Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 276. Keseruan di Dapur


__ADS_3

Happy Reading..


Dengan perjuangan yang cukup alot dari seluruh anak buahnya serta perawat dan beberapa dokter untuk menenangkan ibu-ibu yang sempat ditabrak oleh Arya Wiguna Albert Kim Said, akhirnya mereka berhasil melumpuhkan dan membuat Ibu tersebut tenang dan terlelap dalam tidur damainya.


"Saya mengucapkan Makasih Banyak atas bantuan kalian yang sudah berhasil membuka resleting tas itu, dan sebagai ucapan terima kasih saya, semua yang ada di dalam ruangan ini berkah mendapatkan bonus dan kenaikan pangkat jabatan kalian selama ini."


Wajah orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut sumringah dan antusias mendengar penuturan dari pemilik Rumah Sakit tempat mereka bekerja mencari nafkah selama ini.


"Makasih banyak Tuan Muda, semoga tuan Muda panjang umurnya, sehat selalu dan diberikan rezeky yang melimpah dan berkah.


"Anton berikan bonus yang tadi aku katakan untuk pemuda itu, dan belikan Dia motor baru untuk bisa dua pakai kerja dan semoga apa saya lakukan ini bermanfaat untuk kalian dan Saya tunggu dedikasi kalian di Rumah Sakit DA."


Arya kemudian berdiri dan berjalan ke arah tas yang sudah terbuka resleting tasnya. Tas tersebut dibuka dengan cara mengeluarkan segala isinya tanpa harus menyentuh tas itu. Keadaan tas itu yang sudah lusuh, kotor dan penampilannya sangat tidak pantas dan cocok lagi untuk dipakai.


"Ternyata isi tasnya banyak banget, dan kemungkinannya semua barang-barang ini memiliki rahasia besar, tapi apa yah, apa sebaiknya saya bawa semua ini kembali ke rumah Utama."


Beberapa saat kemudian, isi dari tas itu sudah berserakan di atas meja, ada map yang berisi kertas, flashdisk, handycam, kaset DVD player dan satu buah amplop yang warnanya tidak putih lagi.


"Anton masukan semua barang-barang ke dalam plastik lalu kita segera ke rumah utama," ucapnya.


"Siap, perintah dilaksanakan Bosku."


Anton dan beberapa anak buahnya Arya sudah mengamankan beberapa benda berharga milik ibu itu, dan segera meninggalkan ruangan khusus tersebut dan menuju rumah utama.


Arya segera menelpon nomor hp Dimas dan berbincang-bincang sebentar untuk mengetahui tentang semua barang-barang yang dia beli melalui pasar bawah tanah.


"Dimas, apa kamu sudah cek baik barang kita yang baru tiba dari Jerman?" tanya Arya yang mengecek kembali semua barang yang baru datang tersebut.


"Aku sudah cek semuanya dan sesuai permintaan dan keinginan kakak," jawabnya.


"Oke makasih, aku akan segera ke situ, tapi tolong suruh Aditya untuk mengecek Cctv mulai dari subuh hingga saat kejadian dia menabrak ibu paruh baya itu, dan cari tahu pakaian pelayan yang ibu itu pakai, aku sudah mengirim fotonya di ponsel Kamu."


"Ada lagi, sebelum aku tutup telponnya?"


"Tidak ada, kamu cek dengan detail apa yang aku berikan dan aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun."


"Siap."


Arya berjalan ke arah parkiran mobil bersama beberapa anak buahnya, Arya memilih jalan khusus setiap kali datang ke rumah sakit, untuk tidak terlalu mencolok dan menimbulkan berbagai macam tanggapan dan asumsi dari pasien maupun keluarga pasien yang ada di rumah Sakit miliknya.


Arya segera duduk di kursi penumpang, karena untuk saat ini dia tidak berniat untuk mengemudikan sendiri mobilnya. Anton lah yang menjadi supir mobilnya, sedangkan Andre kaki tangan nomor tiganya duduk di samping Anton yang serius mengendarai mobilnya.


Arya kembali menghubungi nomor hp Aditya karena sudah tidak sabar ingin mengetahui asal usul dari ibu-ibu tersebut. Sudah berulang kali Arya menghubungi nomor ponsel Aditya, tapi selalu tidak ada jawaban atau pun tanggapan dari Aditya. Arya nampak kecewa dan dongkol.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan sampai-sampai tidak ada waktu hanya sekedar untuk mengangkat telpon ku saja."


Arya sekarang mencoba menelpon nomor handphone Dimas dan berharap Dimas yang akan mengangkat telponnya. Tapi, hasilnya juga sama, Dimas pun tidak mengangkat HPnya tersebut.


Dimas dan Aditya sedang berada di dalam dapur dan makan bersama dengan Mama Elisabeth dan Pak Hendry. Mereka lupa untuk membawa hp mereka ke dalam dapur itu. Sehingga membuat Arya marah-marah bahkan ingin membanting ponselnya, tapi upayanya terhenti ketika telponnya berdering dan di layar HPnya menampilkan wajah seorang Delia Paramitha Wirawan Kim Said yang berhasil membuat mood Arya seketika berubah dan membaik. Arya pun buru-buru mengangkat telpon dari istrinya.


"Assalamu alaikum Sayang."


"Waalaikum salam, Kak ada di mana sekarang, ini putramu ingin bicara, katanya kangen sama Ayahnya," tutur Delia.


"Hallo, Assalamu alaikum Baby Zi," ucap Arya saat wajah baby Zi sudah terpampang jelas di layar hpnya.


"Halo Waalaikum salam Ayah, Ayah Zidane kangen sama Ayah, Zidane juga kangen sama Nenek Elisabeth, boleh tak Ayah ajak Zidane berjumpa dengan Nenek."


Tanpa banyak pikir Arya langsung mengiyakan keinginan putra bungsunya dan langsung menyuruh Anton untuk memutar balik arah mobilnya menuju rumahnya.


"Ok Ayah akan jemput Zi sekarang, jadi Zi siap-siap sambil nunggu Ayah jemput Zi."


"Oke Ayah, Zidane sangat sayang Ayah Arya," ucapnya dengan nada kegirangan dan bahagia karena akan bertemu dengan Neneknya.


"Ayah juga sayang Zidane sama Mama dan ke dua Kakak Zi, udah dulu Ayah matikan telponnya sayang," ucap Arya.


"Ok Ayah, bye."


"Waalaikum salam Ayah."


Wajah Arya langsung berubah drastis dari awalnya jengkel dan marah karena ulah Dimas dan Aditya yang tidak menggubris telponnya sekarang menjadi berseri-seri hanya sekedar melihat wajah sang putra bungsunya dan wajah istrinya yang membuatnya ingin melakukan sesuatu yang lebih, tapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut, sehingga Arya untuk sementara mengubur dalam-dalam hasratnya itu.


"Tunggu Kakak Delia setelah semua ini beres, Kita akan melakukan perjalanan ke luar negeri dan nikmati hari-hari kebersamaan kita hanya berdua saja, tanpa ada gangguan dari orang lain."


Arya tersenyum sendiri sambil meletakkan ponselnya ke bawah dagunya itu, sikap Arya tersebut menjadi perhatian khusus dari anak buahnya yang berada di kursi depan.


"Entah apa yang dipikirkan oleh big bos sehingga senyum-senyum gak jelas begitu?"


"Sepertinya Big Bos sedang memikirkan Nyonya Delia deh."


Anton dan Andre saling berpandangan satu sama lain dan tersenyum tipis saja karena takut jika apa yang mereka lakukan akan berakhir dengan pemotong bonus mereka, sehingga mereka memutuskan untuk terdiam dan no Koment dan hanya mata mereka yang menjadi saksinya.


Mobil Arya yang dikemudikan oleh Anton sudah berada di dalam garasi mobilnya. Arya pun berjalan ke arah pintu rumah rumahnya yang begitu megah dan besar itu. Arya naik ke Lantai atas rumahnya di mana letak kamarnya berada.


Tapi tidak menemukan keberadaan Baby Zi dan Istrinya tercinta.


"Mereka ada di mana, di Kamar pun gak ada, apa mungkin mereka ada di lantai bawah?"

__ADS_1


Arya kembali berjalan menuruni tangga dan berjalan ke arah ruangan keluarga, tapi tidak berhasil melihat sosok orang yang terpenting dalam kehidupannya.


"Mereka juga tidak ada di sini?"


Tiba-tiba telinganya menangkap suara dari arah dapurnya. Suara celotehan dari mulut Baby Zi terdengar jelas sampai ke telinganya. Arya pun segera berjalan ke arah dapurnya, dan melihat ditubuh istrinya sudah terpasang celemek yang sangat pas ditubuhnya, sedangkan di tubuh Zidane pun sudah terpasang manis apron kecil yang sangat pas ditubuh imutnya.



Arya segera memeluk tubuh Delia, yang membuat Delia terkejut dan refleks terigu yang sedang diayaknya terbang dan meluncur ke wajah tampan Arya. Terigu yang seharusnya berada di dalam baskom tempat untuk mengaduk dan mencampur terigu tersebut harus rela terbang ke wajah suaminya.


Zidane dan Delia yang melihat wajah suaminya langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah suaminya yang sudah berlumuran dengan terigu itu.


"Hahahaha."


Semakin Delia tahan ketawanya semakin meluncur juga tawa renyah dari bibirnya. Arya diperlakukan seperti itu tidak tinggal diam, Arya meraih tepung terigu yang tersisa di atas meja dapur lalu mengambil sebagian dari terigu itu, dan mengoleskan ke wajah cantik istrinya


Dan jadilah mereka saling berperang mengoleskan sisa terigu yang ada ke wajah mereka secara bergantian.


Baby Zi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah orang dewasa yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Baby Zi pun berjalan ke arah kamarnya lalu mengambil hpnya lalu segera berlarian kembali ke arah dapur, dan langsung mengambil video dan gambar ke dua orang tuanya yang sedang asyik saling mengolesi tepung terigu diwajah mereka masing-masing.


Delia yang awalnya ingin membuat kue yang akan dia bawa ke rumah utama, tapi terpaksa harus gatot alias gagal total gara-gara ulah Arya. Zidane semakin dibuat tertawa terbahak-bahak oleh tingkah ke dua orang tuanya dan karena gaduh dan ribut dari arah dapur membuat Maid dan anak buahnya langsung berlarian ke dapur, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada majikan dan sang pemilik rumah ini.


Mereka hanya bisa menyaksikan tingkah laku mereka dan tidak akan ada yang berani berkomentar apapun atau kerjaan dan masa depan mereka yang menjadi taruhannya. Dan itu tidak mungkin mereka lakukan, apa lagi Arya dan Delia tidak memandikan mereka sebagai pelayan, tapi mereka diperlakukan layaknya keluarga sendiri, sehingga mereka sangat betah untuk terus dan bersemangat bekerja di rumah itu. Apa lagi mengingat gaji dan bonus yang mereka dapatkan setiap bulannya semakin menambah semangat untuk bekerja.


Sedangkan di Kediaman Utama Wiguna, Dimas, Mama Elisabeth, pak Hendry serta Aditya sedang menikmati hidangan masakan yang sempat dimasak oleh Mama Elisabeth, yang selalu mampu membuat lidah mereka bergoyang dengan rasa nikmatnya dan lezatnya masakannya.


"Masakan Aunty memang sedari dahulu tidak ada duanya enaknya, kalau gini terus Aditya Bisa nambah berat badan nih," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya Bang, yang Abang katakan benar adanya, selalu membuat masakan yang sangat enak dan pastinya rasanya maknyus lah," timpal Dimas.


Pak Hendry hanya tersenyum menanggapi perkataan dari ke dua ponakan istrinya itu, dan sangat beruntung dan bersyukur karena Istrinya membuatnya selalu bangga dan bahagia tentunya.


"Aku suami yang paling bahagia di dunia ini, Makasih banyak ya Allah atas anugerah yang Engkau berikan padaku yaitu seorang perempuan yang sangat penyayang dan bijaksana."


..........


Fania tidak akan pernah Bosan untuk mengucapkan Makasih banyak untuk Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian,🥰.


Mohon maaf jika ada kesalahan atau typo dalam penulisannya cerita ini 🙏


...********To Be Continued********...


By Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, Senin, 22 Mei 2022


__ADS_2