Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB 282. Pertemuan Setelah Lima Tahun


__ADS_3

Happy Reading..


Jatuh cinta itu mudah dan tanpa biaya, tapi untuk melanjutkannya menjadi keluarga yang sejahtera dan bahagia tidak mudah dan tidak murah...


Awalnya tujuan Arya setelah dari tempat pertempurannya yaitu langsung ke Rumah Sakit DA tapi, karena adanya telpon dari Arman yang meminta tolong padanya untuk segera menjemputnya di Airport.


Setelah dari Bandara, Arya dan yang lainnya segera berangkat ke RS. Kondisi Karina yang mabuk perjalanan saat pulang dari Dubai ke Indonesia.


"Gimana keadaanmu sayang?, tanya Arman kepada Karina yang sudah duduk menunggu gilirannya untuk diperiksa.


"Kepalaku masih agak puyeng sih Mas, tapi sudah ga mual lagi," jawab Karina.


Arman memijit tengkuk lehernya Karina. Karina yang diperlakukan seperti awalnya merasa malu dan tidak ingin diperlakukan seperti itu oleh Arman, apa lagi banyak pasang mata yang memandangnya.


"Gak usah mas, Aku gak mau merepotkan Mas," ucap Karina yang menolak dirinya dipijitin oleh suaminya.


"Tidak apa-apa kok sayang, lagian Mas juga gak ada kerjaan, masa mas hanya duduk nungguin Kamu seperti patung," ujarnya.


"Tapi, Mas mereka pada polototin ke arah kita Mas, Karina jadi serba salah," ucap Karina yang lagi-lagi menolak apa yang dilakukan oleh Arman.


"Egp dengan mereka semua, emangnya salah kalau perlakukan istimewa istri sendiri, lagian menurut Mas hal yang Mas lakukan adalah romantis, dan Kamu bersyukur karena ada suami di Samping Kamu yang selalu merhatiin Kamu," ucap Arman yang masih melanjutkan pijitannya.


"Kalau gitu lanjutkan saja Mas, Kepala Karina juga puyengnya sudah berkurang selama Mas pijit," ucap Karina.


"Alhamdulillah kalau gitu," ucap Arman.


Mereka masih terus mengantri hingga Karina merasakan jenuh dan bosan hingga memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekitar area Rumah Sakit.


"Mas temani Karina ke depan yuk," ucap Karina yang mengajak Arman untuk menemaninya jalan-jalan.


"Baik Sayang, lagian antriannya juga masih lama," tutur Arman.


Sebenarnya mereka tidak perlu repot-repot untuk mengantri saat mereka akan memeriksa Karina ke Dokter. Tapi, mereka selalu membiasakan budaya antri, budaya antri adalah budaya cerminan bangsa Indonesia.


Kecuali kalau emang tidak orang yang antri sebelum mereka datang, Pasti mereka akan dilayani terlebih dahulu dari pada yang lain.


Baru beberapa langkah dari UGD, ke dua pasang matanya Karina terbelalak melihat orang yang berada di dalam kamar perawatan khusus. Pintu Kamar itu terbuka sebagian sehingga memudahkan siapa pun yang melewati jalan itu pasti akan melihat dengan jelas kondisi dari semua isi ruangan itu.


Karina mematung ditempatnya, hanya air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya. Arman tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan istrinya.


"Karina hey, apa yang terjadi padamu sayang, apa Kamu baik-baik saja?, tanya Arman yang mulai khawatir dengan keadaan Karina.


Karina hanya menunjuk ke arah dalam kamar tersebut,Arman melihat ada Arya, Anton Bachrul dan Andrew Parker. Dan seorang Ibu paruh baya yang sedang duduk di atas ranjang Rumah Sakit.


"Maksudnya Arya?" tanya Arman.

__ADS_1


Karina masih tetap menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Anton, Andre," tanya Arman lagi.


Karina semakin menggelengkan kepalanya, dan tangisannya semakin menjadi saja.


Karina menutup mulutnya lalu berjalan ke arah dalam kamar itu. Arman hanya mengikutinya dari belakang. Pintu ruangan terbuka lebar, semua orang yang berada di dalam mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


"Anton apa kamu lupa untuk menutup dan mengunci rapat pintunya?" tanya Arya yang belum menyadari kalau yang masuk itu adalah Arman Abangnya sendiri bersama dengan istrinya.


Karina semakin menangis dan berjalan terus ke arah ranjang rumah sakit.


"Abang Arman ini bukan tempat yang harus istrimu datangi, tolong bawa istri Abang segera keluar," ucap Arya yang tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan.


Awalnya Arya hampir saja berhasil menyelesaikan rekamannya saat bertanya beberapa hal penting pada Ibu Sumartini, tapi karena pintu yang terbuka lebar dengan bunyi yang cukup nyaring sehingga ketenangan dari Ibu Sumartini terganggu dan kembali mengamuk lagi.


Karina semakin mendekati ibu Sumartini dan tanpa ada yang menduganya, Karina langsung memeluk tubuh ibu Suhartini.


"Abang Arman tolong jauhkan Karina dari ibu ini, Kami takut jika ibu ini mengamuk dan bisa membahayakan keselamatan dari Karina," jelas Arya saat Karina sudah berada di belakang ibu Sumartini.


"Bibi, ke mana saja, apa bibi lupa dengan Ibu dan Kami keponakan Bibi," ucap Karina yang semakin histeris dalam tangisnya.


Karina memeluk erat tubuh dari adik dari mendiang ibunya itu. Sudah hampir lima tahun bibinya itu tidak pernah pulang, dan ada yang mengatakan Bibinya menjadi TKW di luar negeri.


Dulu Bibinya lah yang selalu membantu masalah ekonomi keluarganya, dan dalam sebulan selalu mengirimkan uang untuk ibunya sebagai biaya untuk berobat dan biaya hidup Karina dengan ke dua adiknya.


Postur tubuh Bibi Sumartini dahulu tidak seperti sekarang ini, dahulu lebih berisi dan tinggi putih dengan wajah yang dirawat, tapi penampilan Bibinya sekarang sangat jauh dari kata baik-baik saja.


Awalnya Bibi Sumartini mendorong tubuh Karina sehingga Karina hampir saja terjatuh ke Lantai Untung ada Arman yang segera bergerak cepat untuk menolongnya.


"Dokter!! teriak Arya.


Dokter segera berjalan ke arah mereka dan menyiapkan suntikan dan beberapa obat penenang. Dokter saat Ingin menyuntikkan obat tersebut, Karina langsung berlari dari pelukan Arman untuk mencegah suntikan tersebut.


"Stop!!, Dokter jangan berikan lagi suntikan itu, kasihan Bibiku Dokter," ucap Karina yang berteriak ke arah Dokter, agar dokter segera menghentikan apa yang dia lakukan.


"Karina apa kamu sadari apa yang Kamu lakukan ini? Kalau gini Kamu seperti sengaja untuk membahayakan kesehatan dan keselamatan kamu di tangannya," suara tegas dari mulut Arya membuat Ibu Sumartini bereaksi di luar kendali mereka.


"Hey Tuan Muda jangan meneriaki keponakanku, dia itu tidak budek jadi tidak usah berteriak ke arah sini," ucapan Ibu Sumartini membuat semua orang yang berada di sana shock dan terkejut dengan ucapan darinya.


"Bibi apa sebenarnya yang terjadi pada Bibi, apa Bibi sudah melupakan Kami yang selalu menunggu kepulangan bibi," ucaip Karina.


Karina sangat Sedih melihat kondisi Bibinya yang sangat jauh berbeda dengan terakhir mereka bertemu sekitar lima yang lalu.


Ibu Sumartini pun akhirnya membalas pelukan keponakan paling disayanginya itu, Bibi Sumartini kah dahulu yang menggantikan posisi Bapaknya waktu meninggal dunia dulu. Karina jadi anak yatim saat masih berumur 1 tahun, dan disaat itu lah dirinya diasuh oleh Bibinya, tapi sekitar delapan tahun Lalu dirinya memutuskan untuk menjadi TKI di Luar negeri.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Bibi, Bibi baik-baik saja kan?" tanya Karina yang memegang ke dua pipi tirus bibinya itu.


"Maafkan Bibi Nak, ini semua terjadi gara-gara Putri yang tega membuat Bibi menderita, bahkan putri sering kali menyiksa Bibi dan rekan Bibi yang lain," ucapnya.


Bibi Sumartini seakan-akan menerawang jauh saat awal peristiwa yang membuatnya harus di hukum dan di masukan ke dalam Penjara bawah tanah dan mereka dijadikan seperti binatang.


Bibi Sumartini pun mulai bercerita tentang kehidupan mereka selama bekerja dengan Nona Putri yang psikopat, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Arya untuk merekam suara dan mengambil gambarnya melalui handycam yang dipegang oleh Anton.


Arya memberikan kode kepada Dokter untuk menyimpan dan menyingkirkan semua obat-obatan yang seringkali diberikan kepada Ibu Sumartini jika sedang kacau dan memberontak.


"Akhirnya kita dapat bukti yang lebih kuat lagi dan bisa menambah bukti-bukti lainnya yang kita dapatkan sebelumnya, Putri bersiaplah esok adalah terakhir kamu menghirup udara bebas."


"Bos apa cukup bukti yang Kita ambil dari Ibu Sumartini atau lanjutkan dan sebanyak-banyaknya," tanya Andre.


"Iya Stop, Ini sudah lebih dari cukup dan ingat simpan baik-baik semua bukti yang Kita peroleh saat ini, dan jagang lupa untuk membuat duplikat dari bukti ini sebanyak-banyaknya," perintah Arya kepada Andre.


"Sungguh Kasihan melihat kondisi dari bibinya Karina, Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, apa lagi gara-gara Putri Alan harus dioperasi dan membuat Hyuna jadi janda sesaat."


"Arya kita tidak boleh membiarkan Putri dengan seenaknya hidup dengan santai dan bebas sedangkan banyak orang di luar sana yang menderita gara-gara kelakuannya," ucap Arman yang tersulut emosinya setelah mendengar penjelasan dari Bibi Sumartini.


"Besok adalah pesta pernikahan Putri dan besok adalah waktu yang paling tepat untuk membongkar kejahatan Putri."


"Itu ide yang bagus, Abang akan bantu Kamu untuk melakukannya apa pun yang Kamu butuhkan Abang akan berikan," tutur Arman.


"Dokter berikan perawatan yang terbaik untuk Ibu Sumartini dan pindahkan beliau ke dalam kamar VVIP," titah Arya Wiguna Albert Kim Said.


"Apa harus menambah pengamanan di sekitar ruangan tersebut Bos?" tanya Andre.


"Bukan hanya ruangan itu saja, tapi semua sekitar Keluargaku Kamu tambah personil baru untuk menjaga keamanan mereka, Saya yakin Putri pasti sudah menyadari dan mengetahui kalau Kita sudah mengetahui kejahatannya," ucap Arya.


"Perintah dilaksanakan."


Akhir dari kisah hidup Putri tinggal menghitung


dalam hitungan jam saja. Segala rencana danpersiapan mereka sudah lakukan.


Makasih Banyak adalah Kata Yang Tidak Ada Habisnya Fania ucapkan kepada Readers yang selalu setia mendukung BDP dari awal hingga sekarang.


Hanya kata Makasih banyak yang Mampu Fania berikan untuk kalian 🥰😘🙏.


Bagi yang Punya Poin atau Koin silahkan berikan Giftnya seikhlasnya biar Fania semakin semangat Untuk Update lagi ✌️


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Jum'at, 27 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2