Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 231. Tidak Ingin Percaya


__ADS_3

Happy Reading..


Ruangan yang cukup luas dengan segala macam fasilitas kesehatan yang lengkap menjadi saksi terbaring lemahnya Ratna di atas ranjang rumah sakit. Kondisi Ratna berangsur membaik tapi masih belum sadarkan diri dan masih enggan untuk membuka kelopak mata indahnya. Ratna masih asyik menikmati tidur panjangnya.


Firman, Pak Hendry dan Mama Elisabeth terpaksa harus makan sahur di Rumah Sakit DA. Mereka makan tidak seperti biasanya karena mereka masih mengkhawatirkan keadaan Ratna Antika Monata yang belum sadar dari pinsangnya dan pengaruh obat.


Ketika adzan subuh berkumandang, Mama Elisabeth segera mengambil air wudhu lalu menyiapkan perlengkapan shalatnya. Sedangkan Pak Hendry dan Firman melaksanakan shalat subuh di Mushollah Rumah sakit.


Mama Elisabeth segera menyelesaikan shalatnya dan merapikan kembali perlengkapan shalat yang Dia pakai. Mama Elisabeth berjalan ke arah ranjang dan memegang tangan Ratna.


"Walaupun kamu bukanlah putri kandungku tapi aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan cepatlah sadar nak kasihan papa mu yang sangat Khawatir dengan kamu".


Mama Elisabeth kembali mengistirahatkan tubuhnya, tetapi matanya tidak bisa kembali terpejam walaupun tubuhnya cukup lelah. Mama Elisabeth kembali teringat dengan barang-barang pribadi milik Ratna yang sempat Firman serahkan kepadanya tadi. Mama Elisabeth pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah nakas ranjang Ratna.


Mama Elisabeth memeriksa dengan seksama dan tak disangka ada benda yang membuatnya tertarik dan terus ingin menatap benda tersebut dan hatinya tiba-tiba sedih sekaligus bahagia setelah melihat benda tersebut.


Benda yang membuat Mama Elisabeth sedih dan menangis adalah sebuah gelang yang jika dipakai oleh Ratna pasti di pergelangan tangannya akan sempit saking lamanya gelang itu berada di tangannya tapi gelang tersebut terlepas untuk ke dua kalinya saat dirinya bertarung dengan para begal dan disaat dirinya diangkat menjadi anak oleh keluarga oak Hendry. Hal itu karena ibu Linda tidak menginginkan Ratna memakai gelang tersebut. Terpaksa Ratna menyimpannya di sebuah kotak khusus lalu menyimpan gelang tersebut ke dalam lemari yang tidak diketahui oleh Ibu Linda.


Ratna menyimpan baik gelang tersebut karena hanya itu barang peninggalan dari orang tuanya jika suatu saat nanti Dia ingin mencari keberadaan ke dua orang tua kandungnya.


Mama Elisabeth terisak dalam tangisnya setelah melihat dengan jelas gelang tersebut.


"Daniela putri kecil Mama, ternyata kamu masih hidup Nak, mereka sudah berbohong kepada Mama kalau kamu sudah meninggal".


Mama Elisabeth semakin menangis tersedu-sedu di saat dia memeriksa paha Ratna dan ternyata ada tanda lahir di paha kanan Ratna.


"Aku sangat yakin Ratna adalah putriku yang disangka sudah meninggal tapi ternyata dia masih hidup, makasih banyak ya Allah atas segala Nikmat yang engkau berikan".


Mama Elisabeth semakin menangis saja dan dan memeluk tubuh Ratna yang ternyata sedari tadi sudah tersadar dari pinsangnya dan terkejut mendengar perkataan dari Mama Elisabeth yang selama ini orang yang paling dia benci.


"Aku pasti salah dengar pasti Dia salah orang dan semua ini hanya kebetulan belaka saja".


"Maafkan Mama nak yang tidak tahu kalau kamu masih hidup, lihat tanda lahir kamu dan gelang itu sudah kamu pakai sejak kamu lahir Nak hingga sekarang".


Pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebar langkah panjang dan sedikit besar sehingga menimbulkan suara gesekan sepatu dengan lantai, tapi tidak berhasil membuat perhatian Mama Elisabeth tertuju kepada orang tersebut yang sudah berada di belakang punggungnya. Pria tersebut langsung memeluk dari belakang tubuh sang istri tercinta.


"Apa yang terjadi kepadamu sayang, kamu baik-baik saja kan??"tanya Oak Hendry yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan istrinya.


"Pa gelang ini adalah gelang milik putri kita Daniela yang katanya Orang dia sudah meninggal tapi Kalau Daniela meninggal kenapa gelangnya ada bersamaku?" tanya Mama Elisabeth.


"Maaf sayang saya tidak mengerti dengan maksudnya perkataan kamu dan tidak mungkin Daniela Andrade masih hidup sedangkan tangan ini yang dulu memasukkan ke liang lahat Jenazah putri kita" ucap Pak Hendry yang tidak mengerti jalan pikirannya Mama Elisabeth sambil mengangkat ke dua tangannya.

__ADS_1


"Tapi aku yakin Pa kalau Ratna itu anak ke dua kita adiknya Arman dan aku yakin Aku tidak salah paham dan tidak mungkin salah mengenali anakku sendiri" ucap Mama Elisabeth.


"Tapi sayang tenanglah, jangan gegabah dalam mengambil keputusan, kita harus menyelidiki semua ini dengan baik jangan sampai ada kekeliruan dalam hal ini dan Papa tidak ingin nantinya kamu kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kamu impikan" ucap pak Hendri.


"Tapi hati ini yang berbicara dan tidak mungkin feeling mama itu salah, Mama yakin kalau Ratna adalah putri kita dan lihatlah pa tanda lahir yang ada di paha sebelah kanan kakinya Ratna Sangat mirip dengan tanda lahir yang dimiliki oleh putriku Adelia" ucap Mama Elisabeth sambil berjalan ke arah Ratna dan langsung menyingkap sedikit pakaian yang dipakai oleh Ratna dan mereka melihat ada satu buah tanda lahir di bagian pahanya.


Pak Hendry tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya sebelum pak Hendry melihat kenyataan tanda lahir yang seperti apa yang dikatakan oleh Elisabeth istrinya.


"Kalau emang Ratna adalah putriku, berarti ada seseorang yang sudah mengatur kejadian ini semua ini untuk mengacaukan hidup kami agar Aku sengaja membuat anak kandungku sendiri untuk menjadi mesin balas dendam, sepertinya aku harus membuka makam putriku untuk melakukan penyelidikan atau melakukan tes DNA langsung".


"Aku sangat yakin Pa, kalau Ratna adik kembarannya Arman dan keyakinan ku ini bukannya tidak beralasan" jelas Mama Elisabeth yang sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh hati nuraninya dan melihat bukti yang ada, kalau Ratna adalah putrinya adik kembar dari Arman.


Pak Hendry memeluk tubuh istrinya dengan penuh kebahagiaan sekaligus menjadi tanda tanya baginya kenapa anak-anak mereka hidup seperti ini.


"Baik lah Papa akan melakukan tes DNA secepatnya dan mencari tahu apa benar putri kita atau bukan yang telah dimakamkan beberapa tahun yang lalu dan kamu tenanglah kalau memang Ratna putri kita Papa sangat bahagia dan Papa akan mencari orang yang telah memberikan luka yang dalam kepada anak-anak kita" jelas Pak Hendry.


"ini pasti ada kekeliruan yang terjadi di sini, pasti perempuan salah sangka dan tidak mungkin Aku ini putrinya, dan emang gelang itu punyaku yang aku pakai sejak aku lahir hingga sampai sekarang aku pakai dan tanda lahir di pahaku juga sudah ada dari sejak dulu dan aku yakin ini pasti hanya kebetulan saja".


Ratna sebenarnya sudah sadar dari pinsangnya dan pengaruh obat bius sudah hilang dari tubuhnya tapi dia enggan untuk bangun karena Dia ingin mendengar langsung perkataan mereka. Dan kenyataan itu membuat Ratna shock dan sama sekali tidak ingin mempercayai kenyataan yang ada. Menurutnya Dia adalah anak yang sengaja dibuang sejak bayi oleh ke dua orang tuanya di panti asuhan An-Nur Hidayah.


Ratna membuka matanya saat Kakaknya Arman duduk di sampingnya. Arman pun sudah mengetahui kebenarannya dan sangat bahagia karena ternyata Ratna adalah saudara kembarnya yang sudah dinyatakan meninggal dunia persi ibu Linda.


"Ayok buka matamu jangan terus berpura-pura tertidur, Kakak tahu kamu itu sudah lama bangun, lagian Mama Elisabeth dan papa tidak ada di sini" ucap Arman Maulana Yusuf Hendry sambil bersedekap di depan dadanya.


"Apa kamu tidak bahagia setelah mendengar kabar kalau kamu adalah adikku dan anak dari Papa dan Mama Elisabeth, apa kamu tidak ingin hidup dengan kami haaa!! coba belajarlah untuk membuang ego kamu dan cobalah untuk membuka hatimu sedikit saja untuk menerima kehadiran Mama Elisabeth, Gimana pun juga beliau adalah Mama kandung kita yang telah mengandung kita selama kurang lebih 9 dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, Kakak mohon dengan sangat lupakanlah masa lalu dan berdamai lah dengan keadaan yang ada, sekeras apa pun kamu menolak dan sekuat apa pun kamu tidak ingin menerima kenyataan ini tapi semuanya akan tetap sama kamu adalah putri kembar dari pasangan Pak Hendry Park Usmani dengan Mama Elisabeth" ucap Arman panjang lebar kali tinggi.


Ratna merenungkan semua perkataan saudaranya dan sejujurnya di lubuk hatinya yang paling dalam Ratna bahagia mendengar kalau Dia ternyata masih memiliki Keluarga yang utuh. Tapi Ratna kembali teringat saat dirinya terkena air keras di wajahnya yang mengakibatkan Dia operasi plastik sebanyak tiga kali. Karena sifat gegabah dan kerasnya yang membantu teman sekaligus saudaranya se panti asuhan dulu yaitu Rindu yang harus Mati ditangan Suaminya sendiri yaitu Rangga Azof persi Ratna sendiri.


"Jadi kakak mohon dengan sangat tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil kesimpulan dan keputusan yang takutnya nanti kamu akan sesali dan jangan terlalu cepat untuk menyimpulkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi" ucap Arman lalu mencium kening adiknya itu.


Ratna langsung tersenyum dan melihat ke arah pintu kamar perawatannya jika sedari tadi Karina berdiri di sana dan ide gila Ratna muncul dibenaknya untuk mempermainkan Karina.


"Kok cuma ini yang dicium sih, yang ini lagi yah" Ucap Ratna yang langsung menunjuk pipinya agar dicium oleh Arman.


Sedangkan Karina yang berdiri diambang pintu hatinya sudah panas dan ingin memaki-maki Ratna dan Arman sendiri yang menurutnya terlalu dekat dengan Ratna dan tidak seharusnya apa yang dia lihat dilakukan oleh Ratna dan Arman tidak boleh mereka lakukan karena tidak ada hubungan darah dan bukan muhrimnya.


Ratna membisikkan kata-kata ke telinga Arman saat Arman mencium pipinya Ratna.


"Lihat di pintu gadismu sudah cemburu melihat kita dan sepertinya dia ingin mengamuk dan menghajar kamu kak" ucap Ratna yang langsung tertawa tapi menutup mulutnya agar suara tawanya tidak sampai didengar oleh Karina.


Arman pun menatap ke arah pintu dan benar apa yang dikatakan oleh Ratna, Hati Arman langsung berbunga-bunga dan kupu-kupu berterbangan di sekeliling bunga-bunga tersebut saat mengetahui kalau Karina cemburu itu tandanya Karina sudah mencintainya.

__ADS_1


"Kalau menurut kamu apa dia pantas untuk menjadi Kakak ipar kamu?" tanya Arman.


"Sangat pantas, layak dan sangat cucok secara dia itu cantik, baik hati dan sholeha tapi sayangnya pendidikannya kurang Kakak bahkan sangat kurang" ucap Ratna.


"Jadi kamu setuju jika Aku melamar dia dan menikahinya?" tanya Arman lagi yang ingin mendengar masukan dan pendapat Ratna.


"Sangat setuju Kakak dan saran saya sih jangan menunggu lama nanti ditikung oleh pria lain, tikungan tajam loh Bang" ucap Ratna.


"Aku akan pertimbangkan dan segera melamar Karina, bagiku status pendidikan dia yang hanya tamatan sekolah dasar saja bisa kau bantu untuk melanjutkan pendidikannya yang paling penting Dia menerima lamaran ku dulu" ucap Arman.


"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Abang dan good luck Bang" ucap Ratna.


Seperti itulah kedekatan mereka, Ratna akan memanggil Arman dengan sebutan Abang jika hatinya sedang bahagia dan pikirannya tenang tapi jika hanya memangil dengan sebutan kakak berarti ada u dibalik semua itu.


"Makasih, cepat lah pulang ke rumah dan kamu harus mencoba masakan Mama Elisabeth dan Kakak yakin kamu pasti akan ketagihan dengan masakan Mama dan satu hal lagi berubahlah Dek, jadilah manusia yang lebih baik dan bijaksana dari sebelumnya, belajarlah dari sebatang padi, semakin tua semakin berisi dan akan semakin menunduk" ucap Arman lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu di mana Karina sudah berdiri sedari tadi bagaikan pagar ayu saja diacara pengantin.


Arman langsung merangkul tubuh tinggi semampai bak model Karina. Tapi Karina langsung menghindar rangkulan Arman. Sambil menggoyangkan jarinya di depan Arman.


"No.. No.. Kita bukan muhrim Tuan muda dan ingat saya masih marah sama Anda karena telah mengerjai saya selama ini yang katanya masih sakit dan belum bisa berjalan tapi ternyata itu semua hanya akal bulus tuan muda saja" ucap Karina yang pura-pura marah kepada Arman.


"Aku tidak mungkin bisa marah kepadamu tuan Muda, hati ini sebenarnya bahagia jika tuan selalu ada di sisiku tapi Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku di depanmu karyaku sadar aku ini siapa dan perbedaan dan Jarak diantara kita sangatlah banyak".


"Nanti malam temani Aku buka di luar yah, hitung-hitung itu sebagai tanda ucapan Makasih Banyak aku kepada kamu yang sudah setia dan ikhlas membantu saya" ucap Arman ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


Karina hanya menganggukkan kepalanya karena sedari tadi jantungnya berdebar kencang dan berdendang ria. Wajah Karina pun sedari tadi sudah seperti kepiting rebus saja dan selalu menunduk karena tidak ingin jika Arman melihat kondisinya yang menurut Karina cukup membuat Dia akan malu.


"Kamu baik-baik saja kan? kok wajahmu memerah jangan-jangan kamu sakit" ucap Arman yang langsung mematikan mesin mobilnya yang sudah sempat menyala dan memeriksa seluruh tubuh Karina terutama dahinya.


"Tubuh kamu tidak panas tapi kenapa wajah kamu semakin memerah saja, apa kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kamu?" tanya Arman yang khawatir dengan keadaan Karina.


"Aku tidak apa-apa kok tuan muda, ini sudah biasa terjadi jika terpapar langsung sinar matahari siang hari yang sangat panas jadi Tuan tidak perlu terlalu khawatir dan mencemaskan kondisi ku" kilah Karina yang kembali berbohong untuk menutupi perasaan gugupnya.


Arman pun terdiam jika seperti itu kenyataan yang ada. Arman kembali menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk pulang. Sedangkan di rumah Sakit tepatnya di dalam kamar perawatan Ratna. Seseorang datang membesuk dirinya dengan membawa sebuah buket bunga mawar putih sesuai dengan bunga kesukaan dari Ratna. Ratna tidak percaya setelah melihat bunga tersebut.


"Dari mana dia tahu kalau aku suka Sekali dengan bunga mawar putih? padahal yang tahu cuma aku saja, Abang Arman saja tidak tahu".


...---------To Be Continued-------...


Sambil nunggu update novel Bertahan Dalam Penantian silahkan Kakak Readers untuk mampir ke Novelku yg Satu judulnya Cinta Yang Tulus.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap BDP 🙏💗.

__ADS_1


Tetap Dukung BDP dengan Cara LIKE, RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN.


__ADS_2