
Selamat Membaca..
Tidak ada yang abad di dunia ini, tak terkecuali manusia. Kematian pasti akan menimpa siapa saja, tak kenal tempat dan waktu. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita hanya bisa mempersiapkan segala sesuatunya yang kemungkinan bisa terjadi.
Kematian selalu menyisakan duka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang yang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang memilukan.
Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Kematian adalah peristiwa tercepat yang menjadikan segala tinggal sejarah.
Kesedihan kembali dirasakan oleh keluarga besar Wiguna Albert Kim Said. Mama Elisabeth begitu terpukul dan shock karena untuk ke dua kalinya harus kehilangan suami tercintanya dalam misi untuk menangkap dan membuka kedok kejahatan dari Putri.
Ambisi dan keegoisan lah yang menciptakan seorang Penjahat sekaligus psikopat yang sudah kehilangan akal sehat dan hati nuraninya.
"Tidak mungkin!!!" teriak ibu Elisabeth.
"Mama harus kuat dan tabah, semua ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, kita sebagai manusia biasa tidak akan mampu untuk menentang keputusan dari Allah," ucap Emilia yang berusaha untuk menenangkan Mamanya.
"Iya Ma, benar apa yang dikatakan Emilia, kalau semua ini sudah menjadi garis tangan Papa Hendry jika hari ini adalah saatnya Papa Hendry untuk meninggalkan kita semua," timpal Elliana.
Eliana tidak tega melihat Mamanya yang terpuruk dan putus asa atas kepergian suaminya. Cobaan silih berganti datang dalam kehidupan Mama Elisabeth.
Mama Elisabeth duduk terdiam di atas ranjangnya. Dengan tatapan nanarnya melihat ke arah jendela kamarnya. Eliana dan Emilia saling berpandangan.
"Apa mungkin semua beban yang selama ini dirasakan oleh Mami akhirnya terkumpul juga menjadi satu sehingga membuat Mami begitu terpukul," ucap Eliana sendu.
"Semoga saja hal itu tidak terjadi pada Mama, wajar saja jika kita bersedih dengan ujian dari Allah itu manusiawi, tapi kalau terlalu berlebihan juga tidak baik adanya karena itu sama dengan tidak menerima dari takdir Allah," tutur Emilia.
"Apa yang kamu katakan itu memang benar adanya, tidak sepatutnya mama terlalu bersedih, sebagai manusia kita harus bersabar karena cobaan itu pasti akan datang pada jiwa yang masih bernafas," ucap Dessy.
Mereka berbincang-bincang di samping ranjang Mama Elisabeth. Mereka menunggui mama Elisabeth karena mereka takut jika Mama Elisabeth nekat melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan.
__ADS_1
Malam hari itu menjadi malam paling kelabu yang mereka alami. Arya dan Delia yang awalnya shock sekarang sudah baikan setelah minum obat penenang. Arya dan Delia berada di samping jenazah pak Hendry. Mereka membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an surah Yasin.
Pagi pun menjelang suasana dalam rumah kediaman Utama semakin ramai dikunjungi oleh pelayak. Semua keluarga besar pak Hendry sudah memenuhi rumah itu baik yang berasal dari dalam negeri atau pun yang sudah lama berada di luar negeri.
Mereka berharap bisa memberikan penghormatan terakhir kepada pak Hendry. Bagi yang mengenal dekat pak Hendry pasti tahu kebaikan dan jasa-jasanya. Walaupun selama ini mereka mengenal pak Hendry yang cukup tegas, disiplin, ambisius dan pendendam, tapi di sisi lain banyak yang mengangumi sosok pak Hendry yang baik hati, suka menolong orang lain tanpa membedakan status seseorang.
Terutama dari kalangan rakyat biasa saja pasti mereka akan sangat mengenal sosok Pria yang bertubuh jangkung yang masih gagah di usia senjanya itu yang sudah terbujur kaku.
"Maafkan hambaMu ini yah Allah yang terlalu larut dalam kesedihan ini akan kehilangan suami hamba, benar apa yang dikatakan oleh anak-anakku dan semua orang yang datang, aku harus bangkit dari keterpurukan ini, agar mereka tidak ikut sedih melihatku seperti ini."
Mama Elisabeth pun bangkit dari duduknya yang sudah merenungi segala yang terjadi di dalam hidupnya. Kesedihan yang terlalu berlarut sama saja menentang keputusan dari Allah SWT. Setiap manusia pasti akan merasakan yang namanya kematian cepat atau lambat pasti hal itu akan datang.
Semua orang yang berada di dalam kediaman utama keluarga Wiguna hanyut dalam kesedihan. Mama Elisabeth pun mengganti pakaiannya dan segera turun ke lantai dasar rumahnya.
Semua mata tertuju kepadanya, banyak dukungan moril yang berdatangan yang mampu membuat semangat dalam diri Mama Elisabeth sehingga bisa bangkit dan tawakal menerima cobaan dan ujian ini sehingga lebih tabah dan sabar lagi.
"Ya Allah tolonglah berikan Aku kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini, walaupun pahit tapi saya akan mencoba untuk belajar mengikhlaskan kepergian mas dari sisi hidupku."
"Ya Allah ampunilah segala dosa papaku ya Allah, Ratna akui terlalu banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuat oleh Papaku."
Arman pun mengikuti langkah yang dilakukan oleh adik kembarnya tersebut. Arman berkali-kali menghapus air matanya yang sedari tadi seakan-akan tidak ada habisnya mengalir membasahi pipinya.
Sebelum shalat Dzuhur, jenazah pak Hendry segera dimandikan lalu dikafani sesegera mungkin karena sudah banyak waktu yang terlewatkan. Orang-orang yang bertugas untuk memandikan dan mengafani jenazah pak Hendry sudah bersiap dengan tugas masing-masing.
Kondisi tubuh Pak Hendry yang baru saja menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan dan mengeluarkan tiga butir peluru dari tubuhnya sehingga yang bertugas memandikannya harus lebih perlahan dan hati-hati agar tidak membuat luka itu terlalu basah dan kembali mengeluarkan darah segar lagi.
Bahkan butuh banyak lembar kain putih untuk menutupi tubuhnya yang sudah kembali mengeluarkan darah walaupun sisa sedikit yang keluar.
"Selamat jalan Papa Hendry, kami selalu mendoakan yang terbaik untuk papa Hendry agar dilancarkan dan dimudahkan segala langkah papa," ucap Arya.
__ADS_1
"Kami sangatlah kehilangan sosok seperti papa yang selalu mengayomi dan melindungi kami, namamu kan selalu berada di dalam hati ini," ucap Delia.
Jenazah dishalatkan di Mesjid terdekat yang ada di dalam lokasi kediaman Utama Wiguna. Mesjid tersebut adalah Mesjid yang berhasil dibangun oleh pak Wiguna disisa hidupnya waktu itu.
Pelayak yang ikut mengshalati jenazah dari Pak Hendry hingga Masjid tersebut dipenuhi oleh pelayak yang ingin mensholati pak Hendry, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pernah ditolong oleh pak Hendry semasa hidupnya.
Mama Elisabeth seakan-akan air matanya sudah kering hingga hanya sesekali meneteskan air matanya. Tubuh Mama Elisabeth bergetar hebat saat tubuh suaminya sudah diangkat ke dalam mesjid untuk segera disholatkan.
Pelayak tidak ada yang pulang sebelum mengantarkan pak Hendry ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka berbondong-bondong memadati kediaman Utama Wiguna. Hingga ke TPU khusus keluarga Wiguna.
.............
Alhamdulillah berhasil juga update hari ini, walau pun dalam keadaan mata yang sudah tinggal lima what.
Makasih Banyak atas Dukungannya Kepada Bertahan Dalam Penantian 🙏🥰
Tetap Dukung Bertahan Dalam Penantian BDP dengan Cara:
Like 👍
Vote 👌
GIFT Poin atau Koin 🎁
Favoritkan ♥️
Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐
...********To be Continued********...
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 31 mei 20222