
Happy Reading..
Dapur yang awalnya tertata rapi dan bersih bahkan sangat kinclong, dan sekarang berubah menjadi lautan tepung terigu. Arya, Zidane putranya serta Delia, bermain terigu, saling bertukar tubuh dan wajahnya yang bergantian diolesi dengan terigu.
Hal tersebut terjadi karena Delia yang sedang mengayak tepung terkejut karena pelukan yang tiba-tiba dari Arya, sehingga tepung terigu tersebut melayang ke arah wajah dan pakaian Delia. hingga mereka main saling oles terigu hingga tepung terigu yang mereka siapkan untuk buat adonan kue harus ludes karena perbuatan mereka sendiri.
"Mama terigunya habis, kalau gini batal dong buat kuenya," ucap Zidane dengan sendu.
Delia mendekati putra bungsunya lalu memeluk tubuh kecil putranya itu, dan mendudukkannya di atas kursi.
"Gak apa-apa kok sayang, lain kali kita buat kuenya khusus untuk Nenek, Nenek pasti gak bakalan marah atau kecewa, Mama yakin akan hal itu," jelasnya.
"Serius Mam, kalau nenek Elizabeth gak bakalan marah atau kecewa kalau Zidane gak jadi bawain kue buatan Mama untuk nenek?" tanya Zidane dengan puppy eyes nya.
"Serius lah sayang, Nenek Elisabeth pasti gak marah kok sama Si, jadi Si gak usah kecewa atau takut yah."
"Ok Mama sayang."
"Kalau gitu Zi, ikut Mbak Yati yah, bersihin dulu badannya lalu kita otw rumah Nenek."
Zidane pun menciumi pipi Mamanya, lalu turun dari kursinya untuk segera berjalan ke arah kamarnya.
Arya hanya menonton interaksi dari ke dua orang tersayang dan terkasihnya itu, tanpa ada niat untuk mengganggu moment yang tercipta antara ibu dan anak.
Kesibukan yang dilakoni oleh Arya Wiguna Albert Kim Said setiap harinya tidak membuat dirinya harus melupakan dan mengorbankan waktu berharga bersama istri dan buah hatinya. Arya sebisa mungkin melakukan sesuatu hal, walaupun hal itu adalah terbilang hal yang kecil, tapi Arya berusaha untuk melakukan hal tersebut.
Menurutnya keluarga adalah salah satu hal terpenting yang
kita miliki, yang tidak akan pernah berubah dan akan selalu ada ketika dibutuhkan.
Keluarga yang baik dimulai dengan cinta, dibangun dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan.
"Sayang, sini aku bersihin wajah Kamu," ucap Arya yang sudah membuat kekacauan di dalam dapurnya.
Delia pun memajukan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan terigu itu
"Maaf sayang, gara-gara ulahku, wajahmu jadi kotor gini," ucapnya.
Arya kemudian mengambil tissue kering terlebih dahulu yang disodorkan oleh ARTnya, kemudian membersihkan dengan menggunakan tissue basah.
"Gak apa-apa kok Kak, Delia malah suka loh karena moment seperti ini jarang kita lakukan, lagian Baby Zi bahagia, iya kan, Nak?"
"Zidane suka sangat Ayah, apa lagi saat Ayah terkena tepung terigu, itu sangat lucu hahaha."
"Zi ke depan yah, tunggu Ayah sama Mama, Nak."
"Baik Ayah."
Zidane dan baby sitternya berjalan ke arah depan rumahnya sesuai perintah dari Arya.
Zidane sudah bersih sekaligus berganti pakaian, sedangkan ke dua orang tuanya masih berada di dalam dapur. Arya mendekati Delia dan langsung memeluk tubuh istrinya itu. Arya pun membantu Istrinya untuk membersihkan sisa terigu yang menempel di wajahnya.
"Entah kenapa rasa sayang ini semakin besar hanya untukmu seorang sayang, Aku tidak sanggup jika harus hidup tanpa dirimu."
Arya memandang lekat ke dalam bola matanya Delia. Delia pun mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
"Aku pun sama, bahkan rasa ini semakin dalam hingga aku tak mampu untuk mengukurnya."
Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Delia. Hingga bibir mereka saling bersentuhan. Arya memiringkan sedikit kepalanya agar lebih leluasa melakukan sesuatu yang dia inginkan.
__ADS_1
Delia pun cepat tanggap dan meladeni permainan suaminya.
Delia menyambut bibir suaminya dan ikut memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Arya. Arya pun tidak tinggal diam hingga mendapatkan keleluasaan bermain diarea mulut Delia. Mereka saling mengecup dan mwngecap bibir masing-masing. Mereka pun suda saling bertukar saliva, hingga nafas mereka memburu karena pasokan udara yang masuk ke rongga tenggorokan mereka semakin terbatas.
Arya pun mengakhiri ciumannya dan melap ujung bibirnya Delia menggunakan jarinya.
"Ciumanmu semakin memabukkan saja sayang, hingga aku kadang susah untuk mengimbanginya."
"Ini kan Kakak juga yang ngajarin Delia," ucapnya dengan malu-malu.
Arya dan Delia berjalan beriringan dan bergandengan tangan hingga ke dalam kamarnya. Mereka pun mandi bersama karena untuk menghemat waktu mereka. Dimas sedari tadi sudah menghubungi nomor ponselnya, tapi Arya sama sekali tidak menggubris telpon tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah bersiap ke Kediaman Utama Wiguna. Kebetulan Mama Elisabeth dan pak Hendry masih berada di sana, jadi Zidan pun ikut bersama mereka.
Baru sedetik mesin mobilnya mati, Zidane segera membuka pintu mobilnya dan langsung berlari ke dalam rumah itu.
"Nenek Elizabeth, Zidane sudah datang loh Nek," teriak Zidane yang berlarian di dalam Rumah sambil mencari keberadaan neneknya.
Mama Elisabeth yang mendengar teriakkan cucunya yang sudah menggema ke seluruh rumah, berjalan menuruni undakan tangga.
"Nenek di mana, kok Zidane gak lihat nenek."
"Nenek di atas sayang."
Zidane berhenti berlari lalu menolehkan kepalanya ke arah atas tangga. Setelah melihat neneknya, Zidane berlari lagi ke atas tangga.
"Gak usah lari sayang, Nenek akan turun kok."
Zidane kemudian berjalan saja sesuai instruksi dari neneknya.
Setelah mereka bertemu, Zidane langsung memeluk tubuh Neneknya.
Zidane memeluk tubuh Neneknya yang hanya sebatas perutnya saja.
"Nenek juga sangat merindukan cucu nenek yang paling ganteng."
Mereka berjalan hingga ke ruangan keluarga dan mereka sudah duduk di kursi panjang.
"Nek, Maafkan Zidan yah, gak bawain nenek kue buatan Mama."
"Gak apa-apa sayang, tapi kok bisa ga bawain, apa yang terjadi sayang?"
"Ini semua gara-gara Ayah Nek," ucapnya yang sangat menyesal.
"Coba ceritain sama Nenek apa sebenarnya yang terjadi," pintanya.
Arya dan Delia ikut duduk bersama mereka, tapi gak ikut nimbrung karena tidak ingin mengganggu kedekatan ibu dan putranya.
"Mama kan lagi ngayak terigu sudah siap buat kue, tapi Ayah tiba-tiba datang dan mengejutkan mama dan akhirnya berantakan dan gagal buat kuenya."
"Gak apa-apa sayang, Nenek gak masalah kok, nenek juga gak marah, kan masih banyak waktu dan lain kali saja Zidane bawain nenek kue."
"Nenek serius gak marah sama Zidane, agk kecewa juga kan Nek?, tanya Zidane dengan penuh harap.
"Nenek sama sekali gak marah kok, nenek sumpah deh," ucap Mama Elisabeth sambil mengacungkan jari tangannya ke atas.
"Di sangat sayang sama nenek."
Zidane langsung memeluk tubuh Neneknya yang masih segar, sehat dan bugar seperti seorang ibu-ibu yang baru empat puluh tahun saja, yang masih tetap cantik dan awet muda.
__ADS_1
Arya pun pamit dari hadapan mereka dan bergegas ke ruangan khusus yang sudah menjadi tempat ngumpul mereka.
"Arya pamit dulu Ma, ada kerjaan yang Sangat penting ingin Arya selesaikan,"
"Ok Sayang, hati-hati."
Dimas, Aditya dan Adryan sedari tadi sudah menunggu kehadirannya.
"Akhirnya big bos datang juga, kami lumutan nungguin Kamu," ucap Dimas.
"Maaf ada insiden kecil yang terjadi tadi di jalan."
"Du jalan atau di Kamar Arya?" tanya Adrian yang sangat mengerti dengan sikap adik angkat sekaligus Kakak iparnya itu.
"Hahahaha Kamu kalau ngomong selalu ada benarnya dan tahu saja hahaha."
Arya langsung menatap ke arah Anton. Sedangkan yang ditatap langsung mengerti dan sigap. Anton mengulurkan sebuah tas ke hadapan mereka di atas meja panjang itu.
"Apa ini?" tanya Aditya yang tidak mengerti dengan tas lusuh dan kotor itu yang Arya bawa.
"Periksa saja, dan semoga kita dapat bukti dan petunjuk tentang kejahatan Putri, Aku khawatir nanti psikopatnya kambuh dan nyawa Alan dalam bahaya."
Aditya dan yang lain pun memeriksa isi tas itu. Ada yang mengambil kaset dvd, Aditya handycam lalu menghidupkannya, Aditya mengambil flashdisk lalu langsung mencolok ke dalam laptopnya. Sedangkan Arya mengambil map yang berwarna merah itu.
Mereka langsung terkejut saat melihat isi dari benda yang mereka periksa. Mereka saling bertatapan dan tersenyum bahagia.
"Akhirnya kita dapat bukti dari kejahatan Putri."
"Iya dan di dalam sini bukti itu sangat detail dan pastinya pihak kepolisian pasti tidak akan ragu lagi."
"Ternyata ibu-ibu itu adalah asisten pribadinya sekaligus Perawat yang sangat mengetahui kondisi kesehatan dari putri luar dalam."
"Kamu dapat semua bukti ini dari mana?" tatapan ke empatnya langsung tertuju pada Arya.
Sedangkan yang ditatap malah duduk santai saja dan tersenyum penuh arti ke arah mereka.
"Kalian tidak perlu tahu, karena kalau Aku jelaskan awal aku mendapatkan semua bukti itu pasti butuh satu bab BDP lagi khusus untuk perjelasan itu saja."
"Pasti akan ada readers yang komplen kok diulang lagi sih kk."
"Mantul banget perkataanmu Dimas."
............
Alhamdulillah, hari ini bisa update 1 bab walaupun satu Minggu ini jadwal RL Sangat padat.
MAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA TERHADAP BERTAHAN DALAM PENANTIAN.
Tetap berikan Dukungannya kepada BDP dengan Cara Like setiap episodenya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏
Semoga masih ada yang minat baca semua Novel receh Fania, dan Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg lain Kakak 🙏
Makasih banyak 🥰
...********To Be Continued********...
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Rabu, 24 Mei 2022