
Happy Reading..
Jadikan kematian itu hanya pada badan, karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap masa.
Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua hilang
Dan pergi meninggalkan dirimu
Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masih kah ada jalan bagimu
Untuk kembali mengulangkan masa lalu
Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dari segala yang ada akan kembali padaNya
Bila waktu tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah berhenti
Teman sejati tinggal lah sepi.
Semoga segala amal ibadah Pak Hendry diterima disisi sang Pencipta. Selamat jalan Pak Hendry semoga Husnul khatimah. Pak Hendry menghembuskan napas terakhirnya di hadapan anak-anak dan keluarganya. Lima kali tembakan berhasil bersarang di dada dan punggungnya. Sehingga Pak Hendry harus meninggal di tempatnya.
Itu salah satu ucapan dari banyaknya ucapan turut berbelasungkawa yang berdatangan silih berganti memenuhi kediaman Utama Keluarga Wiguna atas meninggalnya Pak Hendry yang berdatangan dari segala lapisan masyarakat maupun kalangan relasi bisnisnya.
__ADS_1
Setelah dimandikan jenazah pak Hendry, segera di bawa ke Mesjid terdekat untuk dishalatkan. Mesjid di tempati untuk shalat dipadati oleh jemaah yang ikut mensholatkan untuk yang terakhir kalinya untuk Pak Hendry. Bahkan Mesjid tersebut saking banyaknya masyarakat ikut mensholatkan Pak Hendry.
Setelah selesai disemayamkan mereka berbondong-bondong untuk mengantar jenazah pak Hendry ke tempat istana terakhirnya, yaitu TPU khusus untuk keluarga besar Wiguna Albert Kim Said.
Mereka memutuskan untuk memakamkan jenazah pak Hendry berdampingan dengan makam Pak Wiguna sesuai dengan permintaan dari istrinya yaitu ibu Elisabeth. Perlahan satu persatu pelayak meninggalkan TPU tersebut dan tinggallah keluarga inti dari Pak Hendry yang masih betah bertahan di dalam makam tersebut.
Semua anggota keluarga Wiguna mengelilingi kuburan Pak Hendry dan bergantian untuk mendoakan pak Hendry dan menaburkan beberapa bunga ke atas gundukan tanah yang masih basah itu. Tangis haru tak terhenti dari mereka.
Terutama Arman dan Ratna Antika Monata yang anak kandung dari Pak Hendry. Mama Elisabeth sedari tadi masih setia duduk di Pusara suaminya yang tangisannya semakin kencang saat menaburkan berbagai bunga mawar di atasnya.
"Papa selamat jalan, Mama selalu mendo'akan yang terbaik untuk papa, Papa akan selalu di dalam lubuk hati yang terdalam," ucap Mama Elisabeth sambil menaburkan bunga di atas pusara sang suami tersayang.
Arman juga ikutan jongkok di hadapan pusara Papanya. Dan memegang nisan Papanya dan membaca beberapa do'a untuk dia persembahkan untuk Papanya itu.
"Ya Allah maafkanlah semua dosa-dosa dan kesalahan Papaku dan tempatkan Papaku di tempat yang paling terindah," ucap Arman lalu menyiram air putih ke atas nisannya.
Ratna sedari tadi dipapah oleh suaminya Firmansyah. Firman sangat terpukul dan bersedih melihat kesedihan yang dirasakan oleh Istrinya yang sedang hamil. Firman Khawatir dengan kondisi janin yang dikandung oleh Ratna jika selalu dalam keadaan menangis dan tertekan seperti itu.
"Sayang ingat Kamu itu sedang hamil, Abang mohon jangan seperti ini kasihan calon bayi kita," ucap Firman yang berusaha untuk membujuk Istrinya agar mendengarkan perkataannya.
"Abang Aku tidak punya lagi Papa, Papa belum mendengar kabar kehamilanku Papa sudah pergi untuk selamanya meninggalkan kita," ucap Ratna yang terduduk di atas tanah.
"Mama mohon untuk sementara kalian menginap di sini dulu hingga lepas tujuh harinya Papa kalian," pinta Mama Elisabeth.
Mereka saling berpandangan dan langsung mengangukkan kepalanya. Mereka tidak masalah jika hal itu diminta oleh Mama Elisabeth, karena menurut mereka itu sangat mudah untuk mereka penuhi.
Mereka pun meninggalkan tempat pemakaman tersebut dan mobil mereka saling beriringan menuju kediaman Utama. Andai saja iringan mobil itu adalah iringan pengantin pasti akan bersuka cita tentunya. Tapi, begitu lah kehidupan setiap yang bernyawa pasti akan mengalami namanya kematian dan jika tidak ingin mati jawabnya jangan hidup.
Sore harinya mereka melakukan tahlilan hari pertama untuk memperingati meninggalnya Pak Hendry. Mereka mendatangkan dan mengundang para ibu-ibu majelis taklim, anak-anak panti asuhan serta para tetangga maupun sanak saudara yang ingin menghadiri acara tauziah tersebut.
"Ayah Wiguna sekarang kamu tidak sendirian lagi, sekarang ada Papa Hendry yang menemani Ayah, kalian adalah suamiku dan apa yang aku rasakan sama halnya tidak ada yang berbeda, kalian sama dihatiku dari awal kita menikah hingga sekarang dan hingga hembusan nafas terakhirku mama tetap mencintai kalian semua."
Mama Elisabeth duduk menghadap ke arah jendela kamarnya sedangkan ke dua tangannya memegang figura yang berisikan foto orang terkasih dan paling spesial dalam hidupnya.
Mama Elisabeth mengelus wajah ke duanya secara bergantian dan tetesan air matanya mengenai wajah dari orang yang berada di dalam figura itu.
__ADS_1
"Nama kalian akan selalu terukir di dalam sanubari ku hingga nafas ini tidak lagi bersamaku."
Nafasnya tercekat, buliran air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang masih seperti wanita umur 30an saja bahkan mengalahkan glowingnya pipi authornya hehehe.
Dia menyentuh dadanya yang terasa semakin sesak saja. Mulutnya selalu bermunajat kepadaNya agar selalu dilindungi dan diberikan ketabahan dan keikhlasan.
"Aku harus mampu untuk melewati ini semua, masih ada anak-anak dan cucuku yang menunggu kehadiranku, Aku harus melawan rasa sedih ini, susah gimana pun aku tetap harus berusaha."
Mama Elisabeth pun berdiri dan berjalan ke arah dalam kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya dan turun ke lantai dasar untuk menghadiri acara tahlilan sekaligus mendengarkan ceramah tauziah dari Ustadz yang sudah dihadirkan oleh pihak keluarga.
Mama Elisabeth menuruni undakan tangga dengan berhati-hati karena pandangannya kabur dikarenakan terlalu lama menangis.
Delia yang melihat Mama mertuanya turun dari tangga langsung berjalan dan menjemput mama mertuanya itu.
"Hati-hati Ma," ucap Delia yang memegang tangan kanan mertuanya dan menuntunnya hingga ke kursi tamu.
"Makasih banyak sayang," ucap Mama Elisabeth yang sangat bahagia karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik.
Delia hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mamanya. Arya pun segera mendekati mamanya. Arya bangga dengan sikap dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Mamanya yang sudah mulai tegar menghadapi cobaan yang menerpanya.
"Arya sangat sayang Mama, Mama itu tidak sendirian, tapi ada Kami yang selalu siap dan menjadi teman Mama jika Mama ingin berbagi apa pun itu maka panggillah salah satu dari Kami, Kami akan selalu siap untuk mendengarkan keluh kesah Mama," ucap Arya yang bangga dengan Mamanya yang cukup kuat menghadapi ujian ini.
"Makasih banyak sayang, Mama sangat bahagia karena banyak anak Mama dan keluarga Mama yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan kalian," tuturnya.
"Iy apa yang dikatakan Abang Arya benar adanya dan Mama tidak boleh beranggapan jika Mama seorang diri saja, lihat kami ini banyak Ma jadi jangan pernah menganggap Mama adalah seorang diri hal itu sangat salah dan tolong jauhkan dari pikirannya Mama," jelas Emilia.
"Ya Allah makasih banyak Engkau memberikan anak-anak yang sangat mengerti dan menyayangiku tanpa pamrih."
Mama Elisabeth memeluk tubuh anak-anaknya hingga kembali meneteskan air matanya dan kali ini bukanlah air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan. Dia sangat bersyukur karena dikaruniai anak dan keluarga yang sangat baik dan selalu menunjukkan rasa tulusnya.
...........
Makasij banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏 Dan Jangan lupa untuk memberikan dukungannya hanya dengan cara Like setiap Babnya 👍, Favoritkan ♥️ dan Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
...********To be Continued********...
__ADS_1
FANIA Mikaila AzZahrah
Makassar, Rabu, 01 Juni 2022