
Happy Reading..
Arya tidak menyangka jika pemecatan terhadap salah satu ob di perusahaan Ayahnya dulu, telah membuat seseorang dendam dan kembali untuk menuntut balas, dan menjadi anak buah dari musuh yang tidak diketahui oleh Arya dan keluarganya.
Dimas tekena tendangan yang sangat kuat tepat di dada bagian kirinya. sehingga Dimas tersungkur hingga ke dinding, darah segar mengalir dari bibir dan hidungnya. Arya yang melihat adik sepupunya terkena tendangan langsung berlari ke arah Danu. Arya mencoba menendang Danu, tapi percobaannya berhasil digagalkan oleh Danu yang kemampuan bela dirinya sama sama dengan Arya hanya saja postur tubuh Danu lebih tinggi dan besar dari pada Arya yang membuat Danu di atas angin.
Arya dan Dimas berjuang mati-matian untuk mempertahankan map tersebut. Arya bahkan menahan betapa sakitnya saat tangannya diinjak oleh Danu cahyono.
Danu yang mendapatkan perlawanan dari Arya langsung meladeni Arya tanpa ampun. Arya kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari Danu. Sedangkan anak buahnya sudah berhasil dilumpuhkan dari pihak Danu. Sehingga Arya semakin terpojok, dan rekan Danu sudah membawa pergi map tersebut.
Salah satu teman Danu berhasil masuk ke dalam laboratorium dan menaburkan obat
di atas jenazah Alan dan hanya dalam hitungan menit saja, Jenazah tersebut hancur lebur.
"Kamu pasti mengingat saya bukan? uppss benar sekali apa yang ada di dalam pikiran kamu, Aku adalah orang yang kamu pecat dan usir dari perusahaan Sinopec Group karena Aku hanya mengambil beberapa komputer saja padahal yang Aku ambil hanya sebagian kecil dari harta yang Kamu miliki" jelas Danu.
"Kecil besarnya yang kamu ambil itu tetap dosa dan jangan berharap Aku bisa mentolerir perbuatan maksiat seperti itu berkembang di dalam hatiku". terang Arya yang meringis kesakitan saat kakinya semakin diinjak oleh Danu.
"Hahahaha dasar orang kaya pelit, ingat Tuan kekayaan kamu jika kamu mati tidak ikut bersama kamu, jadi kalau kami mengambil secuil saja tidak usah kalian hiraukan" ucap Danu lagi.
"Cuiihh" Arya meludahi wajahnya Danu yang membuat Danu semakin geram saja.
"Kamu terlalu berani, maka terimalah ini" ucap Danu sambil semakin menguatkan injakan kakinya di atas punggung tangan Arya.
Arya yang terus berusaha untuk meraih bubuk racun di dalam saku celananya sambil menahan sakit dan ngilunya tangannya semakin diinjak.
"Hahaha ternyata Tuan Arya Wiguna Albert Kim Said yang terhormat hanya bisa membual saja dan tidak berkutik di hadapanku, Kamu itu hanya mampu meladeni Rekan bisnis kamu saja, jadi apa yang kamu lakukan sia-sia belaka" ucap Danu yang semakin menginjak kaki Arya yang sudah memar dan mengeluarkan darah di sela jari-jarinya.
Gimana Arya gak kesakitan jika berat sepatu dari Danu lumayan berat dan tebal, Arya berusaha menahan sakitnya sudah tertahan.
__ADS_1
Arya mendapatkan bubuk racunnya dan melempar ke arah wajah Danu, sehingga Danu mengangkat kakinya, Arya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung berguling dan berusaha untuk menendang perut Danu.
Danu masih mampu untuk menangkis dan menghindar dari tendangan Arya walaupun dalam keadaan yang sudah tidak melihat dengan jelas.
"Apa yang kamu berikan kepada mataku haaaa!!?" ucap Danu.
"Itu hanya bubuk biasa saja kok" ucap Arya yang terus memberikan serangan kepada Danu.
Arya kembali menendang Danu dan akhirnya berhasil juga melumpuhkan Danu. Arya segera berdiri dengan sekuat tenaga untuk membantu Dimas.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya lalu membantu Dimas untuk berdiri.
Mereka pun berjalan ke arah UGD RS DA tetapi langkah mereka terhenti di saat mereka mendengar suara tembakan. Timah panas yang dilesatkan oleh Polisi tersebut berhasil bersarang di dada Danu. Hingga Danu pun tewas di tempat kejadian. Komplotan Danu sudah diamankan dan mayat mereka sudah dibawa ke ruangan mayat.
Arya dan Dimas sudah berbaring di bangkar rumah Sakit, mereka sudah mendapatkan perawatan medis dari Tim dokter terbaik yang mereka miliki.
Pak Hendry terlambat datang karena ada rintangan yang mereka hadapi di saat mereka akan ke rumah Sakit. Tiba-tiba ada pohon besar yang tumbang mengenai jalan raya. Sehingga perjalanan rombongan mereka terhenti akibat pohon tersebut. Ingin mencari jalan alternatif lain yang mereka bisa lalui, tetapi sayangnya hanya jalan itu yang ada.
"Tidak apa-apa Kok Pa, lagian mereka sudah dilumpuhkan, sayangnya tidak ada yang berhasil satu pun kami jadikan saksi kunci dari kasus ini, sampai sekarang kami masih tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini" ucap Arya yang menahan Sakitnya tangannya yang diolesi obat oleh dokter.
"Kita bisa melakukan tes ulang kepada jenazahnya Alan lagi" Tutur Pak Hendry.
"Itu mustahil bisa terjadi Pa, karena mereka memberikan obat penghancur di seluruh jenazah Alan dan hanya dalam hitungan menit saja jenazahnya hancur lebur tidak bersisa" jelas Arya.
"Berarti mereka bukan lah orang biasa yang bisa kita sentuh, karena mereka adalah orang yang punya kekuatan yang kuat". timpal pak Hendry lagi.
"Pa, Arya mohon jangan beritahu kepada Mama Elisabeth, Arya tidak ingin membuat Mama khawatir dan cemas dengan keadaan kami" pinta Arya.
Dimas masih tidak sadarkan diri, karena mendapatkan suntikan obat bius saat dirinya menjalani operasi kecil. Dimas hingga sekarang masih belum sadarkan diri. Dan satu-satunya yang mengetahui hasil tes DNA tersebut hanya dia seorang. Sebelum rombongan penjahat itu datang, Dimas sudah mengambil salinan hasil tes tersebut dan mengirimkan ke nomor hp dan email Arya. Sehingga mereka masih bisa bernafas lega tapi sayangnya Dimas masih tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kalau masalah itu Papa tidak bisa menjaminnya karena kamu tahu dinding pun punya telinga" ucap Pak Hendry yang tersenyum karena melihat ada bayangan seseorang yang berdiri di balik pintu.
Hingga percakapan mereka terhenti karena pintu kamar perawatan Arya terbuka dengan lebar. Arya terkejut melihat siapa yang telah membuka pintu tersebut. Dan masuklah orang yang kehadirannya tidak diharapkan oleh Arya.
"Apa yang terjadi dengan putraku Pa?" tanya Mama Elisabeth.
"Iya Kakak, baik-baik saja kan?, Delia sangat khawatir dengan keadaan kakak" ucap Delia yang tidak mampu menahan air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Delia sedih melihat kondisi suaminya yang babak belur dan tidak menyangka jika ternyata suaminya menyimpan rahasia besar tentang kematian Alan.
"Kakak baik-baik saja, jadi kamu tenanglah dan tidak semudah itu kakak bisa mati" ucap Arya yang bibirnya langsung ditutup oleh Delia menggunakan jari tangannya.
"Kakak tidak boleh berbicara seperti itu, Kita bersyukur kepada Allah SWT karena masih melindungi Kakak dengan Dimas" ucap Delia.
"Iya, apa yang dikatakan oleh Delia benar sekali, karena tanpa campur tangan Allah kalian pasti tidak akan selamat" tutur mama Elisabeth.
"Mama kamu benar Arya, jadi mulai hari ini jika kalian menghadapi masalah apa pun itu, Papa mohon berbagi lah dengan kami, siapa tahu kami bisa membantu kalian" jelas Pak Hendry.
"Kami tidak tahu akan seperti ini jadinya, lagian siapa juga yang akan melakukan hal yang tidak pernah kami perkirakan, tapi ternyata apa yang kami pikirkan tidak sesederhana itu". ungkap Arya.
"Kira-kira siapa yang orangnya yang telah merencanakan ini semua, dan kira-kira mereka mendapatkan obat penghancur itu di pasaran mana? Saya tidak tahu jika ada obat yang bisa menghancurkan jazad seseorang dengan cepat" tutur Arya yang masih penasaran dengan jenis obat tersebut yang cukup langka.
...........To Be Continue...........
Alhamdulillah masih punya waktu untuk update dua bab hari ini. Dan fania ucapkan Makasih banyak untuk Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian 🙏.
Typo Mohon dimaklumi 🙏
By Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Selasa, 10 Mei 2022