
Happy Reading..
Arya mengalami insiden kecil saat berkendara mobil saat perjalanan ke Kediaman Utama Keluarga besar Wiguna Albert Kim Said. Arya ingin segera bertemu dengan sahabatnya yang akan membahas jalan keluar yang tepat, untuk mengatasi so psikopat putri.
Di tengah jalan menuju ke rumah besar, Arya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sedang sibuk mengambil hpnya yang terjatuh dari atas lantai mobil. Konsentrasi mengemudinya pun terpecah dan terbagi, antara tangan kanannya masih setia memegang setir mobilnya, sedangkan tangan kirinya masih menggeledah dan mencari keberadaan hpnya yang terjatuh.
"Dapat juga."
Arya langsung ngerem mendadak mobilnya, tapi tabrakan tetap tak terelakkan lagi, Arya menabrak tubuh seorang ibu-ibu paruh baya dengan memakai pakaian lengkap seorang pelayan. Pakaian tersebut sudah nampak lusuh dan kotor.
"Astaugfirullah."
Arya langsung turun dari mobilnya dan memeriksa kondisi orang yang dia tabrak tanpa sengaja itu. Arya memeriksa dengan seksama mulai dari ujung rambut hingga ujung kakinya, Arya pun bisa bernafas lega, karena hanya luka ringan dan lecet yang diderita oleh Ibu tersebut.
Arya tetap membawa Ibu itu ke Rumah Sakitnya, yang kebetulan letaknya yang paling terdekat dari tempat kejadian tersebut. Jalanan saat itu sangatlah sepi dan tidak seperti biasanya.
Arya menggendong tubuh ibu itu yang sudah tidak sadarkan diri, hingga ada beberapa perawat yang membawa dan mendorong cepat bangkar itu ke arahnya.
"Dokter!, Cepat tangani pasien ini, jangan sampai terjadi sesuatu kepada beliau."
"Baik Tuan muda, kami akan segera menanganinya."
"Berikan perawatan yang terbaik untuk ibu ini," ucapnya lagi.
Dokter dan beberapa perawat segera mendorong tubuh ibu itu. Arya segera berjalan ke ruangan khusus untuknya yang ada di rumah sakitnya itu. Arya membersihkan seluruh tubuhnya dan mengganti pakaiannya yang sudah terkena noda darah.
"Semoga ibu-ibu tidak kenapa-kenapa, ini bisa menghambat rencanaku, sedangkan pernikahan antara Putri dan Rian sisa dua hari lagi."
Arya membasuh wajahnya dengan air, untuk menghilangkan sedikit beban yang ada di benaknya. Arya berharap bisa mengurangi rasa prustasinya menghadapi masalah pelik yang sedang keluarganya hadapi saat ini.
Bel berbunyi, tapi Arya sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan Arya masih berdiam diri, tapi pikirannya terbang ke mana-mana dan bercabang. Bel tersebut berbunyi berulang kali, hingga siapa yang mendengarnya akan bosan dan jenuh, tapi beda halnya dengan Arya, fikirannya berada di tempat yang jauh. Hingga orang tersebut sudah lelah menekan bel, lalu memilih jalan lain, yaitu mengetuk pintu itu dengan sekuat tenaganya. Pintu yang terbuat dari bahan pilihan dengan jaminan kualitas yang super bagus, membuat tangan orang itu agak kemerahan, karena sudah lama mengetuknya.
"Siapa sih yang mengetuk pintu, sudah bosan hidup kali yah?"
Arya pun memutuskan untuk berjalan ke arah pintu itu, dan segera menekan password atau kode kunci pintunya. Pintu itu menggunakan password wajah dari Arya dan Delia. Pintu itu terbuka dan muncullah wajah seorang perawat pria.
"Ada apa?"
"Pasien yang Tuan Muda bawa tadi mengamuk," jawabnya.
"Ok, Kamu jalan duluan saja, aku akan segera ke sana."
Perawat tersebut pun undur diri dan menjalankan tugas sesuai perintah sang pemilik rumah sakit. Arya tergesa-gesa berjalan ke arah UGD khusus ibu itu. Arya tidak menyangka jika ibu itu akan mengamuk dan belum mengetahui pasti apa penyebabnya.
__ADS_1
Arya mendengar suara teriakan dari arah ruangan ibu itu, dan terjadi kegaduhan di dalam sana, bahkan ruangan tersebut sudah sangat nampak kacau di mata Arya.
"Apa yang terjadi di sini? siapa yang bisa menjelaskan semua ini kepadaku?"
Arya menatap mengelilingi seluruh pojok ruangan tersebut. Dokter pun maju dan menjelaskan perihal yang terjadi di sana.
"Maafkan kami Tuan Muda, ibu awalnya anteng-anteng, bahkan sangat tenang, tapi disaat seseorang dari Kami ingin memindahkan tas yang ada di dalam genggamannya, Ibu langsung histeris dan mengamuk hingga ada beberapa korban yang terluka akibat dari ulahnya Ibu ini," jelas dokter jiwa yang menanganinya.
"Terus apa yang kalian lakukan untuk menghadapi amukannya?.
"Saat ini Kami berusaha untuk memberikan suntikan penenang kepadanya, tapi langkah kami tidak mudah, Ibu tenaganya sangat kuat, tapi yang membuat kami heran, ibu itu seakan-akan merasa dirinya ingin disiksa oleh Kami, karena ibu terus mengeluarkan perlawanannya bahkan sudah memaki-maki dan menyebut nama seseorang Tuan Muda."
"Kalau gitu, suntikkan obat tersebut segera, agar tidak ada lagi korban yang terkena amukannya."
"Baik Tuan Muda."
Dokter dan perawat segera menyuntikkan cairan obat penenang dengan dosis yang sesuai yang dianjurkan oleh dokter
"Sepertinya ibu ini mengalami trauma yang cukup besar, dan ada banyak bekas luka di tubuhnya, ada yang sudah kering dan meninggalkan bekas dan ada juga yang masih sangat baru belum kering," tutur Dokter itu lagi.
"Ada apa kira-kira dengan tas itu, tapi sepertinya ada rahasia besar yang berada di dalam sana, apa aku mengambil saja tas itu lalu memeriksanya, tapi gimana kalau ibu itu mengamuk lagi?"
Arya pun memutuskan untuk mengambil tas tersebut setelah dirasa Ibu itu sudah tenang dan tertidur, Arya pun maju dan mendekati ranjang Ibu itu. Arya dengan pelan mengambil tasnya, tapi ternyata ibu itu langsung bereaksi setelah kulitnya bersentuhan langsung dengan tas itu, sehingga dia merasakan jika ada yang berniat ingin mengambil tasnya itu.
Ibu itu kembali tersadar dan bangun dari tidurnya. Dokter dan perawat heran dan terkejut melihat reaksi ibu itu diluar dugaan mereka. Mereka tidak menyangka jika obat bius dan penenang itu yang seharusnya sudah bekerja, tapi tidak berpengaruh dengan tubuh ibu itu.
"Ini mustahil terjadi Tuan, obat yang kita suntikkan kalau seperti biasanya yang terjadi pada tubuh pasien lainnya sudah bereaksi dengan baik, tapi di dalam tubuh ibu ini sepertinya menolak dan melawan obat tersebut," ucap dokter tersebut dengan keheranan.
"Siapa sebenarnya ibu ini, dan kenapa hal yang mustahil terjadi padanya?" tanya Arya yang ikut kebingungan dan menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi di hadapan matanya.
"Bagaimana Tuan kalau Kami menambahkan dosis obat penenang agar ibu segera tenang dan tertidur?" tanya dokter tersebut yang meminta keputusan langsung dari atasannya.
"Tambahkan saja, asalkan tidak berefek buruk nantinya pada tubuh ibu ini, kasihan jika hal itu terjadi."
"Baik Tuan muda, perintah dari tuan Muda akan Kami laksanakan segera, dan kami juga akan mengambil sampel darahnya untuk mengetes apa yang terjadi di dalam tubuh ibu ini sehingga tidak ada reaksi apa pun yang dia rasakan saat disuntikkan obat penenang ini."
"Lakukan saja yang terbaik menurut dokter."
Arya segera mendekati kembali ranjang itu setelah Arya merasa ibu itu tidak bakalan memberontak seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah, akhirnya ibu ini bisa juga dilumpuhkan dengan susah payah, kekuatan ibu ini sungguh kuat dan di luar dugaan."
Dokter dan perawat pun bisa bernafas lega setelah Ibu ini tidak melakukan perlawanan apa pun, sehingga memudahkan Arya Wiguna Albert Kim Said untuk mengambil tas itu. Tas yang sangat kusam dan terdapat banyak noda darah serta sangat kotor sudah berada di dalam tangannya.
__ADS_1
"Bismillah."
Usaha yang dilakukan oleh Arya membuahkan hasil yang maksimal. Dokter dan perawat yang berada dan berjaga di sekitar area tersebut tersenyum puas melihat keberhasilan untuk mengambil tas tersebut.
"Maafkan kami yang tanpa seijin ibu mengambil sekaligus memeriksa isi tas ibu, semoga nantinya ibu tidak keberatan dengan Apa yang kami lakukan ini."
Arya pun membuka resleting kancing tas itu, tapi lagi-lagi menuai kegagalan dalam percobaan pertama, hambatan tersebut segera ditangani oleh perawat dengan segera mencari minyak kelapa untuk dioleskan pada bagian resleting itu yang sudah berkarat. Arya menunggu dengan sabar upaya jalan keluar yang dipilih oleh beberapa perawat tersebut. Pekerjaan mereka sungguh membutuhkan kesabaran dan waktu yang ekstra. Dugaan mereka ternyata salah yang menganggap hal itu sangat mudah untuk mereka lakukan.
"Siapa yang berhasil membuka tas itu tampa merusak tas itu, maka dia berhak untuk mendapatkan bonus yang banyak dari saya dan kenaikan jabatan."
Pernyataan dari Pemilik langsung Rumah Sakit DA membuat mereka tertantang dan termotivasi untuk membukanya.
"Dan jika tidak ada yang berhasil satu pun, maka semua orang yang berada di dalam ruangan ini akan Saya pecat tanpa pesangon sepeser pun itu."
Arya sampai dibuat geleng-geleng dan tersenyum melihat kerja keras dari anak buahnya beserta perawat tersebut. Dan dengan susah payah akhirnya berhasil. Mereka bahkan bersorak kegirangan saking bahagianya bisa membuka resleting tas tersebut, dengan iming-iming bonus hadiah yang lumayan besar dari Arya.
"Alhamdulillah berhasil, hore hore."
Mereka bersorak gembira karena apa yang mereka lakukan tidak sia-sia belaka. Wajah mereka yang awalnya nampak tegang kini terbayarkan sudah dengan wajah suka cita rasa haru pun mewarnai seorang OB yang berhasil membuka resleting kancing tas ibu itu.
Ucapan selamat segera mengalir dan membanjiri anak muda itu yang berhasil memenuhi permintaan sekaligus tantangan dari Bos besar mereka.
"Anton segera berikan bonus kepadanya dan atur jabatan yang sesuai dengan keahliannya dan satu belikan kepadanya sepeda motor untuk bisa dia pakai berangkat kerja."
"Baik Bos."
Pemuda itu langsung sujud syukur mendengar titah dari atasannya. Wajahnya sangat gembira dan air mata bahagia pun ikut menetes menjadi saksi dari kebahagiaan mereka.
"Dan jangan lupa bonus untuk Dokter dan semua perawat, Anak buahmu yang ikut ambil bagian dalam usaha kita ini."
"Alhamdulillah, Terima kasih banyak Tuan muda," ucap mereka bersamaan.
Arya pun membongkar isi tas tersebut. Dan ternyata banyak barang yang terdapat di dalam sana. Bahkan mata Arya dibuat terbelalak melihat isi tas itu. Ada beberapa berkas dokumen, ada flashdisk, ada piringan kaset DVD player, handycam dan juga sebuah hp.
"Ternyata ini toh yang ibu itu berusaha sembunyikan dan jaga keamanannya, pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik barang-barang ini."
Sungguh perjuangan yang tidak mudah untuk membuka tas itu, tapi dengan perjuangan yang keras Akhirnya terbuka juga, yang jadi tanda tanya apa sih isi dari barang-barang tersebut??.
Yang penasaran dengan kelanjutan kisahnya so pantengin terus Updatenya yah ✌️.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bertahan Dalam Penantian, dan Khusus dan paling istimewa untuk Readers yang selalu setia memberikan dukungannya kepada BDP walaupun Tidak gabung dengan grup Chat Fania 🥰😘.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan cerita ini 🙏
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar Minggu, 22 Mei 2022