Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 171. Keadaan Darurat


__ADS_3

Happy Reading..


Arya ngomel-ngomel sambil mengutak Atik komputernya seperti emak-emak yang kehabisan stok minyak goreng saja. Rangga mencoba menghubungi nomor hp salah satu teman dokter Aulia yang kebetulan yang menangani penyakit Rangga dulu tapi hasilnya tetap sama.


Info terakhir yang mereka dapatkan, kalau Dokter Aulia baru saja mengoperasi pasiennya dan sudah pulang ke rumahnya beberapa jam yang lalu. Rangga semakin dibuat kelimpungan mencari keberadaan Aulia.


"Gimana kalau Saya dan beberapa anak buah Presdir langsung mencari keberadaan Aulia" ucap Rangga.


"Iya, silahkan tapi ambil beberapa jaket anti peluru dan pistol untuk jaga-jaga dan selalu lah menelpon ke nomorku apa pun yang terjadi" ucap Arya sambil menyerahkan benda yang dikatakannya di hadapan Rangga.


"Baik Bos" ucap Rangga dan segera berlari ke arah parkiran dan Tak Lupa memakai jaket anti pelurunya.


Rangga mencari lokasi tempat yang dimaksud Orang tersebut, tapi Rangga sudah mengelilingi sekitar jalan U tapi tidak berhasil menemukan lokasi gudang tersebut.


Arya menghubungi keluarga besarnya termasuk keluarga Aulia tentang kabar kehilangan Aulia. Mereka kaget dan segera mencari keberadaan dari Aulia. Arya pun menghubungi nomor hp Emre untuk segera datang ke kantornya. Arya tak lupa meminta bantuan kepada pihak berwajib walaupun selama ini Arya kurang puas dengan pelayanan dari Polisi.


"Aul, kamu di mana sayang, Kakak sangat khawatir dengan keadaanmu" ucap Rangga yang kemudian turun dari mobilnya dan mencari ke dalam gudang kosong.


Delia dan Rina sudah berada di lokasi pesta pernikahan salah satu teman kuliahnya dulu di jalan U tepatnya di salah satu Hotel ternama juga. Delia dan Rina menjadi sorotan dari semua tamu undangan, mereka takjub dengan perubahan penampilan dari Delia dan Rina. Bahkan banyak dari mereka yang meminta resep kepada mereka.


Delia hanya tersenyum menanggapi candaan dari temannya. Rina pun demikian mereka menikmati hajatan pernikahan tersebut. Rina dan Delia seperti biasa akan melupakan statusnya sebagai seorang istri presdir dari perusahaan ternama jika melihat makanan lezat. Mereka melahap dan menikmati aneka masakan yang ada di atas Meja prasmanan.


Sedangkan di tempat lain, di dalam sebuah ruangan yang gelap. Seseorang sedang meminta tolong, tapi karena mulutnya diikat dan ditutup kain, jadi dia tidak bisa meminta tolong. Tiba-tiba pintu terbuka dan lampu menyala, membuat matanya menjadi silau.


"Apa salahku kepadamu hah, sehingga kamu tega melakukan ini kepada ku?." tanya Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut keadaannya tidak berbeda dengan Aulia.


Pria tersebut di lempar ke dalam ruangan tersebut seperti karung goni yang berisi plastik bekas saja.


"Aaah sakit" keluh pria itu.


"Cepat tutup mulutnya agar berhenti mengoceh, Aku heran dia seorang pria tapi tidak mau diam untuk ngoceh mulu seperti burung pelatuk" ucap salah satu dari mereka yang bertubuh gempal, berisi dan tambun.


"Iya aku juga sudah pusing bahkan telingaku mau pecah gara-gara dengar di berbicara" ucap yang satu lagi sambil menutup mulut pria tersebut yang tubuhnya tidak terlalu besar lebih bagus lah dikit dari yang pertama.


Aulia kaget melihat siapa orang yang baru saja di lempar ke dalam ruangan tersebut. Aulia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, bahkan Aulia bertanya-tanya apa sih alasannya kenapa mereka tega memperlakukan mereka seperti itu.


"Lepaskan aku, Aku mohon pak, Aku tidak punya salah sama kalian" ucap Dokter Rizaldi yang tidak mau jika mulutnya diikat.


"Jika kamu tidak diam, aku akan memukulmu" ucap Si Tambun dengan nada suara yang besar.


Dokter Rizaldi pun langsung terdiam dan terduduk dan lantai marmer yang penuh dengan debu tanpa alas apa pun.

__ADS_1


Sedangkan Rangga masih saja belum menemukan titik terang keberadaan Aulia. Rangga sudah frustasi dibuatnya. Rangga bahkan sudah mulai mengumpat kepada orang yang telah tega melakukan hal ini.


Dokter Rizaldi baru menyadari bahwa bukan dirinya saja yang berada di dalam ruangan kotor tersebut tapi ada seorang lagi. Dokter Rizaldi pun kaget setelah melihat kalau orang itu adalah Dokter Aulia.


"Dokter Aulia" ucap Rizaldi yang ingin mendekati Aulia tapi tidak mampu karena tangan dan kakinya terikat dengan kuat.


"Apa yang terjadi sebenarnya di sini dan siapa yang berani melakukan ini kepada kita." tanya dokter Rizaldi yang sudah menyerah dengan keadaannya.


"Aku pun tidak tahu dokter, Karena setelah aku selesai mengoperasi pasien, aku pamit dan pulang ke rumah tapi sebelum aku naik ke mobil, tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulutku dan selanjutnya aku membuka mataku dan sudah berada di sini" ucap Aulia.


Dokter Rizaldi pun heran karena apa yang dilakukan dialami oleh Dokter Aulia sama persis dengan yang dialaminya.


"Apa dokter Aulia punya musuh atau masalah dengan orang lain??." Tanya dokter Rizaldi.


"Aku pun pasti akan bertanya seperti itu kepada dokter, Aku ingin meminta tolong tapi hp dan tasku entah jatuh di Mana". ucap Aulia yang sudah menyerah dengan keadaannya karena perutnya yang sudah lain-lain. Aulia belum sempat makan malam.


Beberapa jam kemudian, di saat mereka memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak yang lelah berfikir bahwa siapa yang tega melakukan hal itu. Pintu terbuka dan masuklah seseorang yang memakai topi, masker wajah dan memakai jaket tebal.


Orang tersebut langsung mengambil sebuah ember plastik yang besar yang berisi air dan es batu dan langsung menyiram ke atas kepala Rizaldi, Dokter Rizaldi pun langsung terbangun dan menggigil kedinginan.


"Dingin" ucap Rizaldi yang terbangun dari tidurnya.


Orang tersebut pun berjalan ke arah Aulia dan ingin menyiram air itu tapi Aulia menyadari kehadiran orang tersebut dan sebelum Air dalam ember tersebut membasahi seluruh tubuhnya, Aulia berusaha menggerakkan kakinya dan kemudian menendang ember itu, Sehingga air yang ada di dalam ember tumpah dan mengenai lagi Rizaldi. Rizaldi pun langsung berteriak.


Hal ini membuat orang tersebut murka dan langsung mengambil pisau dari dalam saku jaketnya. Dan langsung mengarahkan pisau itu di depan wajah Aulia.


Aulia sedikit pun tidak takut karena menurutnya semakin dirinya takut semakin membuat di lemah, walau pun di dalam hatinya sangat takut melihat pisau itu yang sudah menyentuh ujung hidungnya.


"Gimana rasanya jika pisau ini berhasil menyentuh dan menggores hidungmu atau aku pindahkan ke wajahmu yang cantik ini yang telah membuat Rizaldi tergila-gila kepadamu" ucap orang itu.


Aulia kaget dengan perkataan orang tersebut dan tidak mengerti maksudnya. Orang itu kembali mengarahkan Pisau itu kembali ke hidung mancung Aulia dan perlahan-lahan mengiris sedikit kulit hidung Aulia.


"Aauuhh" ucap rintihan Aulia.


"Sakit yah, itu baru seberapa bahkan sakitnya melebihi dari sakit yang aku rasakan" ucap Orang itu.


Dokter Rizaldi tidak ingin berbuat apa-apa atau pun tidak ingin berbicara karena takut jika dirinya jadi sasaran selanjutnya. Pria tapi penakut. Abang dokter Cemen loh Bang.


Sudah ada tetesan darah yang membasahi wajah cantiknya Aulia tapi Aulia terus berusaha untuk menahannya walau pun sakit yang dua rasakan.


"Ternyata kamu kuat juga yah" ucap Orang tersebut Tapi aku tidak ingin melukai wajahmu sekarang, aku harus menyelesaikan dengan pria yang ada di sana" ucap Orang tersebut sambil menunjuk ke arah Rizaldi.

__ADS_1


Orang tersebut langsung berjalan ke arah Rizaldi sedangkan dokter Rizaldi beringsut ke belakang sehingga tubuhnya terbentur ke dinding tembok.


"Tolong jangan lakukan itu padaku, ku tidak punya salah apa pun" ucap Orang itu.


"Baru segitu sudah takut dasar banci loh" ucapnya lagi.


"Aahhhhhhh sakit" ucap dokter Rizaldi.


Orang tersebut mengiris bagian wajah dokter Rizaldi dan bercucuran lah darah dari wajahnya.


"Hahahaha" tawa Orang tersebut menggema di seluruh ruangan itu.


"kalau begini tidak akan ada lagi cewek yang suka sama kamu bahkan cewek tersebut akan jijik melihat wajahmu, Aku sangat puas dengan hasil kerja dari pisau ini". terang orang tersebut sambil melap ujung pisaunya.


Orang tersebut kemudian berjalan ke arah Aulia lagi dan tersenyum penuh kelicikan dari wajahnya. Aulia pun bergidik ngeri melihat kondisi dari Dokter Rizaldi yang tidak henti-hentinya mengeluh dengan keadaannya.


Sedangkan Di Hotel M, Delia dan Rina masih asyik menikmati berbagai macam masakan khas Indonesia. Rina sudah tidak mampu untuk mengisi perutnya lagi dengan berbagai makanan. Sedangkan Delia entah kenapa tiba-tiba perutnya mules. Delia pun meminta ijin kepada Rina untuk ke Toilet.


Delia pun perlahan berjalan ke arah toilet tapi dirinya dibuat heran Setelah melihat ada beberapa orang yang berpakaian hitam membawa ember yang berisi air dan es batu. Delia kepo dengan aktifitas orang tersebut, akhirnya Delia memutuskan untuk mengikuti arah jalan orang tersebut.


Delia membuka sepatu hak tingginya dan berjalan mengendap-endap agar kehadirannya tidak diketahui oleh orang tersebut. Mereka menyusuri lorong yang gelap. Delia berjalan menggunakan instingnya. Delia mengingat waktu dia masih tinggal di Desa T.


Dan tidak jauh dari tempat Delia bersembunyi, Delia mendengar suara orang yang berteriak meminta tolong. Delia pun semakin mempercepat langkahnya dan sampai lah di depan pintu ruangan tersebut. Untung saja pintu tersebut tidak terkunci.


Aulia pun sudah meneteskan Air matanya dan keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Karena takut dengan apa yang akan dilakukan oleh orang tersebut. Pisau itu sudah berada di depan wajah Aulia dan tinggal beberapa centi lagi pisau itu akan berhasil mengiris kulit wajah Aulia. Tiba-tiba dari arah tak terduga melayang sebuah botol mineral.


To Be continued..


Kasihan dengan Nasib Rizaldi dan siapa yang melempar botol mineral tersebut.🤔🤔🤔.


Yang penasaran dengan kelanjutan di tunggu update selanjutnya yah..✌️🤗.


FANIA Ucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers yang telah memberikan dukungannya kepada BDP dalam bentuk apapun 🙏🙏😘🥰.


Alhamdulillah hari ini Fania udah update 4 Bab..


Moga target 60k bisa 💪💪.


Makasih banyak 🙏🙏.


By FANIA Mikaila AzZahrah.

__ADS_1


Makassar, 14 Maret 2022.


__ADS_2