Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 262. Kedatangan Aditya


__ADS_3

Happy Reading..


Lakukan apa pun yang kamu anggap itu baik, dan janganlah menunda suatu kerjaan jika kamu mampu untuk melakukannya, Tapi jangan pernah ada kata Andai jika kamu menemui kegagalan karena hal itu tidak akan membuat kamu untuk bangkit dan berjuang lagi, dan hanya akan menyisakan penyesalan yang tidak bertepi.


Rencana Pak Hendry dan Mama Elisabeth untuk mengetes DNA Rian dan Arjuna mendapatkan jalan yang lancar tanpa hambatan. Kali ini Dewi Fortuna berpihak kepada mereka, karena selama proses tes tersebut, keamanan dan kerahasian dari rencana tersebut sangat terjamin dan terjaga oleh anak buahnya Pak Hendry.


Mama Elisabeth masih berada di dalam ruangan Hyuna bersama ibu Anna dan Hyuna, sedangkan Aulia sudah pulang karena jam kerjanya sudah selesai dan putrinya juga sudah rewel ingin bertemu dengannya.


Kondisi Hyuna, Dimas dan Rian semakin menunjukkan perkembangan kesehatan dan kondisinya semakin membaik, Tapi Arya dan Pak Hendry masih memberikan pengamanan yang super ketat.


Arya yang sedang menangani dan mencari tahu siapa dalang dibalik permasalahan dan kekacauan tersebut masih belum menemukan titik terang dari orang tersebut.


Arya kelimpungan sendiri karena semakin dia mencari informasi tentang siapa sebenarnya pengacau sistem keamanannya pun semakin dikacaukan oleh orang tersebut.


"Sepertinya ada yang sengaja melakukan semua ini agar kita tidak mengetahui siapa pelakunya" tutur Arya.


"Kalau dilihat dan dihubungkan dengan bukti yang ada pasti Dia bukan orang biasa, Delia yakin Dia adalah orang kuat yang punya banyak koneksi dan kekuasaan" jelas Arya.


"Bagaimana kalau kita memanggil Aditya saja Mas, sepertinya masalah kita akan cepat kelar jika Aditya yang menangani teka-teki ini" saran dari Delia.


"Aku akan pertimbangkan, karena Aditya sesuai informasi terakhir yang aku dapatkan sekarang Dia ada di Dubai membantu Arman untuk mencari adik iparnya" terang Arya.


"Coba saja dulu Kak, jangan sampai dia sudah balik ke Australia atau mungkin ada di Indonesia" saran Delia yang membawa minuman hangat untuk suaminya.


Delia dan Arya sedang berada di dalam Kafe, dan duduk di pojokan kafe agar lebih leluasa untuk berbicara dan menghindari adanya seseorang yang sengaja menguping pembicaraan mereka. Cukup sekali mereka mengalami kegagalan sehingga Arya cukup berhati-hati dalam mengambil keputusan dan cara untuk mencegah tindak kemungkinan besar yang akan menghadang mereka.


"Usulan dari Delia bagus juga, dan Aditya orang terakhir yang bisa membantuku".


Arya nampak hanya mengaduk-aduk minumannya yang sudah mulai mendingin karena sedari tadi Arya hanya berbincang-bincang saja tanpa menyentuh kopinya seteguk pun.


"Aku akan pertimbangkan idemu itu dan semoga Aditya bersedia membantu kita" timpal Arya yang ragu jika Aditya bisa membantunya.


"Belum dicoba sudah nyerah, ayok semangat dong sayang, Kasihan Rian yang kondisinya seperti itu, dan Delia berharap bisa segera teratasi dengan baik dan kita bisa mengetahui motif dari orang itu" tutur Delia yang asyik menikmati cheese cakenya.


Hp Arya berdering yang membuat lamunannya buyar seketika. Arya segera mengangkat telponnya dan melihat id penelepon tersebut. Arya menyunggingkan senyumnya, karena yang nelpon ternyata Aditya.

__ADS_1


Pucuk di cinta wulan pun tiba..


Delia memperhatikan raut wajahnya Arya yang langsung berubah seketika hanya dalam hitungan menit saja. Awalnya sendu dan kebingungan sekarang terpancar kebahagiaan seakan-akan beban berat yang selama ini dipikulnya langsung ringan begitu saja hanya karena telpon dari orang tersebut.


"Assalamu alaikum Aditya" ucap Arya yang sumringah.


"Waalaikum salam, Arya bisa minta tolong sama anak buahmu gak untuk jemput aku di Bandara sekarang?" tanya Aditya.


Aditya baru saja sampai di Indonesia yang melakukan perjalanan dari Dubai ke Indonesia. Hal ini membuat Arya sangat antusias untuk segera menyelesaikan seluruh permalasahan pelik yang dihadapinya.


"Bisa banget malah, tunggu Saya yang akan langsung jemput kamu, tunggu 10 menit dari sekarang" ucap Arya.


"Oke" ucap singkat Aditya.


Arya segera meminum Kopinya yang sudah dingin hanya dalam sekali tegukan saja.


"Sayang kamu balik ke kamar Rian untuk jaga dia, Aku mau jemput Aditya, dia ada di bandara soalnya" tutur Arya yang pamit kepada Delia Paramitha Wirawan.


"Ok Kak, Kamu yang hati-hati, dan selalu waspada saja" ucap Delia.


Arya sudah bergabung dengan pengendara mobil dan motor lainnya. Arya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja karena kondisi jalan yang sedikit macet.


"Apa benar Rian adalah Alan dan sepertinya ada chat dari Dimas yang masuk ke hpku".


Arya segera membuka hpnya sementara keadaan jalan yang sedang macet dikarenakan lampu merah sedang menyala. Arya membuka hpnya dan membuka aplikasi pesan dan chatnya. Arya menggelengkan kepalanya saking banyaknya Notif Chat yang masuk ke hpnya. Dan matanya langsung melotot saat membuka pesan chat dari Dimas.


"Ya Allah ternyata itu bukan jenazah Alan berarti Alan masih hidup, Alhamdulillah kalau gitu, Tapi yang jadi pertanyaan Alan sekarang ada di mana?".


Arya segera melajukan mobilnya karena sudah banyak pengendara mobil di belakangnya yang membunyikan klakson mobilnya karena Arya sedari tadi mobilnya diam saja, padahal sudah lampu hijau sekitar dua Menit lalu. Arya hanya tersenyum karena membuat pengendara mobil lainnya marah-marah dan meminta maaf.


Arya bersyukur karena Alan masih hidup, dan dugaannya benar jika Alan masih hidup dan ada yang sengaja memanipulasi kematiannya. Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalan yang sepi sehingga mengambil keputusan itu. Dalam sepuluh menit kemudian, Aditya yang melihat Arya segera berjalan dan mendekati Arya.


"Hey brotha, gimana kabarnya?" ucap Aditya sambil memeluk sahabat rasa kelurganya itu.


"Alhamdulillah baik, kalau kamu gimana?" tanya balik Arya.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat" ucap Aditya yang melepas pelukannya dari tubuh Arya.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu dan ini sangat penting, tapi nanti kita bicara di dalam mobil saja, karena sepertinya sedari tadi ada yang mengikutiku sejak aku keluar dari rumah sakit" ucap Arya yang melihat ada beberapa orang yang mengikutinya.


Aditya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Arya. Mereka berjalan ke arah mobilnya Arya dan segera duduk di dalam mobil tersebut.


"Sepertinya kamu mengalami banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini, tapi kamu mendapatkan hambatan yang berarti" ucap Aditya sambil memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Iya, Baru-baru ini Aku baru saja menggali kuburan Alan karena Saya dan Hyuna juga yakin kalau yang meninggal itu bukanlah suaminya, dan kami pun melakukan hal itu dan langsung melakukan tes DNA pada jenazah Alan tapi baru saja ketahuan hasilnya, dan kami diserang oleh beberapa rombongan orang yang gak kami kenal, dan menyerang kami bahkan kami kewalahan menghadapi mereka hingga Dimas harus mengalami operasi ringan" jelas Arya sambil mengemudikan mobilnya.


"Jadi hasil akhirnya gimana?" tanya Aditya yang sudah bisa membaca masalah yang dihadapi oleh Arya dan yang lainnya.


"Dan hasilnya itu bukan Jenazah Alan, yang buat saya kebingungan dimana Alan sekarang dan kok bisa jenazah itu bukan Alan?". tanya Arya yang masih bingung dengan kejadian yang terjadi beberapa hari belakangan ini.


"Kita segera ke rumah utama kalau gitu dan segera perketat keamanan di lokasi kamar perawatan Hyuna, Rian dan juga Dimas, kemungkinannya mereka pasti akan datang lagi untuk memusnahkan bukti yang sudah kita dapatkan" ucap Aditya.


Arya segera melajukan mobilnya dan tidak lupa untuk menelpon Doni dan Toni anak buah kepercayaannya. Dan sesuai informasi yang Arya dapatkan Pak Hendry juga mengutus anak buah terbaiknya untuk membantu menjaga keamanan mereka tapi tidak menampakan dirinya di sekitar area kamar perawatan ke tiga sahabat dan keluarganya.


Delia berada di dalam kamar perawatan Rian. Dan membantu Rian untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Delia sewaktu membersihkan seluruh tubuh Rian perasaan dihatinya mengatakan kalau dirinya mengenal Rian, dan hatinya hangat seketika. Perasaan familiar itu seakan-akan Delia sedang bersama Alan sepupunya.


"Semoga kamu cepat sadar dan kondisi kamu juga membaik". Harapan Delia terhadap Rian.


...--------To Be Continued --------...


Makasih banyak kepada READERS yg masih setia Memberikan Dukungan Kepada Bertahan Dalam Penantian 🥰.


Dan FANIA Mohon Maaf jika ada Readers yang kurang suka atau pun tidak setuju dengan Alur cerita BDP yang Aku buat.🙏.


Sejak Awal aku Mulai belajar nulis Novel BDP ini aku emang berniat untuk buat novel yang alurnya berbeda dengan Novel author yang sudah banyak pengakuannya dan bahkan ceritanya BDP Sangat berbeda dengan Novel Author yang senior.


Fania hanya othor remahan rengginan yang tidak mampu untuk menghasilkan karya yang bagus apa lagi yang sesuai dengan keinginan Readers 🙏.


FANIA hanya bisa ucapkan Makasih banyak yang masih Sudi untuk baca novel ini ✌️🙏🥰


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, Minggu, 15 Mei 2022


__ADS_2