Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 346. Saling Berbagi Suka Duka


__ADS_3

Happy Reading..


Pertemuan tidak terduga antara Zidane dengan Listie berakhir di Kantor Polisi. Dia tidak menyangka jika ada perempuan yang masuk ke dalam mobilnya yang membuatnya harus berurusan dengan pihak kepolisian.


Zidane kembali dibuat shock ketika menyadari bahwa Listie untuk ke dua kalinya masuk ke dalam mobilnya secara diam-diam.


Zidane memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di dekat sebuah Taman. Dia ingin bertanya langsung kepada Listie apa alasannya sehingga harus mobilnya yang jadi tempat persembunyiannya.


Mereka sudah duduk di bangku Taman. Posisi mereka berjauhan, mereka masing-masing duduk di ujung bangku.


"Mungkin di sini adalah tempat yang baik dan cukup aman, jadi Saya mohon Tante jujur sama saya apa alasannya Tante masuk ke dalam mobilku?" tanya Zidane tanpa menatap ke arah Tante Listie.


Listie mengembuskan napasnya yang sedikit dia rasa berat. Dengan terpaksa dia harus membuka aibnya di hadapan pria yang sudah sekitar dua minggu itu dia perhatikan.


"Saya adalah seorang istri dari seorang pengusaha sukses, harta, kekayaan segalanya ada, tapi tidak ada kebahagiaan yang saya rasakan selama saya menikah."


Zidane melihat ke arah yang ditatap oleh Listie.


"Saya menikah dengan dia karena dijodohkan oleh ke dua orang tuaku, awalnya saya sudah menolak tapi, jika saya menolak maka dia akan memenjarakan kedua orang tuaku jika tidak segera melunasi hutang-hutangnya dalam jangka waktu satu bulan yaitu 1 Triliun rupiah,"


"Terus?"


"Saya menikah dengannya sudah hampir 10 tahun, tapi selama itu juga tidak ada kebahagiaan sedikit pun yang aku rasakan, bahkan suamiku setiap kali ingin dilayani selalu menyiksa aku dan dia itu termasuk hiperseks yang sudah akut," Listie tersenyum ke arah Zidane yang balik menatapnya.


Listi hanya tersenyum sesekali disaat mengingat kembali kisah rumah tangganya.


"Jadi hanya gara-gara seperti itu Tante harus meninggalkan rumah,anak dan suami Tante?" tanyanya yang heran dengan Tante cantik yang lebih muda dari usianya.


"Hahahaha, bukan semudah itu aku akan meninggalkan suamiku, lagian aku tidak punya anak," terangnya.


"Maksudnya pernikahan yang sepuluh tahun lamanya, Tante satu pun tidak punya anak?" tanyanya yang tidak percaya dengan raut wajahnya yang kebingungan.


"Iya, aku tidak pernah merasakan yang namanya hamil sedikit pun tidak pernah, setiap kali aku harus minum obat pil kontrasepsi agar saya tidak bisa hamil, setiap perempuan itu menginginkan agar segera memiliki buah hati, tapi suamiku tidak ingin memiliki anak," tuturnya.


"Serius!!! suaminya melarang Tante untuk hamil?" tanyanya yang mulai antusias mendengarkan perkataan dari Listie.


Listi hanya menganggukkan kepalanya tanda perkataannya adalah benar adanya.


"Awalnya aku tidak tahu kenapa dia tidak mau memiliki seorang anak dan ternyata dia seperti itu karena dia memiliki pesugihan di dalam kamar sedari dulu tidak boleh ada yang mendekati atau pun masuk ke dalam kamar itu."


"Jadi semua yang dia lakukan sama Tante atas dasar karena ilmu pesugihannya? berarti kalau begitu suami Tante yang tidak beres."


"Bukan berhenti di situ saja, tapi hampir setiap hari dia membawa perempuan yang berbeda-beda setiap harinya ke dalam rumah Kami dan jika aku melarangnya pasti dia akan memukuliku lagi," terangnya.


Matanya sudah berkaca-kaca, dan air matanya sudah siap untuk jatuh membasahi pipinya. Dia terus berusaha untuk menahannya, dia tidak ingin dicap sebagai perempuan lemah yang tidak berdaya.


"Aku sudah capek dan tidak sanggup lagi, Zi tolong, bawa aku pergi jauh dari sini, aku sudah tidak sanggup untuk bertahan hidup bersamanya."


Zidane kebingungan dan tidak tahu harus berbicara apa. Dia juga tidak bisa menjanjikan apa pun untuk saat ini.


"Kasihan juga dengan Tante, kalau seperti ini terus pasti akan berbahaya, tapi masalahnya dia masih berstatus istri orang lain."


"Tapi selain Tante dipukuli apa Tante punya bukti lain yang bisa kita jadikan alasan untuk segera menggugat cerai suami Tante? kalau sudah dapat Saya janji akan bantu Tante untuk kabur dari Indonesia."


Ke dua mata Listie berbinar terang,dia serasa dapat angin segar untuk segera terlepas dan bebas dari belenggu pernikahannya.


Listie refleks memeluk tubuh Zidane dengan sangat erat. Perlakuan dari Listie membuat ada sesuatu hal aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam lubuk hatinya yang paling terdalam.


"Ada apa ini? aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya."


Zidane tidak membalas pelukannya Listie, karena ini pertama kalinya dia rasakan dipeluk dengan lawan jenisnya.

__ADS_1


Saking bahagianya, Listi sedari tadi memeluknya dan tidak ingin melepaskan pelukannya.


Zidane yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kalau gitu, aku pulang dulu dan mengambil bukti yang bisa membantuku untuk bercerai dengannya," ucapnya.


"Ingat rekam apa pun yang menurut Kamu bisa membantumu untuk lepas dari jeratannya, dan Kamu harus selalu berhati-hati dan waspada agar tidak ketahuan dari Rio Ferdinand suamimu," terangnya.


"Makasih banyak," ucapnya lalu mengecup sekilas bibirnya Zidane.


Lesti segera meraih tasnya lalu berlari kecil menuju jalan raya untuk bersiap pulang ke rumah suaminya. Dia sudah tidak memikirkan konsekuensi dari acara kabur-kaburannya.


Malahan sekarang dia sangat bahagia karena sudah mendapatkan orang yang tepat untuk membantunya dan mengatasi masalahnya.


Zidane memegang pipinya yang panas kemerahan. Jantungnya berdegup kencang dan tidak teratur.


Dia refleks memegang bagian dadanya. Lalu tersenyum penuh arti.


"Apa ini yang dinamakan cinta pada pertemuan pertama? entahlah yang penting aku bahagia melihat senyuman Tante Listi," tuturnya.


Zidane pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan wajah selalu berseri-seri dia mengemudikan mobilnya ke arah jalan menuju kediaman Utama kedua orang tuanya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam mobil di mana Elang dan Zoe berada. Elang menatap ke arah Zoe yang sedari tadi hanya terdiam dan seperti seseorang yang banyak beban pikirannya.


Hal seperti ini baru pertama kali dia lihat, dia juga tidak tahu apa yang membuat Zoe bersikap seperti itu. Jika diajak berbicara hanya kebanyakan diam saja.


"Zoe boleh tidak kalau Kamu panggil saya tidak usah pake kata bapak di depannya."


Elang melirik ke arah Zoe sedangkan tangannya masih setia menyetir mobilnya.


"Jadi aku harus panggil apa? lagian bapak wajar saja Saya panggil bapak karena bapak adalah Dosenku di Kampus,ke dua bapak lebih tua dari saya bahkan kita selisih 11 tahun loh, bapak itu sudah tua," ujarnya dan langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan mengatakan pria di sampingnya sudah tua.


Zoe Saldana yang diperlakukan seperti itu tersenyum bahagia,hatinya menghangat dan kesedihan dan rasa kecewa yang sedari tadi dia rasakan lenyap sudah terbang di bawa angin hingga ke tempat yang sangat jauh.


"Abang ingin pamit sama Kamu, mungkin besok pagi saya sudah kembali ke Inggris karena ada pekerjaan yang penting yang mengharuskan saya harus hadir."


Zoe tersenyum ke arah Elang. Dia sudah melupakan kesedihannya tadi pagi.


"Abang akan kembali ke Indonesia atau tidak lagi?" tanyanya.


"Insya Allah, sebelum hari raya idul adha Abang pasti akan datang lagi," jawabnya.


"Zoe akan menunggu Abang hingga datang kembali dan Zoe janji akan menjawab lamaran Abang," jawabnya lalu membuka pintu mobilnya Elang.


Zoe sudah bersiap untuk keluar dari mobil, langkah kakinya terhenti saat tangannya Elang menariknya. Elang tanpa aba-aba memasangkan gelang yang sangat indah di pergelangan tangan kiri Zoe. Gelang itu adalah peninggalan dari Maminya sebelum meninggal dunia.


"Makasih banyak," ucapnya.


"Abang harap kedatanganku nanti adalah saat Kamu akan menjawab yes," ujarnya sebelum mengemudikan mobilnya ke arah luar halaman rumahnya Arya Wiguna.


Tubuh Zoe sehat total lebih cepat dari perkiraan dokter. Sehingga dia tidak ingin diantar masuk oleh Elang.


Zoe membuka pintu rumahnya dan dia terkejut melihat siapa yang buka pintu rumahnya.


Kamu mau sembunyi dimana


Aku bisa mengendus baumu


Jangan pernah lari dariku


Karena kita telah berjanji

__ADS_1


Biar matahari bohong pada siang


Pura-pura tak mau panas


Tak perlu menyiksa diri sendiri


Sembunyikan cinta yang ada


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta kamu


Aku tak pernah beristirahat


Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise


Seribu wajah menggoda aku


Yang ku ingat hanya wajah kamu


janjiku tak pernah main-main


Sekali kamu tetap kamu


Where do you want to hide?


I can smell your smell


Never run from me


Because we promised


Let the sun lie at noon


Pretending not to be hot


No need to torture yourself


Hide existing love


I don't need any language


To reveal I love you


I never rest


To love you according to my promise, promise


A thousand faces tease me


All I remember is your face


I promise never play


Once you're still you


...********To Be Continue********...


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Selasa, 05 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2