
๐ขHarap Bijak ada Adegan Kekerasan๐ข
Happy Reading..
Kedatangan Aditya yang telah lama ditunggu akhirnya datang juga. Tanpa banyak basa-basi Aditya langsung menggantikan posisi Mark yang berada di depan komputer. Aditya mengutak atik komputer tersebut dan wajahnya tampak tegang dan serius.
Mark dan Alan pun ikut tegang melihat mimik wajah Aditya yang kadang nampak tegang dan kadang tersenyum yang membuat yang melihatnya terbawa arus suasana yang diciptakan oleh Aditya. Mark dan Alan yang melihat aksi dari jari jemari tangan Aditya membuat mereka kelaparan. Sehingga Alan meminta kepada salah satu maid untuk membuat mie instan rasa ayam tanpa kokok dengan toping telur, bakso dan sosis.
Sedangkan Aditya masih sibuk mencari cara untuk menembus sistem keamanan musuh. Bahkan Aditya mendapat serangan balasan dari musuh saat dirinya ketahuan untuk mengganggu sistem IT musuh untuk mencari bukti tentang masalah yang dihadapi oleh Mark, dan tidak berapa lama kemudian Aditya pun berhasil.
"Alhamdulillah data tentang kasus yang kamu hadapi ada di dalam sini dan kita punya banyak bukti kalau kamu dan perempuan itu dijebak" ucap Mark yang langsung berdiri dari duduknya sambil memperlihatkan sebuah bukti berupa rekaman cctv.
"Alhamdulillah kalau begitu, Saya sangat bahagia" ucap Mark.
"Alhamdulillah aku ikut senang dan dari kejadian ini kita harus lebih ekstra hati-hati dalam bertindak apa pun itu" ucap Alan.
"Untung bini loh baik dan bijaksana coba seperti perempuan lainnya yang mudah tersulut emosinya bisa-bisa kamu disunnat dua kali hahahaha" ucap Aditya.
"Gimana dengan kasusnya Dimas?." tanya Mark.
"Aku kesulitan menembus pertahanan mereka, berulang kali aku selalu diserang balik oleh mereka dan mereka lebih kuat dari yang memegang bukti untuk kasus Mark tapi bukan Aditya sang mantan Casanova jika tidak bisa merebut bukti itu" ucap Aditya sambil merebut mangkok mie instan yang ada di dalam tangan Mark.
"Hei itu kan punyaku, kalau mau tuh sono masih ada satu bagian untuk kamu" ucap Mark yang merebut kembali mangkok mienya.
Mereka sesaat bisa bernafas lega karena bukti untuk masalah yang dihadapi Mark sudah aman dan buktinya pun sudah diperbanyak. Jadi mereka sementara waktu bersantai sambil menikmati panasnya kuah mie instan rasa ayam.
Sedangkan di kantor polisi tim pengacara dari Arya dan Dimas tidak bisa berbuat banyak karena semua bukti mengarah ke Dimas, tetapi Dessy lebih percaya terhadap suaminya ketimbang dengan bukti-bukti yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian.
"Mata hati kamu itu sudah buta dan tidak bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar, Dessy kamu sungguh egois demi suami kamu ni, kamu tidak perduli lagi dengan putramu sendiri" ucap Erlangga mantan suami Dessy.
"Hatiku masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak benar, jangan karena ada bukti yang mengarah kepada Dimas sehingga kamu sudah memvonis kalau Dimas lah pengendara yang menabrak Anak kita" jelas Dessy yang tidak suka jika ada yang menuduh Dimas sebagai penjahat.
Sedangkan di dalam ruangan yang sempit hanya berukuran 2x3 saja dengan cahaya yang sangat menyilaukan mata, Dimas sudah seperti orang pesakitan dengan diberondong dengan berbagai macam pertanyaan yang Dimas tidak bisa jawab sesuai yang diinginkan oleh polisi karena menurut Dimas itu tidak sesuai dengan yang Dia alami dulu.
"Maaf jawaban Saya masih sama, bukan saya yang menabrak pejalan kaki tersebut dan bapak polisi yang terhormat sampai kapan pun jawabanku sama bukan saya" ucap Dimas dengan nada suara yang agak tinggi.
Ada seseorang yang langsung menendang perut Dimas sehingga Dimas langsung tersungkur ke lantai dan memegang perutnya yang sakit dengan tangan yang terborgol.
"Apa kamu sudah lupa dengan saya?." tanya orang tersebut sambil memberikan kode kepada rekannya untuk melapisi ruangan tersebut dengan alat peredam suara sehingga mereka bebas untuk bertindak sesuai kehendaknya.
Sedangkan Arya dan tim pengacaranya tidak bisa berbuat apa-apa dan masuk mendampingi Dimas yang sedang diinterogasi. Padahal sudah hampir tiga jam Dimas di dalam tapi belum ada tanda-tanda jika Dimas akan keluar.
Orang tersebut membuka topeng penyamarannya yang sempat dipakainya yang ternyata wajah sebelumya hanyalah wajah rekayasa ciptaan teknologi yang sering dipakai oleh artis jika sedang syuting.
__ADS_1
Ternyata orang tersebut adalah seseorng yang pernah menjadi sahabat baik Dimas di masa sejak mereka masih Putih abu-abu.
"Apa kamu sudah ingat??" ingat ucap Dion sambil menarik rambut Dimas.
Dimas hanya meringis kesakitan saat rambutnya ditarik.
"Gara-gara kamu aku tidak lulus sekolah waktu itu dan karena kamu lah yang melapor kepada pihak sekolah kalau yang mengambil Kunci jawaban yang ada di lemari kepala sekolah" jelas Dion yang sangat membenci Dimas.
Dion sebenarnya adalah sahabat baik Dimas tetapi karena Dimas tidak suka dengan sikapnya Dion yang setiap kali ujian selalu mengandalkan kunci jawaban curian. Berulang kali Dimas sudah melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri dan berulang kali juga Dimas untuk menasehati Dion tapi hal itu sia-sia saja dan Dion malah marah.
Dion adalah salah satu anak pemilik saham tertinggi dari yayasan sekolah tersebut dan Dion sedari kecil dituntut oleh Ayahnya untuk tidak melakukan Kesalahan dalam hal apa pun dan harus selalu jadi juara. Karena kemampuan otak dan berfikir Dion yang tidak seperti Dimas membuat Dion salah langkah dan buta hati.
Kebetulan Dion mendengar kabar bahwa Dimas ditahan di kantor polisi sehingga Dion menyuap dan mengancam beberapa anggota polisi untuk berkerja sama dalam menangani kasus Dimas. Dion sengaja mengambil kesempatan ini sedari dulu Dion tunggu sedangkan otak dibalik penangkapan Dimas tertawa terbahak-bahak di saat dirinya menonton langsung rekaman cctv yang terpasang di dalam ruangan tersebut yang khusus anak buahnya pasang tanpa sepengetahuan dari yang lain atau pun pihak kepolisian.
"Hahaha tangan ini tidak perlu repot-repot untuk memberikan pelajaran untuk keponakanmu Wiguna Albert Kim Said dan ini baru awal dari segalanya, sampai kapan dendam ini akan aku lakukan hahaha" ucap orang tersebut dibalik kursi kebesarannya.
Arya sudah mulai khawatir dan curiga dengan pihak kepolisian karena baru kali ini ada yang diinterogasi oleh pihak kepolisian tanpa ada pengacara yang mendampinginya.
"Aku bukan lah orang yang melaporkan kamu ke kepala sekolah bahkan aku tidak tahu kalau kamu dikeluarkan dari sekolah setelah kedapatan mencuri soal dan kunci jawaban" ucap Dimas yang sudah kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Dion memberi kode kepada anak buahnya untuk menghajar Dimas. Dimas yang diborgol tangannya dan kakinya tidak mampu untuk melawan mereka yang jumlahnya terbilang banyak.
"Aaaahhhh" suara teriakan Dimas disaat pis** itu menanc** di atas pahanya dan Dion langsung menyiram air garam di atas luka tersebut.
Gelas yang dipegang oleh Dessy terjatuh ke lantai. Dessy langsung khawatir dengan keadaan suaminya yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda segera keluar dari ruangan interogasi. Dessy segera menyusul keberadaan Arya.
Arya segera menelpon nomor hp Alan dan menanyakan perihal tentang kedatangan Aditya.
"Halo Alan apa Aditya sudah datang??." Tanya Arya.
"Iya dia sudah datang dan bukti kesalahan Mark dan Dimas sudah ada ditangan kami" jawab Alan.
"Alhamdulillah kalau gitu, kasih hpmu aku mau bicara dengan Aditya" perintah Arya yang sangat khawatir dengan kondisi Dimas yang tidak hentinya menatap ke arah pintu ruangan interogasi.
"Aditya tolong retas cctv yang ada di ruangan interogasi, sudah hampir 3 jam tapi Dimas belum keluar dan aku sangat khawatir" ucap Arya.
"Ok" Jawab singkat Aditya yang langsung berbalik dan menekan beberapa tombol dan muncul kah angka-angka yang othor pun yah tahu hanya orang yang mengerti dengan perkejaan Aditya yang mengerti.
"Arya sepertinya ini sudah direncanakan dan ada yang memanfaatkan keadaan ini, aku kesulitan meretas Cctv ruangan itu" ucap Aditya yang masih setia dengan keyboard komputernya.
"Maksudnya sepertinya ini adalah jebakan yang sudah terencana dengan baik" jelas Aditya kembali.
Dessy pun datang tergopoh-gopoh dan menghampiri Arya yang masih menelpon Aditya. Dessy tidak mau mengganggu sehingga Dessy hanya berdiri di samping Arya dan pengacaranya.
__ADS_1
"Masih mau melawan Aditya, tidak semudah itu" ucap Aditya.
Sedangkan di dalam ruangan khusus milik orang yang berada di balik layar langsung segera melapor kepada tuannya.
"Sepertinya orang yang sedari tadi berusaha menembus keamanan kita bukanlah orang biasa tuan" ucap si B yang menunduk karena takut melihat ekspresi dari junjungannya.
"Lanjutkan" jawabnya.
"Dia ternyata kuat juga tuan bahkan dia berhasil mengacau sistem kita" ucapnya lagi.
"Pria tersebut berdiri dari kursinya dan melempar botol minuman ke arah anak buahnya. Untung anak buahnya segera menghindar tepat waktu. Dan hanya mengenai tembok yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa.
"Ingat ini yang terakhir kalinya kalian gagal Saya tidak mau mendengar kegagalan lagi" ucap pria tersebut sambil berlalu dari hadapan Anak buahnya.
Sedangkan Dessy sudah menangis tersedu-sedu menunggu Dimas. Arya kaget dan sangat murka karena melihat rekaman cctv yang dikirim oleh Aditya ke hpnya.
Arya Segera menghubungi semua anak buahnya dan beberapa polisi yang sedang berjaga untuk segera menyerbu dan menyergap Ruangan tersebut dan tidak lupa memperlihatkan bukti rekaman cctv tersebut.
Mereka segera bertindak dan Arya menyuruh untuk membawa pergi Dessy ke tempat yang lebih aman. Dessy hanya manut saja.
Polisi langsung membuka paksa pintu tersebut. Dan untung saja Dion dan beberapa anak buahnya belum berhasil lolos sehingga mereka bisa dilumpuhkan walau pun ada penolakan dan perlawanan dari mereka. Arya dan anak buahnya sempat berkelahi dengan Dion karena Dion tidak ingin menyerah sehingga polisi langsung menembak untuk melumpuhkan Dion di kakinya.
Arya segera membantu Dimas yang sudah tidak sadarkan diri dan segera melarikan Dimas ke Rumah Sakit.
Arya langsung memberikan kabar tersebut ke seluruh keluarganya terutama kepada Dessy agar dirinya tidak khawatir dengan keadaan Dimas, Arya terpaksa berbohong mengingat Dessy yang sedang hamil muda.
"Dessy sementara waktu kamu nginap di rumahku dulu nanti selesai masalah Dimas baru kamu pulang bersama Dimas" ucap Arya yang sebenarnya tidak kuasa melihat keadaan adik sepupunya.
To Be Continued..
Typo mohon dimaklumi โ๏ธ๐
Maaf untuk beberapa Hari ke depan selama bulan puasa fania hanya bisa update 1 bab perharinya ๐.
Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Bertahan Dalam Penantian.
Sekedar informasi jangan lupa juga untuk mampir ke Novel Fania yang berjudul Cinta Yang Tulus.
Makasih banyak ๐
by fania Mikaila Azzahrah.
Makassar, 29 Maret 2022.
__ADS_1