Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 251. Ke TPU


__ADS_3

Happy Reading..


Arya terpaksa menuntaskan keinginannya bersama sang istri tercinta lewat virtual saja dikarenakan Arya yang memutuskan untuk menginap di Villa milik Mama Elisabeth. Padahal sebelumnya sudah berjanji dengan Delia jika malam ini akan melakukan ritual bercocok tanam apa lagi ini adalah malam Jumat.


Arya pun kelelahan setelah bermain singel di dalam kamarnya sedangkan Delia menjadi pemandu Arya yang berada di Kediamannya sendiri. Arya terlelap dalam tidurnya begitu pun juga dengan Dimas yang tidak beraktifitas apa pun lagi setelah menelpon istrinya Dessy yang sedang ruwet mengurus putri mereka.


Hyuna yang baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah menikmati kopi seduhan dari Tangan Rian membuatnya kembali Dejavu dan teringat dengan almarhum suaminya Alan. Hyuna membuka jendela kamarnya dan menyibak tirai tirai jendela kamarnya dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya yang membuat rambutnya terurai terbang terbawa angin malam, karena Hyuna sudah melepas hijabnya yang seharian ini menutupi keindahan mahkota rambut panjangnya.


"Ya Allah apa yang terjadi padaku, kenapa tangan dan tubuh ini dengan mudahnya langsung memeluk tubuh Rian yang bukan keluarga atau siapa-siapa dan kami tidak ada hubungan apa pun itu, tetapi di saat Aku memeluk tubuhnya serasa memeluk tubuh Alan saja"


Hyuna kembali menikmati indahnya sinar rembulan malam hari itu. Alan pun masih duduk di kursi dan belum ada niat untuk berdiri dari tempatnya.


"Ya Allah mudahkan lah jalan mereka untuk mengetahui kebenaran itu dan segera menantuku untuk terbebas dari Putri wanita psikopat itu".


Alan bangkit dari duduknya dan tanpa sengaja netra hitamnya menangkap sosok Hyuna yang sedang berdiri di balkon kamarnya tanpa hijab yang menutupi kepalanya.


"Andai saja aku bisa, Aku akan terbang ke tempat kamu dan langsung mengatakan kalau Aku adalah Alan suami kamu tapi apa daya Aku tidak mudah untuk melakukan hal itu karena Aku takut jika Wanita gila itu Mengetahui keberadaan kalian dan keselamatan kalian menjadi taruhannya".


Alan pun berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya dan pikirannya yang seharian sudah bekerja dengan maksimal.


"Mas harap kamu masih sanggup untuk bersabar dan menunggu kedatangan Mas, Hyuna Mas sangat merindukanmu dan tadi waktu kamu tiba-tiba memeluk mas, Mas Sangat bahagia".


Suara jangkrik dan kelelawar yang bergantung pada ranting pohon membuat suasana malam itu terlalu terasa sepi. Baru saja Hyuna merasakan indahnya dan nyamanannta kasur dan bantal pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Hyuna pun meraih hijab instannya kemudian langsung memakainya.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Dimas disaat pintu sudah terbuka lebar.


"Kakak Aku baru saja nikmati indahnya mimpi tapi kakak sudah datang heuuumm" ucap Hyuna yang sambil menguap.


"Lihat jam di dinding sudah pukul 4 subuh loh dan kita sudah terlambat sejam" tutur Dimas lagi.


."Kalau gitu tunggu Hyuna Kak, tidak sampai 29 menit" ucap Hyuna lalu menutup pintunya dengan keras.


Hampir saja sudut dan ujung pintu mengenai jidat lebar Dimas.


"Ini anak tidak kira-kira kalau nutup pintu untung saja Aku sigap untuk menghindar".


Dimas kemudian menghubungi anak buahnya untuk memastikan apa semua alat yang mereka nantinya butuhkan sudah ada dan ingin mengecek keberadaan mereka berada di mana.

__ADS_1


"Posisi kamu sekarang di mana?" tanya Dimas kepada Anak buahnya yang diberikan tugas untuk menggali makam Alan.


"Kami sudah berada di depan makam Bos" ucap Rudi anak buahnya.


"Kalau gitu tunggu kami, dan jaga di sekeliling kalian jika ada yang mencurigakan segera laporkan" ucap Dimas lagi.


"Baik bos" ucap singkat Rudi.


Hyuna, Arya dan Dimas sudah berada di dalam mobil dan akan segera menuju tempat pemakaman pribadi milik keluarga besar Wiguna Albert Kim Said. Yang letaknya tidak terlalu dekat dengan pemukiman Masyarakat sehingga mereka bisa untuk melaksanakan rencana mereka itu dengan leluasa.


"Mereka sudah bersiap dan berjaga-jaga di sekitar makam" ucap Dimas sebelum Arya membuka mulutnya.


"Jangan sampai lengah karena sepertinya ada seseorang yang selalu menguntit Apa yang kita lakukan" ucap Arya.


Tidak lama kemudian, mobil mereka sudah memasuki area pemakaman pribadi tersebut. Arya berjalan ke dalam kuburan dan menyempatkan dirinya untuk berziarah ke makam Oma Estella dan Ayahnya Wiguna Albert Kim Said. Arya membawa beberapa buket bunga mawar yang ditempatkan Arya di atas pusara keluarganya.


Arya meneteskan air matanya setelah mengingat kenangan indah bersama dengan Oma Estella dan Ayahnya pak Wiguna.


"Maafkan Arya baru bisa mengunjungi kalian lagi, Semoga kalian tenang di sana" ucap Arya yang berjongkok di depan makam ayah dan Omanya.


"Baru setengah yang berhasil digali karena Makamnya sudah dipasangi keramik sehingga memperlambat kerja mereka" jawab Dimas yang berjalan di samping Arya.


Mereka pun berjalan ke arah makam Alan. Hyuna sangat yakin jika yang jenazah yang ada di dalam makam tersebut bukanlah Alan suaminya.


"Ya Allah semoga Mas Alan masih hidup".


Fajar sudah menyingsing dari ufuk timur, suara ayam berkokok semakin ramai dan menambah semaraknya suara hewan pagi buta itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Cahaya sang raja Siang sudah menyinari punggung mereka.


"Ayok cepat angkat ke dalam ambulans" perintah Dimas.


"Alhamdulillah akhirnya berhasil juga, semoga apa yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan yang ada" ucap Arya.


"Iya kak dan Hyuna sangat yakin kalau mas Alan masih hidup" ucap Hyuna.


Mobil pun meluncur menuju rumah sakit DA milik Arya. Tim dokter yang sudah diperintahkan oleh Arya pun sudah berjejer di pintu belakang rumah sakit untuk tidak menimbulkan kecurigaan dan kehebohan dari penghuni rumah Sakit.


"Saya ingin dapat hasil otopsinya paling lambat jam 5 Sore dan kerjakan semua ini dengan hati-hati dan rahasiakan dari siapa pun itu dan satu lagi berhati-hati lah" ucap Arya setelah jenazah Alan diserahkan ke dokter ahli forensik.

__ADS_1


"Baik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan Tuan Arya" ucap dokter kepala forensik tersebut.


"Dimas perketat keamanan di sekitar Laboratorium dan jangan biarkan ada seorang pun yang tidak berkepentingan masuk atau pun berjalan ke arah Lab tersebut" ucap Arya yang mewanti-wanti Dimas.


"Beres bosku" ucap Dimas.


"Hyuna Kakak mau pulang ke rumah dulu, kalau kamu gimana?" tanya Arya yang sudah berjalan ke arah parkiran.


"Aku mau pulang ke rumah mama Anna untuk menjemput Arjuna Kak" jawab Hyuna.


"Kamu mau aku antar atau gimana?" tanya Arya lagi.


"Kakak tidak perlu repot-repot kok Faika, tadi aku sudah menyuruh Supir untuk mengantarkan mobilku ke sini" tutur Hyuna.


"Kalau gitu Kakak duluan yah, kamu hati-hati" ucap Arya yang sudah melajukan mobilnya ke arah jalan raya.


"Makasih Kakak, hati-hati" ucap Hyuna.


Hyuna menunggu supir pribadi yang akan mengantarkan mobilnya, tapi tanpa sengaja Hyuna melihat ada bayangan seseorang yang berdiri di belakang pohon beringin yang tidak jauh dari parkiran.


"Siapa yah, tapi Kok Aku merasa kalau Aku mengenal punggung orang itu".


Hyuna pun berjalan ke arah pohon tersebut hingga tersisa sekitar dua meter saja tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi mendekati ke arah Hyuna.


...--------To Be Continued--------...


Perlahan-lahan sudah mulai terbongkar misteri dibalik kematian Alan, tapi siapa orang yang punggungnya dilihat oleh Hyuna yah reader dan Mobil yang menuju arah Hyuna dengan kecepatan tinggi siapa apa jangan-janga?🤔🤔


Yang penasaran dengan kelanjutan kisahnya so pantengin terus yah Updatenya karena BDP akan update setiap hari ✌️🙏.


FANIA Ucapkan Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏🥰


Jika ada kesalahan dalam pengetikan mohon untuk memakluminya ✌️.


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Minggu, 08 2022

__ADS_1


__ADS_2