
📢 Warning ada adegan Kekerasan📢
Happy Reading..
Ratna menikmati malam itu di sebuah Taman yang cukup ramai karena dipadati oleh pengunjung yang sengaja datang untuk berburu takjil gratis maupun membeli langsung dipenjual asongan yang menjajakan dagangannya berbagai jenis takjil.
Sinar rembulan menyinari Malam itu yang begitu indah, banyak warga Masyarakat yang berbondong-bondong mendatangi Mesjid setempat untuk melaksanakan shalat tarwih secara berjamaah. Ratna hanya terdiam di atas kap mobilnya. Tanpa ada niat sedikit pun untuk ikut serta dengan jama'ah lainnya. Ratna teringat ketika dirinya masih kecil dan masih tinggal di Panti Asuhan dirinya yang rajin shalat, puasa dan pernah menjadi Qoriah terbaik sepanti asuhan. Bahkan Ratna sudah melupakan tata cara shalat dikarenakan jika Ratna ingin melaksanakan kewajibannya Linda akan memarahi Ratna bahkan tak segan untuk memukul Ratna.
Tak terasa air mata Ratna mengalir mengingat kejadian itu. Ratna tidak menyangka dirinya diangkat menjadi anak di keluarga besar Hendry hanya untuk disiksa dan diajarkan sesuatu yang tidak baik bahkan bertentangan dengan hati nuraninya. Tapi Ratna kecil tak berdaya. Ratna tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun ada yang melihat langsung kejahatan Linda tapi mereka pun hanya bisa terdiam seperti patung yang takut untuk berkomentar ataupun membela Ratna. Hingga hal tersebut berlangsung sampai Ratna berumur 22 tahun. Sepuluh tahun lamanya mendapatkan didikan yang tidak baik.
Ratna teringat dengan teman masa kecilnya saat Dia masih berada di panti asuhan. Ada anak laki-laki yang selalu menjadi temannya disaat dia sendiri dan kesepian tanpa ada teman yang berniat ingin bermain bersamanya, hanya anak laki-laki itu saja yang selalu setia menemaninya di kala sedih maupun senang. Anak laki-laki itu bertubuh gemuk sehingga Ratna sering mengerjai anak tersebut. Hingga mereka berpisah saat Ratna di angkat oleh nyonya besar Linda.
"Ratna jangan tinggalkan Aku, Aku akan kesepian Tanpa kamu lagi, tolong jangan pergi" ratap anak pria tersebut sambil berteriak dan menangis tersedu-sedu.
Anak pria tersebut terus mengejar mobil yang membawa Ratna, kemudian Anka kecil itu melempar sebuah boneka kesayangannya yang selama ini selalu menemaninya setiap saat. Yaitu Boneka Pororo warna kuning.
"Gimana kabarmu, apa kamu masih tinggal di panti asuhan atau juga sudah mendapatkan orang tua angkat?? Saya berharap agar kamu mendapatkan orang tua angkat yang baik dan jangan seperti saya".
Ratna masih betah duduk di kap mobilnya hingga pukul 12 malam, Suasana sudah nampak sepi cahaya bulan dan bintang terasa semakin terang benderang. Sudah banyak gigitan nyamuk yang Ratna rasakan tapi masih enggan untuk berdiri. Hp Ratna berbunyi tanda ada panggilan masuk ke hpnya tapi Ratna jenuh untuk mengangkat telponnya. Hingga hp itu lelah sendiri untuk kembali berdering lagi.
Ratna ingin membeli sekaleng minuman bersoda, tapi niatnya tiba-tiba terhenti karena uang yang ada di dompetnya habis tak tersisa karena tadi dirinya menyumbangkan sisa uangnya ke panti asuhan tempat dia dibesarkan dan ada Orang tua yang kebetulan meminta-minta kepada nya, sehingga Ratna terpaksa hanya tersenyum sedikit kecewa.
Ratna kemudian berdiri dan meluruskan otot-ototnya yang agak kaku saking lamanya duduk di atas mobilnya. Ratna kemudian melajukan mobilnya tidak tentu arah hingga mobilnya tiba-tiba berhenti dengan suara rem yang nyaring bunyinya di tengah malam yang sunyi.
Di tengah jalan yang sunyi dan di sekitar jalan raya tidak ada satupun rumah penduduk yang berada di sekitar jalan tersebut. Suasana semakin sepi ditambah dengan penerangan yang kurang memadai karena jalan tersebut sudah jauh dari perkotaan dan daerah yang terkenal dengan preman yang suka membegal pengendara maupun warga masyarakat yang sedang melewati jalan tersebut.
"Mau cari mati orang ini kah? apa dia sudah bosan hidup atau sudah tidak ingin memakai pakaian baru di hari lebaran?."
Ada tiga sepeda motor yang tiba-tiba menghadang laju mobilnya Ratna dan mereka berjumlah sekitar enam orang dengan perawakan yang cukup menyeramkan. Ada yang membawa tongkat baseball dan ada yang membawa seperti alat pentungan dan ada seseorang yang membawa sebilah pisau yang cukup tajam. Satu di antara mereka langsung turun dari mobilnya dan langsung menghadang mobil Ratna dan mengancam Ratna agar segera turun dari mobilnya.
"Turun dari mobilmu, Jika kamu tidak turun maka kami akan menghancurkan kaca mobilmu yang mahal ini" ancam seorang pemuda yang bertubuh jangkung, agak brewok berambut keriting dan berkulit agak gelap sawo matang.
Tapi Ratna hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Pria tersebut. Ratna bahkan menangkupkan tangannya di atas setir mobilnya dan ingin tidur. Pria tersebut kembali ingin menggedor pintu mobil Ratna tapi Ratna tidak sama sekali menggubrisnya. Hingga pemuda itu naik pitam dan langsung memukul kaca jendela mobilnya Ratna. Ratna langsung menunduk dan menghindari lemparan pecahan kaca tersebut agar tidak mengenai tubuhnya.
Ratna pun keluar dari mobilnya untuk meladeni preman tersebut.
"Apa sebenarnya yang kalian inginkan dari Saya haaa?? kalau kalian inginkan mobilku kalian jadi manusia terlalu bego bin tolol, kenapa gak minta baik-baik mobilku saja tanpa harus merusaknya kalau gini kan sama saja harga jualnya turun" ucap Ratna yang tertawa sambil mengacungkan jari tangannya ke arah preman tersebut.
"Cantik juga, kita bisa nikmati dia sebelum kita merebut mobilnya" ucap pemuda yang agak pendek sedikit dari pemuda pertama.
"Iya kita bisa berpesta malam ini, coba kalian lihat body-nya yang aduhai, wajahnya yang glowing banget dan pasti dia bisa menghangatkan ranjang kita malam ini". ucap pemuda C yang sudah ingin menyentuh wajah Ratna.
Ratna langsung menarik tangan pemuda C lalu memutar tangannya hingga menimbulkan bunyi yang cukup meyakitkan.
"Aaaaaaahhhhh" teriak pemuda tersebut.
"Kamu berani menyentuh secuil pun dari tubuhku maka aku akan memotong tangan mu itu" ucap Ratna yang sudah menggertakkan giginya saking marahnya dengan kelakuan begal tersebut dan masih memutar tangannya preman tersebut.
"Sepertinya perempuan ini tidak lemah dan tidak mudah kita kalahkan dan meski kita hadapi dengan kekerasan untuk menaklukkannya" timpal pria D.
__ADS_1
"Kalau begitu kita serang dia secara langsung saja" ucap yang satu lagi.
"Ayo serang dia" ucap pemuda lainnya dan mereka langsung melawan Ratna.
Ratna menghadapi mereka dengan sekuat tenaga dan sedikit kesulitan karena jumlah mereka yang cukup banyak dibandingkan Ratna yang hanya sendiri saja. Ratna mengeluarkan segala kemampuan bela dirinya yang dia kuasai sehingga dua berhasil melumpuhkan beberapa begal tersebut.
Hingga konsentrasi Ratna terganggu dan tanpa Ratna ketahui ada yang menendang bagian perut Ratna sehingga Ratna tersungkur ke lantai.
"Sekarang kamu masih berani menjadi sok kuat atau kamu sudah menyerah dan suka rela untuk melayani kami semua" ucap pria A yang jongkok dihadapan Ratna sambil menarik rambut Ratna.
Ratna malahan meludahi pria tersebut tepat di wajahnya. Pria tersebut langsung menghapus jejak ludah Ratna dengan kilatan mata yang sudah memerah dan urat syaraf nya sudah menonjol saking marahnya. Pria tersebut semakin mengencangkan tarikan dari rambutnya Ratna. Dan mengayunkan tangannya yang ada pisaunya ke arah punggung Ratna tapi tanpa mereka sadari ada seseorang yang langsung datang membantu Ratna dan menendang kuat Tubuh pria tersebut hingga terbanting ke arah belakang.
"Aaaaahh" teriak pria tersebut.
Ratna memandang wajah pria yang menolongnya tapi sayangnya pria tersebut memakai masker wajah. Pria tersebut membantu Ratna untuk berdiri dan mereka kembali berduel hingga kawanan begal tersebut terpontang panting berlarian terbirit-birit.
"Kamu baik-baik saja kan?, ayok kita segera ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi kamu" ucap Pria tersebut.
"Tidak perlu repot-repot, lagian aku baik-baik saja" ucap Ratna yang menolak uluran tangan pria tersebut.
Sedangkan pria tersebut hanya tersenyum melihat tangannya yang menggantung ke atas tanpa disambut oleh Ratna. Tapi baru beberapa langkah Ratna langsung terjatuh ke atas aspal sebelum berhasil membuka pintu mobilnya. Pria tersebut langsung berlari ke arah Ratna.
"Ratna!!!" teriak pria tersebut.
Pria tersebut langsung menggendong tubuh Ratna dan segera masuk ke mobilnya.
Yah Firman adalah pria yang disuruh oleh Pak Hendry untuk membantu dirinya mengawasi Ratna dan sebenarnya Pak Hendry ada niat untuk menjodohkan Firman dengan Ratna. Tapi rencana itu masih sekedar rencananya Pak Hendry dan belum menyampaikan niat baik tersebut kepada kedua orang tua Firman.
"Ratna sadarlah, Kamu pasti akan baik-baik saja" ucap Firman yang sudah sangat khawatir melihat kondisi Ratna.
Ratna masih memejamkan matanya dan tubuhnya semakin panas. Hingga mobil mereka sudah memasuki area rumah sakit dan mobil belum berhenti baik tapi Firmansyah sudah turun dari mobilnya dan langsung berlari sambil menggendong tubuh Ratna hingga ke ruangan UGD, banyak suster dan perawat yang ingin membantu firman tapi firman terang-terangan menolaknya dan dia sendiri yang ingin membawa Ratna hingga ke dalam UGD.
"Dokter, cepat ke sini dokter" teriak Firman.
Dokter pun berjalan tergesa-gesa dan segera memeriksa Ratna.
"Kami mohon bapak di luar saja karena kami akan menangani pasien" ucap Perawat tersebut sambil mendorong tubuh Firman.
Firman pun menunggu Ratna hingga selesai ditangani oleh dokter dan menghubungi Pak Hendry agar beliau segera datang ke rumah sakit berhubung Ratna yang sedang di rawat di RS. Firman duduk di kursi sambil menunggu kedatangan Pak Hendry tapi tiba-tiba mata firman menangkap ada benda yang berkilauan yang tersangkut di kancing bajunya, karena penasaran Firman langsung mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah gelang yang sangat cantik.
"Ini kan gelang milik Ratna yang sudah dia pakai dari sejak kecil".
Firman kemudian memasukkan gelang tersebut ke dalam saku bajunya. Dan dia akan memberikan gelang tersebut ke tangan Pak Hendry jika beliau sudah datang. Beberapa saat kemudian, Pak Hendry dan Mama Elisabeth pun sudah datang.
"Katakan apa yang telah terjadi kepada Ratna??." Tanya Pak Hendry yang sudah Khawatir dan mencemaskan kondisi Putri angkatnya.
Ratna walaupun hanya sekedar putri angkat saja tapi oak Hendry tulus menyayangi Ratna seperti anak kandungnya sendiri. Pintu UGD pun terbuka dan keluarlah dokter dan beberapa perawat yang membantu untuk mengobati Ratna. Pak Hendry langsung mendatangi Dokter dan bertanya tentang kondisi kesehatan Ratna.
"Dokter apa yang terjadi kepada putriku?" tanya Pak Hendry.
__ADS_1
"Kondisi Putri Anda sudah melewati masa kritisnya tapi dia belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius" jelas dokter.
"Makasih banyak dokter" ucap Mama Elisabeth yang memegang tangan suaminya agar bisa tenang menghadapi cobaan ini.
"Sama-sama Bu dan ini sudah menjadi tanggung jawab kami di Sini untuk membantu mengobati pasien yang membutuhkan pertolongan kami" jawab pak dokter.
Ratna sudah berada di dalam ruangan perawatan VVIP RS DA tapi belum sadarkan diri juga. Firman mendekati Mama Elisabeth dan menyerahkan barang-barang pribadi milik Ratna.
"Maaf Bi, ini semua milik Ratna yang kebetulan firman ambil untuk mengamankan saja agar mencegah seseorang yang punya Niat jahat" ucap Firman sambil menyerahkan semua barang pribadi milik Ratna.
"Makasih banyak Nak atas bantuannya tanpa kehadiran kamu, kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan nasib Ratna" ucap Sedih Mama Elisabeth yang sudah meneteskan air matanya.
Firman memegang tangan Mama Elisabeth dan sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Beliau.
"Bibi yang sabar insya Allah Ratna akan baik-baik saja" ucap Firman.
Mereka masih menunggu Ratna sadarkan diri hingga menjelang subuh, suara tangisnya Mama Elisabeth membuat pak Hendry dan Firman terbangun dari tidurnya dan langsung melihat ke arah Mama Elisabeth yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Daniela ini gelang kamu Nak, ternyata kamu masih hidup, putri mama" ucap Mama Elisabeth disela tangisnya.
Pak Hendri yang melihat istrinya menangis langsung jongkok di hadapan mama Elisabeth yang duduk di kursi.
"Apa yang terjadi padamu sayang, kenapa kamu menangis??." tanya oak Hendry yang khawatir melihat kondisi dari istrinya.
"Daniela Pa, ini gelang milik putri kecilku yang kamu anggap sudah meninggal beberapa tahun lalu" ucap Mama Elisabeth dihadapan suaminya.
Pak Hendry tidak percaya dengan perkataan Istrinya. Jelas-jelas Linda yang mengatakan kalau putrinya sudah meninggal dan sudah dikuburkan di pemakaman umum.
"Kamu pasti tidak percaya tapi ini gelang cukup untuk membuktikan bahwa putrimu yang sudah kamu anggap meninggal masih hidup" ucap lantang Mama Elisabeth.
"Mungkin kamu salah paham sayang, putri kecil kita sudah mati dan Aku yang menguburkan jenazabya" ucap pak Hendry yang masih bersikeras tidak percaya.
Mama Elisabeth langsung berlari ke arah di mana Ratna terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangannya.
"Putri Mama, ternyata kamu masih hidup Nak, Daiela sayang" ucap Mama Elisabeth yang memeluk tubuh putrinya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut tidak ada yang percaya dengan perkataan dari Mama Elisabeth tanpa ada bukti yang sangat akurat dan bukan hanya dengan gelang saja. Tapi Mama Elisabeth sangat yakin akan hal tersebut dan kata hatinya tidak akan pernah berbohong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ To Be Continued ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara menunggu Updatenya BDP Kakak jangan lupa untuk mampir ke Novelku yg berjudul Cinta Yang Tulus dan ceritanya Berbeda dengan BDP ✌️.
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah bin Typonya 🙏.
Makasih banyak Atas dukungannya terhadap BDP 🙏
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 20 April 2022
__ADS_1