Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 255. Tesnya Menghilang


__ADS_3

Happy Reading..


Arya bergegas ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari Dimas. Arya juga menelpon Aulia dan meminta bantuan Aulia untuk menjaga dan memberikan keamanan serta penjagaan ketat terhadap Hyuna dan Rian.


"Apa aku harus menelpon Papa Hendry untuk meminta bantuannya saja yah?".


Arya tidak ingin terlalu mencolok dan membuat pasien serta keluarga Pasien dibuat terkejut oleh kejadian sedang terjadi di Rumah Sakit DA karena itu lah Arya membatasi Anak buahnya yang turun langsung untuk menjaga pengamanan selama Tes berlangsung di Laboratorium.


Arya pun segera menelpon ke Papa Hendry untuk meminta bantuannya untuk mengirimkan bantuan untuk memberikan keamanan kepada Hyuna dan Rian. Arya bergegas ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari Dimas.


"Papa akan mengirimkan anak buah Papa terbaik yang ada dan Papa akan segera ke sana" ucap Papa Hendry.


"Makasih Pa, Arya mohon secepatnya" ucap Arya yang sudah mematikan sambungan teleponnya.


Arya curiga jika kejadian hari ini adalah terjadi karena adanya campur tangan dari orang memiliki kekuasaan serta berhubungan dengan kematian Alan.


"Kenapa kejadian ini seperti ada yang sudah mengatur dengan baik dan Saya yakin jika dalang dibalik semua ini adalah orang yang punya kekuasaan, Tapi apa kah semua ini ada kaitannya dengan kematian dan penggalian jenazah Alan?".


Arya terus mengemudikan mobilnya hingga ke Rumah Sakit. Arya berjalan terburu-buru hingga Arya melihat langsung beberapa orang yang menyerang Dimas dan anak buahnya. Arya segera merekam kejadian tersebut dan mengirimkan langsung ke pihak kepolisian. Arya pun tidak sempat membuka chat yang dikirim Dimas sebelumnya ke nomor hpnya.


"Riko segera tutup semua akses jalan yang menuju Laboratorium dan jangan biarkan seorang pun masuk jika ada yang berani segera laporkan" teriak Arya dan menyimpan hpnya ke suatu tempat yang aman.


Anak buahnya sudah berjuang dan berusaha untuk mempertahankan map tersebut. Hingga karena Dimas tidak hati-hati membuat dirinya terkena tendangan hingga map tersebut terlempar pas di depan salah satu anggota penjahat yang bertopeng itu.


"Aaaahhhhh" teriak Dimas saat dadanya terkena tendangan yang cukup kuat hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.


Dimas mengerang kesakitan, dan bersandar di dinding. Orang yang bertopeng itu segera mengambil map tersebut dan tersenyum meremehkan ke arah Dimas, tetapi Arya tidak tinggal diam saja, Arya pun ikut bertarung menghadapi penjahat itu hingga mereka beradu kekuatan. Arya menyerang Orang tersebut tetapi semua serangannya berhasil ditangkis dan digagalkan hingga Arya mengambil bubuk racun dari dalam saku celananya yang sudah dipersiapkan olehnya.


Arya sudah terdesak dan anak buahnya pun yang ada tidak berdaya untuk membantunya karena mereka kalah dalam hal jumlah mereka. Arya menaburkan bubuk racun ke dua tangannya. Arya kembali menyerang orang tersebut yang sudah berjalan meninggalkan Arya.


Arya berlari ke arah orang tersebut dan langsung berusaha untuk menendang, tetapi orang tersebut ternyata menyadari langkah dari Arya. Orang tersebut pun menghindari tendangan Arya lalu memberikan pukulan langsung ke perut Arya, pukulan tersebut membuat Arya tersungkur ke lantai dan langsung batuk darah.

__ADS_1


"Kamu bukanlah tandinganku, kamu itu hebat jika berhadapan dengan rekan bisnis kamu" ucap Orang itu yang menginjak tangan Arya.


Arya tidak berteriak dan hanya berusaha untuk menahan sakitnya injakan kaki dari pria tersebut. Pria tersebut membuka topengnya yang membuat Arya terkejut dan tidak menyangka jika Orang tersebut adalah OB yang pernah bekerja di Perusahaan Ayahnya.


"Tidak usah kaget seperti itu, santai saja Bos" ucap Danu cahyono mantan OB yang dipecat tidak terhormat dari Perusahaan Sinopec Group karena telah mencuri beberapa komputer bersama ke dua sahabatnya dulu.


Arya berusaha meraih racun yang tersisa di saku celananya dengan sekuat tenaga dan terus menahan sakitnya tangannya yang semakin diinjak oleh Danu.


"Bersiaplah menunggu ajalmu" ucap Danu yang mengambil pisau dari dalam bajunya yang terselip di belakangnya.


Danu sudah mengarahkan pisaunya ke arah punggung Arya tepat mengarah ke jantungnya bersamaan dengan Arya berhasil mengambil bubuk racun tersebut. Arya langsung membalikkan badannya dan berguling sedikit dan langsung melempar bubuk racun tersebut tepat diwajah Danu. Arya memanfaatkan kesempatan tersebut dan langsung menendang tepat di perutnya Danu.


Pertempuran semakin sengit, walaupun dalam keadaan yang sudah terluka, Arya tidak ingin kalah karena jika kalah mereka akan kehilangan map tersebut. Arya meladeni permainan Danu yang juga tidak ingin kalah walaupun matanya sudah kesakitan karena terkena dengan bubuk racun.


"Dimas kejar orang itu sebelum mereka berhasil membawa kabur Map itu" teriak Arya.


Dimas tidak menanggapi perkataan dari Arya karena Dimas tidak kuasa menahan sakit di bagian dadanya.


Tapi sayangnya semua itu tertahan di bibirnya saja. Arya menghajar Danu tanpa ampun berkat bantuan dari bubuk racun andalannya. Danu pun sudah tidak berdaya. Arya pun berusaha berdiri baik dari posisinya karena Danu diserangan terakhirnya bisa berhasil mengenai kakinya. Arya berjalan tertatih ke arah Dimas. Arya membantu Dimas berdiri dan merangkul Dimas yang kesulitan untuk berdiri.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya yang sudah berjalan ke arah lain untuk segera membawa Dimas ke UGD rumah sakit.


"Jangan berharap kalian bisa keluar dari tempat ini dengan selamat".


Danu meraih pistol yang kebetulan ada di sekitar kakinya dan segera menarik pelatuknya. Arya dan Dimas menoleh ke arah belakang setelah mendengar suara ledakan dari pistol seseorang. Ternyata Danu ditembak mati oleh polisi.


"Maafkan kami datang terlambat Tuan Arya" ucap kepala kepolisian.


"Tidak apa-apa Pak" Ucap singkat Arya.


Arya dan Dimas melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan karena adanya suara tembakan.

__ADS_1


"Amankan semua orang yang berada di sini dan segera periksa yang masih hidup dan bawa segera ke UGD" perintah Kepala kepolisian.


"Baik Komandan" ucap Anak buahnya.


Polisi pun memberikan polis line di sekitar area Laboratorium. Pak Hendry dan rombongan anak buahnya baru juga tiba setelah Danu dan komplotannya berhasil ditembak mati oleh salah satu polisi.


"*Gimana perkembangan di Rumah sakit, Apa Danu dan yang lainnya tewas?".


"Iya Nona yang lainnya berhasil ditumbangkan dan tewas di tempat kejadian sedangkan Danu Aku perintahkan kepada anggota kepolisian yang berhasil kita sogok menembak mati Danu sebelum Danu ditangkap dan membuka mulutnya".


"Good, Aku suka kerja kalian, kamu antar map itu ke rumah lalu kamu ambil bonus kamu dan ingat jangan biarkan mereka curiga kalau Aku dalang dibalik semua ini, dan tetap awasi perkembangan dari Rian laporkan apa pun itu kepada saya".


"Siap Nona jalankan perintah*".


Arya dan Dimas sudah ditangani oleh tim dokter terbaik di rumah sakit DA. Pak Hendry sangat menyesal karena sudah terlambat datang, karena tiba-tiba ada pohon tumbang di jalan raya yang beliau lalui tadi, padahal tidak ada angin kencang, hujan atau pun badai lainnya.


"Maafkan Papa yang sudah datang terlambat" sesal Pak Hendry.


"Tidak apa-apa Pa, tapi Arya mohon jangan beritahukan sama Mama Elisabeth tentang keadaanku ini, Aku tidak ingin membuat Mama jadi khawatir" ucap Arya yang tangannya masih diobati oleh Dokter.


"Gimana dengan hasil tesnya?" tanya Pak Hendry.


"Kami tidak berhasil mempertahankan map itu sehingga penjahat itu berhasil membawa kabur dari tanganku". sesal Arya tidak bisa berbuat banyak.


"Kita akan memeriksa dan mengambil sampel ulang agar kita segera mengetahui apa itu jenazah Alan atau bukan" tutur Pak Hendry.


"Sepertinya itu sulit kita lakukan karena mereka berhasil menaruh obat ke tubuh jazad itu sehingga jazadnya segera membusuk dan menjadi debu dalam hitungan menit" terang Arya yang heran dengan kejadian tersebut yang membuatnya ingin mengecek dan mengetahui obat apa yang mereka berikan.


"Sepertinya lawan kita bukan orang sembarang, Papa hanya bisa bilang berikan pengawasan ketat kepada seluruh anggota keluarga di mana pun mereka berada, karena setiap saat kejahatan mengancam hidup kita semua" ucap Pak Hendry.


Dimas tidak sadarkan diri setelah disuntikkan obat bius dan terbaring di dalam kamar perawatan VVIP. Pintu terbuka dengan lebar dan masuklah seseorng yang tidak diharapkan kehadirannya oleh Arya. Arya dibuat tidak berdaya dengan kehadiran orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2