
Happy Reading..
Dimas menjalani operasi yang cukup serius karena tendangan dari Danu mengakibatkan gangguan pada jantungnya karena tendangan tersebut mengenai tepat di dadanya. Danu bukanlah tandingan Dimas, tetapi mau tidak mau, Dimas harus menghadapi dari rekan komplotan Danu.
Dimas bahkan tidak mampu untuk membalas pukulan terakhir yang dilayangkan oleh Danu sehingga map yang berada di dalam tangannya terpaksa terlepas hingga ke depan anak buahnya Danu.
"Ayo cepat ambil map itu, dan jangan biarkan mereka mendapatkan kembali hasil tes DNA tersebut" ucap Danu yang berteriak ke arah temannya.
"Danu gimana dengan jenazahnya apa kita taburi racun itu langsung atau kita tunggu beberapa saat lagi" tutur Dody rekan Danu cahyono.
"Kamu masuk dalam laboratorium, tapi kamu harus hati-hati dan berikan mereka kepadaku biarkan Aku yang menghadapinya, kamu segera berlari masuk ke Lab, tapi hancurkan lab tersebut hingga tidak tersisa.
"Baik Bos Kami akan laksanakan" ucap Dody.
Hingga yang tersisa dari mereka adalah Arya dan Dimas sedangkan dari pihak Danu masih tersisa ada 8 Orang yang membantunya untuk melawan Arya. Pertarungan semakin sengit saja, tidak ada yang ingin mengalah dari keduanya. Hingga Dimas terpojokkan hingga Dimas pun tersungkur. Arya yang melihat hal tersebut segera berlari membantu Dimas. Arya berhasil tersungkur ke lantai karena tendangan dari Danu, tangannya pun sudah diinjak oleh Danu.
Danu terkena taburan racun ke arah matanya dan hal ini dimanfaatkan oleh Arya hingga Polisi berhasil menembak mati Danu. Anggota Polisi tersebut mengambil keputusan karena jika Danu tidak ditembak maka yang akan mati adalah Dimas atau Arya.
Dimas pun sekarang sudah berada di dalam ruangan perawatan khusus, Kondisi Dimas sudah sedikit membaik tetapi belum sadar dari pengaruh obat biusnya.
"Dessy kamu harus kuat dan sabar, Dimas sangat membutuhkan do'a kamu, Jadi Mami mohon jangan pernah putus asa" ucap Mami Yuni ibu mertuanya Dessy.
"Makasih banyak Mi, insya Allah Dessy bisa bersabar Mi" ucap Dessy.
Tidak lama kemudian, Dimas dibawah ke ruangan perawatan intensif yang ada, Dessy tidak pernah meninggalkan Dimas sedikit pun. Putri mereka yang masih kecil ditinggalkan di rumah orang tua Dessy.
"Sayang, Aku selalu menunggu kamu membuka matamu, Saya tidak ingin meninggalkan kamu sedetik pun, Saya ingin Kamu membuka matamu Aku lah orang yang pertama kamu lihat".
"Dessy istirahat lah nak, kamu belum istirahat sedikit pun, Dimas pasti tidak ingin melihat kamu sakit, jadi Mami mohon kamu beristirahatlah dan juga kamu belum makan" ucap mami mertuanya.
"Iya, Makasih banyak Mi, tapi Dessy tidak lapar" jawab Dessy.
"Kalau kamu lapar, ambil saja semuanya ada di dalam kulkas, Mami istirahat sejenak dulu" ucap Mami Yuni Ibu mertuanya Dessy.
"Silahkan Mi". timpal Dessy.
Mama Elisabeth berjalan ke arah kamar operasi karena ingin melihat langsung kondisi dari Rian, tetapi katanya Rian sudah dipindahkan ke ICU. Mama Elisabeth dan Pak Hendry pun memutar arah menuju ICU. Tapi Mama Elisabeth heran melihat suster dan Dokter yang keluar masuk ICU yang membuatnya penasaran dan menambah kecepatan langkahnya.
__ADS_1
"Ya Allah apa yang terjadi dengan Rian, selamatkan lah Rian ya Allah, Aku tidak ingin Rian pergi meninggalkan kami cukup Mas Wiguna dan Alan, sudah banyak yang meninggalkanku, Aku mohon kabulkan lah permohonanku ini".
Mama Elisabeth semakin mempercepat langkahnya, hingga ke depan ruangan ICU.
"Maaf apa yang terjadi sus, kok banyak orang yang keluar masuk?" tanya Mama Elisabeth dengan wajah yang kebingungan.
"Pasien yang tabrak lari kemarin kondisinya parah dan kritis, kami akan melakukan operasi untuk kedua kalinya, tapi kami tidak mendapatkan donor darah yang cocok karena stok di rumah sakit kami kosong" tutur perawat tersebut.
"Itu tidak mungkin suster!!, Rumah Sakit anakku ini tidak pernah sekali pun kekurangan stok darah jadi itu mustahil terjadi" ucap Mama Elisabeth yang tidak mempercayai penjelasan dari Suster tersebut.
"Mas coba telpon Arya, batrei hpku kebetulan habis" ucap Mama Elisabeth memperlihatkan hpnya.
Mama Elisabeth lupa untuk mencarger hpnya tadi sebelum ke Rumah Sakit. Pak Hendry pun segera menelpon Arya untuk menayangkan dan mengkonfirmasi hal tersebut.
"Assalamu alaikum, Arya tolong telpon direktur rumah sakit kamu, karena Papa dapat informasi katanya stok darah di Rumah Sakitmu habis" ucap Papa Hendry.
"Itu tidak mungkin Pa, dan itu mustahil terjadi di rumah Sakitku" ucap Arya yang kaget mendengar penuturan Papa sambungnya.
"Aku tunggu info selanjutnya, Karena Rian ingin dioperasi, tetapi tidak ada darah yang cocok dengan Rian" ucap Pak Hendry.
"Baiklah, Aku akan menelpon direktur tersebut" ucap Arya.
"Sepertinya ada kesalahan teknis Tuan, Saya akan memeriksa langsung ke tempat Bank darah" ucap Pak direktur.
"Segera tangani semuanya dengan baik, jika kamu tidak bisa mengatasinya segera maka Kamu akan aku kirim ke pelosok" ancaman Arya.
"Baik Bos" ucap Pak Direktur yang melap keringat dingin yang membasahi pipinya dan seluruh wajahnya.
Pak direktur tersebut segera berjalan ke ruangan anak buahnya untuk memerintahkan mereka segera mengatasi masalah yang terjadi di Bank Darah.
Arya melempar hpnya ke samping tempat tidurnya. Delia yang tertidur pulas terbangun karena mendengar suara Arya Wiguna Albert Kim Said yang marah-marah.
"Ada Apa Kakak, apa kakak butuh bantuan?" tanya Delia.
"Ayok kita segera ke Bank darah" ucap Arya yang mencabut jarum infusnya dan berjalan ke arah luar dengan tergesa-gesa sambil menempelkan tissue ke atas tangannya bekas suntikan jarum infus tersebut.
"Kak pelan-pelan jalannya, Kakak itu belum pulih loh" teriak Delia yang terus mengejar langkah Arya.
__ADS_1
"Rian tidak Boleh terjadi sesuatu kepadanya, karena dua kah kunci dari misteri kematian Alan" ucap Arya yang semakin melebarkan langkanya.
Delia dan Arya sudah berada di dalam Bank darah. Dan ternyata kondisi yang ada di dalam Bank darah tersebut membuat Arya mengerang marah. Anak buahnya yang sedari tadi mengikuti langkahnya segera mencari direktur utama dan jajarannya untuk menjelaskan semuanya apa yang terjadi di dalam bank darah tersebut.
"Siapa yang berani melakukan hal ini semua haaaa!! kalian tidak berguna" ucap Arya tidak sudah marah-marah.
"Sayang Sabar, ingat kondisi kamu yang belum stabil" ucap Delia yang mengelus lengan suaminya yang membuat emosi Arya turun ke level 1.
"Toni, cepat periksa Cctv-nya dan Kamu Doni segera blok jalan yang langsung ke arah bank darah" titah Arya.
"Baik Bos" ucap mereka yang langsung bergerak cepat.
"Apa Mas sudah menelpon Arya? tanya Mama Elisabeth.
"Sudah, tapi dia juga tidak percaya dengan apa yang kita katakan, tapi arya segera menghubungi anak buahnya" ucap pak Hendry.
Perawat segera berjalan ke arah Mama Elisabeth dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Apa diantara kalian ada yang bergolongan darah O, kalau ada tolong ikut Saya, karena kondisi pasien semakin mengkhawatirkan" ucap Amairah perawat tersebut.
"Kok golongan darah kami sama, setahu Aku satu pun dari anakku saja tidak ada yang sama dengan golongan darahku dan yang sama hanya Alan" .
...--------To be Continued--------...
Tidak Like, tidak GIFT tetapi selalu Komentar yang Julid kalau kelamaan jadi eneg juga 🤣✌️🤭.
Maaf jika ada yang Komplen tentang alurnya Novel Recehku yang kepanjangan 🙏🙏.
Jika Babnya pendek kesempatan Rezeki Authornya juga Pendek loh 🤭✌️
Tapi Fania gak Paksa untuk kalian baca semua Novelku 🙏
Apa lah Daya Fania hanyalah othor yang kemampuannya hanya segini saja dan hanya bisa buat novel Receh ✌️🙏🙏.
Makasih banyak 🥰🥰
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Rabu, 11 Mei 2022