
Happy Reading..
Setiap jiwa dan setiap individu memiliki takdir dan garis tangan yang berbeda-beda. Dan setiap jiwa yang masih berpijak di muka bumi pasti akan menghadapi namanya pasang surut kehidupan. Ujian dan cobaan silih berganti akan mewarnai kehidupan. Begitu pun halnya dengan tawa bahagia pasti akan datang ke dalam hidup semua manusia.
Tapi kadang ada kalanya hidup kita diuji oleh Allah SWT dengan cobaan yang membuat Air mata berderai. Tapi, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan memberikan kalian ujian jika kalian tidak mampu untuk menanggungnya.
Kebahagiaan akan hadir dalam hidup kalian dan itu pasti. Dan jangan beranggapan bahwa kebahagiaan itu diukur dari seberapa banyaknya materi atau pun uang yang kalian peroleh. Karena banyak di luar sana yang keluarganya bahagia tanpa ada uang atau pun kekayaan.
Arya Wiguna Albert Kim Said, Aditya, Dimas dan Adrian yang baru sampai dari Inggris. Wajah mereka tampak tegang, bahkan senyuman pun untuk saat itu akan mengjauh dari wajah mereka saking seriusnya mereka menunggu hasil dari upaya yang dilakukan oleh Aditya untuk menerobos masuk ke sistem keamanan orang yang kemungkinan besar adalah dalang dan otak dari beberapa masalah yang mereka hadapi.
"Apa yang terjadi Aditya?" tanya Arya.
"Iya Aditya, katakan kepada kami, kami sangat khawatir melihat dari raut wajahmu itu" timpal Adrian.
"Apa mungkin Aditya tidak berhasil?" Dimas menerka apa yang terjadi.
Sedangkan Aditya yang dicerca berbagai pertanyaan hanya serius menatap tajam ke arah laptopnya sudah berada di dalam pangkuannya.
"Baru kali ini aku mendapatkan lawan yang sepadan, mereka tidak semudah itu untuk dikalahkan bahkan mereka memperkuat pertahannya, tapi bukan Aditya kalau tidak berhasil lolos ke dalam keamanan mereka" jawab Aditya.
Dimas mengambil tissue lalu melap peluh keringat yang bercucuran dari wajahnya Aditya.
"Makasih" ucap singkat Aditya.
Pak Hendry yang awalnya ingin berangkat ke Perusahaannya terpaksa harus menundanya dan memilih untuk mengantar istrinya ke kediaman Utama Keluarga besar Wiguna Albert Kim Said.
"Mas tidak masalah kan kalau Mas antar Mama ke sana?" tanya Mama Elisabeth yang tangannya sudah bergelantungan di lengan Pak Hendry.
Pak Hendry langsung berhenti dan memegang ke dua pipi Mama Elisabeth.
"Apa pun Mas akan lakukan kalau itu kamu yang minta dan walaupun nyawa ini yang menjadi taruhannya" ucap Pak Hendry dengan wajah yang sangat serius.
Mama Elisabeth langsung menutup mulut suaminya menggunakan jarinya. Dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu lagi Mas, Mama tidak ingin mendengar perkataan kamu yang seperti itu lagi, cukup Mas Wiguna yang meninggalkanku untuk selamanya, ku mohon jangan lagi, Aku tidak mampu untuk hidup tanpa kamu Mas" ucap Mama Elisabeth yang langsung memeluk tubuh tegap jangkung suaminya itu.
Pak Hendry membalas pelukan dari istrinya. Bahkan Pak Hendry sudah menenggelamkan kepalanya keceruk leher jenjang Istrinya yang ditutupi oleh hijab.
"Insya Allah Papa akan selalu berada di sampingmu hingga akhir waktuku, Saya sangat bahagia memiliki dirimu, kamu telah memberikanku kesempatan dan waktu untuk memperbaiki diriku yang terlanjur banyak dosa ini, tapi kamu dengan kesabaran dan ketulusanmu telah membimbingku dan menjadikan Aku manusia yang lebih baik lagi" terang Pak Hendry.
"Cintamu yang membuatku bisa melakukan hal itu semua Mas, jadi Mama mohon jangan pernah berbicara seperti itu lagi, Mama tidak sanggup Pa" ucap Mama Elisabeth.
Sedangkan di dalam ruangan perawatan Alan Pardew Said, Hyuna dengan telaten membersihkan dan membasuh seluruh tubuhnya dengan kain basah yang sebelumnya Hyuna basahi dengan air hangat dicampur sedikit sabun mandi cair.
Alan tidak berkedip menatap wajah Hyuna yang dimatanya semakin cantik saja.
"Sayang gimana kabarnya Juna putraku?" tanya Alan setelah selesai dipakaikan pakaian pasien.
"Alhamdulillah baik Mas, Arjuna selalu merengek meminta bertemu dengan daddy-nya, tapi aku selalu bilang untuk menyuruhnya bersabar menunggu kepulangan Mas" ucap Hyuna.
"Aku juga sangat merindukan putraku itu, Aku belum sempat menggendongnya hingga detik ini" ucap Alan.
"Apa Mas akan langsung pulang ke rumah atau mau beresin urusan mas dahulu dengan di wanita psikopat itu?" tanya Hyuna dengan wajah yang sudah berubah serius.
"Ternyata perempuan itu tidak semudah yang aku bayangkan, Aku kira dua perempuan yang tidak berbisa dan berbahaya, tapi dugaanku meleset" ucap Hyuna yang bergidik ngeri membayangkan sikap dan tempramen Putri.
"Intinya mulai dari sekarang kita semua harus hati-hati dan jangan lengah sedikit pun karena kapan kita lengah mereka akan memanfaatkan keadaan dan mencari kesempatan untuk menyerang balik" tutur Alan.
"Aku akan selalu mendukung semua keputusan dan langkah yang Mas tempuh dan Hyuna hanya bisa bilang semoga berhasil dan selalu lah berhati-hati entah kenapa Hyuna ada feeling yang tidak baik tentang ini semua" ucap Hyuna sendu.
Sejak kemarin merasakan ada sesuatu yang dia rasakan yaitu firasat buruk tapi Hyuna tidak ingin berlarut larut dalam feeling-nya itu. Dan selalu berfikiran positif saja.
Hyuna langsung tersentak kaget dengan perlakuan dari suaminya yang tanpa aba-aba langsung menyerang Hyuna dengan sentuhan yang memabukkan. Hyuna semakin menggelinjang kegelian saat tangan dan jemari Alan sudah memainkan dua asset milik Hyuna yang selalu menjadi tempat favorit Alan.
Kondisi Alan yang semakin membaik membuatnya semakin leluasa untuk bergerak. Satu persatu kancing baju Hyuna sudah terlepas, pengait yang menutupi dua gunung Fuji pun sudah terlepas sehingga semakin membuat Alan kian tertantang untuk melakukan hal yang lebih pada istrinya.
"Mas ingat mas itu masih sakit loh, Hyuna gak ingin menambah sakit Mas" ucap Hyuna yang sebenarnya pertahanannya hampir runtuh.
__ADS_1
"Aku sudah sehat loh sayang dan mampu melakukannya hingga berkali-kali pun Mas akan lakukan" ucap Alan yang sudah mempermainkan benda kenyal nan montok itu. Gunung Fuji berhasil menyihir Alan hingga lupa di mana dia sekarang berada.
"Aaahh sayang Mas pengen punya baby girl jadi kita jangan tunda-tunda lagi, Mas tidak bisa menahannya setiap kali ada di dekatmu" ucap Alan yang sudah terbakar gelora asmara yang kian membuncah.
"Aahh, tapi pelan-pelan yah Mas" ucap Hyuna yang sudah setengah duduk dan kakinya berselonjor ke bawah hingga menyentuh ke Lantai.
"Kali Mas yang akan memandu dan memimpin jalannya pertandingan yang semoga hasilnya gol yah sayang" ucap Alan yang sudah tidak jelas suaranya karena sudah emmut dua pucuk gunung Fuji yang nampak kemerahan itu.
Alan kali ini yang menjadi leaders dan benar-benar bertindak sebagai pemimpin yang memimpin jalannya pertandingan, bahkan membuat Hyuna kali ini dibuat berteriak kencang saking tidak kuasa menahan perlakuan Alan yang semakin berani.
Pengawal yang awalnya berdiri di depan kamar tersebut harus kembali menyingkir dan sedikit mengjauh karena takut jika harus terkontaminasi oleh suara-suara aneh yang bersumber dari dalam kamar Alan yang tidak kedap suara itu.
Alan dan Hyuna bagaikan pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu. Empat tahun Alan harus berpuasa dan menahan diri dari godaan. Bukan waktu yang singkat, Satu bulan saja untuk pria normal akan membuat dirinya seperti cacing kepanasan jikalau tidak menuntaskan semuanya, apa lagi empat tahun. Bahkan saking sayangnya dan kuatnya cintanya hanya untuk Hyuna seorang. Putri sudah bertelanjang hingga tidak ada sehelai benang pun yang melilit di seluruh tubuh seksinya, Tapi apa yang dilakukan oleh Putri ternyata sia-sia belaka. Tapi Alan menderita sehingga terpaksa harus bermain solo karir untuk menutupi apa yang dia rasakan saat itu.
..............
Makasih banyak FANIA Ucapkan Kepada semua Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada BDP 🥰.
Dukungan kalian Fania hanya bisa balas dengan ucapan saja 🙏.
Tetap Dukung Bertahan Dalam Penantian dengan cara Like Setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan.
Makasih banyak, Fania sayang kalian 🥰🥰.
Silahkan mampir juga ke Novelku yg lain yah ✌️
...********To Be Continued********...
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Kamis, 19 Mei 2022