
Happy Reading…
Senja sudah menyapa. Matahari sudah kembali ke peraduannya digantikan oleh Sang Dewi Malam.
Malam yang begitu sepi di dalam sebuah ruangan. Di mana duduk seorang perempuan yang sangat cantik dengan jari jemarinya yang masih setia menekan mouse komputernya.
Di hidung mancungnya terpasang sebuah kaca mata khusus dia pakai jika menghadapi komputer. Dia sebenarnya tidak ingin terjun di dunia bisnis, tetapi hari ini dan saat itu juga dia harus terjun langsung membantu saudara kembarnya.
Dia adalah Zoya Saldana Arya Wiguna Said. Dia yang kuliah di kedokteran mengambil jurusan Dokter anak, hari ini demi tidak ingin mengecewakan Neneknya, dia bekerja di Perusahaan Sinopec Group peninggalan kakeknya Pak Wiguna.
Sedangkan di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berada. Dia sedari tadi memperhatikan kekasih pujaan hatinya sekaligus tunangannya walaupun belum resmi.
Dia sesekali membantu Zoe, jika menemui masalah atau pun kendala.
"Ternyata asyik juga, punya seseorang yang penting dalam kehidupan kita dan dia bisa diandalkan dalam segala hal."
Tatapannya sesekali tertuju pada sosok pemilik mata tajam bak Elang dan hidung mancung yang menukik tajam itu.
Sedangkan orangnya sedang santai, walaupun dia mengerjakan beberapa pekerjaan dari Zoe, tetapi tidak membuatnya kelimpungan maklum lah itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Elang berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah Zoe. Dia meletakkan berkas di hadapan Zoe.
"Ada seseorang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," tuturnya.
Zoe melirik ke arah Elang dan mengerutkan keningnya tanda dia tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Ada orang yang telah menyalah gunakan wewenangnya di Perusahaan dan itu sudah terjadi sejak lima tahun lalu," jelasnya.
"Maksudnya Abang ada seseorang yang korupsi gitu?" Tanyanya dengan raut wajah kebingungan sekaligus terkejut.
Dia tidak menyangka jika hal itu terjadi di Perusahaan Kakeknya padahal aturan sudah sangat baik dan memanjakan semua karyawannya dengan berbagai macam bonus setiap bulannya.
"Kalau Kamu tidak percaya ini bukti-buktinya dan lengkap dengan siapa pelakunya," terangnya.
Elang berdiri di depan Zoe yang sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celananya.
Zoe mulai membuka lalu membacanya dengan seksama dan sangat teliti. Matanya hampir copot dari tempatnya saat membaca nama orang itu. Dia langsung menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan itu.
"Ini tidak mungkin!!! Pasti ada kesalahan data di sini Abang?" Jawabnya yang sangat tidak ingin mempercayai fakta tersebut.
__ADS_1
"Emangnya siapa orang itu? Sehingga membuat Kamu shock seperti itu?" Tanyanya sambil duduk di ujung meja kerjanya Zoe.
Zoe tidak sanggup menyebutkan dan menjelaskan siapa pemilik nama tersebut. Dia tidak tahu harus menjelaskan mulai dari mana awalnya.
"Adiguna, dia adalah putra dari sepupunya Mama yang dari kampung, Paman Adijaya nama ayahnya dan dia adalah sepupunya Mama Delia," jelasnya yang sangat tidak percaya dan menyangka saudaranya sendiri yang berbuat culas dan curang di Perusahaannya.
"Ingat jika harta, tahta dan wanita yang berkata hilanglah rasa persaudaraan dan ikatan darah, jangan terlalu memposisikan semuanya karena adanya hubungan darah di antara kalian," ujarnya yang sudah sering kali menemui orang yang seperti ini.
Zoe hanya terdiam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia khawatir dengan reaksi dari mamanya serta Kakek dan Neneknya yang ada di kampung.
"Jangan biarkan sedikit pun tumbuh benalu dan parasit seperti dia di Perusahaanmu jika ingin melihat Perusahaan Kamu berdiri terus hingga anak cucumu,"
"Jadi, aku harus gimana?" Tanyanya yang memandang ke arah Pria yang tidak jelas statusnya di antara mereka.
"Kita datangi ke rumahnya pamanmu itu lalu berbicara baik-baik, jika dia tidak ingin diajak kerja sama baru Kamu tempuh jalur hukum atau kekeluargaan dengan memberitahukan kepada semua anggota keluargamu terutama Ayah dan Mama," jelasnya.
Zoa kembali terdiam, dia bersyukur karena berkat kedatangan Elang dia bisa mengetahui kebusukan dan kejelekan dari beberapa karyawan Ayahnya.
Zoe sebenarnya saat di Inggris,dia juga kuliah di Manajemen Bisnis, tetapi dia lakukan itu secara diam-diam tanpa banyak yang tahu tentang hal itu.
"Ayok kita pulang, sudah larut malam, nanti besok baru dilanjutkannya," Elang memerintahkan kepada Zoe sedangkan Zoe tanpa ada bantahan atau penolakan sedikit pun. Hanya bisa menuruti perkataan dari Elang yang tidak mungkin terbantahkan.
Elang hanya tersenyum sinis melihat tingkah orang itu. Dia berjalan mendekat ke arah Zoe. Elang langsung merangkul pinggang slim Zoe lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Zoe.
Zoe Saldana yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan mengikuti alurnya saja.
"Ada seseorang yang sedari tadi membuntuti kita, Kamu pura-pura saja tidak mengetahuinya dan ayok kita bermain," semakin menempel ke tubuh Zoe.
Wajah Zoe memerah diperlakukan seperti itu. Dia tersipu malu walaupun ada niat dan maksud yang terselubung dari perlakuan Elang tersebut.
Elang sudah memikirkan cara untuk menangkap basah penguntit tersebut.
"Kamu masuklah ke dalam Lift, aku akan berpura-pura untuk masuk ke Toilet," suaranya yang sangat pelan dan kecil itu.
Tapi, masih sanggup untuk didengar oleh Zoe. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan rencana Elang.
"Sayang, tunggu aku di Loby yah, aku ingin ke Toilet sudah kebelet soalnya," ujarnya yang sengaja mengeraskan suaranya.
Elang heran dengan malam itu. Biasanya petugas keamanan dan beberapa petugas kebersihan masih bekerja di jam sekarang yang baru jam 10 malam. Tetapi, keadaan sudah sunyi dan sepi tanpa ada aktifitas apapun.
__ADS_1
Elang segera menghubungi asisten pribadinya dan beberapa anak buahnya untuk segera datang ke lokasi tersebut.
Di dalam toilet dia meretas cctv Perusahaan Sinopec melalui hpnya. Kemampuannya di bidang IT sangat tidak diragukan atau pun dipandang sebelah mata saja. Dan dia menemukan jika tidak hanya dua orang saja yang mengawasinya, tetapi ada banyak hingga lebih dari tiga puluh orang.
"Ternyata kalian lumayan banyak juga," ujarnya.
Dia mengirim chat pesan singkat ke nomor hpnya Zoe dan mengabarkan kondisi Perusahaan saat itu juga. Zoe tidak percaya jika ada bahaya yang mengancam keselamatannya.
Dia pun segera menghubungi nomor Zack dan Ayahnya. Dia terus menekan tombol lift agar tidak terbuka,karena menurutnya hanya tempat itu yang paling aman untuk menghubungi keluarganya.
"Kakak angkat dong telponnya," berulang kali dia menghubungi nomor Zack dan Ayahnya, tapi dari mereka satu pun tidak ada yang menjawab telponnya. Dia mengirim chat ke nomor mereka dan mengatakan jika keadaan di Perusahaan sangat gawat darurat, genting dan berbahaya.
Setelah mengirim pesan tersebut dia membuka sepatunya dan ingin kembali ke dalam ruangan kerjanya untuk mengambil senjatanya.
Untungnya beberapa hari yang lalu dia menyimpan pistol di dalam laci meja kerjanya.
Dia keluar dari Lift dengan cara mengendap-endap ternyata kedatangannya sudah ditunggu oleh beberapa komplotan penjahat yang membawa senjata tajam.
Mereka berjumlah tiga orang yang memakai pakaian serba hitam dengan penutup masing-masing di kepalanya.
Zoe hanya tersenyum saja.
"Hey nona cantik, selamat datang kembali, ternyata nyalimu besar juga yah," ujarnya sembari ingin mencolek pipinya Zoe.
Zoe dengan gesit memegang tangan di pria dengan kuat lalu memelintirnya. Hingga Zoe melakukan gerakan memutar. Tubuh pria itu pun ikut berputar dan tidak lama ada suara.
Kreeekkkk…
Seperti tulang yang retak dan patah jadi dua.
"Aaaahhhhhhh!!!!
Ke dua orang lainnya nyalinya mulai menciut. Mereka tidak menyangka jika anak dari pemilik Perusahaan tempat mereka ingin beraksi ternyata memiliki kemampuan yang terpendam dan tersembunyi dari orang lain.
Makasih banyak all Readers..
By Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Jumat, 08 Juli 2022
__ADS_1