
Happy Reading...
Mama Elisabeth duduk di balkon kamarnya setelah melaksanakan shalat isya sekaligus shalat tarawih di Masjid. Mama Elisabeth merasakan kerinduan dengan anak-anaknya dari Wiguna. Mama Elisabeth berharap ke dua Anak perempuannya mengerti dan menerima semua keputusan dan kenyataan yang ada.
Deru mesin mobil membuyarkan lamunannya. Mama Elisabeth segera menatap ke arah sumber suara. Mama Elisabeth melihat Arman yang keluar dari mobilnya dengan langkah gontai dan sempoyongan. Kadang langkanya tersandung yang membuat dirinya terjatuh ke atas rumput. Mama Elisabeth yang melihatnya langsung berlari ke arah bawah dan segera membuka pintu Rumahnya. Mama Elisabeth melihat Arman seakan-akan beliau melihat Arya.
Mama Elisabeth segera membantu Arman untuk bangkit dari tidurnya di atas rumput yang hijau.
"Apa yang terjadi padamu nak, kenapa kamu bisa berbaring di atas rumput, di sini itu kotor dan cuacanya dingin" ucap Mama Elisabeth yang khawatir melihat kondisi dari Arman.
"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku, dan tidak usah sok perhatian kepadaku karena perhatianmu itu palsu dan hanya menginginkan pujian dari papa" ucap Arman yang kembali membentak Mama Elisabeth dengan perkataannya yang sangat kasar dan menepis tangan Mama Elisabeth di atas tangannya.
Karena Arman menyingkirkan tangan Mama Elizabeth dengan kuat membuat tubuh mama Elisabeth terhuyung ke belakang dan langsung terduduk di atas rumput.
"Ya Allah kuatkan hatiku, seperti ini ternyata rasanya diperlakukan kasar oleh anak kita, ya Alloh ampunilah segala dosaku dan bukakanlah pintu hatinya untuk segera berubah" ucap Mama Elisabeth sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Nyonya tidak apa-apa kan?." tanya Security yang melihat langsung kejadian itu.
"Makasih pak, Aku baik-baik saja kok ,tidak ada yang terluka" jawab Mama Elisabeth.
"Maafkan tuan muda yah Nyonya, mungkin karena selama ini dipikirannya semua ibu itu sama jahatnya" ucap lagi Security itu.
"Maksudnya Pak, Aku tidak mengerti?." tanya Mama Elisabeth.
"Tua muda itu bukan anak kandungku Tuan besar, sejak kecil dia besar tanpa kasih sayang dari seorang ibu dan sewaktu kecil Arman sering mendapatkan perlakuan kasar dari istri ke dua tuan besar, setiap hari disiksa tapi kami tidak ada yang berani berkomentar atau pun mengusik kelakuan ibunya dulu, tapi jika Pak Hendry berada di rumah maka tuan Muda disayang dan dimanja bahkan jauh dari kata disiksa tapi jika Bapak pergi kerja maka Arman kecil akan ketakutan dan disiksa hingga Arman berteriak" ucap pak Malik Security Pak Hendry yang sudah bekerja sejak Arman masih bayi.
"Ya Allah pantas saja Arman bersikap seperti itu dan sangat membenci seorang Ibu" ucap Mama Elisabeth yang tidak menyangka bahwa selama Ini Arman sangat menderita.
"Hal itu berlangsung hingga Arman berusia 7 tahun, dan penyiksaan tersebut berakhir ketika Mamanya Arman istri ke dua dari Pak Hendry ketahuan selingkuh dan disaat itu pula Arman tidak lagi disiksa tapi karakter Tuan muda Arman menjadi arogan, kasar dan egois" Ucap Pak Malik lagi.
Arman berjalan masuk ke dalam rumah dan kadang kakinya terbentur oleh ujung kursi yang membuatnya kembali marah-marah bahkan mengumpat.
"Sampai kapan pun kau tidak akan menerima kehadiranmu di rumah ini, dan bagiku kamu bukanlah Istri dari Papaku" teriak Arman yang sudah terbaring di kursi tamu.
Mama Elisabeth memerintahkan kepada para Security untuk membantu membawa Arman ke dalam kamarnya dan Mama Elisabeth tetap membantu Arman untuk melepas sepatu Arman dan membuka pakaian Arman yang sudah kotor penuh dengan noda muntahannya.
Pagi harinya, Arman terbangun dari tidurnya dan heran dengan pakaiannya yang sudah terganti dengan pakaian tidur. Arman berjalan ke arah kamar mandi karena akan berangkat kerja, dan setelah berpakaian Arman berjalan ke arah dapur dan sudah duduk di kursi tapi sampai beberapa menit kemudian makanan tidak datang.
__ADS_1
"Pak Ade..." teriak Arman yang sudah tidak sabaran menunggu Kedatangan pak Ade kepala koki rumahnya.
Pak Ade berlari tergopoh-gopoh setelah mendengar namanya dipanggil.
"Ada apa tuan Muda?." tanya Pak Ade yang menunduk dan takut jika melakukan kesalahan.
"Ada apa haaaa katamu, lihat jam di dinding sekarang sudah jam 10 tapi, tidak ada satu pun makanan yang tersedia di meja, apa kamu ingin membunuhku??." hardik Arman yang sudah sangat emosi karena sudah lapar.
Pak Ade takut berbicara dan Jika salah ujungnya kerjaannya yang jadi taruhannya dan bisa dipecat.
"Maaf tuan Muda semua orang lagi puasa jadi kami tidak masak makanan setiap pagi" ucapnya lagi.
"Aaaaaapa kamu bilang apa itu puasa dan sejak kapan orang di rumah sini puasa???." tanya Arman dengan suara yang menggelegar dan memenuhi seluruh ruangan.
Mama Elisabeth yang mendengar teriakkan dari Arman langsung berjalan ke arah sumber kegaduhan. Dan menatap ke arah pak Ade untuk tenang dan sabar menghadapi Arman.
"Apa yang terjadi di sini?." tanya Mama Elisabeth yang pura-pura tidak tahu asal dan penyebab Arman marah-marah.
"Untuk apa Kamu kesini kehadiranmu tidak diharapkan di sini" ucap Arman.
"Ada apa pak Ade tolong jelaskan kenapa tuan Muda marah dan berteriak seperti orang yang kebakaran jenggot saja?." tanya Mama Elisabeth sambil duduk di hadapan Arman.
"Aku yakin pasti ini semua gara-gara ulahmu semenjak kedatangan mu di rumah ini semua peraturan berubah dan harus sesuai dengan aturanmu" ucap Arman yang menggebu-gebu.
"Terus kamu marah, kamu mau protes atau kamu mau apa??." tanya mama Elisabeth yang santai menghadapi sikap Arman.
"Aku ingin Makan tapi sedikit pun tidak ada makanan di meja apa kamu ingin membuat aku Mati kelaparan" jawab Arman.
"Oooh Hanya Karena gara-gara itu saja kamu sudah berteriak dan menghardik pak Ade, aku kira ada apa, karena semua sudah hadir di sini aku ingin menyampaikan sesuatu hal pada kalian mulai hari ini tidak ada yang memasak makanan jika jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi sampai jam 4 Sore, nanti jam setengah lima baru ada aktifitas memasak di dapur dan dan jika ada yang ingin masak harus sesuai persetujuanku Jika ada yang melanggar maka kalian boleh angkat kaki dari sini" ucap Mama Elisabeth panjang lebar.
Arman langsung berdiri dari duduknya dan mengambil gelas kaca lalu melemparnya ke sembarang arah. Mama Elisabeth langsung menutup telinganya. Sedangkan Maid dan yang lainnya hanya terdiam dan takut. Mereka hanya terdiam dan menjadi saksi perdebatan mereka.
"Jangan berharap kamu sudah menang dan sampai kapan pun kamu itu bagiku hanya orang yang menumpang di rumah ini, camkan itu baik-baik" Ucap Arman sambil menunjuk wajah Mama Elisabeth.
Arman berlalu dari hadapan mereka dan berjalan ke arah pintu. Arman mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membunyikan klakson mobilnya dengan keras.
"Sial, kenapa hidupku jadi begini, selama dua menikah dengan papa aku semakin tidak betah dan tenang tinggal di rumah" ucap Arman lalu memukul setir mobilnya.
__ADS_1
Arman melajukan mobilnya tak tentu arah hanya mengikuti arah jalan saja. Sampai sore hari Arman hanya berkeliling kota M tanpa ada niat untuk mencari Resto yang terbuka atau kafe. Rasa laparnya hilang dikarenakan emosinya yang membuncah. Hingga tanpa sengaja Arman melihat Karina mengayuh sepedanya. Arman pun memelangkan laju mobilnya. Kemudian memperhatikan apa yang dilakukan oleh Karina. Arman tanpa sadar tersenyum ke arah Karina dan amarahnya langsung reda hanya melihat wajah lugu Karina.
Karina sedang melayani pembelinya. Karina jika tidak masuk bekerja Dia dan ibunya membuat kue jajanan dan membawanya berkeliling kampung dan beberapa kompleks perumahan yang dekat dari rumahnya. Karina mencepol asal rambutnya sehingga semakin cantik dipandang mata. Karina sibuk melayani pembeli yang semakin banyak mengelilingi Sepedanya.
Karina Ahmad adalah gadis yang terlahir dari keluarga kurang beruntung, Ayahnya sudah lama meninggal dan Ibunya kembali menikah tapi sayangnya suami dari ibunya pemalas dan suka judi bahkan suka mabuk-mabukan. Karina anak pertama dari tiga bersaudara. Dua Adiknya terlahir dari bapak sambungnya. Karina adalah gadis yang periang, mudah bergaul dan suka menolong orang lain. Usia Karina baru menginjak 20 tahun tapi cukup dewasa dan bijaksana dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Bapak tirinya yang sering pulang malam dalam keadaan mabuk tidak pernah ia risau kan kecuali jika bapak sambungnya itu berbuat yang tidak-tidak baru lah Karina menegur Bapaknya. Walaupun sering judi dan mabuk tapi Bapak sambungnya tidak pernah memukul dirinya, adiknya dan juga ibunya.
Arman berjalan ke arah Karina dan langsung memilih beberapa kue jajanan yang dijual oleh Karina. Karina menjual macam-macam kue takjil mulai dari kue yang dikukus hingga gorengan.
"Berapa harga kuenya?." tanya Arman yang memakai Maskernya.
"Harganya sebiji 2k pak" jawab Nikita.
"kalau semua berapa??"? tanya Arman lagi.
"500rb Pak" ucap singkat Karina.
"Bungkus semuanya lalu bagikan ke orang-orang yang ada di sana" ucap Arman lalu menunjuk ke arah banyaknya pengamen, pemulung maupun tukang Parkir jalanan.
"ini Uangnya, kembaliannya ambil saja" ucap Arman yang langsung berjalan cepat kembali ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dirinya tidak dikenali.
Karina menghitung jumlah uangnya dan ternyata jumlahnya lebih dari jumlah uang yang seharusnya Arman bayar yaitu lebih 500rb.
"Pak uangnya lebih" ucap Karina sambil berlari mengejar mobilnya Arman.
Tapi upaya yang dilakukan oleh Karina sia-sia saja. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
"Alhamdulillah Makasih banyak ya Allah" ucap Karina yang bersyukur karena dagangannya habis dan dapat bonus dari pembeli.
Karina lalu membungkus kuenya ke dalam kantong kresek kemudian membagikan kue tersebut pada orang yang dikehendaki oleh pembeli tadi.
"Semoga besok ada lagi yang membeli seperti orang tadi amin ya rabbal alamin' ucap Karina lalu mengemas seluruh perlengkapan jualannya lalu kembali ke rumahnya untuk segera bersiap ke Bar tempat kerjanya.
To Be Continued..
makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers all yang telah memberikan dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian BDP 🙏✌️🥰
Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Makassar 12 April 2022