
Happy Reading..
Keesokan harinya, Arya, Emre dan Dimas segera mendatangi rumah Dinas milik Adiguna.
Mereka tidak ingin menunda pertemuan mereka. Arya belum menyampaikan hal tersebut di hadapan Istrinya Delia Paramitha Wirawan.
Dia harus mengetahui apa yang diinginkan oleh Adiguna, apa dia setuju untuk jujur dan mengembalikan semua uang yang sudah dia korupsi dan menyerahkan dirinya kepada pihak berwajib.
"Apa langkah selanjutnya yang akan Kamu lakukan Arya, jika Adiguna tidak mengakui kesalahannya?" Tanya Dimas yang mengemudikan mobilnya ke arah jalan menuju rumahnya Adiguna.
Arya menatap ke arah Dimas sebelum menjawab pertanyaan dari sepupunya tersebut.
"Kalau dia tidak ingin jujur dan mengelak berarti sebaiknya kita giring saja ke kantor polisi," ujarnya.
"Itu ide yang sangat bagus menurutku, orang seperti dia harus diberikan hukuman dan ganjaran sesuai dengan kejahatannya," timpal Emre.
"Jika dibiarkan akan selamanya berlarut-larut dan akan meresahkan dan menjadi contoh yang buruk untuk karyawan lainnya," ucap Dimas.
"Siapapun yang melanggar aturan yang sudah dibuat, dia harus menerima ganjaran yang sesuai dengan kesalahannya tanpa harus melihat hubungan apa di antara kita," jelas Arya yang sudah mulai muak dengan Orang yang bermuka dua dan penipu.
Mereka kembali terdiam, mobil mereka meluncur dengan bebas ke arah jalan menuju tempat rumah Adiguna bersama istrinya.
Mereka juga sangat tidak suka dengan kehidupan pribadi Adiguna hampir setiap hari keluar masuk Club malam dan menghabiskan waktunya bersama wanita tidak benar.
Bukti itu baru mereka temukan sebelum berangkat ke rumahnya. Mereka tidak habis pikir sudah dikasih gaji yang tinggi, fasilitas yang memadai dan mewah, tapi dia masih saja berlaku culas dan merugikan Perusahaan Sinopec Group.
"Itu lah sifat dasarnya manusia, tidak ada rasa puasnya, dalam dirinya dapat sejengkal minta sehasta diberi jantung minta hati, keserakahan selalu menyelimuti pikiran dan hati seorang yang tidak pernah ada rasa syukur di dalam dirinya," desisnya Emre yang masih setia mengemudikan mobilnya.
"Benar sekali, manusia jika tidak memiliki sedikit pun rasa syukur di dalam dirinya pasti akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya," cicit Arya.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan pagar rumah Adiguna. Arya dan yang lainnya turun dari mobilnya.
"Assalamu alaikum Pak," salam Emre saat sudah di depan pagar dan melihat ada Security yang berjaga di sana.
"Waalaikum salam," jawabnya lalu segera membuka pagar tersebut karena sangat tahu siapa mereka yang berdiri di depannya.
"Makasih banyak Pak, oiya Pak apa Adiguna ada di rumah?" Tanya Arya.
"Iya Pak, Bapak masih ada di dalam rumah dan barusan pulang katanya dari luar daerah," jawabnya.
"Kalau gitu apa Kami bisa minta tolong untuk diinfokan kepada Pak Adiguna kalau Kami datang untuk mencarinya," jelasnya Dimas.
__ADS_1
"Bisa Pak, kalau gitu tunggu dulu, saya akan masuk menemui beliau," jawabnya.
Mereka bertiga bersandar di kap mobilnya. Mereka saling bertatapan dan mematung menunggu kedatangan dari Adiguna.
Beberapa saat kemudian, Pak Security tersebut berjalan tergesa-gesa ke arah mereka bertiga.
"Maaf Pak katanya bapak semua dipersilahkan untuk masuk menemui Tuan," terangnya.
"Makasih banyak Pak," ujarnya lalu berjalan mendahului Dimas dan Emre.
Mereka membuka pintu itu tanpa harus menunggu seseorang untuk membuka pintu tersebut.
Adiguna segera memakai pakaiannya setelah mendengar berita kedatangan orang-orang nomor satu di Perusahaan tempat dia bekerja.
Sedangkan istrinya yang tidak tahu menahu tetap berada di dalam dapur untuk melanjutkan masakannya.
Adiguna berjalan tergesa-gesa ke arah Tamunya yang sudah duduk di kursi panjang.
"Maafkan saya Tuan sehingga membuat Tuan-tuan harus menunggu lama," ujarnya lalu mendudukkan dirinya di atas kursi.
Semua tatapan tertuju pada Adiguna sehingga membuatnya memegang tengkuk lehernya yang tiba-tiba meremang dan merinding ketakutan.
Adiguna menatap dalam satu persatu tamunya. Dia kembali berpura-pura dan menjalankan aktingnya agar tidak ketahuan.
"Aku harus berakting agar mereka tidak curiga sedikit pun dan mengetahui bukti keterlibatan aku di Perusahaan Sinopec Group."
Arya tanpa ba-bi-bu melempar sebuah map berisi beberapa berkas bukti yang sangat akurat tentang kejahatannya Adiguna.
Dia sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun, jika berkas di dalam map yang dilempar ke hadapannya adalah semua bukti keterlibatannya tertulis dengan sangat jelas sekali.
Adiguna belum menyentuh sedikit pun berkas tersebut. Dia masih sibuk menduga tentang isi dari berkas tersebut.
Hanya bisa menatap dan enggan untuk mengambil map itu.
"Apa yang terjadi padamu Adiguna, kenapa Kamu belum membuka map tersebut? Kalau Kamu tidak suka dengan semua yang ada di dalam sana tidak apa-apa," terang Emre.
Adiguna gelagapan dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Ini semua bukti keterlibatan seorang dalam menggelapkan uang Perusahaan serta banyak lagi yang lainnya," ujar Emre dengan menatap tajam ke arah Adiguna.
"Mak-sudnya saya tidak me-ngerti a-rah pembicaraan dari Tuan Emre.
__ADS_1
"Tidak perlu berlagak pura-pura dan bodoh di depan Kami, kalau Kamu ingin mengetahui apa yang tertulis di dalam map itu silakan dibaca," terang Arya dengan tatapan jengahnya.
Mereka sudah sangat muak melihat tingkah lakunya Adiguna yang berpura-pura tolol dalam sesaat.
Adiguna yang sudah gemetaran berusaha untuk membuang jauh rasa takut dan kecemasannya yang berlebihan itu.
Dia pun segera membuka map tersebut dan ke dua matanya membelalak hingga seakan-akan mau copot dari dalam lubang matanya. Mulutnya menganga terbuka lebar hingga semua gigi rongga mulutnya nampak begitu jelas.
Arya kemudian berdiri di hadapan Adiguna sembari memasukkan ke dua tangannya ke dalam kantong celananya.
"Bagaimana Adiguna, apa masih kurang jelas yang Kamu baca? Kalau belum jelas, aku akan kembali menjelaskan hingga Kamu paham dengan sangat baik," jelasnya lalu berkeliling mengamati semua kondisi di dalam ruangan tersebut.
Arya berjalan dengan memperhatikan apa-apa saja yang ada di dalam rumah Adiguna. Semua perabot jika diukur dengan menggunakan pembandingan gajinya itu sangat mahal dan butuh beberapa bulan gaji untuk membeli semuanya.
"Kalau Kamu belum mau jujur dan mengakui semua kesalahan dan kecuranganmu, maka sebaiknya aku menghubungi nomor kantor polisi saja," ujarnya lalu meraih hpnya yang ada di dalam saku celananya.
Adiguna yang sudah terdesak dan tersudut tidak tahu harus berbuat apa lagi. Nasibnya sudah berada di ujung tanduk. Hingga hidup segan mati pun enggan.
Adiguna menatap mereka satu persatu,ke dua matanya sudah memerah menahan amarahnya karena sudah ketahuan bermain curang.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi bos? Agar mereka membantuku untuk meloloskan diri dari mereka."
Adiguna sembunyi-sembunyi meraih hpnya, tetapi tindakannya dilihat oleh Dimas sehingga Dimas segera mencegah apa yang hendak dilakukan oleh Adiguna.
"Stop!!! Jika tidak Kamu akan kami segera menangkap mu lalu membawamu ke kantor polisi."
Adiguna tidak mengindahkan peringatan dan larangan dari Dimas. Dia tetap melangkah hingga berlari ke arah luar rumahnya dan masuk ke dalam mobilnya.
Saking cepatnya berlari, Adiguna tidak terkejar oleh mereka. Hingga mobilnya berhasil lolos dari hadapan mereka.
Mereka bertiga mengikuti langkahnya Adiguna tapi, sia-sia saja usaha yang mereka lakukan.
Mereka tidak menyangka jika, Adiguna akan bertindak seperti itu.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian.
Fania ucapkan kepada Readers all selamat idul Adha 1443 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
By Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Minggu 10 Juli 2022
__ADS_1