
Happy Reading..
Pukulan, tendangan, dan tembakan mewarnai suasana hari itu. Mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Tapi, karena jumlah dari orang-orang Arya lebih banyak sehingga membuat mereka semakin terdesak dan mudah memenangkan pertempuran tersebut.
Suara tembakan dari senjata mereka cukup bising. Untung saja lokasi dari tempat persembunyiannya yang dijadikan markas besar oleh Adiguna dan Listi cukup jauh dari kepadatan penduduk, sehingga apa yang mereka lakukan cukup aman dan sama sekali tidak menggangu masyarakat.
"Zack jangan lama, ayo cepat bawa adikmu sebelum terlambat," teriak Emre.
Zack pun melarikan Zidane ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Mereka tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada Zidane.
"Abang, seharusnya tinggal bersama Papa saja, aku diantar sama yang lain juga tidak apa-apa," ucapnya yang sesekali meringis menahan sakitnya.
"Tidak apa-apa gimana, itu keringat bercucuran membasahi keningmu pertanda bahwa kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja," balasnya.
"Pak Ade tolong cepat bawa mobilnya, jangan terlalu lelet," teriak Zack Lee ke arah supirnya.
Pertempuran pun dimenangkan oleh pihak Arya, karena bantuan dari pihak kepolisian juga yang sudah datang setelah dihubungi oleh Aditya. Mau tidak mau semua masalah yang mereka hadapi pasti harus ditangani oleh kepolisian untuk segera mengamankan Adiguna dan Listi.
"Aku tidak menyangka kebaikanku Abang salah gunakan," ucap Arya di hadapan Adiguna yang sudah diborgol oleh polisi.
Kondisi wajahnya yang sudah babak belur serta kakinya yang pincang karena terkena timah panas saat ingin melarikan diri dari kejaran polisi.
"Hahahaha, apa kamu pikir uang yang kamu berikan setiap bulan itu cukup, tidak!!" Jawabnya Adiguna.
"Emang yah dasar kamu, sudah dikasih hati malah minta jantung," ucap Dimas lalu melayangkan tamparannya di wajahnya Adiguna.
Sudut bibir Adiguna meneteskan darah segar. Wajahnya semakin memerah menahan amarahnya. Dia menatap tajam terhadap Dimas yang sudah menamparnya.
"Iya betul apa yang kamu katakan, aku heran dan tidak habis fikir kenapa di dunia ini ada orang yang seperti dia," sahut Emre lalu menunjuk ke arah wajahnya Adiguna dengan tatapan tajamnya.
"Pak Polisi cepat bawa orang ini agar enyah dari hadapanku segera!!" Ucap Arya yang sudah jengah melihat Adiguna yang sama sekali tidak merendahkan sedikitpun wajah angkuh dan kesombongannya padahal sudah ditangkap.
__ADS_1
Pak polisi segera menggiring Adiguna ke atas mobil polisi khusus, tapi baru ingin membuka pintu Pak polisi dan yang lainnya dikejutkan oleh suara tembakan yang dilesatkan dari senjata milik Listi yang awalnya mereka kira sudah mati.
"Aku tidak akan biarkan kamu hidup dengan bebas menghirup udara segar walaupun hanya sebatas di balik jeruji besi," terang Listi dengan senyuman liciknya lalu meletakkan beberapa kali tembakan tepat ke tubuh Adiguna.
Semua polisi yang berada di sekitar Adiguna segera berlindung mereka tidak ingin jika ada peluru nyasar bersarang ke tubuh salah satu dari mereka.
Komandan kepolisian yang melihat hal itu segera menembaki Listi hingga tewas ditempatnya dengan banyak luka dan peluru yang bersarang di tubuhnya. Kabar kematian Adiguna bersamaan dengan lahirnya dua junior dari Pricilla yang sudah hampir tiga jam berjuang untuk melahirkan anak kembarnya.
"Alhamdulillah, Makasih banyak ya Allah.. Engkau telah memberikan kami anugerah terindah dalam hidup putraku," ucap Emilia sembari mengelus wajahnya.
Sedangkan Zack semakin dibuat khawatir karena kondisi adiknya sudah tidak sadarkan diri yang awalnya sempat bercanda dengan kakaknya.
"Zidane,sadarlah dek, Abang ada di sini, Abang mohon sadarlah," ucapnya dengan deraian air matanya.
Zidane tubuhnya semakin pucat, hingga keringat membasahi seluruh tubuhnya. Zack segera menghubungi pihak rumah sakit untuk segera bersiap menunggu dan menjemput kedatangan mereka.
"Papa, aku mohon cepatlah kesini, Zidane sudah tidak sadarkan diri," ucapnya yang sangat sedih melihat kondisi dari adiknya.
"Apa yang terjadi Arya?" Tanyanya Dimas.
"Kita harus segera ke rumah sakit, kondisi Zidane kritis dan mereka belum sampai ke rumah sakit," jawabnya Arya yang bergegas menuju mobilnya.
Orang-orang menyerahkan semua penanganannya ke tangan pihak kepolisian. Mereka sudah bergerak untuk menyusul Zack. Tampak di wajahnya mereka kecemasan dan ketakutan, mereka masih teringat kejadian saat Pak Hendri meninggal dunia di hadapan mereka.
"Aditya, tolong segera jemput Zack di Lobby Rumah Sakit, kondisi Zidane kritis tapi jangan biarkan ada orang disitu yang tahu," ucap Emre lagi.
"Baik, saya akan segera ke sana, dan kamu berhati-hatilah," balasnya Aditya yang mematikan sambungan teleponnya lalu berbalik dan betapa terkejutnya saat melihat siapa orang yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Aditya!! Katakan padaku apa yang terjadi dengan Zidane putraku?"tanyanya Delia yang menarik lengan bajunya Aditya.
Aditya ingin menjawab pertanyaan dari Delia, mereka langsung dikejutkan oleh suara orang-orang yang mendorong bangkar rumah sakit menuju ruang operasi yang diatasnya sudah terbaring lemah dan tak berdaya Zidane putra bungsunya.
__ADS_1
"Tidakkkkk!!!" Teriak Delia lalu berlari ke arah gerombolan orang itu.
Semua orang yang mendengar teriakannya Delia segera mengalihkan pandangannya ke arah Delia yang sudah berlari. Mereka pun menyusul Delia yang sudah ikut bergabung bersama beberapa suster dan dokter.
"Putraku apa yang terjadi padamu nak, Mama ada di sini, sadarlah sayang," ucapnya yang memeluk tubuh putranya tepat di depan pintu masuk ruang operasi.
"Delia sabar, kamu harus tenang kalau tidak Kasihan Zidane pasti dia juga akan terbebani melihat mamanya sedih," ucap Rina dengan merangkul tubuh Delia.
Beberapa saat kemudian, rombongan Arya pun sudah datang, mereka semua berdiri di depan pintu ruang operasi dengan penuh harap. Hingga tiga jam berlangsung, operasi itu pun berjalan dengan lancar. Zidane dapat segera diselamatkan nyawanya.
"Syukur Alhamdulillah, putraku bisa diselamatkan," ucapnya dengan mengusap wajahnya.
Semua sangat bersyukur karena nyawanya Zidane masih bisa diselamatkan, kondisinya cukup stabil setelah selesai dioperasi. Delia dan Zoeya selalu berada di rumah sakit untuk menunggu dan menjaga Zidane hingga satu minggu telah berlalu.
Zidane sudah berada di rumahnya, acara akad nikah dan resepsi pernikahan dari Elang dengan Zoeya serta Agung dan Amanda hari itu juga akan dilaksanakan. Awalnya akan kembali ditunda tapi, Zidane menolak hal itu sehingga hari ini acara itu pun dilaksanakan.
Tamu undangan dan keluarga sudah memadati dan memenuhi aula tempat acara. Acara sudah diputuskan berjalan seperti rencana sebelumnya. Pak penghulu yang ditugaskan oleh KUA setempat telah datang. Tapi, karena kedua orang tuanya calon pengantin wanita masih hidup sehingga diserahkan pada Arya, sedangkan Amanda mengingat Mark papinya sudah meninggal dunia maka diserahkan kepada Raditya sebagai Kakaknya.
"Uncle, saya memang wali nikahnya Amanda, tapi sebaiknya perwalian untuk menikahkan Amanda sebaiknya pihak KUA saja, saya bukannya tidak mau atau pun tidak siap tapi ada yang lebih mampu untuk melakukannya," tuturnya dengan penuh merendah.
"Baiklah kalau begitu, kami serahkan semuanya pada bapak Alimuddin sebagai pihak KUA yang menggantikanmu," ujarnya Adrian.
Setelah disepakati, akhirnya Amanda akan dinikahkan oleh Pak Alimuddin. Elang sudah duduk di hadapan Arya mereka sudah saling berjabat tangan untuk melaksanakan ijab kabul.
"Saya Nikahkan dan kawinkan engkau Elang dengan putriku Zoeya Saldana dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai dengan uang senilai 30 juta 100 ribu rupiah, dengan emas 6 gram 24 karat dibayar tunai," ucap Arya ke hadapan para saksi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zoeya Saldana binti Arya Wiguna Albert Kim Said dengan mas kawin tersebut tunai," ucap Elang yang lebih lantang dari Arya Papa mertuanya.
"Gimana para saksi apakah sah?" Tanyanya Pak penghulu sembari menatap ke seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Sah," jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Alhamdulillah," jawab Deli yang sangat bahagia karena melihat putrinya tercinta bisa menikah.