Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 362. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Happy Reading..


Perayaan ulang tahun Delia malam itu cukup meriah. Kedatangan seluruh anggota keluarganya baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebahagiaan itu semakin bertambah saat Elang dan rombongan keluarganya datang melamar Zoeya Saldana. Awalnya mereka tidak ada satupun yang menyangka jika hari itu Elang datang melamar Zoeya.


"Alhamdulillah, kami sangat bahagia karena niat baik kami untuk menghalalkan hubungan mereka diterima dengan tangan terbuka," ucap pamannya Elang.


Mama Elisabeth menatap dengan wajah yang sumringah kearah pamannya Elang lalu menimpali perkataannya,"Kami yang seharusnya berbicara seperti itu, karena Elang pria yang baik dan serius untuk menikahi putri kami Zoe, dan semoga Elang bisa membahagiakan cucuku itu."


"Insya Allah Nek, Saya tidak bisa janjikan sesuatu yang belum bisa terjadi, tapi satu hal yang perlu nenek tahu, cintaku pada Zoe tulus dan besarnya cintaku padanya melebihi pada diriku sendiri," sahut Elang lalu menatap ke arah Mama Elisabeth bergantian dengan Zoe.


Mereka duduk santai di ruang keluarga, sambil menikmati makanan yang disuguhkan oleh mereka. Makanan kali ini, dimasak oleh Dessy, Rina, Emilia, Eliana dan Hyuna dengan penuh kasih sayang.


Mereka dengan susah payah memasak dan hasilnya sangat memuaskan dan membuat mereka kenyang dengan cita rasa makanannya yang mereka buat.


"Kalau gitu kita cicipi makanan yang sudah tersedia, karena kita sudah sepakat satu minggu kemudian pernikahan Elang dan Zoe akan dilaksanakan, pernikahan Amanda dengan Alexander Agung juga akhirnya akan kita laksanakan yang sudah cukup lama tertunda karena kesibukan Agung serta kematian Mark papinya," jelas Arya.


"Apa Nak Agung tidak permasalahkan jika kalian menikahnya bersamaan dengan Elang?" Tanyanya Adrian yang menatap ke arah Agung.


Agung yang ditanya seperti itu membalas menatap ke arah Adrian lalu menjawabnya," insya Allah, saya setuju dan tidak mempermasalahkannya sedikit pun," ujarnya dengan tersenyum.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu, kita sudah sepakat untuk menikahkan mereka satu minggu lagi dari sekarang, dan masalah persiapannya kita bersama-sama mengerjakannya, saya akan turun langsung membantu pelaksanaannya," jelas Delia.


"Kapan makannya kalau kita bicara terus," gurau Eliana.


"Iya betul sekali, kalau bicara itu tidak ada habisnya tapi, perut juga butuh untuk diisi sepertinya sudah memberontak dari tadi," timpal Aditya.


Mereka semua menuju meja makan, Pricilla yang sedari tadi sesekali merasakan kesakitan dibagian perutnya hanya mengelus dengan lembut tapi di wajahnya nampak dengan jelas. Semua menikmati dengan penuh semangat makanan yang tersaji di depan mereka. Semua menu makanan yang tersaji di atas meja khas Indonesia.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka satu persatu menyelesaikan makannya. Hingga perhatian mereka teralihkan saat Pricilla berteriak kencang dan memegang bagian perutnya.


"Aaahhh sakit!!!" Teriak Pricilla yang baru berjalan beberapa langkah meninggalkan meja makan.


Andreas yang berada di sampingnya segera menggendong tubuh istrinya dengan ala bridal style ke arah pintu. Semua orang panik melihat hal tersebut.


"Sepertinya Pricilla akan melahirkan," ucap Delia.


"Iya, Emilia kamu akan segera jadi Nenek," ucap Dessy.


Mereka satu persatu masuk ke dalam mobil untuk menyusul ke rumah sakit. Mereka bahagia dan cemas dalam waktu yang bersamaan. Mereka bersyukur karena akan diberikan calon keluarga baru langsung dua orang. Sedangkan Keyna yang baru tiga bulan masa kehamilannya, dilarang untuk ke RS dikhawatirkan dia kelelahan.


"Sayang, kamu di rumah saja, kamu kan sedang hamil butuh istirahat yang cukup juga, kasihan dede bayinya nanti," tutur Zack yang melarang istrinya ikut ke RS.


"Tidak mau, aku harus lihat ponakanku itu dengan ibunya saat mereka lahir ke dunia ini," ujarnya Keyna yang ngotot ingin ikut dan tidak mau mendengar larangan suaminya yang terlalu posesif dan over protektif itu.


"Baiklah kalau gitu, kita akan ke rumah sakit juga," ucapnya dengan pasrah.


"Abang tidak kenal Key sepertinya yang tidak akan menyerah sedikit pun jika menginginkan sesuatu." Key tersenyum licik ke arah suaminya.


Hanya minus Zidan saja yang tidak hadir di rumah sakit. Semua anggota keluarga besar Wiguna Albert Kim Said memenuhi rumah sakit bagian ruangan persalinan. Pihak Dokter dan perawat hanya geleng-geleng kepala melihat mereka yang sangat ramai. Untungnya saja rumah sakit itu milik Arya Wiguna sehingga satu pun dari mereka tidak ada yang berani untuk berkomentar apa pun.


"Adrian kamu bersiaplah untuk dipanggil Kakek," terang Arya yang tersenyum.


"Alhamdulillah, aku ternyata yang pertama di keluarga kita yang akan menjadi seorang kakek,"sahutnya dengan senyuman yang bangga.


"Andreas apa kamu sudah persiapkan nama yang bagus dan Cantik untuk mereka nak?" Tanyanya Nenek Masitha.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah Nek, dan semoga anak-anakku lahir dengan selamat," ujarnya.


"Amin ya rabbal alamin,"balas mereka bersamaan.


Di tempat lain Zidane tengah berjuang melawan serangan dari anak buahnya Listi. Zidane tidak menyangka jika, semua perkataan yang dikatakan oleh Listi hanya tipu muslihat dan kebohongan besar. Ternyata Listi adalah istri sirinya dari pamannya sendiri yang selama ini menjadi buronan kepolisian karena menipu dan menggelapkan uang Perusahaan Papanya.


"Uncle Emre, tolong segera datang ke jalan xx, tapi bawa banyak anggota uncle ke sini, aku sudah menemukan tempat persembunyian dari Paman Adiguna," terangnya di balik telepon yang sesekali menembaki beberapa anak buahnya Adiguna.


Emre segera membisikkan kata-kata ke telinganya Dimas serta Arya. Mereka segera bertindak diam-diam tanpa ada yang mengetahui jika mereka akan pergi.


"Elang kamu harus ikuti Papa, tapi jangan sampai para emak-emak dan perempuan di keluarga kita mengetahui hal ini, Papa tidak ingin mereka curiga," ucapnya saat mereka hanya berdua saja.


Elang hanya menganggukkan kepalanya lalu segera menghubungi nomor hp asisten pribadinya sekaligus anak buah kepercayaannya yang terbaik itu. Elang tidak melibatkan organisasi black Eagle. Karena menurutnya mereka hanya musuh yang bisa mereka tangani dengan anggota keluarga yang sudah ada.


Hanya Adrian, Andreas, Alan serta Aditya. Mereka tetap tinggal untuk berjaga-jaga untuk menghindari sesuatu yang kemungkinannya akan terjadi. Rombongan mereka segera bergerak cepat ke arah lokasi yang sudah dikirimkan oleh Zidane.


Sesampainya disana mereka dibuat terkejut karena kondisi Zidane cukup mengkhawatirkan karena terkena tembakan di bagian kakinya.


"Zidane, putraku!!" Teriak Arya saat melihat ke arah putranya yang sudah terduduk di atas aspal yang diobati oleh anak buahnya.


"Zack segera bawa adikmu ke rumah sakit, sisanya serahkan pada kami untuk menangani Penjahat itu," ucapnya.


Elang segera memberikan kode kepada anak buahnya untuk maju. Bagi Elang ini hal kecil, bahkan pertempuran yang lebih besar dan sulit dia sudah sering hadapi.


"Bawa hidup-hidup perempuan ular betina itu dan Adiguna, jangan biarkan mereka mati dengan mudah," ucapnya Arya dengan penuh amarah.


Baku tembak pun terjadi, mereka sama-sama mengeluarkan dan memperlihatkan segala kemampuan yang mereka miliki.

__ADS_1


Makasih banyak untuk semua Readers yang telah memberikan dukungannya kepada BDP.


__ADS_2