Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 345. Tante Listie


__ADS_3

Happy Reading..


"Mas ada apa, siapa yang menelpon Mas?" tanyanya dengan ikut kebingungan sekaligus bertanya-tanya.


"Polisi Ma," jawabnya singkat.


"Ayok cepat angkat Mas, aku takut ada apa-apa lagi," ujarnya dengan raut wajah yang ketakutan.


"Apa!!! itu tidak mungkin pasti bapak salah orang?" tanyanya dengan penuh ketidak percayaan.


Delia ikut terkejut mendengar teriakan suaminya. Delia penasaran dan menunggu suaminya selesai berbicara dengan orang yang menelponnya itu.


"Baik Pak, Saya akan segera ke Kantor Polisi," jawabnya.


Arya segera berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Ayo Ma, nanti Mas akan jelaskan di dalam mobil," ajaknya lalu menarik tangan istrinya.


Arya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena tidak ingin terjadi sesuatu pada putra bungsunya.


Zidane ditangkap polisi saat baru pulang dari Kampusnya. Dengan tuduhan membawa kabur Istri orang lain. Arya geleng-geleng kepala jika mengingat perkataan dari kepala kepolisian.


"Apa yang terjadi Mas? sedari tadi Mas belum menjawab pertanyaanku," ujarnya.


"Ada yang melaporkan Zidane ke kantor polisi katanya Zi membawa kabur istri orang," jelasnya dengan senyuman tersungging di bibirnya.


Delia menutup mulutnya menggunakan ke dua tangannya.


"Itu tidak mungkin Mas, Zidane baru 18 tahun dan itu cewek istri orang lagi,aku yakin di sini adalah kesalah pahaman," jelasnya.


"Anakmu berani juga, menggoda perempuan yang sudah bersuami, apa anakku punya bakat untuk jadi pebinor yah," Arya senyum-senyum sendiri memikirkan ulah putranya.


Zidan memang tipikal cowok yang sangat berani mengambil resiko apa pun. Beda halnya dengan Zack Lee yang jika bertindak pasti penuh dengan pertimbangan apa pun.


Zidane tahun ini baru menginjak usia 18 tahun dan sudah semester satu. Usianya yang baru beberapa tahun itu tidak menghalangi dirinya untuk mencintai seorang perempuan yang dia cintai pada pandangan pertamanya.


Mobil Arya sudah terparkir di halaman depan kantor polisi. Dia dan Delia berjalan terburu-buru ke arah dalam kantor tempat keberadaan Zidane.


Sedangkan Zidane hanya duduk manis di hadapan Pak polisi tanpa ada kata yang meluncur dari bibirnya


Zidane sama sekali tidak takut atau pun gentar dengan gertakan dari polisi, menurutnya dia tidak salah apa pun. Yang salah adalah suaminya yang tidak ingin menceraikan istrinya yang sudah tidak tahan dengan perlakuan dan sikap dari suaminya.

__ADS_1


Sedangkan Pria yang melapor kejadian tersebut duduk di sebelahnya dan seakan-akan ingin menerkam dan menelan hidup-hidup Zidane.


"Apa pun yang bapak katakan sampai kapan pun Saya tidak salah dan yang salah tanya sama istrinya dia," jawabnya sambil menunjuk ke arah pria itu dengan kepalanya.


Tangannya terlipat ke depan dadanya, sedikit pun tidak ada rasa takut diwajahnya.


"Kamu itu masih sekolah,kalau pun dia cerai dengan suaminya Kamu akan kasih makan apa anaknya orang?" tanya Pak Polisi yang mengintrogasinya sedari tadi.


"Maaf pak saya bukan lagi anak sekolahan, saya sudah kuliah, kalau masalah makan pasti gak bakalan bisa makan kalau gua kerja, lagian bapak kenapa juga ngomongin masalah itu saya belum mau nikah," jelasnya.


"Kamu ngeles melulu sedari tadi, kalau Kamu memang tidak ada hubungan apa pun dengan istriku, kenapa istriku ada di dalam mobil Kamu?" tanyanya yang sudah semakin tersulut emosinya.


"Kau kan sudah bilang dari tadi kalau Kamu ingin tahu jawabannya dan kejelasannya tanya sama istrimu, aku kenal namanya saja kagak apa lagi punya hubungan sepesial."


Pak Polisi dan Pria itu menatap bersamaan ke arah tempat di mana berada perempuan yang cukup cantik di usianya yang sudah 31 tahun itu.


Perempuan itu hanya tersenyum saja, dan tidak ada rasa pusing atau pun marah dengan perkataan dari mereka


"Apa yang dikatakan oleh bocah itu sangat benar adanya, aku kabur dari rumah suamiku dan diam-diam masuk ke dalam mobilnya," jelasnya.


Pak polisi menatap balik ke arah suaminya si wanita.


Pak polisi menutup berkas perkara mereka yang sudah dia tandatangani.


"Jadi sudah sangat jelas kalau saya tidak bersalah sedikit pun, apa saya sudah bisa pulang Pak?" tanya Zidane.


"Silahkan Kamu boleh bisa pulang," jawabnya.


Zidane berdiri dari duduknya lalu langkahnya terhenti ketika melihat kedatangan ke dua orang tuanya.


Dia melangkahkan kakinya lalu segera meraih tangan kedua orang tuanya untuk dia cium punggung tangannya. Kebiasaan itu sering dia lakukan dan bahkan sudah menjadi rutinitas dan wajib dia lakukan setiap mereka bertemu.


"Ayah tidak usah masuk, semuanya sudah beres," tuturnya.


"Alhamdulillah kalau gitu, Mama sangat takut terjadi sesuatu sama Kamu nak," ucapnya Delia yang memeluk tubuh putranya.


Mereka belum pulang baru ingin, seorang wanita yang seksi dan cantik dengan wajah yang masih muda berjalan ke arah luar dan berpapasan dengan mereka.


Listie menatap ke arah Zidane dengan wajah yang seakan-akan meminta tolong kepada Zidane. Dia hanya bisa menatap saja tanpa harus mengucapkan perkataan sedikit pun.


Zidane menatap balik ke arah Listie tanpa kata juga. Hanya tatapan mereka yang saling beradu satu sama lain.

__ADS_1


Zidane awalnya ingin mengejar Listie, tapi langkahnya terhenti setelah melihat kedatangan dari Rio Ferdinand suami dari Listie.


"Kalau gitu kita pulang saja kalau semuanya sudah beres."


Mereka kemudian balik ke rumah kecuali Zidane dia kembali ke kampusnya karena masih ada mata kuliahnya yang harus dia ikuti hari ini.


Dia kemudian memutar balik mobilnya ke arah Kampusnya. Baru beberapa meter jarak yang dia tempuh tiba-tiba dia ngerem mendadak.


Ciiiiiittttttttttttttt...


Bunyi ban mobilnya cukup keras saat tiba-tiba berhenti yang bergesekan langsung dengan aspal.


Zidane tidak menyangka jika Listie sudah berada di dalam mobilnya seperti tadi.


"Tante!!, apa Tante ingin kita kembali ke kantor Polisi lagi haaaa?"


Zidane sangat terkejut setengah mati saat melihat siapa orang yang berhasil menyusup ke dalam mobilnya.


"Salah Kamu sendiri ganteng yang tidak mengunci mobil Kamu berarti tandanya itu Kamu mengijinkan aku untuk kembali naik ke dalam mobil Kamu," dengan tangannya mencolek dagu Zidane.


"Iihh singkirkan tangannya Tante, aku geli digituin," ujar Zidane.


Bunyi klakson mobil yang ada di belakang mereka yang saling bersahutan membuatnya mengehentikan perdebatan mereka.


Zidane buru-buru melajukan mobilnya ke arah tempat yang aman untuk dia parkirkan. Zidan ingin berbicara empat mata dan bertanya langsung kepada Tante itu. Dia ingin tahu apa tujuannya sedari tadi mengikutinya dan masuk ke dalam mobilnya. Dan Listie sudah punya suami yang sudah melaporkannya ke polisi.


"Diam di belakang!!, jangan macam-macam kalau tidak aku akan dorong Tante ke jalan," ancamnya.


Listi langsung terdiam mendengar perkataan dari Zidane yang cukup keras.


Mobil perlahan memasuki daerah Taman. Dia sudah mematikan mesin mobilnya, lalu berjalan perlahan ke arah Taman yang ada kursinya tanpa menunggu Lestie menyusulnya.


"Ganteng tunggu aku, apa Kamu gak kasihan sama Tante yang tidak bisa berjalan cepat seperti Kamu dan kalau Tante jatuh kan sakit," teriaknya yang berjalan mengikuti langkah kakinya Zidane.


Makasih banyak, tetap dukung BDP yah Kakak Readers.


...********To Be Continue********...


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Selasa, 05 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2