Bertahan Dalam Penantian

Bertahan Dalam Penantian
BAB. 241. Menyambut Idul Fitri


__ADS_3

Happy Reading..


Kamar tidur yang awalnya tertata dengan rapi dan cantik sesuai dengan pemilik kamarnya yang seorang perempuan. Dan sekarang sudah berubah menjadi bagaikan kapal Titanic saja yang hancur dan berantakan isinya bahkan sudah tidak layak untuk dihuni. Tapi para Maid tidak ada yang bisa berkomentar hanya bisa menyaksikan dan menonton saja dengan apa yang dilakukan oleh anak majikannya.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk kembali bersama keluarga kamu, karena kamu adalah milikku dan aku lah yang berjasa dalam hidupmu selama ini".


......................


Sinar bulan malam itu sangat lah indah dan sekaligus menjadi saksi dari ke tiga pasangan yang sedang dimabuk indahnya cinta yang terjalin dalam ikatan halal pernikahan. Ke-tiga pasangan tersebut terlelap dalam tidurnya dan bertemu dengan mimpi indahnya.


Suara gema takbir yang berkumandang dari Toa Mesjid yang ada di sekitar kompleks perumahan elit tersebut membangunkan mama Elisabeth.


"Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah Engkau masih mempertemukan Aku dan keluargaku di akhir bulan suci Ramadhan dan menyambut datangnya hari raya idul Fitri, Saya sangat berharap ke dua putriku Emilia dan Eliana datang menemuiku".


Mama Elisabeth langsung menyingkap selimutnya dan berjalan ke arah kamar mandi karena ingin segera membersihkan tubuhnya dan bergegas melaksanakan shalat subuh sebelum turun ke dapur untuk memeriksa menu makanan selepas mereka pulang dari shalat Ied.


Mama Elisabeth melaksanakan shalat subuh dengan sangat khusuk dan berdoa kepada Allah SWT agar membukakan pintu hati kedua putrinya agar menerima pernikahan mereka. Setelah melaksanakan shalat subuh, Mama Elisabeth berjalan ke arah lantai dasar di mana letak dapurnya. Mama Elisabeth melihat koki sudah sibuk membuat dan memasak makanan yang sesuai dengan arahannya. Dan semua menu makanan itu khas Indonesia dan paling disukai oleh ke lima anaknya serta menantunya.


"Bagaimana rasanya Nyonya apa ada yang kurang atau gimana?" tanya koki yang belum sebulan berkerja di Villa itu menggantikan keluarganya dan langsung dipercaya untuk menjadi koki utama di Villa tersebut berkat makanan berbuka puasa yang Rian buat dan mampu membuat Zack dan Zoe sangat lahap waktu mereka makan..


"Rasanya pas, tapi rendangnya tambahkan sedikit cabe besar agar berasa lagi pedesnya" perintah Mama Elisabeth yang memasak rendang sesuai selera Emilia.


"Jadi hanya rendang daging yang perlu ditambahkan sedikit cabe keriting atau cabe besar saja Nyonya?" tanya Rian selaku koki tersebut.


"Iya, gimana dengan coto Makassarnya apa sudah jadi?" tanya Mama Elisabeth ketika sudah selesai mencicipi opor, rendang, gulai kambing, sate Ayam dan masih banyak makanan khas Nusantara yang akan dihidangkan di atas meja makan yang nantinya akan menggugah selera makan anggota keluarganya.


"Kalau cotonya semua bahan daging serta jeroannya sudah matang Nya, yang belum itu sisa ketupat dan airnya serta bumbunya yang belum" jawab koki baru itu.

__ADS_1


Walau pun masih baru bekerja di kediaman Villa pak Hendry, tapi sudah mampu membuat masakan yang sesuai dengan lidah anggota keluarga besar Hendry. Mama Elisabeth puas dengan masakan Rian.


"Ingat sajikan semuanya setelah shalat ied dan anakku sudah berkumpul di sini" titah Mama Elisabeth.


"Baik Nyonya, sesuai yang nyonya inginkan" jawab Rian.


"Makasih" ucap Mama Elisabeth.


Rian pun membalas senyuman dari mama Elisabeth.


"Senyuman itu mirip dengan seseorang, tapi siapa dan kenapa rasanya familiar banget dimataku?".


Mama Elisabeth meninggalkan dapurnya dan berjalan ke arah lantai dua tempat kamarnya berada. Awalnya kamarnya berada di lantai dasar, tapi Mama Elisabeth menginginkan kamarnya dipindahkan ke lantai atas dan tidak menginginkan memakai kamar bekas dari Mantan istrinya dari suaminya. Setelah mengetahui jika Linda lah yang merencanakan penculikan dan penyiksaan terhadap anak kembarnya yaitu Ratna dan Arman. Mama Elisabeth pun memanggil tukang untuk merenovasi kamar tersebut menjadi perpustakaan saja.


Mama Elisabeth berjalan ke arah ranjang king size-nya karena ingin membangunkan suaminya yang masih keenakan dengan mimpi indahnya. Mama Elisabeth perlahan naik ke atas ranjang dan perlahan menggoyang tubuh Pak Hendri agar segera bangun dari tidurnya.


"Mas bangun dong, sudah jam 5 nih". ucap Mama Elisabeth sambil melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya.


"Entah kenapa semakin hari Aku semakin sayang sama kamu dan wajahmu semakin bersinar di mataku" ucap pak Hendry yang mengelus pipi Mama Elisabeth.


Sedangkan mama Elisabeth tampak menundukkan kepalanya karena malu dengan ucapan pujian dari suaminya. Wajahnya tampak memerah seperti anak remaja saja yang digoda oleh pujaan hatinya.


"Jika wajah kamu seperti ini, aku ingin menerkam kamu bahkan aku tidak ingin berhenti untuk melakukannya bersamamu" ucap Pak Hendry yang memelankan suaranya tepat di telinga Mama Elisabeth.


Mama Elisabeth semakin memerah wajahnya saking dibuat merasa malu dengan godaan demi godaan yang dilancarkan oleh Pak Hendry.


"Sudah aahh Mas, waktunya shalat subuh lalu kita berangkat ke Mesjid bersama anak-anak". ucap Mama Elisabeth yang menolak keinginan Pak Hendry dikarenakan waktu yang semakin mendekati waktu shalat idul Fitri.

__ADS_1


Pak Hendry hanya tersenyum saja saat melihat istrinya langsung berdiri dan berjalan ke arah lemarinya. Pak Hendry merasa seperti pengantin baru saja yang kembali bersemangat untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai suami yaitu menafkahi lahir batin Istrinya.


Mama Elisabeth mengambil pakaian yang akan dipakai oleh suaminya dan juga pakaian yang akan mereka kenakan saat melaksanakan shalat idul Fitri di Mesjid secara berjamaah.


"Keputusanku sangat tepat untuk menikahi dirimu lagi sayang dan berkat kehadiran kamu disisiku anak-anak kita menjadi anak yang berbakti dan patuh terhadapku dan anak-anak kita semakin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Makasih Banyak sayang atas keputusanmu untuk menerima lamaranku".


Mama Elisabeth berjalan ke arah luar Kamarnya karena berniat ingin membangunkan seluruh Anak-anaknya beserta keponakannya yang sengaja menginap di Villa tersebut untuk merayakan dan melaksanakan shalat Ied bareng dan secara berjamaah di masjid. Tapi belum sempat Mama Elisabeth mengetuk pintu kamarnya Arya, pintu kamar tersebut sudah terbuka lebar dan menyembul keluar kepalanya Baby Zi.


"Grandma selamat hari raya idul Fitri yah, maafin Zidane yah Grandma" ucap Zidane yang langsung memeluk paha grandma nya.


Mama Elisabeth pun langsung membalas pelukan dari cucunya yaitu Baby Zidane. Mama Elisabeth menggendong tubuh cucunya walaupun sudah semakin kesulitan untuk menggendong tubuh dari Baby Zi yang setiap hari semakin tinggi dan besar.


"Mama sama Ayah di mana sayang kok Zi hanya sendirian, Kakak kembar kamu di mana?" tanya mama Elisabeth yang melirik ke arah dalam kamar putranya dan tidak melihat keberadaan Arya dan Delia menantunya.


"Mama sama Ayah masih di dalam kamar ganti pakaian kalau Kakak kembar ada di kamarnya Kakak Amanda Grandma" jawab Baby Zi.


"Kalau gitu, Zi ikut grandma yah ke bawah sambil membangunkan Aunty sama Uncle yang lain" ucap Mama Elisabeth sambil menutup kembali pintu kamar Arya Wiguna Albert Kim Said yang sempat terbuka karena Baby Zi.


Mama Elisabeth tidak mengetahui jika semua anggota keluarganya yang lain sudah berkumpul di lantai dasar untuk bersiap ke Mesjid untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah. Mama Elisabeth menuruni undakan tangga dan langsung berjalan ke arah Ruang tengah di mana keluarga besarnya sudah berkumpul. Langkah mama Elisabeth terhenti setelah berada di ruangan tersebut dan air matanya langsung menetes tanpa aba-aba.


...--------To Be Continued--------...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏


Jangan bosan untuk baca yah ✌️.


Keluarga besar BDP mengucapkan minal aidzin walfa idzin, Mohon maaf lahir dan batin 🙏🥰.

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Senin 02 Mei 2022


__ADS_2