oleh Mamanya.


Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan Arman.


"Gadis yang baik, sepertinya dia cocok dengan Arman yang bisa membantu Arman untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi".


...****************...


...***To Be Continued***...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏


Tetap like setiap Updatenya Yah 🙏


Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 14 April 2022


__ADS_2