Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB.145. Masih Berjuang


__ADS_3

Happy Reading..


Dessy terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu seperti orang yang baru saja dari lari maraton. Dessy bangkit dari tidurnya dan segera mencari gelas untuk diisi air minum. Dessy masih berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dessy terduduk di pinggir ranjangnya dan masih memikirkan mimpinya.


Sudah Dua kali Dessy mengalami mimpi yang sama. Putranya yang sudah meninggal datang dalam mimpinya dan selalu bersama seorang anak gadis yang tidak jauh beda postur tubuhnya. Dessy tidak bisa melihat baik wajah dari ank gadis itu, karena di setiap mimpinya selalu dalam keadaan yang gelap.


Satu hal yang paling Dessy ingat adalah suara anak kecil itu disaat dirinya dipanggil Mama. Dessy seakan-akan familyar dengan suara itu tapi Dessy belum tahu siapa pemilik suara itu yang persis sama.


Dessy berjalan ke arah jendela kamar Hotelnya, dan perlahan membuka pintu jendela itu. Angin malam berhembus sepoi-sepoi menerpa ujung hijabnya yang melambai-lambai. Dessy menatap indahnya malam ini, langit dihiasi oleh taburan bintang dan Sang Dewi Malam yang menampakkan sinarnya menyinari Bumi malam ini. Dessy termenung sambil bersandar di pagar besi teras jendela kamarnya.


"Rafli, Mama kangen banget sama kamu Nak, Maafkan mama yang tidak bisa melindungi dan menyelamatkanmu" ucap Dessy disela Isak tangisnya.


Dessy merenungi nasibnya yang begitu penuh cobaan dan ujian. Dessy tidak menyangka diusianya yang masih muda dia sudah menyandang status janda. Padahal Dessy menikah dengan suaminya karena masing-masing saling mencintai.


"Ternyata Cinta tidak selamanya membuat seseorang bahagia, Aku mencintainya dengan penuh hati yang tulus tapi seribu luka yang Erlangga berikan" ucap Dessy yang tidak terasa badannya merosot ke lantai.


Sedangkan di sebelah kamar Dessy, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Dessy, Orang itu seandainya bisa meloncat mungkin orang itu akan meloncat dan akan segera menghapus air mata yang menetes di pipi cantik wanita pujaannya. Ya Dia adalah Dimas. Dimas tidak kuasa melihat dan mendengar tangis ratap Dessy. Semakin Dessy menangis, semakin teriris pula hati nya. Dimas tidak sanggup jika harus melihat Dessy larut dalam kesedihannya. Andai Dimas ada di samping Dessi, Dimas akan memeluk dessy dan memberikan ketenangan.


Dimas hanya mampu menatap Dessy dari jauh.


"Andai saja kamu mengijinkan aku untuk masuk ke dalam hatimu, maka raga ini akan membantumu untuk menyembuhkan luka hatimu" ucap Dimas yang mengarahkan tangannya ke arah Dessy, seakan-akan dia ingin meraih Dessy.


Ke Esokan Harinya, Dimas dan Dessy sudah berada di Perusahaan yang selama ini menjalin hubungan kerjasama dengan Perusahaan DA Milik Arya Wiguna Albert Kim Said. Dimas memperhatikan kelopak mata Dessy yang tampak hitam padahal Dessy sudah berusaha menutupinya dengan Make up yang tebal. Dimas selalu memperhatikan wajah Dessy. Dimas tidak akan pernah bisa bosan untuk memandang wajah cantik pujaan hatinya.


Dimas selalu tidak bisa berkedip jika sudah menatap wajah Dessy. Dimas seakan ingin menyampaikan ke Dessy isi dari hatinya lewat Pandangan matanya. Tapi itu lah Dessy yang selalu saja menganggap Dimas bercanda untuk menghiburnya.


"Iiss apaan sih Dim... itu mata dari tadi gak berkedip, emang ada apa sih di wajahku??." ucap Dessy sambil menutup mata Dimas dengan telapak tangannya.


Dimas memegang jari tangan Dessy yang halus dan lembut. Dimas tidak ingin melepas tangan Dessy dari wajahnya.


"Wooi lepasin dong tanganku, Dimas ada apa sih denganmu, tadi natap wajahku terus eehh sekarang pegang tanganku, gak jelas banget deh" ucap Dessy yang jengkel dengan sikap Dimas.


"Kamu kan yang duluan pegang wajahku jadi aku balas pegang tanganmu lagian siapa suruh tanganmu yang lembut itu menyentuh wajah ku" ucap Dimas yang menyentuh wajahnya yang seakan-akan ingin meresapi bekas sentuhan dari Dessy.


"Kamu yah, andai saja Kamu bukan atasanku pasti aku sudah pukul kamu" ucap Jutek Dessy.


"Pukul saja Dessy kalau itu yang bisa buat kamu bahagia, Aku ikhlas kok" ucap Dimas yang penuh dengan drama.


"Kalau aku terus ladenin kamu bisa-bisa Aku cepat tua" ucap Dessy sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah lift.


Dimas hanya tersenyum menatap punggung Dessy yang sudah semakin jauh. Dan masih duduk manis di kursi.

__ADS_1


"Kapan kamu bisa tahu kalau aku sangat mencintaimu Dessy, setiap kali aku jujur dan serius kamu selalu menganggap aku bercanda" ucap Dimas sambil berdiri dan ikut berjalan ke arah Lift.


Dessy dan Dimas sudah berada di dalam lift. Dan ternyata bukan hanya Mereka yang ada di dalam lift itu. Tapi ada Dua orang lagi satu perempuan yang satunya laki-laki. Pria itu sedari tadi Selalu menatap Dessy tanpa berkedip, hak ini membuat Dimas jadi jengkel.


Dimas langsung menggeser posisi Dessy ke belakangnya, karena Dimas tidak ingin wajah cantiknya Dessy jadi santapan dari pria hidung belang.


"Di.....mas!" ucap Dessy yang sudah jengah dengan sikap Dimas yang sangat aneh di mata Dessy.


"Apa sayang??." ucap Dimas yang menekan kata sayang seakan-akan ingin menyampaikan ke Pria yang ada dihadapannya kalau Dessy adalah miliknya seorang.


Lift terbuka dan keluarlah dua orang yang ada di dalam lift itu dan tinggallah Dessy dan Dimas.


"Kamu yah, aku heran kenapa sih kamu Selalu memanggil aku sayang, apa kamu tidak bosan atau gak ada cewek lain kah yang bisa kamu panggil sayang??." tanya Dessy.


Sambil mengjauh dari Dimas karena Dessy sudah jengkel meladeni sikap kenak-kanakan Dimas.


Dimas ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan di bibirnya karena Pintu Lift sudah terbuka dan Dessy sudah berjalan meninggalkannya. Dimas lagi-lagi tersenyum kecewa dengan sikap jutek dan tidak pekanya Dessy.


"Aku berjanji, sampai kapan aku akan berjuang untuk mendapakatnmu dan akan bertahan dalam menantimu untuk mengatakan Dimas I Love you" ucap Dimas yang masih mematung di dalam lift.


Beberapa jam kemudian, Kesepakatan perjanjian bersama Perusahaan tersebut sudah beres. Dessy bersyukur karena apa yang dia kerjakan di Australia berjalan dengan baik dan sukses.


"Dessy, mau gak temani Aku mencari oleh-oleh" ucap Dimas.


"Dessy, please yah temani Aku!" ucap Dimas yang menangkupkan ke dua tangannya di hadapan dadanya.


Dessy terus berjalan dan belum menjawab pertanyaan sekaligus permintaan dari Dimas. Dessy tidak menghiraukan ucapan Dimas dan terus berjalan ke arah pintu keluar.


Dimas segera berjalan cepat untuk menyusul Dessy yang sudah duduk Cantik di dalam mobil. Dessy masih sibuk mencari-cari Tempat yang paling bagus untuk mencari oleh-oleh khas Australia yang bagus dan murah.


Dimas Masuk ke dalam mobilnya dan duduk pas di samping Dessy.


"Kita ke mana pak?" tanya pak supir.


"Kita ke jalan A saja pak" ucap Dessy yang sudah menemukan lokasi untuk berburu oleh-oleh.


Dimas hanya menatap Dessy. Karena Dimas juga sebenarnya ingin menyebut nama jalan itu. Dessy kembali menatap layar ponselnya dan sangat serius. Dessy melihat histori dari sosmed Rina dan Delia. Dessy tertawa ketika melihat foto lucu dari anak sahabatnya. Dimas bahagia melihat senyuman manis Dessy.


Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir Cantik di parkiran salah satu Mall terbesar yang ada di Kota terbesar Australia. Dessy kagum melihat arsitektur dari bangunan mall tersebut. Dessy tidak menghiraukan Dimas yang berteriak memanggilnya. Dessy melihat kondisi Mall yang menurutnya bagus dan keren.


Mereka sudah berada di depan salah satu Toko yang menjual suvenir khas Australia.

__ADS_1


"Dessy menurut kamu yang mana paling bagus??." tanya Dimas sambil menunjukkan dua boneka dihadapan Dessy.


Dessy hanya menunjuk boneka berwarna cokelat yang ada di tangan kanan Dimas tanpa berbicara. Dessy heran dengan Boneka yang dibeli oleh Dimas. Dessy bertanya dalam hatinya tentang siapa akan menjadi pemilik Boneka itu. Karena setahu Dessy, Dimas tidak punya saudara perempuan dan belum menikah.


Dessy melamun sambil berjalan ke arah Kasir dan tiba-tiba ada suara benda yang terjatuh.


"Maaf Saya tidak sengaja" ucap Dessy yang sedang membantu memungut barang-barang Orang yang menabraknya.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena Aku terlalu ceroboh" ucap cewek yang berambut panjang itu.


Dessy kemudian berdiri dari posisinya dan betapa kagetnya Setelah melihat dan mengetahui cewek yang menabraknya.


"Hyuna" ucap Dessy.


"Kak Dessy" ucap Hyuna dengan suara yang lumayan besar saking kagetnya.


Hyuna langsung memeluk tubuh Dessy. Dessy pun membalas pelukan dari adik sepupu Arya.


"Kakak kok ada di Sini, kak Dessy sama siapa ke Australia?." tanya Hyuna.


Dessy baru mau menjawab tiba-tiba Dimas sudah menjawab pertanyaan dari Hyuna.


"kakak yang seharusnya bertanya sama kamu, Kamu ngapain di sini seorang diri?" ucap Dimas yang tidak lain kakak sepupu Hyuna.


"hehehe kak Dimas" ucap cengengesan Hyuna.


Hyuna akan menunjukkan sikap manjanya jika bersama dengan keluarganya.


"Maaf yah kak, Hyuna tadi buru-buru soalnya Hyuna lihat ada Pria yang mirip Papi Hyuna tapi karena Hyuna nabrak kakak Dessy jadi Hyuna kehilangan jejaknya.


"Kamu belum menemukan Papi kamu??" tanya Dimas.


"Ayo kita cari tempat yang bagus, gak baik ngomong di sini apalagi kakiku sudah pegal nih" ucap Dessy sambil memegang kakinya.


"Aku juga lapar nih belum makan" ucap Hyuna yang langsung memegang perutnya.


Mereka pun berjalan mencari tempat yang pas untuk makan sekaligus untuk nongkrong.


TBC..


Makasih banyak Fania ucapkan kepada semua Readers yang telah memberikan dukungannya kepada BDP dalam bentuk apapun itu 🙏🙏🙏🥰.

__ADS_1


Favoritkan BDP yah Readers untuk tetap mendapatkan Notif Setiap updatenya..


__ADS_2