
Happy Reading..
Perjalanan yang ditempuh Adrian dan Emilia dari pusat kota New York ke Perumahan elit Emilia terbilang cukup jauh. Karena rumah Emilia berada di Pinggiran kota, tapi Jalanan yang dilaluinya aman dan terkendali.
Beberapa saat kemudian, Mobil Adrian memasuki pekarangan rumah Emilia. Mobil tersebut pun berhenti tapi tidak mengusik tidur cantiknya Emilia. Adrian tidak ingin mengganggu tidur Istrinya sehingga Adrian memutuskan untuk menggendong Emilia ke dalam rumahnya.
Adrian menggendong Emilia sampai ke Dalam Kamarnya. Tapi Emilia masih tetap saja tertidur lelap. Adrian membaringkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Karena Adrian tidak ingin mengusik ketenangan Emilia.
Adrian segera ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil Air Wudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat subuh.
Adrian Sudah Shalat Subuh tapi Emilia belum juga bangun. Adrian naik ke ranjang dan membuka Handphonenya tapi tidak ada Chat khusus yang harus butuh balasan segera.
Adrian kemudian mencoba untuk memeriksa handphone Emilia dan Adrian ingin melihat namanya diKontak handphone istrinya.
Adrian tersenyum melihat namanya dikontak hpnya Emilia. Adrian bahagia setelah mengetahui kalau Emilia masih seperti dulu. Yaitu my Hubby.
Adrian kembali ikut bergabung dalam selimut Emilia dan ingin kembali tidur. Karena hari ini, Adrian libur dari aktifitasnya sehingga Adrian memilih untuk bermalas-malasan.
mengetahui
Sedangkan di Hotel milik Emre. Emre tidak sabar menunggu hasil pencarian dari anak buahnya. Bahkan Emre sudah seperti Setrikaan Saja. Emre kadang duduk di ranjangnya kadang berdiri.
Entah kenapa Emre merasa tidak tenang setelah mengetahui kalau perempuan yang ditemaninya melewati malam panjangnya masih perawan. Emre sangat tahu Jika perempuan Asia itu sangat menjunjung tinggi martabat perempuan terutama berhubungan dengan Mahkota seorang perempuan.
Beda halnya dengan perempuan di negara Eropa dan Amerika yang menganggap biasa saja Jika berhubungan dengan **** di Luar Nikah. Oleh karena itu, Emre sangat ingin bertemu dengan perempuan yang terpaksa Dia renggut kehormatannya.
Emre kemudian mengambil handphonenya dan segera menghubungi nomor anak buahnya.
"Iya Halo, gimana dengan tugas yang Aku berikan??" Tanya Emre.
"Silahkan bos Datang ke sini untuk melihat langsung" jawab anak buahnya.
Emre segera mengambil jasnya dan berlari Kecil ke arah Ruang cctv hotel yang berada tepat di atas lantai kamar yang Dia tempati.
Emre membuka pintu ruangan itu dengan tergesa-gesa. Emre langsung menggantikan posisi Anak buahnya dan duduk di depan komputer.
Emre memeriksa secara detail setiap sudut hotel yang Ditempati oleh perempuan itu. Tak berselang lama, Emre tersenyum setelah melihat Secara detail sosok perempuan itu.
"Cantik" Satu kata yang berhasil lolos dari bibir seksi Emre.
Sosok perempuan itu seakan-akan sudah menggantikan posisi Emilia dari dalam hati dan pikirannya. Emre pun melihat kondisi terakhir perempuan itu disaat Dia sudah merenggut mahkotanya.
"Aaaakhhh" Emre berteriak frustasi setelah melihat kondisi perempuan yang begitu mengenaskan.
"Ya Allah Maafkanlah Aku, Ini semua karena cewek sial*** itu yang telah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku".
Anak Buah Emre hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan bos-nya tanpa harus ikut berkomentar.
"Kamu tahu atas nama siapa yang menempati kamar itu??" Tanya Emre sambil memutar kursinya menghadap Anak buahnya.
"ini Bos lengkap dengan identitasnya" ucap Anak buah A sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan biodata orang tersebut.
"Arya Wiguna Albert Kim Said pemilik perusahaan Sinopec Group dari Indonesia" ucap Emre.
Emre langsung teringat dengan Emilia yang setahu Emre Arya adalah kakak kandung Emilia. Emre segera menghubungi nomor handphone Emilia untuk menanyakan perihal tersebut.
Tapi telponnya tidak tersambung padahal Emre sudah mencoba menghubungi nomor handphone Emilia banyak kali. Karena telponnya tidak diangkat oleh Emilia, akhirnya Emre menelpon asisten pribadinya.
"Tolong atur Kerja sama dengan perusahaan Sinopec Group yang ada di Indonesia segera, aku mau hari ini sudah selesai" perintah Emre kepada asisten pribadinya lewat telpon.
__ADS_1
Emre tersenyum penuh arti setelah menutup telponnya.
"Ke mana pun kamu berada aku pasti bisa menemukanmu" ucap Emre sambil tersenyum.
Emre kemudian meninggalkan ruang Cctv.
"Aku kasih bonus untuk kalian" ucap Emre Kepada ke Tiga anak buahnya.
"Makasih bos" ucap ke tiga Anak buahnya.
Sedangkan di Indonesia Tanah air tercinta.
Setelah dari bandara, Delia tidak lupa mengantar Rina ke Rumahnya. Delia sebenarnya curiga dengan sikap tak biasa Rina tapi Delia tidak berani untuk bertanya. Delia menginginkan Kalau Rina sendiri yang berbicara tanpa ada paksaan dari dirinya.
"Makasih banyak Pak atas tumpangannya" ucap Rina Setelah turun dari mobil Arya.
"Tidak usah berterima kasih lah, Kamu kayak sama orang lain Saja" ucap Arya.
Rina hanya membalas perkataan Arya dengan senyuman.
"Kalau ada waktu telpon aku yah" ucap Delia.
Rina hanya menganggukkan kepalanya. Dan segera berjalan ke dalam Rumahnya. Dan langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya. Rina menangis sejadinya. Rina sangat menyesal dengan keputusannya untuk ke Amerika serikat.
"Ya Allah Aku harus gimana??" ucap Rina.
Tangis Rina semakin menjadi Setelah mengetahui kalau Foto figura miliknya bersama tunangannya terjatuh.
" Aku harus bagaimana Kak, Aku sudah tidak pantas bersanding denganmu" ucap Rina sambil memeluk fotonya bersama pacarnya yang akan menjadi calon suaminya hari Minggu nanti.
"Maafkan Aku yang tidak bisa menjaga diri ini dengan baik" ucap Rina dalam tangisnya.
Keesokan harinya, Rina tidak masuk kerja dan meminta ijin cuti beberapa hari kepada atasannya.
Hal ini membuat Arya Wiguna heran. Karena selama ini, Rina Belum pernah mengambil Cuti tahunannya, Biasanya Rina hanya mengambil cuti di hari raya idul Fitri Saja. Dan sepengetahuan Arya, Rina akan mengambil cutinya menjelang pernikahannya.
Arya mencoba untuk menghubungi nomor handphone Rina, tapi tidak tersambung dan selalu berada di luar jangkauan.
"Kok handphonenya gak aktif yah, biasanya aktif?" Tanya Arya pada dirinya sendiri.
Arya mencoba menghubungi nomor handphone Rangga Azof. Rangga adalah calon suami dari Rina. Rangga kebetulan Kerja di Perusahaan Sinopec Group di bagian Personalia.
"Assalamu alaikum Rangga" ucap salam Arya Setelah telponnya diangkat oleh Rangga Azof.
"Waalaikum salam Pak" ucap Rangga Azof,
yang heran dengan telpon dari orang nomor satu di Perusahaan tempat Dia bekerja. Karena biasanya jika ada Urusan kerjaan pasti yang menelponnya cuma atasannya Saja dibagian personalia.
"Rangga Tolong kamu hubungi nomor handphone Rina, soalnya aku ingin bertanya tentang Dokumen hasil Kerjasama Perusahaan kita dengan Perusahaan Globes yang ada di Amerika, Tapi nomor handphone Rina tidak aktif" ucap Arya panjang lebar.
"Baik pak, Saya akan mencoba menghubungi nomor handphone Rina" ucap Rangga Azof.
"Aku tunggu secepatnya" ucap Arya sebelum menutup telponnya.
Rangga mencoba untuk menghubungi nomor handphone Rina, Tapi hasilnya sama tidak aktif, Rangga bahkan sudah mencobanya berulang kali tapi tetap tidak tersambung.
"Tumben ini anak gak mengaktifkan handphonenya" ucap Rangga yang heran dengan sikap Rina yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Karena Rangga tidak ingin Kerjaannya terganggu akhirnya memutuskan untuk tidak menelpon Rina lagi.
"Halo Assalamu alaikum Pak" ucap Salam Rangga.
"Waalaikum salam, gimana hasilnya Rangga??" tanya Arya.
"Tidak aktif Pak" ucap singkat Rangga.
"Ohh gitu, Makasih Rangga," ucap Arya.
"Sama-sama Pak" balas Rangga.
Setelah sambungan teleponnya terputus Arya langsung menghubungi Nomor Handphone Delia.
"Assalamualaikum Sayang" ucap Arya.
"Waalaikum salam Kak"
"Sayang bisa gak aku minta tolong" ucap Arya.
Entah kenapa Arya merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan Rina. Arya sudah menganggap Rina saudaranya sendiri.
Arya sebenarnya bisa memerintahkan kepada para Readers Setia BDP Untuk datang ke rumah Rina tapi Arya tidak ingin merepotkan Reader setianya BDP. Arya Hanya menginginkan Readers BDP Tetap setia untuk Like dan Koment BDP.
"Minta Tolong apa Sayang??" tanya Delia.
"Kamu gak sibuk atau capek kan sayang, Dede bayi Juga baik kan??" tanya lagi Arya.
"Alhamdulillah aku dan Dede bayi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja" jawab Delia.
"kalau gitu kamu ke rumah Rina dulu, soalnya aku ingin memerintahkan anak buah Aku tapi mereka Sibuk soalnya" ucap Arya.
"Dede bayi dan Aku siap membantu pak Presdir" ucap Delia sambil bercanda.
"Makasih banyak sayang atas bantuannya" ucap Arya.
Sebenarnya Arya curiga dengan keadaan Rina tapi Arya tidak ingin menyampaikan langsung kepada istrinya yang sedang hamil.
Delia akhirnya berangkat ke Rumah Rina bersama beberapa body guardnya atas perintah Arya.
Tidak berselang lama, Mobil yang ditumpangi oleh Delia Paramitha Rusdy sudah sampai di Depan rumah Rina.
Delia heran karena lampu depan rumah Rina Belum padam.
"Tumben ini Anak lupa mematikan lampunya" ucap Delia.
Delia mengetuk pintu rumah Rina tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Setelah beberapa saat, tetap tidak ada tanggapan dari Rina. Akhirnya Delia memerintahkan kepada bodyguardnya untuk segera mendobrak pintu rumah Rina.
Delia segera masuk setelah pintu berhasil dibuka. Delia kaget dan shock melihat kondisi Rina.
"Riiiiiiiiiiiina" ucap Delia.
TBC...
ASSALAMU ALAIKUM..
Goyang Jempolnya Dong Kakak untuk Tetap Like Setiap Episode barunya 🙏🙏.
__ADS_1
Makasih banyak 🙏🙏