
Happy Reading..
Mama Elisabeth bersyukur karena berkat darahnya sehingga Rian bisa terselamatkan dari kondisi kritisnya.
"Entah kenapa perasaan ini mengatakan kalau Rian adalah Alan, dan jenazah yang dianggap Alan adalah orang lain, tapi kalau begitu pasti ada misteri dan teka-teki dibalik semua itu, Aku sangat yakin itu".
Mama pun mengutarakan kecurigaan dan rencananya kepada suaminya pak Hendry. Dan rencananya akan didukung oleh pak Hendry.
"Mas kok golongan darah kami itu sama yah, padahal itu tidak mungkin dan sangat mustahil jika hal itu hanya kebetulan semata, dan selama Rian berada di Villa setiap kali kami bersama selalu saja yang terlintas di benakku adalah Alan." ujar mama Elisabeth.
"Kalau itu yang kamu pikirkan kita harus gimana?." tanya Pak Hendry yang sudah duduk di depan istrinya sambil menikmati minuman dan kue ringan yang ada di depannya.
Mama Elisabeth dan Pak Hendry setelah merasa kondisi Rian yang sudah stabil dan memberikan pengamanan yang sangat ektra, mereka memutuskan untuk ke Kafe rumah sakit agar bisa berbincang dan bertukar pikiran tentang masalah yang sedang terjadi dan mereka hadapi.
"Mas, Aku punya ide gimana kalau kita melakukan tes DNA Rian dengan putranya Alan yaitu Arjuna, sepertinya ini jalan yang terbaik untuk mengetahui siapa Rian sebenarnya dan segera mengetahui motif dan misteri dibalik kecelakaan yang terjadi" terang mama Elisabeth.
"Kalau itu menurut kamu baik kita akan lakukan tes tersebut, saya pun curiga dan pernah sekali saya melihat Rian mengendap, di tengah malam dan saya waktu tidak sengaja melihatnya karena saya ingin mengambil air putih di lemari pendingin" ucap pak Hendry yang mengingat kejadian saat itu.
"Berarti benar yang mas katakan, dan dugaanku semakin kuat Kalau Rian menyimpan rahasia besar, tapi entah apa itu dan untuk mengetahui itu jalan satunya adalah melakukan tes tersebut" jelas mama Elisabeth yang menerawang jauh ketika sedang bersama Rian.
"Tapi yang jadi pertanyaan kita ambil darah atau sampelnya Arjuna caranya gimana? karena Arjuna ada bersama Anna" tanya Hendry yang mencari cara bagaimana mendapat sampel dari Arjuna dengan mudah dan tanpa ketahuan dari orang lain.
"Kalau itu berikan kepada Saya Mas, Saya akan mengaturnya dan...." ucapan Mama Elisabeth terpotong karena hpnya sedari tadi berdering.
Mama Elisabeth mengambil hpnya dari dalam tasnya.
"Halo, Assalamu alaikum" salam Mama Elisabeth.
"Waalaikum salam, Elizabeth kamu di mana?" tanya ibu Anna dibalik telponnya.
"Aku masih di rumah Sakit, kenapa Anna?" tanya balik Mama Elisabeth.
"Aku ada di rumah sakit bersama Arjuna, kebetulan Aku membawa Arjuna yang sedari tadi pagi rewel ingin bertemu dengan Mommynya Hyuna" terang ibu Anna.
"Aku ada di Kafe, kita ketemu di ruangan Hyuna saja" ucap Mama Elisabeth yang tersenyum penuh arti.
Kedatangan ibu Anna dan Arjuna ke Rumah Sakit akan mempercepat dan mempermudah langkah dan rencana yang akan mereka tempuh.
"Semoga apa yang aku lakukan berjalan lancar dan hasilnya sesuai yang kami harapkan".
__ADS_1
Mama Elisabeth dan Pak Hendry pun berjalan dengan tergesa-gesa sebelum Ibu Anna sampai di ruangan Perawatan Hyuna.
Pintu ruangan terbuka dengan lebar dan masuklah Elisabeth dan Hendry yang membuat perbincangan antara Hyuna dan Aulia terhenti. Mereka mengira yang datang adalah Orang lain dan akan berbahaya jika yang datang itu bukan Keluarganya.
Aulia langsung berdiri dari posisi duduknya disaat sudah menyadari jika yang datang adalah paman dan bibinya. Aulia pun meraih tangan ke Dua pasangan tersebut dan mencium punggung tangannya. Hyuna pun demikian ketika berada di dekat Pak Hendry dan Aulia. Dan Mama Elisabeth cipika-cipiki dengan Hyuna maupun Aulia.
"Gimana kabarnya Mami dan keluarga kecil kamu Aulia Apa mereka baik-baik saja?" tanya Elizabeth.
"Alhamdulillah mereka baik saja Tante, Kalau mami beberapa hari yang lalu sudah berangkat umroh di Tanah Suci Mekkah" jawab Aulia.
"Alhamdulillah Kalau begitu, Tante sangat senang mendengarnya" sambil duduk di kursi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Pak Hendry diam-diam menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan Tim dokter terbaik untuk segera melaksanakan Tes DNA tersebut jika mereka telah berhasil menemukan dan mendapat sampel rambut dari Arjuna putra tunggalnya Hyuna.
"Aunty perhatikan keadaan kamu sepertinya sudah membaik" ucap Mama Elisabeth yang membuka percakapan santai di antara mereka.
"Alhamdulillah Aunty, Hyuna sudah baikan, Hyuna sudah minta ijin sama dokter untuk pulang tapi kata dokter besok saja, baru bisa pulang" jelas Hyuna.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah baikan, dan Aunty harap tidak ada yang perlu kita khawatirkan dengan kondisi kamu, kasihan putra kamu yang sudah Kamu tinggalkan beberapa hari ini" ungkap Mama Elisabeth.
"Iya Aunty, Hyuna sudah sangat merindukan kehadiran putraku dan setiap saat Aku ingin mendengar celotehannya" ucap Hyuna sendu tapi karena sedang di rumah sakit makanya tidak ingin Arjuna datang.
"Mami kamu sudah ada di rumah sakit dan katanya ingin bertemu dengan kamu, Arjuna rewel sejak pagi tadi, karena itu lah Mami kamu memutuskan untuk membawa Arjuna ke sini, Tapi Kok belum sampai yah, padahal tadi katanya sudah ada di depan rumah sakit DA" jelas Mama Elisabeth.
"Kok Mami ke Sini sih bawa Arjuna? Mami apa lupa kalau Arjuna tubuhnya masih kecil yang sangat rentang terkena infeksi ini kan rumah Sakit"Hyuna keheranan.
"Insya Allah putramu baik-baik saja, keamanan di Rumah Sakit milik Arya ini tidak seperti rumah sakit umum lainnya, yang pasien penyakit berbahaya dan menularnya berkeliaran bebas ke mana-mana dan kamu jangan berbicara yang kurang baik, ingat ucapan itu adalah doa" ucap Mama Elisabeth yang berusaha meyakinkan Hyuna agar tidak terpikirkan dan terbebani dengan kedatangan putranya.
Dan hal itu akan berdampak negatif dan kurang baik terhadap rencananya yang sudah dia susun bersama suaminya.
"Iya Hyuna, Apa yang dikatakan Tante cukup beralasan dan masuk akal jadi kamu tidak perlu merisaukan apa yang terjadi pada putramu dan Saya yang akan menjamin putramu akan baik-baik saja" ucap Aulia yang membantu Mama Elisabeth untuk meyakinkan Hyuna yang sudah sangat Khawatir dengan keadaan dan kondisi putranya.
Pintu pun terbuka dan masuklah Arjuna yang berlari kecil ke arah Hyuna. Mama Elisabeth melirik ke arah suaminya. Pak Hendry pun yang ditatap hanya mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah Arjuna sudah Datang, semoga rencana aku ini berhasil dan berjalan mulus tanpa kendala dan halangan yang berarti".
"Mommy aljuna tangen sama Mommy" ucap Arjun di dalam pelukan Mommy nya.
Hyuna pun sangat merindukan putranya itu dan meneteskan air matanya saking rindunya dengan buah hatinya bersama Alan.
__ADS_1
"Mommy juga kangen banget sama kamu Sayang, Arjuna baik-baik saja kan Sayang?" tanya Hyuna yang sudah menghujani ciuman di wajah putranya itu.
"Aljuna cangat baik mama, aljuna nangis di depan nenek kalau ga antal aljuna bertemu mommy" ucap polos Arjuna yang curhat kepada Mommynya karena sempat tidak diijinkan untuk datang dan melarang Arjuna.
Mereka yang mendengar rengekan Arjuna di dalam pangkuan Hyuna hanya tertawa kecil melihat tingkah polos anak kecil tersebut.
Arjuna turun dari pangkuannya dan berlari ke arah Mama Elisabeth dan memeluk Mama Elisabeth yang sedang duduk berdampingan dengan neneknya.
"Ini kesempatan yang baik" .
Mama Elisabeth menyambut kedatangan Arjuna ke arahnya dan langsung memangku tubuh kecil cucu keponakannya itu. Sambil tersenyum penuh arti dan hanya Mama Elisabeth dan Hendry yang tahu maksud dari senyumannya itu.
Mama Elisabeth diam-diam mengambil sampel rambut Arjuna beberapa helai rambut yang tidak disadari oleh Arjun dan orang lain termasuk Hyuna.
"Kali ini tidak boleh gagal, cukup rencana yang sudah dilaksanakan oleh Arya yang gagal, Saya harus bertindak cepat sebelum penjahat itu menyadari apa yang akan Kami lakukan dan sepertinya pengamanan di sekitar Lab harus diperketat agar tidak menimbulkan kejadian dan hal yang tidak diinginkan".
Mama Elisabeth langsung memberikan helaian rambut itu ke tangan Pak Hendry di saat mereka sudah lengah dan perhatian mereka tertuju pada pembahasan Dimas. Pak Hendry langsung memutuskan untuk pamit dan segera bertindak sebelum terlambat.
"Maaf Sayang, Mas harus pamit karena ada kerjaan Mas yang harus mas kerjakan dan tidak bisa diwakilkan kepada Orang lain" ucap Pak Hendry yang pamit pulang terlebih dahulu kepada istrinya dan yang lain untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari mereka.
"Kalau Mas ada kerjaan gak apa-apa Kok , Saya bisa pulang sendiri, Saya masih ingin berbincang-bincang bersama Anna" ucap Mama Elisabeth dengan lihainya.
"Iya Hendry kamu tidak perlu khawatir, Aku bisa pulang bersama Elisabeth jadi kamu bisa pergi dengan tenang" tutur Mami Anna ibu mertuanya Hyuna.
"Kalau gitu aku pamit dulu, assalamu alaikum" ucap pak Hendry yang langsung mencium puncak kepala Istri dengan penuh kasih sayang.
Mama Elisabeth pun meraih tangan suaminya untuk Salim. Pak Hendry segera memberitahukan kepada anak buahnya untuk segera bersiap dan selalu melirik ke arah kanan dan kiri Jangan sampai ada orang yang mengikutinya dan menguping pembicaraannya jadi Pak Hendry berbicara dengan suara yang sangat pelan dan kecil.
"Ingat jangan sampe ada lagi yang menggagalkan rencana kita ini, turunkan semua anak buah kamu yang terbaik dan satu hal lagi jika semuanya berjalan dengan baik kalian akan dapat bonus dua kali lipat". ucap Pak Hendry lalu mematikan sambungan teleponnya.
Pak Hendry semakin mempercepat langkahnya dengan langkah yang cukup lebar Pak Hendry juga menghubungi nomor Arya. Tapi nomor hp Arya sedari tadi sibuk.
To Be Continued..
Makasih Banyak atas Dukungannya, Fania sangat bersyukur atas dukungan kalian.🥰
Alhamdulillah hari ini bisa update di tengah kesibukan dan rutinitas kerjaan yang setiap hari semakin banyak saja.
Jangan Lupa untuk tetap mendukung Bertahan Dalam Penantian 🙏 Dengan Cara LIKE RATE BINTANG 5, FAVORITKAN DAN Bagi Giftnya Seikhlasnya dong Kakak Readers 🙏.
__ADS_1
Setangkai Bunga Mawar Merah Pun tidak apa ✌️.