
Happy Reading...
Mama Elisabeth sangat bahagia karena sebelum Dia menelpon putranya, Arya sudah mengunjunginya. Padahal Mama Elisabeth tidak mengetahui jika Arya dan Dimas datang karena ada sesuatu hal yang ingin dia selidiki.
"Alhamdulillah kamu datang nak, Mama baru ingin menghubungi nomor hp kamu, tapi kamu duluan muncul jadi Mama gak jadi nelpon kalau gitu" ucap Mama Elisabeth yang masih tersenyum melihat kedatangan Anaknya dan keponakannya.
"Maaf kami datang tidak memberitahukan Mama dulu, kedatangan kami di sini hanya ingin mengantar Hyuna yang kebetulan bersama kami" ucap Arya yang berusaha mencari alasan yang masuk akal agar Mamanya tidak curiga dengan niat kedatangannya.
"Pantesan Mama cari baby Zi dan Delia tapi mereka gak kelihatan, ternyata rupanya gitu" ucap Mama Elisabeth yang sedikit kecewa karena cucu dan menantunya tidak hadir diantara mereka.
"Gimana kabarnya Bibi?" tanya Dimas yang mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah baik, Kalau Desyy sama putrimu gimana?" tanya balik Mama Elisabeth.
"Alhamdulillah mereka Sehat dan baik-baik saja Bi" jawab Dimas tapi perhatiannya tertuju kepada Rian sang koki baru yang bekerja di Villa ini.
"Kalau gitu, kita makan malam bersama kebetulan Mama sudah masak makanan Korea Selatan kesukaan Kamu" ucap Mama Elisabeth yang mengajak mereka untuk makan malam bersama.
"Akhirnya bisa makan makanan Korea hasil buatan Mama Elisabeth nih" ucap Dimas Lagi.
"Kalau gitu kita langsung ke ruangan makan saja mumpung makanannya masih hangat" ujar Mama Elisabeth lagi.
Tapi Dimas salah haluan karena berjalan berlawanan arah yang ingin mengikuti langkah kaki Rian. Dimas tidak mengerti dan heran dengan sikap Rian yang berjalan mengendap-endap seperti seseorang yang sedang ingin mencuri saja. Dimas pun mengikuti langkah Rian, tapi belum beberapa langkah Dimas, Mama Elisabeth menegurnya.
"Dimas kamu mau ke mana Nak? jalan ke dapur gak ke arah situ loh" ucap mama Elisabeth yang tertawa kecil melihat tingkah Dimas yang garuk-garuk kepala.
"Eeehhh salah yah, Dimas pikir jalannya ke arah sana Bi" ucap Dimas yang garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu ada-ada saja Dimas" timpal Mama Elisabeth.
Mereka pun berjalan ke arah Dapur dan mereka sudah duduk di kursi masing-masing, Pak Hendry pun sudah pulang dari Kantornya.
"Aku tidak boleh membiarkan mereka melihat bukti di cctv kalau Aku yang memasukkan cincin itu ke dalam Tas Hyuna, jika mereka tahu bisa-bisa Wanita gila itu semakin gila dan bisa berbuat nekat lagi, dan semoga identitas putraku dan Istriku tidak ketahuan dan Dia tidak mengetahui jika saya hanya berpura-pura hilang ingatan".
"Gimana kabarnya Pa?" tanya basa-basi Arya Wiguna Albert Kim Said kepada Papa sambungnya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah kabar Papa baik dan seperti yang kamu lihat" ucap Pak Hendry.
"Masakan bibi selalu yang terbuat deh, bahkan ngalahin rasa masakannya Dessy loh Bi" ucap Dimas yang mulutnya penuh dengan makanan.
"Iiih Kakak Dimas, kalau lagi makan jangan banyak bicara kan ujungnya apa yang kakak katakan hak jelas gitu" ucap Hyuna yang ngeledek Kakak sepupunya.
"Makanannya enak soalnya" ucap Dimas tapi arah pandangannya tertuju kepada Arya dan memberikan kode kepada Arya.
Sedangkan Arya yang asyik menikmati makanannya tidak menggubris maksud dari kode yang diberikan oleh Dimas kepadanya. Sehingga Dimas jengah melihat Arya yang terlalu serius menikmati makanannya Sedangkan Arya tersenyum melihat Dimas yang jengkel dengan menanggapi sikapnya. Padahal Arya tahu dengan kode yang diberikan oleh Dimas.
Setelah mereka makan malam, Arya pamit kepada Mamanya untuk beristirahat sejenak di dalam kamarnya sedangkan Hyuna dan Dimas diam-diam masuk ke dalam kamar Arya dan mereka membahas tentang rencana mereka selanjutnya.
"Apa kalian tidak curiga atau pun bertanya-tanya tentang pribadi koki baru di Villa ini yaitu Rian??" ucap Dimas.
"Aku pun sepemikiran dengan kamu, sejak Dia datang ke rumah ini, ada perasaan yang aneh yang muncul di dalam hatiku dan entah kenapa Aku merasa dia itu orang yang sudah lama aku kenal tapi tidak tahu di mana?" tanya Arya yang kebingungan dengan perasaannya sendiri.
"Kok Apa yang Aku rasakan selama ini setiap aku memandang Rian pun dirasakan oleh Kak Arya yah, Ada rasa bahagia disaat Aku melihat senyumannya dan rasa tenang jika berada di sampingnya seperti yang biasa Aku rasakan saat bersama dengan Mas Alan".
Hyuna pun bengong di tempatnya dan sibuk menghayati apa yang telah terjadi dengannya sendiri.
"Itu bagus juga, agar kita tidak suudzon sama Rian" ucap Dimas.
Dimas ke luar dan mengamati ke lantai bawah apa Mama Elisabeth dan Pak Hendry masih berada di bawah Karena mereka tidak ingin apa yang mereka lakukan ketahuan oleh mereka sebelum mereka mendapatkan bukti yang akurat.
"Gimana apa sudah aman?" tanya Arya
"Sudah aman" ucap Dimas.
"Ayok kita mulai tetapi harus selalu waspada karena entah kenapa feeling aku mengatakan ada sesuatu yang tidak baik dengan semua ini yang selalu mengintai kita" ucap Arya agar mereka selalu waspada dan extra hati-hati.
"Ok" ucap Dimas singkat.
Mereka pun berjalan dan selalu mengamati di sekitarnya mereka jangan sampai ada yang memata-matai apa yang mereka lakukan. Arya langsung memberikan amplop kepad orang yang bekerja di bagian ruangan cctv, tetapi orang tersebut menolak dan tidak ingin mengijinkan mereka memeriksa cctv tersebut. Rian saja tadi meminta ijin pun tidak diijinkan, tetapi Rian memilih jalan lain yaitu memberikan makanan yang sudah diisi bubuk obat pencahar ke dalam makanan dan minuman yang Rian bawa sehingga bebas melakukan aksinya dan berhasil menghapus jejaknya.
"Kalian tidak boleh tahu siapa Saya sekarang karena akan membuat usaha saya untuk terbebas dari Perempuan gila itu".
__ADS_1
"Gimana nih ternyata mereka termasuk orang yang loyalitasnya kepada Pak Hendry dan apa pun yang kita lakukan pasti mereka tetap pada pendiriannya" ucap Dimas.
"Kalau gitu kita pakai cara yang lebih jitu lagi" Ucap Arya. Mereka masih berfikir untuk mencari cara gimana caranya agar mereka bisa berhasil mengecek Cctv tersebut, Hyuna sudah mendatangi mereka.
"Pak Hyuna minta tolong banget, gelang Hyuna terjatuh tapi sampai sekarang Saya belum menemukan keberadaan Gelang tersebut, dan gelang itu adalah peninggalan dari Mama saya Pak" ucap Hyuna yang sudah menangis tersedu-sedu tetapi ternyata langkah mereka gagal lagi.
Mereka kembali ke dalam kamar mereka. Dimas pun mencari laptop untuk bekerja dan berusaha sendiri untuk meretas sistem cctv Villa itu.
"Kita ini bego atau kenapa yah tidak kepikiran sedari tadi untuk menghecker sistem mereka" ucap Arya yang bengong sendiri dengan sikapnya saat ini yang lambat loading.
Dimas pun geleng-geleng kepala dengan sikapnya sendiri. Mereka pun tertawa terbahak-bahak menanggapi sikap mereka sendiri.
Dimas pun bermain di atas keyboard laptopnya. Dimas cukup sulit untuk menembus sistem keamanan pak Hendry. Hingga berlangsung beberapa menit. Tapi bukan Dimas namanya jika Dia tidak berhasil menembus pertahanan keamanan Pak Hendry.
"Akhirnya berhasil juga" ucap Dimas.
Mereka pun mendekati Dimas dan melihat langsung isi cctv tersebut. Tapi apa yang mereka cari tidak berhasil mereka temukan.
"Ternyata cctv-nya tidak ada yang mencurigakan dan semuanya biasa saja" ucap Dimas.
"Tidak ada jalan lain lagi yang bisa kita lakukan dan menurut saya cara ini akan sangat ampuh tapi pasti akan menuai banyak pro dan kontra" ucap Arya.
...--------To Be Continued--------...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian 🙏.
Semoga selalu suka dengan Updatenya BDP 🙏.
FANIA doakan untuk semua Readers setianya BDP selalu dalam keadaan yang sehat dan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Amin ya rabbal alamin.🤲
Jangan Lupa untuk selalu mendukung BDP Dengan Cara LIKE, RATE BINTANG 5 dan FAVORITKAN.
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Sabtu, 07 Mei 2022
__ADS_1